Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Empat


__ADS_3

"Pokoknya aku mau hamil." Caramel telah mengucapkan kalimat tersebut berkali-kali tapi Rafka tidak menanggapinya. "Papa, kamu denger aku nggak sih?" Caramel bangun dari posisi tidur, ia masih membalut tubuhnya dengan selimut.


"Tidak." Jawab Rafka singkat, ia memungut pakaiannya dan Caramel di atas lantai dan memasukkan nya ke dalam keranjang khusus baju kotor. Rafka sudah mengganti pakaian dengan kaos oblong dan celana pendek usai mandi. Sementara itu Caramel masih malas-malasan di atas tempat tidur.


"Kamu lupa dulu dokter bilang boleh hamil setelah setidaknya enam bulan dari operasi sesar pertama, luka itu butuh waktu lama untuk sembuh." Rafka menunduk mencari sesuatu di kolong meja dan tempat tidur.


"I'm okay." Caramel tetap pada pendiriannya.


"Sudah lah, kita tunda dulu." Rafka kembali beranjak menemukan remote televisi di kolong tempat tidur, ia tak tahu bagaimana bisa benda tersebut ada disana.


"Rafka please." Caramel menahan tangan Rafka yang hendak menyalakan televisi.


"Itu akan berbahaya dan sangat beresiko karena luka operasi mu yang belum sepenuhnya sembuh bisa robek lagi." Rafka tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Caramel setelah semua yang terjadi padanya beberapa bulan terakhir.


Caramel melepaskan tangan Rafka mengerucutkan mulutnya kesal, "kita baru aja kehilangan Arnesh, kenapa kamu nggak mau kita punya anak lagi?"


Hening. Tak ada jawaban dari Rafka. Bukannya tidak mau, Rafka hanya ingin semuanya dipersiapkan dengan baik. Dulu saat hamil Arnesh semuanya dalam keadaan baik tapi Caramel harus melahirkan lebih awal karena kecelakaan. Apalagi sekarang luka operasi Caramel belum bisa dikatakan sembuh total tapi ia sudah ingin hamil lagi, Rafka mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan hal tersebut.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mu?" Rafka menatap tajam pada Caramel.


"Ada kamu." Jawab Caramel setelah terdiam beberapa detik.


Rafka mendengus, memangnya ia dokter yang bisa membantu Caramel melahirkan? ia hanya bisa meramal cuaca.


"Ada kamu, kamu nggak mungkin biarin aku kenapa-napa." Caramel tak pernah mengkhawatirkan apapun sejak memiliki Rafka di hidupnya. Caramel seolah hidup tanpa beban asal ada Rafka di sampingnya.


"Ya sudah terserah kamu." Rafka menyerah, dari setiap perdebatan Rafka akan selalu mengalah demi menuruti permintaan Caramel sekalipun berbahaya seperti ini.


Rafka duduk di ujung ranjang menyalakan televisi menonton acara kesukaannya.


Caramel tersenyum merangkak memeluk Rafka dari belakang mengucapkan terimakasih karena telah mengizinkannya hamil lagi.


"Kamu nggak mandi?"


"Entar aja, kamu sih mandi duluan aku jadi males mau ke kamar mandi." Caramel masih menempelkan kepalanya pada punggung Rafka. Tubuhnya terasa lengket usai berperang dengan Rafka tadi hingga akhirnya ia tertidur dan baru bangun disiang hari. Saat Caramel bangun Rafka sudah selesai mandi.


"Makasih Pa, udah sabaaaar banget sama aku."


"Apalagi yang bisa kulakukan selain sabar menunggumu hingga bisa menerima semua ini, semalam aku hanya tidak tahan dengan sikap mu yang berpikir seolah-olah Arnesh masih hidup.'


"Ayo pergi ke makam Arnesh."

__ADS_1


Rafka memutar badan terkejut mendengar ucapan Caramel, ia menatap sang istri memegang lengannya tak percaya.


"Kamu siap?" Tanya Rafka.


Meski Caramel menyembunyikan kesedihannya dengan senyum tapi Rafka bisa melihat mata Caramel yang berkaca-kaca.


"Jangan paksakan diri kamu sayang." Rafka mengusap pipi Caramel yang lengket bekas keringat.


"Aku harus kesana, itu tempat istirahat Arnesh untuk selamanya."


"Kapanpun kamu mau kita bisa pergi kesana."


"Walaupun Arnesh udah nggak ada di dunia ini tapi dia akan selalu ada di hati kita."


Rafka mengangguk menarik Caramel ke dalam pelukannya, "terimakasih sudah menjadi wanita yang kuat." Ia mengecup puncak kepala Caramel sebelum mengurai pelukan.


"Mandi gih." Rafka merapikan rambut Caramel yang berantakan.


"Minta tolong ambilin bathrobe aku dong."


"Ada di kamar mandi kok."


"Malu?" Rafka mengerutkan kening, mengapa harus malu, tak ada orang lain disini.


Caramel mengangguk.


"Baik lah, tunggu sebentar." Rafka beranjak ke kamar mandi mengambil bathrobe putih untuk Caramel. Tentu saja di rumah itu hanya Caramel yang mengenakan bathrobe sedangkan Rafka lebih suka memakai handuk biasa.


Sementara Caramel mandi, Rafka menonton televisi yang menayangkan berita terkini dari berbagai daerah di Indonesia. Rafka juga telah memesan Tom Yam dari restoran Thailand dekat sini untuk makan siang. Mereka telah menguras energi cukup banyak sehingga butuh makanan berat untuk mengembalikannya.


Rafka beranjak mendengar bel apartemen berdenting, tanpa melihat di layar monitor Rafka sudah tahu kalau itu adalah kurir pengantar makanan.


"Silahkan Pak, pesanannya diterima." Kurir berjaket hijau tersebut menyodorkan sebuah kotak makan pada Rafka.


"Terimakasih ya." Rafka kembali menutup pintu, beruntung ia memiliki istri Caramel yang bisa mengajarinya memesan makanan secara online. Kalau tidak, mungkin Rafka hidup jauh tertinggal dari peradaban.


Rafka memindahkan Tom Yam ke dalam mangkok, aroma rempah, seafood dan jamur langsung tercium dari asap yang mengepul. Tak hanya itu Rafka juga memesan mango salad sebagai makanan pembuka.


"Hmm baunya enak banget."


Rafka berbalik mendengar suara Caramel, "kok cepet?" Ia heran melihat Caramel sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos oblong yang kebesaran hingga paha.

__ADS_1


"Iya kebiasaan waktu masih ada Arnesh jadi buru-buru mandinya." Caramel nyengir, saat mandi tadi tubuhnya otomatis melakukannya dengan cepat karena terbiasa saat ada Arnesh. Bahkan Caramel selalu melewatkan sesi berendam dan terbiasa sampai sekarang. "Kamu beli apa?"


"Tom Yam, kamu bilang ingin makan masakan Thailand."


"Masakan Thailand kan banyak." Caramel duduk di salah satu kursi meja makan.


"Hanya Tom Yam yang aku tahu, kalau tidak mau aku akan pesan yang lain." Rafka duduk di samping Caramel.


Caramel menggeleng tertawa, "kamu serius banget sih aku kan cuma bercanda."


Rafka mengambil nasi untuk Caramel dan dirinya. Ia tidak suka dengan candaan Caramel seperti itu.


"Makasih ya." Caramel mencium pipi Rafka karena ia lihat wajah sang suami cemberut karena candaannya. "Ayo ke makam Arnesh setelah makan."


Rafka terdiam beberapa saat sebelum membalas ucapan Caramel, "kamu siap?"


Caramel mengangguk, "aku harus siap mungkin Arnesh nunggu aku dateng, aku Mama nya harusnya aku dateng lebih cepet."


"Arnesh pasti mengerti perasaan Mama nya." Rafka meraih tangan Caramel dan menggenggamnya.


Caramel menggigit bibirnya menahan tangis, ia tak seharusnya menangis saat seperti ini. Ia mengunyah nasi dengan kuah hangat Tom Yam sambil menunduk dalam agar Rafka tidak tahu kalau ia tengah menahan tangisnya dengan sekuat tenaga.


*******


Sore itu langit gelap mendung menggelayut di atas area pemakaman, angin berhembus dingin menusuk kulit seolah ingin menambah suasana duka.


Caramel memandang sebuah pusara penuh mawar yang telah layu dan mengering. Ia berusaha tegar sejak dalam perjalanan dari apartemen kesini. Namun setelah melihat nama Arnesh tertulis di batu nisan, ketegaran Caramel runtuh juga. Ia tak pernah membayangkan nama yang diberikan pada anak sulung mereka itu akhirnya akan tertulis di batu nisan.


"Halo sayang, Mama dateng, maaf Mama telat jenguk kamu." Caramel duduk meringkuk mengusap batu nisan tersebut seolah itu adalah kepala Arnesh. "Mama harap kamu tidur dengan tenang disana."


Rafka ikut duduk mengusap punggung Caramel untuk menguatkannya. Ia sendiri sudah beberapa kali kesini setelah pulang kerja, tapi perasannya selalu sama. Sering datang bukan berarti membuat Rafka menjadi lebih kuat.


"Mama sedih banget kamu pergi sayang, Mama belum bawa kamu main ke pantai pakai kacamata hitam yang Mama beli waktu itu." Suara Caramel bergetar, tangisnya tak terbendung lagi, "pagi itu kamu tidur terus dan nggak bangun lagi, tidur mu nyenyak sekali."


Caramel mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan, tapi bukannya kering pipinya makin basah karena dihujani air mata yang lebih deras.


"Ma," Rafka menarik Caramel menyandarkannya pada bahu, "sudah ya." Ia merengkuh sang istri penuh kasih sayang.


Mereka membaca doa untuk Arnesh dan menabur bunga mawar di atas makam Arnesh hingga tak terlihat tanah nya. Caramel kembali mengusap batu nisan Arnesh sebelum mereka pergi.


Caramel yakin di tengah hujan badai ini tersimpan pelangi yang indah untuknya dan Rafka. Ia yakin cuaca tak kan selamanya mendung, suatu hari hidup mereka akan kembali disinari kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2