Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Empat Puluh Lima


__ADS_3

"Halo Car, gue di depan apartemen elu nih!" Suara Jane terdengar begitu kencang hingga memekakkan telinga Caramel.


Caramel yang menempelkan ponsel pada telinganya spontan menjauhkannya demi menyelamatkan gendang telinganya dari suara Jane. Caramel bingung dari pagi Jane tidak bisa dihubungi lalu sekarang tiba-tiba ada di apartemennya. Lagi pula Jane ada di apartemen bukannya di tengah hutan kenapa harus berteriak saat bicara dengan Caramel.


"Ngapain lu tiba-tiba ke rumah gue?" Caramel menepikan mobilnya agar konsentrasi nya tidak buyar karena menyetir sambil menelepon.


"Emang kalau mau ke rumah lu harus bikin janji dulu?"


"Bukannya gitu, tadi gue WA lu sama Kayla nggak ada yang aktif pada kemana sih kalian."


"Udah deh pokoknya lu kesini sekarang juga, gue sama Kayla udah gosong nih."


"Gosong apaan, mendung gini!" Caramel mengerucutkan mulutnya memutus sambungan telepon, ia menginjak gas berputar balik ke jalan menuju apartemennya. Rencana makan seblak bersama Rafka harus ditunda demi Jane dan Kayla yang katanya sudah gosong berada di bawah langit mendung, mereka memang lebay.


Caramel mengirim pesan kepada Rafka agar langsung pulang tidak perlu menunggunya di kantor. Keinginannya untuk makan seblak hilang seketika mendapat telepon dari Jane.


Dari kejauhan Caramel bisa melihat Jane dan Kayla melambai ke arahnya. Mereka membawa bungkusan besar yang entah apa isinya. Caramel juga tidak penasaran soal itu, mereka memang selalu rempong, berkunjung ke apartemen Caramel saja sudah seperti bertamasya ke Binaria.


"Kalian bawa apa sih?" Caramel menghentikan mobil tepat di depan Jane dan Kayla, ia melongokkan kepalanya melalui jendela.


Jane dan Kayla memasukkan kantong plastik besar yang mereka bawa ke dalam mobil Caramel.


"Gue titip ini dulu." Tukas Kayla.


"Kalian mau kemana?" Caramel bingung melihat dua sahabatnya itu heboh membawa banyak barang.


"Mobil gue ketinggalan di Grand Indonesia." Jawab Jane.


"Hah yang bener aja lu mobil segede gaban gitu bisa ketinggalan, masih waras nggak sih sahabat gue ini?" Caramel membuka mobil demi menyentuh kening Jane.


"Gue sama Kayla balik ke GI, bye!" Jane mendorong Caramel kembali masuk ke mobil dengan paksa.


"Aneh banget kalian ih!" Caramel berteriak kesal melihat Jane dan Kayla sudah berlari menjauhi mobilnya.


Caramel mengembuskan napas keras seraya menginjak gas menuju tempat parkir, ia ingin segera sampai ke apartemennya lalu berbaring. Perutnya juga sudah berdendang minta segera diisi padahal seingat Caramel, tidak ada makanan apapun di rumah kecuali bahan-bahan mentah di kulkas. Itu berarti Caramel harus memasaknya terlebih dahulu. Mengapa mood makan selalu datang tapi tidak dengan mood memasaknya. Caramel harap Rafka sudah pulang agar ia bisa minta lelaki itu memasak untuknya.


"Kok nggak ada?" Caramel celingukan mencari mobil Rafka di tempat parkir, tapi tidak ada.


Dengan susah payah Caramel mengangkat barang Jane yang dititipkan kepadanya, memang tidak terlalu berat hanya saja ukuran nya yang besar membuat Caramel kesusahan.


"Nih anak bawa kasur apa gimana sih." Caramel menggerutu memasuki lobi, ia langsung menuju lift pribadi supaya lebih cepat sampai di apartemennya.


Beberapa orang yang berpapasan dengan Caramel salah fokus karena wajahnya tidak terlihat terhalang kantong plastik besar yang dibawanya.


Caramel terkejut saat tiba-tiba ada tangan seseorang yang mengambil alih barang di tangannya saat ia melewati koridor.


"Raf—"


"Aku yang bawain."


Caramel terkejut ketika seseorang yang ia pikir Rafka ternyata adalah Rama. Lagi pula mengapa Rama masih ada disini padahal tadi pagi mereka bilang akan pindah. Caramel yang sedikit lega karena mereka sudah tidak ada di apartemen ini lagi jadi kembali takut dan khawatir.


"Nggak usah!" Caramel merebut kembali kantong plastik tersebut. "Kamu kenapa masih ada disini, bukannya udah pindah?"


"Aku kesini karena mau ngucapin selamat ulang tahun sama kamu." Rama menegakkan tubuhnya menatap lurus  kepada Caramel.


Caramel terpaku, ia bahkan tidak ingat kalau hari ini adalah ulang tahunnya.


"Aku harap kamu selalu bahagia dengan Rafka."


Pandangan Caramel melemah, perlahan emosinya kembali stabil mendengar ucapan Rama yang tidak seperti biasanya. Rama tidak lagi bicara tentang perasaannya kepada Caramel.


"Biarin aku bantuin kamu sekali aja." Rama kembali mengambil alih kantong plastik yang cukup berat tersebut. "Kamu kan lagi hamil, nggak baik bawa barang berat." Katanya lagi.


Akhirnya Caramel menekan ego nya, walaupun amat membenci Rama tapi akhirnya ia membiarkan lelaki itu membawa barang Jane hingga depan apartemennya.

__ADS_1


Caramel berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu agar Rama meletakkan barang tersebut dekat pintu masuk.


Rama menunggu dengan sabar hingga Caramel selesai menekan sandi pada pintu lalu masuk selangkah dan meletakkan kantong plastik berukuran cukup besar itu dekat pintu masuk. Rama hanya ingin bertemu Caramel lalu mengucapkan ulang tahun setelah beberapa tahun terakhir ia tak pernah melakukan itu lagi. Paling tidak Rama memiliki satu kesempatan untuk mengucapkan selamat kepada Caramel sebelum ia pindah dari apartemen ini dan kehilangan kesempatan untuk bertemu Caramel.


"Makasih." Ucap Caramel.


"Kalau gitu aku balik dulu."


Caramel mengangguk, menutup pintu sebelum Rama melakukan hal yang lebih dari sekedar mengucapkan ulang tahun apalagi tidak ada orang lain disini. Caramel hanya berjaga-jaga jika saja Rama berbuat sesuatu yang tak diinginkannya.


"Jadi hari ini gue ulang tahun?" Caramel menunjuk dirinya sendiri, "aduh!" Ia mengaduh saat kakinya tersandung barang milik Jane. "Apaan sih ini, kesel banget gue liatnya." Caramel menendang kantong yang telah membuatnya tersandung itu.


"Tapi kenapa Rafka nggak ngucapin ya, apa jangan-jangan dia lupa juga?" Caramel bicara dengan dirinya sendiri karena tidak ada orang lain disini. Caramel meletakkan tas kerjanya dan menghempaskan diri ke atas sofa setelah menyalakan AC dan televisi. Ia tidak suka suasana sepi, suara dari televisi bisa mengusir rasa takutnya sendirian di apartemen sebesar ini.


Kruuuk!


Caramel menyentuh perutnya yang berbunyi memalukan, ia memang lapar sejak pulang kerja tadi. Sialnya Jane meneleponnya sehingga ia tidak jadi makan seblak Bu Rudi favoritnya. Sekarang Caramel tidak tahu akan makan apa. Tidak mungkin ia makan wortel lagi, dokter bilang makanan mentah tidak baik untuknya.


"Rafka lama banget sih, kantornya udah pindah ke Kairo kali ah." Caramel gelisah bangkit dari duduknya melangkah ke meja makan dan membuka tudung saji. Surprise! tidak ada apapun disana.


Harapan terakhir Caramel membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa dimasak untuk mengisi perutnya yang dangdutan sejak tadi. Caramel mengambil dua butir telur dan sosis dari kulkas.


"Aduh enak banget." Caramel menghirup aroma telur ceplok yang ia goreng menggunakan margarin dicampur sepotong sosis. Mencium aroma telur goreng saja membuatnya bahagia apalagi saat mengunyah dan menelannya.


Telur ceplok beraroma margarin sudah berpindah ke atas piring ditambah saus sambal dan nasi hangat. Untung saja masih ada sisa nasi di dalam rice cooker yang bisa menemani telur dan sosis untuk akhirnya bersatu mengenyangkan perut seorang Caramel.


"Kenapa bisa telur goreng seenak ini." Caramel memuji masakannya sendiri, entah telur itu memang enak atau karena Caramel yang kelaparan sehingga makanan apapun terasa enak di lidahnya.


Langit mulai gelap ketika Caramel telah menghabiskan sepiring nasi dan dua kotak Buavita serta sisa Nutella. Caramel benar-benar makan apapun yang ada di atas meja lalu tidur dengan kepala menempel pada meja makan. Rasa kantuk menyerangnya setelah kenyang hingga tidak terasa malam mulai datang dan Rafka yang tak kunjung pulang.


"Happy birthday Cara ... happy birthday Cara .... "


Nyanyian ulang tahun dari suara yang tak asing di telinga Caramel membuatnya terbangun dari tidur. Caramel membuka mata mengangkat kepala—terkejut melihat Rafka membawa kue ulang tahun dengan lilin di atasnya. Jane dan Kayla berada di samping Rafka dengan membawa kue dan balon bertuliskan happy birthday. Danu berada di belakang tidak mau kalah membawa buket bunga cantik.


Caramel memeluk Rafka yang membawa kue di tangannya, ia tak menyangka kalau Rafka si robot juga bisa membuat kejutan seperti ini. Pantas saja tadi Rafka melarangnya pergi ke kantor pasti karena Rafka sedang merencanakan kejutan ini.


Rafka meletakkan kue berwarna-warni pilihan Danu di atas meja makan agar Caramel bisa membuat permohonan sebelum meniupnya. Sebenarnya Rafka kesal karena kue itu tidak sesuai keinginannya, bukan berwarna coklat dengan tampilan simpel kue tersebut justru penuh warna seperti kue ulang tahun untuk anak kecil. Rupanya Rafka salah memberikan kepercayaan kepada Danu.


"Make a wish dulu dong." Ujar Jane.


Caramel menautkan tangan memejamkan mata dan membuat permohonan lalu meniup lilin di atas kue.


"Selamat ulang tahun sayang." Rafka mengecup kening Caramel penuh cinta.


"Makasih ya." Mata Caramel basah karena menangis, ia tak dapat menahannya lagi saat Rafka datang barusan.


"Ih kalian nggak jago bohong ya, pakai bilang mobil ketinggalan mana ada." Caramel memeluk Jane dan Kayla dengan erat, ia terharu dengan persiapan mereka memberinya kejutan.


"Makasih Nu."


"Tidak usah pelukan." Rafka mendorong Danu yang merentangkan tangan hendak memeluk Caramel.


Danu nyengir mengganti pelukan dengan jabat tangan biasa, "lu emang harus bilang terimakasih sama gue, kalau bukan gue siapa lagi yang bisa dapet kue secantik ini." Ucapnya.


"Dih apaan, bagusan juga kue kita kan Kay." Jane mencibir kue pilihan Danu.


"Udah gitu dia salah beli balon nih." Kayla menunjuk balon angka dua dan tujuh yang Danu bawa.


"Sumpah gue nggak tahu lu ulang tahun ke dua puluh delapan, lagian Rafka nggak bilang sih." Danu membela diri bahwa ini bukan hanya kesalahannya.


"Aku tidak bilang kau harus beli balon, aku hanya memintamu membeli kue."


"Iya deh iya, gue salah." Danu pasrah, "kapan nih makannya."


Caramel tertawa melihat keributan mereka, "walau bagaimanapun makasih banyak udah bikin kejutan gini, aku terhura sumpah."

__ADS_1


Mereka memotong kue dan memakannya bersama. Jane juga membuka kantong plastik yang tadi dititipkan kepada Caramel. Jane dan Kayla memberikan selusin daster untuk Caramel, katanya Caramel akan sangat membutuhkan pakaian tersebut setelah perutnya besar nanti.


"Gue pikir apa berat banget." Caramel mengeluarkan semua daster tersebut, ia belum pernah mengenakan daster sebelumnya tapi nanti pasti ia akan mengenakannya setiap hari.


"Hadiah dari aku." Rafka memberikan sebuah bingkai dengan beberapa foto dirinya dan Caramel dengan ucapan selamat ulang tahun yang ditulis tangan lalu disusun sedemikian rupa membentuk pajangan cantik yang enak dipandang.


"Kamu manis banget sih, aku bisa diabetes Ka!" Caramel kembali memeluk Rafka untuk kesekian kalian masih belum percaya bahwa lelaki yang dulu ia sebut aneh itu bisa juga memberikan nya kejutan manis seperti ini.


"Bukan dia doang yang manis kali." Sahut Danu.


"Jadi kalian kerja sama buat bikin kejutan ini?" Caramel melihat mereka bergantian.


"Iya, tadi gue sama Jane udah mau nyamperin elu kesini karena Rafka bilang kalau lu nggak kerja, eh tiba-tiba Rafka telepon katanya lu mau nyamperin dia ke kantor, kita udah panik makanya langsung minta lu pulang." Jelas Kayla.


"Pantes aja gue ngerasa aneh kok Rafka maksa nggak bolehin gue ke kantornya, terus kalian tiba-tiba telfon dan paling lucunya adalah mobil Jane ketinggalan di GI, sumpah sih yang itu aneh banget." Caramel mengusap pipinya yang basah oleh air mata, tawa dan tangis menjadi satu.


"Tapi elu nggak nyangka kan?" Duga Jane.


"Enggak sama sekali karena gue juga nggak inget kalau hari ini tuh ulang tahun gue."


Mereka tertawa mengingat betapa hebohnya mempersiapkan kejutan untuk Caramel. Hampir saja mereka gagal dan hampir ketahuan tapi berkat ide Rafka akhirnya kejutan tersebut tetap terlaksana sesuai rencana.


Rafka memesan makanan untuk makan malam bersama, mereka makan banyak setelah menghabiskan energi sejak siang tadi. Jane dan Kayla rela meninggalkan anak-anak mereka di rumah demi Caramel. Walaupun sudah berkeluarga tapi persahabatan mereka tetap terjalin harmonis.


Caramel akan mencatat hari ini sebagai hari terbaiknya, ulang tahun pertamanya setelah menikah. Diusia ini Caramel akan mendapat hadiah besar yakni buah hati yang masih berada di dalam perutnya. Caramel merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki Rafka dalam hidupnya yang sempat terpuruk beberapa tahun terakhir. Rafka membuat Caramel mengingat kembali bagaimana rasanya dicintai. Rafka membuat bunga-bunga dalam hati Caramel kembali mekar.


Bagi Caramel, Rafka seperti kembang api yang datangnya tidak terduga—meletup mengusir gundah gulana yang sempat menyelimuti kehidupannya. Caramel tak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kepada Rafka karena telah mencintainya dengan sabar.


******


Caramel memutar-mutar bingkai foto hadiah dari Rafka, ia duduk bersila di atas tempat tidur membaca tulisan selamat ulang tahun Caramel pada bingkai tersebut. Ia merasa tidak asing dengan tulisan tangan Rafka, ia pernah melihat tulisan serupa sebelumnya tapi dimana.


"Masih belum puas melihatnya?" Rafka keluar dari kamar mandi mengibaskan rambutnya yang basah.


Setelah menghabiskan dua kotak pizza dan dua pake ayam goreng KFC Danu, Jane dan Kayla pulang meninggalkan sampah yang menumpuk di atas meja. Rafka dan Caramel membereskannya sebelum larut malam. Rafka baru selesai mandi sedangkan Caramel sudah duduk manis di atas tempat tidur dengan piyama favoritnya.


"Bagus banget soalnya." Caramel tersenyum pada Rafka yang telah memberinya hadiah tersebut.


Apa karena gue pernah diem-diem baca buku catatan Rafka ya, makanya tulisan ini rasanya nggak asing.


"Letakkan ini." Rafka mengambil alih bingkai di tangan Caramel dan meletakkannya di atas nakas. "tidur lah, kau pasti lelah." ia membaringkan tubuh Caramel.


"Makasih untuk hari ini." ucap Caramel lagi, entah yang ke berapa ia mengucapkan terimakasih.


"Sama-sama." Rafka mengecup kening Caramel dan menyelimutinya hingga sebatas lengan.


.


.




Caramel dan Kayla 👆



Caramel dan Jane 👆




__ADS_1


__ADS_2