
Mari bertemu di restoran bawah, aku menunggumu pukul 5 tepat.
Rama gelisah membaca pesan yang Rafka kirimkan kepadanya beberapa menit lalu, pesan singkat dan padat tapi sukses membuat Rama panas dingin. Ini pertama kalinya mereka akan bertemu dan bicara empat mata membahas kelanjutan kasus Adena dan Caramel. Terakhir kali Adena dan Rama berlutut di hadapan Caramel agar wanita itu mau mencabut tuntutan nya. Rama rela mengabaikan harga dirinya demi mendapat maaf dari seorang Caramel. Alih-alih mendapat maaf, Rama justru mendapatkan tamparan keras yang mendarat di pipinya.
"Rafka ngajak ketemu." Ucap Rama kepada Adena yang sedang menemani Ara bermain di ruang keluarga apartemen mereka.
"Kapan?" Adena langsung mendongak, ia begitu berharap Caramel mencabut tuntutannya.
Rama melirik jam dinding di atas televisi, pukul setengah 5. Ia akan pergi mandi sebelum menemui Rafka, paling tidak itu bisa sedikit menangkan pikirannya yang kalut.
"Mas." Adena menahan tangan Rama.
"Hm?"
Adena beranjak dari duduknya, memegang kedua tangan Rama, "terimakasih sudah mau berkorban sebanyak ini untuk rumah tangga kita."
Rama mengangguk pelan, apalagi yang bisa dilakukannya selain mengikuti kemauan Rafka. Lagi pula Rama sudah telanjur masuk ke dalam pernikahan ini.
Karena lu udah nikahin Adena, lu harus bertanggungjawab sepenuhnya sama dia, cintain dia!
Ucapan Caramel masih terngiang di telinga Rama sampai sekarang, itu menjadi cambuk keras untuknya. Seharusnya Rama mencintai istrinya saat ini dengan setulus hati terlepas dari alasan pernikahan mereka uang berdasar pada keterpaksaan.
"Aku udah nikahin kamu maka aku harus bertanggungjawab sepenuhnya sama kamu dan Ara."
"Mari saling memaafkan."
"Kamu benar-benar siap melakukan apapun asalkan Caramel mencabut tuntutannya?" Rama menatap ke dalam mata Adena yang berkaca-kaca.
"Aku siap asal bisa tetep disini, nemenin Ara dan kamu."
"Baiklah."
"Maaf, aku nggak mau kehilangan kamu Mas makanya aku emosi waktu lihat ada foto Caramel di hp mu."
"Justru aku yang minta maaf." Rama mengusap puncak kepala Adena lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
Hari itu Rama memang tengah merindukan Caramel, ia tidak sengaja melihat foto Caramel di explore Instagram. Tanpa sadar Rama telah memandangi foto tersebut sangat lama hingga Adena mengetahuinya. Adena marah besar dan langsung meraih botol anggur serta gunting di atas meja, ia melemparnya tepat ke pintu apartemen Caramel. Rama tidak menyangka bahwa Adena akan semarah itu dan menimbulkan masalah besar yang belum selesai sampai hari ini.
Rama mengguyur tubuhnya dengan air melalui shower, berharap kesalahannya pada Caramel luruh bersama air yang mengalir melewati tubuhnya. Walaupun tak semudah itu, Caramel pasti tidak akan memaafkannya seumur hidup.
Penyesalan itu kian mengiris hati kala Rama ingat malam dimana dirinya pergi ke tempat kos Adena dan akhirnya terjadi sesuatu yang membuatnya harus meninggalkan Caramel. Rama tidak ingat persis, yang jelas mereka bangun dipagi hari dengan keadaaan tidak mengenakan pakaian apapun. Rama tidak menyangka jika perbuatan mereka dimalam itu akan membuat Adena hamil.
Sekarang Rama siap mengubur perasaannya kepada Caramel walaupun itu adalah hal tersulit dalam hidupnya.
Rama mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Signature Restaurant mencari sosok Rafka. Itu dia. Rama menarik napas panjang sebelum melangkah menghampiri Rafka di salah satu kursi di sudut ruangan. Ia mempersiapkan segala konsekuensi yang akan ditanggungnya untuk menyelesaikan masalah ini.
"Sorry aku telat." Rama duduk di hadapan Rafka—ternyata Rafka orang yang tepat waktu padahal ia sengaja keluar apartemen pukul 5 tepat agar tidak menunggu Rafka terlalu lama tapi terjadi sebaliknya, Rafka yang menunggunya.
"Silahkan ada yang bisa saya bantu, menu makan malam kami sudah siap." Seorang waitress menghampiri meja Rafka bersiap mencatat pesanan mereka.
"Saya pesan nanti." Ucap Rafka, ia akan meminta Caramel turun dan makan malam disini setelah urusannya dengan Rama selesai.
"Saya americano." Timpal Rama, "kamu nggak?"
"Saya tidak minum kopi." Jawab Rafka, lagi pula ia tidak mau mengobrol lama dengan Rama kenapa harus memesan minuman segala.
"Oh." Rama mengangguk beberapa kali.
"Baik ditunggu sebentar, Pak." Waitress tersebut meninggalkan meja setelah sedikit membungkukkan badan dengan sopan.
Rafka dan Caramel sudah membahas masalah ini sejak pertemuan mereka dengan Rama dan Adena di kantor polisi seminggu yang lalu.
"Caramel akan mencabut tuntutannya." Ucap Rafka to the point, ia enggan basa-basi pada Rama. Setiap kali melihat wajah itu membuat Rafka ingat masa-masa dimana ia hanya bisa melihat Caramel dan Rama bercanda ria dari jauh. Rafka sangat membenci saat itu karena tidak bisa menjadi alasan Caramel tertawa.
__ADS_1
"Serius kamu?" Rama membelalak, ternyata Caramel masih berbaik hati kepadanya dan juga Adena.
"Asalkan kamu pindah dari apartemen ini." Tukas Rafka dengan cepat sebelum Rama telanjur mengekspresikan kebahagiaan yang berlebihan. Tidak mungkin Caramel memberikan hal ini dengan percuma. Mereka harus sama-sama diuntungkan, dari pada Caramel dan Rafka yang harus meninggalkan apartemen ini bukankah lebih baik jika Rama yang melakukannya.
Salah satu dari mereka harus mengalah dan meninggalkan apartemen ini. Tidak sehat jika kamu sering bertemu dengan seseorang yang dulu pernah mengisi kehidupan mu, tidak baik jika kamu terus bertemu seseorang yang pernah menjalin kasih denganmu. Tak ada yang bagus dari pertemuan dengan masa lalu, hanya ada dua kemungkinan—kau akan membuka luka lama atau kembali jatuh cinta.
"Apa?" Rama tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ia tidak menduga bahwa syarat yang Caramel ajukan adalah harus pindah dari apartemen ini.
"Kamu tidak dengar?" Rafka menoleh ke kanan dan kiri, restoran ini cukup sepi karena belum memasuki jam makan malam. Tidak mungkin Rama tak mendengar ucapannya barusan.
"M ... maksudku nggak ada yang lain?"
"Silahkan." Seorang waitress kembali menghampiri meja mereka membawa satu gelas americano yang sudah Rama pesan.
"Kamu mau syarat lain?" Rafka sedikit memiringkan kepalanya menatap tajam kepada Rama.
"Enggak, bukan gitu." Rama menelan ludah dengan susah payah seperti ada sesuatu di dalam tenggorokan yang membuatnya sulit berkata-kata.
"Pindah dari sini atau kami akan melanjutkan kasus ini ke pengadilan." Tegas Rafka sekali lagi.
Rama menunduk, melihat americano yang masih mengepulkan asap. Ia tidak yakin apakah kopi kental itu masih bisa melewati kerongkongannya atau tidak setelah mendengar kalimat Rafka.
Aku siap asal bisa tetep disini, nemenin Ara dan kamu.
"Ya udah kalau gitu, aku bisa pindah dari sini." Rama akhirnya mengiyakan syarat dari Caramel, ia tidak bisa memilih. Asal Adena tidak masuk penjara maka Rama akan melakukan apapun, demi Ara anak mereka.
"Kamu harus mengurus kepindahan ini secepatnya." Tambah Rafka.
"Iya," Rama mengangguk. "terimakasih karena kalian mau memaafkan kami." Lanjutnya.
"Aku tidak bilang soal memaafkan atau tidak, yang pasti jika kalian ingin kasus ini berhenti disini maka kamu harus melakukan syarat yang sudah ku berikan."
"Kamu boleh pergi." Rafka mempersilahkan Rama pergi setelah merasa tak ada yang harus ia bicarakan lagi.
Rama berpapasan dengan Caramel di koridor. Tidak ada yang mau melihat satu sama lain, bibir pun terkatup enggan bertegur sapa. Hingga akhirnya—
"Caramel." Rama memberanikan diri memanggil Caramel menghentikan langkah setelah saling melewati beberapa meter.
Kaki Caramel spontan berhenti walaupun enggan menoleh pada Rama yang memanggilnya.
"Setelah ini kita nggak akan pernah ketemu." Rama berbalik menghampiri Caramel.
"Lantas?" Mereka tidak punya alasan untuk bertemu, lagi pula sebelum ini mereka telah menjalani kehidupan masing-masing tanpa bertemu sama sekali. Sekali pun Caramel tidak pernah tahu bahwa Rama pergi menemuinya, Rama hilang seperti ditelan bumi.
"Kamu masih cinta sama aku kan?"
Caramel mendongak, matanya melotot mendengar kalimat itu dari mulut Rama. Otak Rama sudah tidak berfungsi, tanpa rasa malu mengucapkan hal tersebut pada Caramel.
"Aku dengar kalian menikah karena perjodohan, kamu nggak cinta kan sama Rafka?"
"Kamu masih waras nggak?" Caramel memutar bola mata tersenyum miring ke arah Rama.
"Kalian menikah bukan karena dasar cinta, buktinya sampai sekarang kamu belum hamil."
Caramel tertawa lebar, rasanya ia ingin menjejalkan wedges yang sedang dipakainya ini ke mulut Rama.
"Rumah tangga kami penuh dengan cinta, asal bukan married by accident aku sangat bangga dan bahagia dengan pernikahan ini, buah cinta kami akan segera hadir." Caramel mengelus perutnya membuktikan bahwa ucapan Rama tadi salah.
Caramel segera melenggang pergi meninggalkan Rama yang sudah kalah telak. Setelah apa yang Rama lakukan kepada Caramel, ia tidak punya cukup malu untuk bilang bahwa Caramel masih mencintainya.
"Aku baru saja hendak menelepon mu." Rafka melihat kedatangan Caramel setelah ia mengirim pesan agar segera turun untuk makan malam. Rafka bergegas menarik kursi untuk Caramel.
"Aku lama ya?" Caramel duduk di samping Rafka.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya sedikit khawatir." Rafka mengulas senyum tipis, "kamu ingin makan apa?" Ia membuka buku menu untuk Caramel.
"Kue hari ini apa mbak?" Caramel melihat waitress yang menghampiri meja mereka.
"Kami ada pear and ginger malva pudding." Jawab waitress tersebut dengan sopan.
"Saya mau itu satu, salmon teriyaki, lamb chops sama beef burger."
"Saya nasi gandul aja." Tambah Rafka.
"Minumnya mojito ya." Caramel menunjuk foto segelas mojito yang tidak berwarna, seperti air biasa hanya saja terdapat beberapa potongan buah dan daun mint.
"Boleh." Rafka menurut.
"Udah mbak, itu aja." Caramel tersenyum menyudahi pesanan makanannya. "Kamu pesen kopi?" Caramel mengangkat gelas yang masih penuh dengan cairan kental kopi.
"Itu punya Rama, dia tidak sempat menyentuhnya tadi."
"Jangan sampai kena minum kamu, ini sama aja kayak racun buat kamu." Caramel menggeser kopi tersebut takut jika Rafka tak sengaja meminumnya, sejak kejadian Rafka masuk rumah sakit Caramel jadi lebih hati-hati soal makan dan minum Rafka. Caramel tidak mau Rafka berada diambang kematian untuk kedua kalinya, ia sangat trauma dengan hal itu.
"Tidak akan." Rafka tersenyum tipis.
Selama tinggal disini, ini baru kali ketiga mereka makan di restoran tersebut. Kali ini Rafka yang mengusulkan makan malam disini karena Caramel bilang sedang malas memasak jadi tak apa sekali-kali makan di luar walaupun jika boleh memilih Rafka lebih suka makan masakan rumahan. Itu sebabnya Rafka memesan menu tradisional Indonesia berupa nasi gandul.
"Aku minta punya kamu ya." Caramel ikut menyendok nasi di piring Rafka yang terlihat penuh dengan irisan daging, telur dan tempe serta sayuran yang merupakan makanan favorit Rafka. Padahal Caramel telah memesan 3 menu sekaligus tapi makanan Rafka terlihat lebih menggiurkan. Nasi emang nggak pernah salah.
"Ini untuk mu." Rafka meletakkan satu potong daging pada piring Caramel, ia tahu Caramel sangat menginginkannya.
"Kamu?" Caramel melongo, walaupun dalam hatinya ia berteriak bahagia mendapatkan satu daging.
"Aku makan sayur aja, kamu butuh nutrisi lebih dibandingkan denganku."
Ah ya ampun, baik banget sih suami gue, nggak kuat Tuhan tolong aku ingin jatuh ke pelukannya sekarang juga.
Caramel menyantap daging sapi tersebut dengan satu kali lahapan membuat pipinya menggembung ditambah potongan daging domba yang begitu memanjakan lidahnya.
"Pelan-pelan." Tukas Rafka. Caramel memang paling tidak bisa pelan-pelan saat menyantap makanan, seperti tengah dikejar sesuatu. Namun itulah cara Caramel untuk menikmati makanannya.
"Aku mau bungkus burger nya buat nanti malem." Caramel merasa perutnya sudah penuh dan tidak sanggup jika harus makan burger yang sudah telanjur dipesannya.
"Tidak pesan satu atau dua lagi, memangnya cukup makan satu?" Akhir-akhir ini Caramel sering kelaparan dimalam hari sehingga ia akan makan apapun yang tersisa di kulkas.
"Ya udah dua." Jawab Caramel cepat dengan ekspresi girang.
Mereka menyelesaikan makan malam dan kembali ke apartemen setelah meminta waitress membungkus beef burger milik Caramel ditambah 2 burger lagi untuk makan tengah malam.
Rafka tidak mau Caramel kelaparan dan akhirnya makan wortel mentah yang ada di kulkas seperti beberapa saat lalu. Caramel yang tadinya tidak suka sayur akan makan apapun asal itu bisa mengisi perutnya yang lapar.
******
"Mau kemana?" Adena terkejut melihat Rama tiba-tiba turun dari tempat tidur dan keluar kamar.
"Aku lupa bayar kopi tadi di bawah." Rama meraih dompet di atas meja lalu keluar apartemen setengah berlari. Bisa-bisanya ia lupa tidak membayar kopi yang sudah dipesannya tadi. Walaupun Rama sama sekali tidak menyentuh kopi tersebut tapi tetap saja ia malu karena keluar restoran begitu saja meninggalkan kopi itu sendirian.
"Mbak, maaf tadi saya pesan americano di meja dua puluh, saya lupa belum bayar." Tanpa mempedulikan rasa malunya, Rama menghampiri resepsionis.
"Pesan pukul berapa kalau saya boleh tahu?" Tanya pegawai restoran tersebut.
"Sekitar dua jam yang lalu."
"Americano sudah dibayar atas nama Rafka."
Rama memejamkan mata, ia menepuk jidatnya sendiri karena rasa malu yang tiba-tiba begitu menguasai dirinya. Mau ditaruh dimana muka Rama setelah ini jika bertemu dengan Rafka. Di depan lah.
__ADS_1