
Jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari ketika Caramel tiba-tiba terbangun karena merasa gerah, keringat membanjiri tubuhnya yang mengenakan piyama pendek. Caramel melempar selimut ke arah tubuh Rafka yang terlelap.
Tangan Caramel meraba-raba nakas mencari remote AC untuk menurunkan temperatur nya. Biar saja Rafka kedinginan, Caramel tidak bisa tidur jika kepanasan begini. Mereka memang berlawanan sehingga Rafka lebih banyak mengalah soal suhu AC. Mereka disatukan dengan banyak perbedaan yang membuat keduanya harus belajar mengerti dan mengalah, walaupun dalam hal ini Rafka lebih sering mengalah terhadap Caramel.
"Kenapa gue jadi kepikiran lipstik Mama tirinya Rafka sih." Caramel turun dari tempat tidur menuju meja riasnya. Sejak pertama kali bertemu mama tiri Rafka, Caramel memang penasaran pada merek lipstik yang dipakainya. Padahal Caramel punya puluhan merek lipstik di meja riasnya tapi tetap saja namanya perempuan tak akan pernah puas dengan beberapa lipstik.
"Dandan dikit ah." Caramel duduk di depan meja rias menyalakan lampu yang mengelilingi cermin sehingga ia bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Jangan-jangan anak gue cewek, tengah malem ngidam dandan."
"Cara." Suara Rafka terdengar serak mengejutkan Caramel yang sedang asyik menggunakan bedak di wajahnya. Walaupun Caramel berusaha bergerak tanpa menimbulkan suara rupanya Rafka tetap merasakan bahwa sang istri tak ada di sampingnya. Robot yang tetap aktif walaupun waktunya istirahat.
"Eh, tidur aja." Caramel menoleh sesaat kepada Rafka sebelum kembali fokus berdandan.
"Mau kemana?" Rafka heran melihat Caramel menggunakan make-up tengah malam. Caramel biasa terbangun di tengah malam tapi biasanya ia langsung pergi ke dapur mencari makanan bukannya berdandan seperti ini sehingga membuat Rafka kebingungan.
"Nggak kemana-mana, pengen dandan aja." Jawab Caramel tanpa melihat Rafka.
Tak ada jawaban lagi dari Rafka, sepertinya ia kembali terlelap. Siapa yang bangun pukul satu malam begini hanya untuk melihat sang istri menggunakan make-up, bukan Rafka orangnya. Namun jika Caramel minta ditemani makan, pasti Rafka akan melakukannya walaupun dengan mata ngantuk yang tak terbendung.
"Rafka, aku boleh minta nomor Mama tiri kamu nggak?" Caramel memutar badan menghadap sepenuhnya ke arah tempat tidur.
"Tidak punya." Jawab Rafka.
"Aku pikir kamu udah tidur."
"Tidur lah, jangan memikirkan hal yang tidak penting." Rafka menutupi kepalanya dengan selimut seolah-olah tidak mau berargumen lagi, ia paling sensitif soal ayah dan ibu tirinya. Rafka tidak pernah membahas tentang mereka kecuali Caramel yang lebih dulu bertanya. Bagi Rafka, mereka sudah tidak ada lagi di bumi ini.
"Bersihkan bedak mu, tidak baik tidur menggunakan make-up." Ucap Rafka lagi.
"Cowok mana tahu." Gerutu Caramel seraya mengusap wajahnya dengan tisu basah. Ia terpaksa menghentikan aktivitas make-up nya yang belum selesai.
Caramel tidak segera kembali ke tempat tidur menunggu Rafka menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun hingga beberapa menit berlalu Rafka tetap pada posisi seperti itu, jika bukan tengah malam pasti Caramel akan menarik selimut itu dengan paksa untuk membangunkan Rafka.
"Kalau nggak mau ngasih, aku cari sendiri aja." Caramel melangkah mendekati nakas memeriksa ponsel Rafka.
Mata Caramel melotot ketika ia tidak menemukan nama mama tiri maupun ayah Rafka. Ternyata Rafka memang tidak punya kontak mereka.
"Kenapa aku masih nggak percaya sama Rafka padahal dia nggak pernah bohong?" Caramel bertanya pada dirinya sendiri, ia menoleh ke arah Rafka lalu meletakkan ponsel itu kembali.
Caramel naik ke tempat tidur menghadap Rafka, tangannya terulur menarik selimut yang menutupi wajah Rafka.
"Eh!" Caramel terkejut saat Rafka tiba-tiba menangkap tangannya menghentikan gerakannya menarik selimut. "Kamu nggak tidur?"
"Tidur." Rafka menarik Caramel ke pelukannya, "kamu juga harus tidur." Ucapnya.
"Kamu marah?" Tanya Caramel.
"Tidak."
"Terus kenapa kamu nggak mau buka selimut?"
"Kau juga mau masuk?"
"Iya lah, percuma dipeluk tapi aku nggak bisa lihat wajah kamu."
Rafka menyingkap selimutnya menatap wajah Caramel di balik cahaya temaram lampu tidur di sisi tempat tidur. Memandang wajah itu selalu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka. Rafka tidak tahu definisi cinta yang sebenarnya, yang ia tahu adalah perasaannya tak berubah sejak saat itu hingga sekarang.
"Kenapa aku masih bisa melihat wajah cantik mu?" Rafka bergumam tidak jelas entah Caramel mendengarnya atau tidak.
"Aku denger lo." Caramel membenamkan wajahnya pada dada Rafka dan memeluknya erat.
"Kenapa kamu mendorongku?"
"Aku nggak dorong, itu namanya ndusel."
"Apa itu?"
Caramel mencubit perut Rafka tidak terlalu keras karena gemas, percuma ia menjelaskan kata gaul itu kepada Rafka.
"Rambut mu wangi." Rafka mengusap rambut Caramel yang tergerai.
Walaupun gerah tapi Caramel enggan melepaskan pelukan Rafka, ia tidak rela melakukannya. Toh ia akan tertidur juga nanti dengan posisi seperti ini. Berada dalam dekapan Rafka membuat Caramel nyaman, ia ingin terbangun dengan posisi seperti ini juga. Jangan bully Caramel karena ia bucin.
******
Sinar matahari menerobos masuk menyilaukan mata ketika Caramel membuka gorden abu-abu jendela yang menghubungkan ruang tamu dengan balkon.
"Kayaknya hari ini nggak bakal hujan ya." Tukas Caramel. Ia menggeser pintu melangkah menuju balkon untuk menghirup udara pagi yang belum terlalu bercampur dengan asap kendaraan bermotor.
__ADS_1
"Hujan." Rafka menyusul Caramel, ia membawa dua potong roti dengan selai coklat di tangannya ditambah secangkir kopi hangat untuk Caramel.
"Makasih." Caramel mengambil kopi di tangan Rafka dan menyesapnya perlahan. Kopi dan sejuknya suasana pagi adalah perpaduan sempurna untuk memulai hari.
"Akhir-akhir ini aku mulai mikirin apa yang bakal aku lakuin setelah berhenti dari kerjaan ini." Pandangan Caramel menerawang jauh ke atas langit biru yang bersih tanpa awan.
"Kau ingin pekerjaan lain di rumah?" Rafka mengerti isi pikiran Caramel, ia tahu Caramel tidak suka berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.
"Ya." Caramel mengangguk cepat, "Kayla jualan makanan karena dia pinter masak sedangkan aku nggak punya keahlian apapun."
"Coba mulai dengan sesuatu yang kamu sukai."
Caramel tampak memikirkan ucapan Rafka, ia suka make-up tapi tidak mahir. Tidak mungkin ia jadi beauty vlogger di zaman hampir semua orang memiliki channel YouTube, siapa yang akan menontonnya jika semua menjadi vlogger.
"Kamu perlu makan untuk berpikir." Rafka menyodorkan piring berisi roti kepada Caramel.
"Apa yang aku suka?" Caramel mengulang pertanyaan untuk dirinya sendiri, ia tidak punya satu hobi yang dilakukannya setiap hari.
"Kamu suka piyama." Sahut Rafka.
Tiba-tiba ucapan Rafka memberi Caramel satu ide tentang apa yang akan dilakukannya setelah berhenti bekerja sebagai teller.
"Bener banget, aku suka piyama!" Seru Caramel dengan mulut penuh roti, ia menepuk bahu Rafka beberapa kali. Caramel melompat masuk meninggalkan Rafka yang masih kebingungan karena sang istri tiba-tiba bersemangat seperti itu.
"Aku bawa mobil sendiri ya." Caramel setengah berteriak dari dalam.
Rafka menoleh ke arah ruang tamu tanpa membalas ucapan Caramel, ia menghabiskan roti yang tidak dihabiskan oleh Caramel sebelum menyusul masuk.
"Kenapa tidak bersamaku?" Rafka mengekori Caramel ke kamar.
"Aku ada rencana ketemu Jane, boleh ya?" Caramel memasang wajah manis kepada Rafka agar diizinkan pergi setelah pulang kerja.
Rafka mengangguk pelan, ia tidak memiliki alasan untuk tak mengizinkan Caramel pergi. Lagi pula Caramel pergi ke rumah sahabatnya sendiri. Sejak awal menikah Rafka memang tidak pernah berniat terlalu mengatur Caramel. Rafka ingin menjadi suami yang membebaskan istrinya melakukan apapun selama itu bukan sesuatu yang buruk.
Mereka masuk ke dalam lift pribadi menuju tempat parkir di lantai dasar mengendarai mobil masing-masing ke tempat kerja. Mereka lebih sering berangkat bersama agar lebih hemat bahan bakar dan mengurangi polusi tapi kali ini Caramel memiliki rencana bertemu seseorang sehingga ia harus membawa mobil sendiri.
"Cara, bawa mobilnya pelan-pelan jangan ngebut." Pesan Rafka melalui jendela mobil.
"Iya." Caramel tersenyum menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O kepada Rafka.
"Apa yang ingin kamu makan nanti biar aku belikan."
Caramel menaikkan kaca jendela mobil sebelum menginjak gas keluar dari tempat parkir apartemen. Ia sedikit gelisah karena telah membohongi Rafka. Sebenarnya Caramel tidak hendak bertemu Jane melainkan bertemu dengan mama tiri Rafka.
"Dulu lu ahli banget bohongin Mama Papa, sekarang kenapa lu jadi gelisah gini sih Car!" Caramel mengomel pada dirinya sendiri karena merasa tidak enak pada Rafka walaupun lelaki itu tidak sadar telah dibohongi olehnya.
Karena Rafka tidak pernah berbohong Caramel jadi merasa bersalah telah membohongi lelaki lugu itu.
"Udah ah, lagian Rafka nggak bakal tahu." Caramel mencengkram kemudi menenangkan diri sebelum bertemu mama tiri Rafka nanti siang.
Sejak baru bangun tidur Caramel menelusuri akun Instagram mama tiri Rafka melalui akun milik Febi. Caramel merasa beruntung karena ia bisa dengan mudah menemukan Instagram mama tiri Rafka tanpa harus menelusuri lebih lama. Sepertinya Caramel memang ditakdirkan untuk mengetahui merek lipstik mertua tirinya lebih cepat. Mungkin bagi sebagian orang itu bukanlah hal penting tapi tidak bagi Caramel, ia sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat warna lipstik di bibir mama tiri Rafka.
"Udah punya rok baru lu Car?" Sani menyapa Caramel yang baru turun dari mobil.
"Udah lah, nih buat kalian." Caramel meletakkan dua kotak kecil cupcake di atas meja untuk Meli dan Sani. Itu adalah kue yang Rafka beli semalam bersama hadiah kejutan ulang tahun Caramel.
"Ya ampun gue lihat video tik tok nya Kayla, sumpah si suami Caramel tuh emang so sweet banget deh nggak ada obat." Meli mencomot satu cupcake dan menyantapnya.
"Gue juga lihat." Sani mengangguk menyetujui ucapan Meli.
Iya emang dia robot paling manis deh sedunia akhirat. "Alah biasa aja kali." Caramel mengibaskan tangan berusaha memasang wajah sedatar mungkin padahal ia sudah ingin tersenyum lebar sambil loncat-loncat saking senangnya ketika mengingat momen kejutan semalam. Caramel tidak pernah mendapat kejutan tak terduga seperti itu sebelumnya. Setelah tumbuh semakin dewasa hingga sekarang ini Caramel tak menganggap ulang tahun itu penting. Ulang tahun hanyalah tepat tanggal kamu dilahirkan hanya berbeda tahun, itu bukanlah apa-apa.
"Gue nggak niat nonton sih, video itu muncul di FYP."
"Hah serius lu?" Caramel mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi tik tok melihat berapa like dan komentar pada video kejutan ulang tahunnya yang diunggah Kayla.
"Zaman sekarang tuh para cewek suka tersentuh sama pasangan-pasangan yang udah nikah, makanya video tik tok ulang tahun lu banyak dapet like." Tukas Meli setelah menghabiskan satu buah cupcake.
"Emang bener lu mau resign?" Sani menatap Caramel serius, mereka cukup lama kenal dan menghabiskan waktu bersama sehingga jika salah satu dari mereka berhenti maka suasananya akan terasa berbeda. Sani bukan orang yang mudah beradaptasi dengan suasana baru.
"Iya." Caramel mengangguk, ia menambah sedikit lipgloss pada bibirnya yang terlihat kering. "Kenapa, sedih lu ditinggal gue?"
"Kagak lah, buat apa juga." Sani mencibir.
Caramel tersenyum, ia tahu isi pikiran Sani yang sebenarnya. Waktu yang telah mereka lewati pasti meninggalkan kesan mendalam yang tak bisa dilupakan begitu saja.
"Tenang aja, perut gue masih kecil gini ntar kalau udah gede dan nggak bisa diatur gue baru berhenti." Caramel menepuk bahu Sani dan Meli bersamaan lalu melenggang pergi menuju bagian resepsionis bersiap menerima nasabah pertama.
Itu perut apa bocah pake diatur segala!
__ADS_1
******
"Ma!" Caramel melambaikan tangan pada seorang wanita berusia 40 tahunan di salah satu meja.
Wanita itu balas melambai memperhatikan Caramel yang berjalan ke arahnya. Mereka cipika-cipiki saling menanyakan kabar masing-masing seperti dua wanita yang sudah lama tidak bertemu pada umumnya.
"Gimana kehamilanmu?" Sandra, mama tiri Rafka mengajak Caramel duduk di kursi yang telah lebih dulu dipesannya.
"Semuanya baik-baik aja Ma." Caramel tersenyum ramah.
"Pesen gih." Sandra mengodorkan buku menu kepada Caramel.
Mereka berada di Popolamama salah satu restoran Italia yang berada di Grand Indonesia. Jika dilihat dari jauh mereka lebih terlihat seperti kakak adik bukannya ibu dan anak karena usia mereka yang tidak terpaut jauh.
"Maaf udah bikin Mama jauh-jauh kesini." Ucap Caramel merasa tidak enak karena telah membuat mama mertuanya itu pergi kesini untuk menemuinya.
"Nggak masalah, awalnya tadi Mama kaget sih karena kamu tiba-tiba ngajak ketemu."
Caramel nyengir salah tingkah, ia sudah memberitahu Sandra kalau maksud dari pertemuan mereka karena sebuah lipstik yang membuatnya tidak bisa tidur hingga pagi.
Mereka memesan dua porsi spaghetti carbonara dengan smoked beef dan mocktail.
"Jadi kamu ngidam lipstik yang Mama pakai?" Sandra tertawa.
"Bukan ngidam ... sih." Caramel jadi malu karena permintaan anehnya tersebut.
"Kenapa nggak bilang dari awal, nih buat kamu." Sandra meletakkan satu batang lipstik di atas meja.
Mata Caramel melotot melihat packaging lipstik berbentuk kotak dengan warna emas yang elegan. Terdapat tulisan TF pada tutup lipstik tersebut. Di luar dugaan Caramel ternyata lipstik yang Sandra gunakan adalah produk high end.
"Buat aku?" Caramel melongo, ia memang biasa menggunakan produk kecantikan high end tapi itu semua dibelinya dengan uang sendiri. Namun siapa yang tidak melongo jika diberi secara cuma-cuma seperti ini.
"Iya." Sandra mengangguk.
"Enggak Ma, aku cuma penasaran sama mereknya doang kenapa Mama jadi ngasih buat aku." Caramel menyodorkan lipstik itu kembali, ketahuilah bahwa benda kecil itu seharga hampir USD 100.
"Nggak apa-apa, kamu pengen warna yang ini kan, Mama masih punya warna lain."
"Duh aku jadi enak nih Ma, eh." Caramel menutup mulutnya sendiri yang tidak terkendali setelah mendapat barang mahal secara gratis.
"Nanti anak kamu ngileran loh kalau nggak diturutin."
"Jangan menerima barang apapun darinya." Suara berat itu membuat bulu kuduk Caramel meremang. Itu memang bukan suara hantu tapi—
Pandangan Caramel tertuju pada sepasang kaki yang mengenakan sepatu pantofel hitam mengkilap lalu bergerak ke atas, diam-diam ia berdoa dalam hati berharap itu bukan Rafka. Namun siapa lagi yang memiliki suara datar seperti itu jika bukan robot Caramel.
"Rafka." Caramel tak percaya jika Rafka menemukannya disini. "Kok kamu bisa disini?"
"Ayo pulang." Suara Rafka masih datar tapi ekspresi wajahnya menggambarkan bahwa ia sangat marah dengan rahang mengeras. "Bukan kah pertemuan mu dengan Jane sudah selesai, aku tidak melihatnya disini." Ucapnya lagi.
"Aku pengen ngobrol sebentar aja sama Mama." Caramel menoleh pada Sandra yang menyiratkan kepanikan sama sepertinya.
"Aku tidak mengizinkannya." Tegas Rafka.
"Tapi aku udah pesen." Caramel melihat seorang waiter membawa pesanannya dan Sandra.
"Aku tidak peduli." Rafka membalikkan badan berjalan cepat meninggalkan meja Caramel, ekspresinya sangat dingin membuat siapapun takut untuk melihatnya.
"Rafka!" Panggil Caramel tapi si pemilik nama sama sekali tidak menoleh, Caramel bimbang harus mengejar Rafka atau tetap disini tapi ia tak akan bisa makan dengan tenang jika seperti ini.
"Kejar dia." Sandra menyelipkan lipstik yang sudah dikeluarkannya pada kantong jas Caramel.
"Tapi makanannya?" Caramel tidak enak karena harus pergi bahkan sebelum makan spaghetti yang sudah dipesannya.
"Nggak apa-apa, Mama bungkus aja." Sandra meyakinkan Caramel untuk tetap pergi mengejar Rafka. Walau bagaimanapun suami tetaplah hal utama bagi seorang istri.
"Makasih Ma, maaf aku pergi dulu." Caramel menyambar tas miliknya dan segera berlari keluar restoran untuk mengejar Rafka.
Caramel mengedarkan pandangan mencari sosok Rafka di tengah kerumunan pengunjung lain tapi tidak ada. Caramel setengah berlari menuju eskalator, ia menduga Rafka pasti keluar dan pulang.
"Itu dia." Caramel melihat Rafka keluar, ia menuruni eskalator dengan cepat agar berhasil mengejar Rafka.
"Aduh!" Caramel memekik dan pura-pura menjatuhkan diri, seharusnya cara ini berhasil membuat lelaki berbalik melihat pasangannya yang terjatuh. Setidaknya berdasarkan drama yang sering Caramel tonton cara ini selalu efektif. Namun Rafka sama sekali tidak menoleh. Tentu saja kehidupan nyata tak seindah cerita film dan drama.
Rafka justru masuk mobil dan menancap gas keluar area parkiran Grand Indonesia melewati Caramel yang terduduk di atas lantai.
"Duh beneran marah lagi." Caramel menggigit bibir melihat kepergian Rafka dengan mobil BMW nya.
Sebelum benar-benar keluar dari sana Rafka melirik ke arah spion melihat Caramel bangkit dengan susah payah karena mengenakan rok span. Ia mencengkram kemudi menahan emosi mengingat kejadian barusan. Rafka tak menyangka Caramel membohongi nya karena ingin bertemu dengan Sandra—wanita yang telah membuat kehidupannya berantakan.
__ADS_1