
Rafka membersihkan tangannya dari noda darah akibat memukul Rama tadi. Wajah Rafka masih dingin, bahkan ia belum mengucapkan sepatah kata pun denganku. Tubuhku masih gemetar karena kejadian tak terduga sekitar 15 menit yang lalu, aku pikir Rama sudah lenyap dari muka bumi tapi ternyata ia tinggal amat dekat denganku.
Caranya memeluk ku masih sama seperti dulu, tapi rasanya berbeda. Tak ada getaran lagi, mungkin karena sudah terlalu lama kami tidak saling bertemu atau sebenarnya cinta itu telah luntur saking lamanya kami menjalin hubungan sebelum menikah.
Kami terjerat toxic relationship selama 8 tahun, aku terlalu mencintai Rama hingga tak bisa meninggalkannya padahal ia sering membohongiku. Betapa bodohnya diriku dimasa lalu. Ia juga sering bilang sangat mencintaiku, tapi kurasa cinta itu tak membuat seorang Rama berhenti bermain-main dengan perempuan. Mungkin ia telah berselingkuh berkali-kali hanya saja aku tak menyadari hal tersebut.
"Kita pindah saja dari sini." Suara berat Rafka membuatku mendongak, aku melihatnya tak percaya. Pindah? kemana? aku suka tempat ini. Ia berjalan masuk ke kamar dan kembali membawa sisir.
Rafka menyisir rambutku yang masih sedikit basah karena tadi aku belum selesai mengeringkannya dengan hair dryer agar tidak terlambat menjemputnya di lobi.
"Aku tidak mau kamu diganggu lelaki itu lagi, aku yakin setelah dia tahu kamu tinggal disini pasti dia akan terus mendatangimu."
Air mataku kembali merebak, aku tidak mau itu terjadi tapi aku juga enggan meninggalkan apartemen ini. Kempinski adalah tempat tinggal impianku dari dulu, kenapa sekarang aku harus meninggalkannya.
Rama benar-benar kurang ajar, kepergiannya membuatku trauma terhadap berbagai macam hal padahal ternyata ia sudah menikahi wanita lain. Trauma ku membuat Rafka harus rela tidak ada perayaan apapun pada pernikahan kami, ia juga menurut saat aku tidak mau fitting baju pengantin. Dengan berbesar hati Rafka mencari dress pengantin, ia harus mengira-ngira sendiri ukuran tubuhku. Namun untungnya Rafka bisa menemukan pakaian yang pas di tubuhku, aku tidak sabar melihat foto pernikahan kami. Mereka belum selesai dicetak, aku akan memajangnya di ruang tamu dan kamar.
Aku bergerak memeluk Rafka dan menangis tersedu-sedu disana. Aku tidak mau ia lebih banyak berkorban apalagi harus merelakan apartemen yang dibelinya dengan susah payah hanya karena laki-laki biadab itu.
"Aku suka tempat ini." Gumam ku disela tangis.
"Tapi bagaimana nanti jika dia datang mengganggumu?"
"Ada kamu." Aku melepas pelukan dan menatapnya lekat memastikan ia tidak terluka. Wajah tampan suamiku tidak boleh tergores sedikitpun.
"Aku tidak akan membiarkannya mendekatimu sedikitpun." Rafka kembali mendekap ku. Kini aku sadar walaupun baru satu kali Rafka mengucapkan cinta tapi ia sangat mencintaiku, aku tahu dari caranya memperlakukan Rama tadi. Aku masih ingat persis bagaimana ekspresi wajah Rafka saat melihat Rama memeluk ku dengan paksa.
Aku bersyukur karena dijauhkan dari laki-laki seperti Rama, walaupun sampai sekarang rasanya masih belum percaya kalau ia selingkuh dariku. Kami seperti pasangan sejati yang tak pernah mengkhianati satu sama lain, tapi ternyata itu hanya sampul.
Aku juga bersyukur karena–meskipun orang-orang menyebutku terlambat menikah tapi akhirnya aku dipertemukan dengan Rafka–suami impian. Aku bersyukur walaupun suamiku bukan CEO kaya dan arogan yang punya perusahaan besar dimana-mana. Namun Rafka bisa meramal cuaca, aku bangga padanya.
"Aku mandi dulu ya." Rafka melepas pelukannya, jangan! aku nggak mau ditinggal tahu Ka!
"Iya." Aku mengangguk dengan segala keterpaksaan. Aku menekuk bibir melihat ia masuk kamar, kenapa harus mandi secepat itu, aku masih ingin berada di pelukannya yang hangat.
Hujan masih turun deras terlihat dari jendela kaca yang membatasi antara ruang tv dan balkon. Aku melangkah ke arah balkon, udara dingin dan lembab begitu terasa begitu aku menyentuh pagar besi balkon.
Kita tinggal di rumah orangtuaku dulu ya, nanti setelah tabunganku cukup, kita bisa pindah ke apartemen kempinski impianmu.
Ada luka yang mengiris hatiku mengingat ucapan Rama dulu. Berarti tabungannya sekarang sudah cukup banyak untuk tinggal di apartemen ini bersama istrinya. Aku tak percaya ia menghamili wanita lain. Andai saat itu aku tahu hal tersebut, pasti aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri. Tak apa jika aku akan membusuk di penjara. Ah tidak-tidak! apa yang aku pikirkan.
"Dasar pengecut!" Umpatku sambil memukul-mukul pagar balkon di depanku ini.
__ADS_1
Udara semakin dingin, aku masuk dan menutup gorden. Sebaiknya aku memanaskan sup agar Rafka bisa segera makan usai mandi. Aku tak percaya bisa secepat ini jatuh hati kepada robot itu, sejak gagal menikah aku lupa rasanya jatuh cinta. Namun bunga-bunga di hatiku yang sempat layu kini kembali bermekaran.
Rafka sangat menyukai sayuran, jadi aku membuat sup brokoli, wortel, kentang dan daging sapi. Rasanya tidak terlalu buruk, semoga Rafka menyukainya.
"Kenapa robot lama mandinya?" Aku mematikan kompor, menyusul Rafka ke kamar.
"Aaa!" Rafka memekik saat ia melihatku masuk ke kamar, ia hanya mengenakan celana dalam dan hendak memakai kaos oblong.
"Ada apa?" Aku melihatnya polos.
Ia tidak menjawab justru lekas mengenakan kaos dan celana pendek di atas lutut. Aku menoleh ke belakang, siapa tahu ada orang lain disini hingga membuat suamiku terkejut. Tidak ada. Itu berarti ia malu karena aku tiba-tiba masuk. Ah yang benar saja, kami sudah menikah kenapa ia masih malu.
"Kau membuatku terkejut." Rafka berdehem.
Aku menahan senyum dan menghampirinya yang masih memasang wajah kaku. Ia seolah-olah lupa pada kemarahannya tadi, dasar robot.
"Kamu malu sama istri sendiri?" Aku tersenyum menggodanya dan bergerak memeluknya dari belakang. Ini hobi terbaruku, yaitu menggoda Rafka. Lihatlah, wajahnya mulai memerah. "Ganteng banget sih habis mandi?" Aku mengusap pipinya dari belakang, padahal ia selalu tampan walaupun belum mandi.
Rafka berdehem, ia memalingkan wajah enggan membalas tatapanku. "Jangan menggodaku saat kamu sedang datang bulan." Katanya dengan suara tertahan.
Aku menahan tawa, tidak tega juga menggodanya terlalu lama. "Ayo makan, aku udah panasin sup nya." Aku menarik tangan Rafka menuju ruang makan.
"Kamu masak banyak?"
Ia mengambil nasi dengan sup, udang goreng tepung, sate ayam yang ku panggang di atas teflon serta sambal kecap. Ia tidak melewatkan satu makanan pun, aku senang melihatnya.
"Ayo buka mulutmu." Rafka menyuapkan sesendok nasi dan daging kepadaku. Aku hendak protes tapi mulutku sudah penuh oleh makanan. "Jangan hanya memasak, tapi makanlah juga agar kamu bisa menghargai dirimu sendiri."
"Enak nggak?" Aku penasaran soal rasa masakanku menurut Rafka.
"Enak." Rafka mengangguk beberapa kali. "Besok aku antar kamu ke rumahmu."
"Kenapa?"
"Sebaiknya kamu disana selagi aku bekerja."
"Iya, kebetulan aku juga lagi mau bawa mobilku kesini."
"Untuk apa, aku akan mengantarmu setiap berangkat kerja."
"Aku kangen mobil." Aku meraih gelas air putih dan meneguknya hingga habis. Padahal itu hanya alasan agar aku bisa jalan-jalan dengan Jane dan Kayla saat Rafka sedang di kantor. Sekali-kali tak apa, lagi pula cuti ku akan segera berakhir.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik saat aku tidak berada di dekatmu." Rafka menyelipkan rambutku di belakang telinga.
Aku mengangguk, robotku sudah berubah jadi sangat manis, aku sudah menambahkan banyak gula di hatinya hingga menjadi seperti ini.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?" Aku menatap ke dalam mata Rafka, berusaha menyelami hatinya yang dalamnya tak pernah bisa ku kira. Andai memahami perasaan seseorang semudah menghitung uang nasabah yang jumlahnya ratusan juta, pasti aku sudah melakukannya sejak pertama kali bertemu dengan Rafka. Aku penasaran sejak kapan ia jatuh cinta padaku, satu bulan yang lalu atau baru kemarin.
"Sejak pertama bertemu denganmu." Rafka balas menatapku.
Aku mengerjap, bayangan pertemuan pertama kami tiba-tiba menyapa otak ku. Tapi ia tak menunjukkan perasaan cinta sama sekali. Justru Rafka dengan teganya meninggalkanku sendirian, seperti wanita yang dicampakkan.
"Aku nggak bakal biarin Rama ngelakuin hal kayak tadi lagi." Aku menggenggam tangan Rafka yang hangat, tidak seperti tanganku. Itu memang tugas suami, yakni menghangatkan sang istri.
"Kapanpun kamu mau pindah, aku siap melakukannya." Ucap Rafka dengan suara pelan.
"Makasih." Sudut bibirku terangkat membentuk senyum manis. Aku tak tahu harus mengucapkan apalagi selain terimakasih pada Rafka, ia sudah begitu baik menerimaku dengan segala kekuranganku.
Rafka mencuci sendiri piring bekas makannya, ia memang suami mandiri yang tak menyusahkan istri. Aku menunggunya di kamar sambil mengganti pakaian yang sempat tertunda.
"Rafka," aku berbalik saat Rafka masuk kamar.
"Hm?" Ia mengangkat alis dan tetap berdiri di depan pintu.
"Ayo liburan ke tempat yang jauh." Aku menghampirinya.
"Kemana?"
"Tempat yang hangat."
"Dekat sini juga ada." Rafka menarik tanganku naik ke tempat tidur, ia menarik selimut dan menutupi tubuhku sebatas leher.
Aku melihatnya tidak percaya, "maksudku .... "
Aku belum menyelesaikan kalimatku tapi ia sudah lebih dulu turun dari ranjang untuk menghidupkan televisi. Lihatlah, wajahnya sangat polos, benarkah ia tidak mengerti maksudku. Tempat hangat seperti pantai laut Mediterania di Perancis atau Los Angeles yang memiliki sinar matahari begitu terang. Bukan seperti tempat tidur dan selimut, Rafka! untung suami gue kalau nggak ... gue tendang sampai kutub utara biar ngumpul sama beruang.
"Awal tahun akan terjadi hujan." Ujar Rafka tanpa melihatku, seperti kebiasannya yang selalu serius saat menonton televisi, tidak bisa diganggu.
"Tahu dari mana?" Aku menyingkap selimut dan merangkak duduk di samping Rafka. Biarlah aku menjadi istri yang agresif, tak apa.
"Aku sudah menganalisis nya secara mendalam."
Aku melongo, ah benar sekali aku lupa kalau dia anggota BMKG. Aku pikir mereka hanya bisa memprakirakan cuaca dalam waktu dekat ternyata tidak.
__ADS_1
"Ayo pergi ke tempat yang nggak hujan." Aku meletakkan kepala di bahunya, tubuhnya menegang lalu beberapa saat kembali rileks, ia terkejut setiap kali aku melakukan gerakan tiba-tiba. "Kamu punya waktu delapan bulan dari sekarang buat nyari tempat itu."
Rafka menghela napas panjang tidak membalas ucapanku, entah karena ia memikirkan permintaan ku atau justru sibuk menonton.