
Angin bertiup lembut menggoyangkan pohon cempaka hingga daun dan bunganya berguguran. Aroma bunga cempaka kuning dan kuning itu menguatkan aroma menyengat ke seluruh area pemakaman.
Disinilah dulu Caramel berdiri dengan hati yang hancur berkeping-keping melihat pusara atas nama Arnesh. Itu sungguh pemandangan yang sebenarnya tak ingin Caramel lihat. Namun dengan begitu ia jadi terkesan melupakan Arnesh yang sempat hadir di hidup mereka. Sehingga meski harus menahan sakit dalam dadanya, Caramel rutin datang ke makan Arnesh untuk menabur bunga dan mendoakannya.
"Mama, ini kuburan siapa?" Suara anak kecil membuyarkan lamunan Caramel, ia menarik-narik baju Caramel bermaksud meminta perhatian.
Caramel melirik Narel dan Binar yang berdiri di sampingnya lalu ia melihat Rafka. Caramel menelan salivanya dengan susah payah bingung memilih kalimat apa untuk menjawab pertanyaan polos Narel dan Binar. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka membawa si kembar ziarah ke makam Arnesh. Namun karena dulu masih terlalu kecil mungkin mereka tidak mengingatnya.
Caramel duduk untuk menyamakan tinggi dengan Narel dan Binar. Sebelum menjawab Caramel terlebih dahulu mengusap punggung Binar yang tepat berada di sampingnya.
"Mama kan pernah nunjukin foto Kakak."
"Jadi ini tempat Kakak tidur?" Binar dengan wajah polosnya menunjuk pusara Arnesh.
Caramel mengangguk mengiyakan, baik dirinya maupun Rafka pernah menceritakan tentang Arnesh pada Narel dan Binar serta menunjukkan foto Arnesh ketika baru lahir hingga berusia 3 bulan. Caramel mengatakan bahwa kakak mereka Arnesh sudah tidur tenang di pangkuan Tuhan.
Kadang dengan polosnya Narel mengatakan ingin bertemu Arnesh yang tentu saja membuat Caramel berpikir macam-macam. Caramel memohon agar Narel dan Binar menjaga dirinya dan Rafka sampai tua nanti. Meski Caramel tahu keinginan Narel dan Binar bertemu Arnesh hanya karena mereka belum mengerti kejadian sebenarnya.
"Kalian inget nggak Mama minta apa sama kalian?"
"Mama minta untuk jagain Mama dan Papa sampai nanti." Jawab Narel dengan gaya bicara khas anak kecil yang tidak terlalu jelas tapi Caramel dan Rafka bisa mengerti.
"Bener, kalian mau nggak jagain Mama dan Papa?" Pandangan Caramel berkabut meski ia sudah menahannya sejak turun dari mobil tapi air matanya tetap meleleh.
"Anak Mama udah pinter sekarang." Caramel mengusap kepala keduanya.
Rafka mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung Caramel, ia tahu sang istri telah berusaha keras untuk tidak menangis. Namun setiap kali datang kesini meski telah bertahun-tahun berlalu Caramel tetap menangis.
"Ayo tabur bunganya untuk Kakak." Caramel menyodorkan wadah bunga pada mereka.
"Sebentar lagi tempat tidur Kakak jadi cantik." Narel menaburkan campuran bunga mawar dan melati hingga memenuhi makam Arnesh.
"Iya dong, kasih bunganya lagi sayang."
Setelah menghabiskan semua bunga di dalam wadah yang Caramel bawa mereka bersiap untuk berdoa.
"Kalau gitu sekarang kita berdoa untuk Kakak ya." Ajak Rafka.
"Ayo tangannya gimana kalau berdoa?" Caramel membantu Binar memposisikan tangan selayaknya orang berdoa.
Mereka menengadah tangan menunduk membaca doa untuk Arnesh.
Setetes air jatuh mengenai telapak tangan Caramel, ia yakin itu bukan air matanya. Kemudian tetes air berikutnya turun lebih cepat membuat Caramel dan Rafka bangkit menarik tangan si kembar agar segera kembali ke mobil sebelum hujan turun lebih deras.
"Ternyata hujan turun lebih awal dari perkiraan." Rafka menoleh pada Caramel yang sudah duduk di jok penumpang di sampingnya setelah membantu Narel dan Binar masuk mobil.
"Padahal kita mau ke Bandung, apa ditunda aja besok?" Caramel mengenakan seatbelt.
Rafka menggeleng, "kita sudah janji pada anak-anak, kasihan mereka kalau dibatalkan."
"Narel Binar, sabuk nya udah bener belum?" Caramel menoleh ke belakang memastikan ia telah memasang seatbelt dengan benar untuk di kembar.
"Sudah Ma." Jawab mereka kompak.
"Kalian mau makan apa?" Caramel mengecek tas di dekat kakinya dimana ia menyimpan makanan untuk Narel dan Binar agar tidak bosan selama perjalanan.
"Roti coklat."
"Roti kismis."
Narel dan Binar menjawab bersamaan, walaupun selalu kompak dalam menjawab pertanyaan mama papanya tapi soal selera mereka cukup berbeda. Narel suka coklat sedangkan Binar lebih suka kismis atau rasa buah lain.
Mereka termasuk kembar tidak identik karena wajah keduanya berbeda. Rambut Narel lurus seperti Caramel sedangkan Binar lebih bergelombang mirip Rafka. Meski begitu Caramel tetap memakaikan mereka baju yang memiliki motif sama agar terlihat kembar. Jika bukan tinggi mereka yang sama maka orang-orang tak akan menyangka jika Narel dan Binar adalah anak kembar.
"Mama, Binar bisa buka bungkus rotinya sendiri."
"Narel juga."
"Iya dong, kan sebentar lagi udah mau masuk TK." Caramel kembali menoleh ketika Rafka mulai menjalankan mobilnya menjauhi area pemakaman. Ia tersenyum lebar melihat Narel dan Binar memakan roti mereka dengan lahap.
Mereka berencana untuk pergi berkemah di Pine Hill seperti janji mereka 5 tahun yang lalu ketika Caramel merasa putus asa karena tak segera hamil lagi.
Caramel telah menunggu lama untuk momen ini dimana ia bisa berkemah tak hanya dengan Rafka tapi juga Narel dan Binar. Caramel ingin satu tapi Tuhan memberinya dua, sungguh ia merasakan anugerah Tuhan tiada henti mengalir pada keluarganya.
"Kita mampir ke rumah Oma dulu ya, ketemu Abang Zico dulu." Rafka melirik spion atas menunggu jawaban Narel dan Binar di belakang.
Caramel menoleh karena tak segera mendengar jawaban dari keduanya, "udah tidur mereka." Ia menahan tawa karena Narel dan Binar begitu cepat tertidur bahkan roti mereka belum habis. Hujan dan AC memang perpaduan yang pas untuk tidur.
"Kalau capek aku gantiin kamu nyetir." Caramel mengusap lengan Rafka.
"Kamu bisa istirahat selama perjalanan, aku akan menyetir untuk mu." Suara Rafka begitu lembut ditangkap oleh indra pendengaran Caramel.
Mobil berhenti di depan halaman rumah mama Rafka yang penuh dengan tanaman hias mulai dari yang ukurannya kecil hingga paling besar.
"Tanaman Mama makin banyak ya?" Caramel melihat keluar jendela, makin hari jumlah tanaman di halaman semakin banyak.
Mama Rafka memang gemar merawat tanaman disela pekerjannya, ia juga pernah memberi Caramel beberapa tanaman hias yang cara merawatnya tidak sulit tapi tanaman itu lama-lama mati. Caramel curiga mungkin tangannya mengandung racun yang bisa membuat tanaman mati dalam sekali sentuh.
"Kadang Mama menjualnya karena banyak tanaman yang beranak dan tidak cukup lagi di rumah ini jadi menjual beberapa adalah pilihan yang tepat."
__ADS_1
Ketika penjaga rumah membuka garasi, mobil Rafka bergerak masuk ke dalamnya karena di luar sedang hujan. Rafka tidak mau mengambil resiko Narel dan Binar kehujanan saat turun dari mobil.
Mereka membuka pintu penumpang untuk membawa Narel dan Binar keluar dari mobil dengan menggendongnya karena si kembar masih tertidur pulas.
"Astaga, kayaknya sebentar lagi aku nggak bisa gendong Binar." Suara Caramel sedikit tertahan setelah memposisikan Binar di gendongan nya.
Rafka hanya tergelak mendengar kalimat Caramel, jika dulu ia bisa menggendong mereka sekaligus maka sekarang tidak lagi karena Narel dan Binar sudah benar-benar tumbuh besar.
Mama Rafka tampak membukakan pintu belakang menyambut kedatangan anak, menantu dan dua cucunya yang menggemaskan.
Caramel dan Rafka menidurkan si kembar di kamar tamu yang letaknya paling dekat dengan ruang makan sehingga mereka tak perlu naik ke lantai atas.
"Mama masak apa, enak banget baunya." Caramel kembali ke dapur setelah menidurkan si kembar, ia melihat Febi sibuk memotong wortel sedangkan Mama Rafka mengaduk sesuatu di atas wajan. Perut Caramel langsung berdendang mencium aroma masakan mertuanya yang tidak pernah gagal, sebelum berangkat ia memang tidak sarapan karena ingin makan disini.
"Mama bikin semur daging, sebentar lagi matang tapi jangan buru-buru karena masih ada satu lagi masakan yang belum jadi."
"Yang lagi dipotong Febi ya, aku bantu apa nih?" Caramel menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, tentu saja ia tidak enak jika datang hanya untuk makan. Paling tidak ia bisa membantu sedikit mencuci atau memotong sayuran.
"Mbak tolong cuci baby corn ya." Pinta Febi, ia sudah paham kalau kakak iparnya itu tidak berani membantu selain memotong atau mencuci sayur karena takut membuat masakan mereka tidak enak padahal tak sepatah itu juga kemampuan masak Caramel.
"Oke adikku yang paling cantik." Caramel sumringah setelah mendapat tugas tersebut, ia membuka plastik pembungkus baby corn itu dan mencucinya setelah memindahkannya ke dalam wadah lain.
"Karena Mbak nggak punya adik lain kan?" Febi mencibir, bagaimana Caramel tak mengatakannya cantik jika ia adalah anak tunggal dan hanya memiliki satu adik ipar maka Febi menjadi satu-satunya.
Caramel hanya terkekeh mendengar cibiran Febi.
"Abang mana Bi?" Abang adalah panggilan Narel dan Binar untuk Zico.
"Lagi main PS tuh sama Papanya di ruang tengah." Febi telah selesai memotong wortel kini giliran asparagus. "Akhir-akhir ini nggak tahu kenapa Zico bilang pengen adik karena temen-temennya udah pada punya adik."
"Kan memang sudah waktunya Bi." Timpal mama. Zico sebentar lagi genap berusia 9 tahun dan sudah waktunya untuk memiliki adik.
"Emangnya masih nunggu apalagi?"
"Belum siap, karena Papanya Zico juga masih sering tugas keluar pulau padahal Mbak tahu sendiri wanita hamil butuh perhatian suaminya."
"Iya sih, tapi kan ada Mama ada aku yang bakal ngasih kamu perhatian."
Febi tersenyum hambar, tetap saja perhatian seorang suami memiliki porsi tersendiri di hati para istri.
"Caramel Sleepwear lancar kan Mbak?" Febi mengalihkan pembicaraan.
"Lancar kok, aku bersyukur karena sekarang Caramel Sleepwear udah stabil." Caramel selesai mencuci 5 buah baby corn, ia mengambil satu talenan untuk memotongnya menjadi dua.
Tak terasa sudut bibir Caramel terangkat mengingat perjuangannya mendirikan Caramel Sleepwear dulu. Mulai dari menjual semua perhiasan, tas dan sepatunya untuk menyewa tenant hingga menguras hampir seluruh tabungannya. Sekarang Caramel Sleepwear sudah bisa dikatakan stabil bahkan Caramel telah membeli tenant yang dulu hanya ia sewa.
Semua masakan telah tersaji di meja makan mulai dari semur daging, tumis asparagus, wortel dan baby corn, ayam goreng dan sambal terasi tidak lupa sayur asem kesukaan Rafka.
Narel dan Binar juga sudah bangun bersiap untuk makan siang bersama. Mereka duduk sejajar dengan Zico dan suami Febi.
"Aduh jarang-jarang bisa kumpul lengkap begini." Caramel menuang air putih ke gelas mereka masing-masing. Benar kata Febi bahwa sang suami sering bertugas di luar pulau sehingga pemandangan seperti ini jarang terjadi.
"Mbak Cara sama Bang Rafka mau berangkat hari ini juga?" Edwin—suami Febi melihat Caramel dan Rafka bergantian.
"Iya, ini krucil dua udah nggak sabar mau pergi." Caramel duduk di kursi kosong di samping Rafka.
"Abang ikut?" Tanya Rafka pada Zico.
Zico melihat mamanya meminta jawaban dari pertanyaan Rafka, dari sorot matanya ia ingin ikut pergi ke Bandung karena ia mendengar bahwa mereka akan berkemah disana.
"Oma mau ditinggal sendirian?" Alis Febi terangkat, jika ia ikut dengan Rafka maka mamanya hanya akan berdua dengan ART di rumah.
"Nggak apa-apa, lagian kan Zico jarang liburan mumpung Edwin pulang mending kalian ikut ke Bandung." Balas mama lembut.
Zico sumringah tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya karena akan ikut berkemah dengan dua sepupunya juga.
Hujan mulai reda ketika mereka hendak berangkat ke Pine Hill. Perjalanan dari Jakarta akan memakan waktu lebih dari 3 jam jika lalu lintas tidak terlalu macet. Mereka memang memilih hari kerja untuk menghindari kemacetan di jalan.
******
Akhirnya Caramel bisa kembali melihat deretan pohon pinus yang menjulang tinggi dengan daun rimbun di Pine Hill, Cibodas. Jika telah menginap disini satu malam Caramel enggan pulang karena tak ingin meninggalkan dinginnya hutan pinus dan lembap pada saat yang bersamaan sebab Bandung selalu hujan.
Kali ini Caramel membawa Narel dan Binar untuk kemping pertama mereka. Begitu sampai Narel dan Binar langsung melompat keluar dari mobil dengan tidak sabar. Maklum selama ini Caramel hanya membawa mereka ke taman apartemen atau berenang, paling sering ke Grand Indonesia menaiki berbagai wahana permainan disana. Namun bercengkrama langsung dengan alam seperti ini adalah kali pertama bagi mereka.
"Sayang hati-hati ya, Abang jangan lari-lari gitu jalannya licin loh." Caramel sibuk berteriak memperingati anak-anak yang terlalu antusias untuk bermain. Sejak menjadi ibu ia mendadak suka berteriak saat anak-anak nya melesat jauh dari pandangannya.
"Anak-anak emang suka gitu Mbak." Febi keluar dari mobilnya disusul Edwin, ia hanya tersenyum maklum melihat Zico dan dua sepupunya berlari jauh.
"Nggak ada capeknya kalau anak-anak heran." Caramel membuka bagasi untuk mengeluarkan barang-barang mereka.
Tidak hanya Caramel dan Febi yang hendak mendirikan tenda di lokasi Pine Hill tersebut, Jane dan Kayla tidak mau ketinggalan. Akhirnya Jane bisa ikut kemping setelah protes pada Caramel karena ia tak pernah diajak liburan bersama, ia jadi merasa lebih sibuk dari Caramel yang merupakan owner Caramel Sleepwear.
Kehidupan setelah berumahtangga memang sangat rumit apalagi untuk para ibu yang masih bekerja selain menjalankan tugasnya sebagai istri. Mereka jarang bisa keluar liburan jauh seperti ini. Jika ada waktu maka mereka harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Dulu Caramel bersikeras tidak ingin menggunakan ART karena ia masih bisa mengatasi semuanya apalagi Rafka siap membantunya mengurus pekerjaan rumah. Namun setelah Narel dan Binar tumbuh lebih aktif, pekerjaan menjadi menumpuk dan tidak teratasi. Akhirnya Rafka menyarankan agar mereka menggunakan jasa ART untuk membersihkan apartemen sekaligus memasak sehingga Caramel bisa fokus pada si kembar dan bisnisnya.
"Itu temen-temen Mbak ya?" Febi menunjuk beberapa orang yang sedang berusaha mendirikan tenda di bawah pohon pinus.
"Iya tuh, kita bikin di sekitar situ aja."
__ADS_1
Para lelaki bertugas untuk mendirikan tenda sedangkan kaum wanita mengawasi anak-anak sekaligus menyiapkan peralatan memanggang serta bahan-bahannya. Tujuan kemping sesungguhnya memang hanya untuk makan daging panggang ditemani suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan.
"Si Doni bisa nggak tuh bangun tendanya?" Caramel menunjuk suami Jane dengan dagunya karena ia lihat dari tadi tenda itu tidak segera berdiri.
"Nggak pernah ikut pramuka dia waktu sekolah." Jane hanya melirik sebentar pada sang suami yang masih berusaha keras untuk mendirikan tenda.
"Tuh tuh adik gue pinter banget baru sebentar udah hampir jadi tendanya." Caramel dengan bangga melihat Edwin hampir selesai dengan tendanya. Tentu saja itu bukan hal yang besar bagi seorang tentara seperti Edwin.
"Anak-anak panggil gih, gue bawa best seller ku nih." Kayla datang membawa bungkusan besar berisi dessert box berwarna kuning, itu adalah Karamel Sweet Pineapple yang paling laris di Kayla's Cake meski ia telah membuat banyak inovasi menu baru lainnya.
"Setelah bertahun-tahun kue Caramel ini masih jadi best seller?" Jane mengambil satu kotak yang dikeluarkan oleh Kayla.
"Harusnya gue dikasih royalti nggak sih?" Caramel pura-pura menyindir, itu adalah kue yang Kayla buat untuk mendapat maaf darinya tapi Karamel Sweet Pineapple justru menjadi menu yang paling laris selain salad buah.
"Ya ampun lu gitu banget sama sahabat sendiri." Kayla mencebik, ia telah menata semua dessert box di atas karpet.
Anak-anak mulai berkumpul untuk menikmati kue manis tersebut, peluh membanjiri pakaian mereka padahal suhu di atas sini mencapai 16 derajat tapi tak ada ceritanya kedinginan bagi anak-anak yang hiperaktif tersebut.
Sementara itu para suami masih berusaha mendirikan tenda. Sebenarnya mereka bisa saja menempati tenda yang telah disediakan oleh pihak pengelola wisata. Namun katanya kurang menantang kalau tidak membangun tenda sendiri, entah siapa yang pertama mengatakan itu. Alhasil mereka kesusahan mendirikan tenda hingga harus dibantu oleh Edwin yang begitu profesional.
"Binar, rambutnya dibenerin dulu ya." Caramel melepas kunciran Binar yang berantakan akibat lari kesana kemari tanpa henti.
"Enak banget ya suasananya." Jane merentangkan tangan menghirup udara yang terasa dingin menyentuh cuping hidungnya. Selama ada disini Jane akan menghirup udara sebanyak mungkin seolah ia bisa menyimpannya sampai ke Jakarta. "Eh pas lu sama Rafka kesini ngapain aja di dalam tenda?" Ia merendahkan suaranya takut jika anak-anak mendengarnya. Padahal anak-anak mereka sedang fokus memakan kue, tak ada waktu untuk mendengar gosip para orangtua. "Waktu belum ada Narel dan Binar."
"Ya tidur ngapain lagi." Caramel menjawab seadanya.
"Kirain nyetak sesuatu sampai jadi mereka." Jane melirik si kembar.
"Udah deh." Caramel merapatkan giginya memberi kode agar Jane berhenti membahas hal seperti ini, jika hanya ia dan Jane serta Kayla mungkin tidak masalah. Namun disitu juga ada Febi yang membuat Caramel harus menahan diri untuk tidak bicara sembarangan.
Langit mulai gelap ketika mereka telah menghabiskan semua dessert box yang Kayla bawa. Tenda juga sudah berdiri siap untuk melindungi mereka dari hujan dan dinginnya malam hari disini.
Suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan meramaikan suasana malam hari di tengah hutan pinus. Aroma daging yang dianggapnya menguar dari segala penjuru, rupanya semua orang yang datang kesini memang hanya untuk memanggang daging.
Caramel juga membawa alat untuk membuat hotpot sehingga tak hanya dipanggang, mereka juga bisa merebus daging bersama sayur. Caramel membawa banyak sawi dan jamur karena Rafka lebih suka sayur dari pada daging, begitu juga dengan Binar yang tak perlu dipaksa makan sayur ia sudah menyukainya.
"Ini pedes, mau?" Caramel menahan tangan Narel yang hendak mengambil daging di dalam rebusan kuah berbumbu.
"Mau." Narel mengangguk.
"Cicip dikit dulu ya." Caramel menyuapkan sedikit kuah pada Narel. "Masih mau?"
Narel kembali mengangguk, Caramel pun memberikan dua potong daging dengan irisan tipis yang telah matang pada mangkuk Narel.
"Anak elu nih doyan pedes." Jane ikut mengambil daging yang sudah matang dan menyantapnya.
"Binar mirip Papanya banget." Timpal Kayla.
"Namanya juga hasil berdua jadi kombinasi antara gue sama Papanya lah." Caramel mengambil daging panggang untuk Binar.
Untung saja mama Rafka membawakan nugget ayam khusus anak-anak yang tidak bisa makan pedas atau daging. Anak-anak tak mungkin bisa menolak nugget ayam apalagi bentuknya yang beragam.
"Aku ke toilet dulu." Caramel beranjak setelah menghabiskan banyak daging dan sayur.
"Mau aku antar?" Rafka meletakkan sumpit di tangannya untuk mengantar Caramel ke toilet.
"Nggak usah, Papa lanjutin makan aja." Caramel setengah berlari menuju toilet yang letaknya sekitar 50 meter dari sini. Tiba-tiba ia ingin buang air besar setelah membuat perutnya penuh dengan banyak makanan.
Caramel harus ekstra hati-hati ketika melewati jalan yang penuh rerumputan basah bekas hujan seharian ini, kalau tidak ia bisa jatuh. Mungkin sakitnya tak seberapa tapi malunya setengah mati.
"Sepi juga disini." Caramel menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin karena ini bukan hari libur jadi Pine Hill tidak terlalu penuh oleh orang yang sedang kemping.
Lampu temaram membuat Caramel segera masuk toilet dan BAB dengan cepat lalu kembali ke tenda. Caramel menyesal karena menolak ajakan Rafka untuk mengantarnya kesini, ditambah ia tidak membawa ponsel.
"Udah beranak dua masih takut aja lu Car." Caramel mengomel pada dirinya sendiri, ia mencoba duduk tenang di atas closet. Bagaimana jika lampu disini tiba-tiba mati maka Caramel akan mati beku di dalam toilet karena ketakutan. Ia tak ingin mengunci pintu toilet tapi takut tiba-tiba ada orang yang menerobos masuk.
******
"Eh kok gerimis." Febi memekik merasakan air berjatuhan dari atas, perlahan semakin deras.
Acara barbeque yang sebenarnya belum selesai terpaksa buyar, mereka membereskan semua alat panggang agar tidak terkena hujan. Anak-anak dibawa masuk ke dalam tenda sebelum hujan semakin deras.
Tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita bahkan musik yang mengalun lembut dari cafe juga mati. Jangan bilang kalau listrik disini mati, itu artinya rencana mereka untuk tidur hingga malam harus gagal karena apalah arti hidup tanpa listrik.
"Yah kok mati lampu sih?" Kayla meletakkan kembali wajan pemanggang yang tadinya hendak ia bereskan.
"Ini sih bukan mati lampu lagi tapi mati listrik." Jane menyahut, ia buru-buru menyalakan flash ponsel untuk menerangi sekitarnya. "Besok aja diberesin dari pada item semua baju kita."
"Sama saja mati lampu kek mati listrik, sama-sama gelap."
"Mbak Caramel belum balik ya?" Febi teringat pada Caramel yang belum kembali sejak bilang ke toilet.
"Wah parah Caramel bisa pingsan di toilet." Jane melongokkan kepala ke dalam tenda Caramel, ia melihat Narel dan Binar telah duduk manis dengan penerangan lampu emergency di tengah tenda. "Papa kalian kemana?"
"Jemput Mama di toilet." Jawab mereka kompak seperti paduan suara.
"Ya udah, kalian jangan kemana-mana ya, gelap soalnya." Jane menutup tenda tersebut, "udah dijemput Rafka." Ia memberitahu yang lain bahwa Rafka sudah menjemput Caramel di toilet.
Mereka masuk ke dalam tenda masing-masing selain karena hujan turun semakin deras, mereka tidak bisa melakukan apapun dengan penerangan minim.
__ADS_1