Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan


__ADS_3

Mama Rafka menyambut kedatangan ku dengan pelukan dan ciuman di kedua pipi ku. Ternyata Mama kami sama saja, selalu heboh saat menyambut kedatangan sang calon menantu, tak heran jika obrolan mereka saat arisan beberapa minggu yang lalu berujung pada perjodohan antara aku dan Rafka. Entah sudah sejauh mana mama menceritakan tentang ku pada mama Rafka. Tak jarang mama juga akan menambahkan sesuatu yang tak ada dalam diriku saat bercerita dengan teman-teman nya.


Selain ciuman, kedatanganku juga disambut oleh sajian makanan tradisional yang memenuhi meja. Bagaimana ini, aku sudah makan banyak tadi hingga melihat mereka membuatku mual. Bukan karena penampilan masakan mama Rafka tidak menarik, justru mereka tampak sangat lezat tapi perutku sudah penuh oleh daging dan daun perila. Ternyata inisiatif ku untuk makan lebih dulu sebelum bertemu mama Rafka itu salah besar.


Sekilas tadi Rafka bercerita bahwa orangtuanya berpisah saat ia SMA agar aku tak salah paham atau bahkan menanyakan tentang keberadaaan Papa nya. Rafka memiliki seorang adik perempuan yang sudah menikah lebih dulu.


Kami duduk mengelilingi meja makan, ada dua kursi kosong tepat di hadapanku dan Rafka.


"Febi lagi di rumah suaminya sekarang, biasanya ada Zico juga disini, kalau nggak ada mereka rumah jadi sepi banget." Ucap mama Rafka sambil melihatku teduh. Mendengar nama Zico aku jadi langsung teringat pada anysong challenge di tik tok yang sedang viral akhir-akhir ini, apaan sih Car!


"Padahal saya pengen banget ketemu Febi dan Zico." Aku mengembangkan senyum lebar kepada calon mertuaku yang sangat ramah itu. Berdasarkan insting, aku menebak Febi adalah nama adik Rafka sedangkan Zico pasti anak Febi alias keponakan Rafka. Tentu saja aku harus menebaknya sendiri karena Rafka si manusia robot tak memberitahu ku sebelumnya.


"Maklum suami Febi itu army jadi sekalinya dateng mereka maunya nempel terus."


"Army?" Ulang ku, maksudnya army sebutan untuk fansclub BTS?


"Iya dia baru saja pulang dari Kalimantan setelah tiga bulan tugas disana."


"Oh." Aku berOh panjang sambil nyengir kikuk, lagian si camer kenapa tidak bilang tentara saja dari pada army otak ku langsung salah fokus.


"Kamu nggak suka opor ayam ya?" camer melihatku yang makan sedikit nasi dengan sambal goreng ati dan dendeng balado, semua makanan aku suka, berhubung perutku sudah penuh aku tidak bisa mengisinya lebih banyak lagi. Menu di meja makan mengingatkanku pada hari raya Idhul Fitri. Aku hanya berharap dendeng balado tidak ribut dengan samchan sapi di dalam perutku.


"Suka kok Tante."


"Caramel lagi diet Ma, dia ingin tampil sempurna dihari pernikahan kami." Akhirnya si manusia robot bersuara menyelamatkanku dari kekenyangan.


"Ya ampun Cara, kamu sudah sempurna."


"Namanya juga cewek Tante." Aku memasang senyum paling lebar kepada mama Rafka.


"Gimana kalau kamu bawa pulang aja makanannya?"


"Boleh." Aku mengangguk, dari pada makanan itu kesepian disini tidak ada yang makan.


Akhirnya Rafka makan semua makanan di piringku, ah yang benar saja padahal tadi dia juga makan cukup banyak di restoran. Tapi sekarang dia masih makan nasi dan dendeng itu dengan lahap. Apa dia memang biasa makan sebanyak itu?


Sementara itu seorang wanita paruh baya sedang memindahkan makanan yang tak tersentuh ke dalam 3 kotak. Rupanya mama kami sama-sama mahir memasak, sedangkan aku pandai menghabiskan makanan, bukankah keduanya berkesinambungan. Mama bilang aku juga akan pandai masak setelah menikah nanti, entah lah aku tidak yakin. Aku hanya pandai masak mie instan dan menghitung uang.


"Saya mau ke toilet." Rafka beranjak lebih dulu setelah menyelesaikan makannya.


"Eh ke toilet belakang, mama sama Caramel mau ke kamar mu." Seru mama Rafka.


"Iya." Rafka mengangguk lalu melangkah dan menghilang di balik pintu ruang makan.


"Ayo ke kamar Rafka." Mama Rafka beranjak.


"Ini gimana Tante?" Aku menanyakan nasib piring bekas makanan di atas meja.


"Biar Bibi yang beresin." Mama Rafka meraih tanganku menuntun ku ke sebuah kamar paling dekat dengan ruang tamu.


"Nanti kalian mau tinggal dimana setelah menikah?" Camer membuka pintu kamar Rafka.


Wah rapi banget, ini sih lebih rapi dari kamar gue.


"Caramel?"


"Yah?" Aku tersadar dari rasa kagum ku pada kamar si manusia robot. Kamarnya terlihat seperti hotel, bed cover broken white begitu rapi tidak ada kusut sedikitpun. Dua lampu tidur di sisi kanan dan kiri lalu pajangan peta Indonesia super besar pada dinding. Deretan buku tertata rapi pada rak. Tidak ada meja rias, hanya meja belajar yang menyatu dengan dinding dekat pintu masuk.


"Kamu mau tinggal dimana setelah menikah?"


"Rafka belum cerita ya Tan?" Aku melihat mama Rafka yang sedang menutup gorden.


"Dia nggak cerita apa-apa, Rafka itu kalau nggak ditanya mana mau cerita." Camer duduk di ujung ranjang dan menepuk tempat kosong di samping nya.

__ADS_1


Aku pikir Rafka akan lebih terbuka dengan orang terdekatnya tapi ternyata ia memang seperti robot.


"Kami akan tinggal di apartemen." Jawabku seraya duduk di samping mama Rafka.


"Dulu Rafka pernah bilang kalau dia bawa cewek ke rumah berarti cewek itu calon istri nya, sekarang dia membuktikan ucapannya." Mama Rafka membuka sebuah album foto di pangkuannya.


"Memangnya Rafka nggak pernah bawa cewek kesini Tante?" Aku bertanya ragu, cowok zaman sekarang mana ada yang seperti itu.


"Kamu cewek pertama yang dia bawa kesini dan kalian akan segera menikah."


Rafka membuatku tersanjung, bayangkan dia tidak pernah memiliki pacar sedangkan aku sudah bertahun-tahun berpacaran dengan Rama. Aku memang jarang ganti pacar, terhitung sejak SMP aku hanya memiliki 3 mantan pacar tapi Rafka? ah dia manis sekali.


"Lihat deh ini Rafka waktu TK." Mama Rafka menunjuk salah satu foto anak kecil mengenakan seragam TK, aku tertawa gemas melihatnya. Rafka tumbuh dengan baik menjadi laki-laki tampan tapi  sayang. Ah sudahlah aku tidak mau menyebutkan kekurangan Rafka, walau bagaimanapun dia calon suamiku.


Kami melihat foto Rafka mulai dari baru lahir hingga foto paling terakhir saat ia wisuda. Setelah lulus SMA, Rafka melanjutkan ke STMKG sebelum akhirnya menjadi anggota BMKG.


"Sekolah kami bersebrangan." Telunjuk ku menyentuh satu foto Rafka berseragam SMA Pelita Nusa. "Pasti kami sering bertemu cuma nggak sadar."


"Ternyata jodoh Rafka dekat." Mama Rafka mengusap lenganku, aku membalasnya dengan senyum manis. "Oh iya Car, kamu tunggu disini ya." Mama Rafka meletakkan album foto berukuran cukup besar itu di pangkuanku lalu ia beranjak dari duduknya.


"Tante mau kemana?"


"Mau ambil hp, kamu tahu soal mode gelap di WhatsApp kan?"


"Tahu Tante." Aku manggut-manggut.


"Boleh minta tolong WhatsApp Tante dibikin mode gelap nggak?"


Aku kembali mengangguk, mama Rafka seketika meninggalkan ku di kamar. Ibu-ibu zaman sekarang memang tak kalah gaul dengan anak-anaknya, padahal walaupun tahu aku sendiri belum pernah menggunakan mode gelap di aplikasi WhatsApp sebab aku tidak suka gelap.


"Hah kenapa nih!" Aku bingung saat ruangan tiba-tiba gelap. Baru saja aku memikirkan tentang mode gelap kenapa seluruh ruangan tiba-tiba seperti ini. Kenapa tidak ada pemberitahuan pemadaman listrik hari ini.


Aku mencengkram sprei di bawah ku, album foto tadi entah kemana, aku tak peduli. Napas ku tersengal, aku tidak main-main soal benci gelap.


Tunggu dulu? Aku melihat sedikit cahaya di atas nakas.


"Caramel mana?" Suara Rafka.


Aku disini.


"Ada di kamar kamu, Bi tolong nyalain genset" Suara Mama Rafka menyusul.


Aku tidak sanggup bernapas lagi di tengah kegelapan ini.


"Caramel takut gelap Ma!"


Ya benar


"Cara, kamu nggak apa-apa?"


Samar-samar aku melihat Rafka datang dengan penerangan dari flash ponsel nya. Wajah kaku itu terlihat panik, ah aku masih hidup.


"Cara kamu lihat aku?" Rafka menahan leherku dengan lengannya.


Aku mengangguk pelan. Aku harap dia memang Rafka bukannya malaikat pencabut nyawa. Aku memeluk leher Rafka bersandar di dada nya dan memejamkan mata, aku merasa beruntung karena Rafka datang sangat cepat.


"Caramel, sudah terang."


Aku membuka mata, syukurlah lampu sudah menyala.


"Ahh akhirnya!" Aku mengembuskan napas keras.


"Kamu berkeringat." Rafka menyeka keringat di pelipisku saat aku sudah melepas pelukan di lehernya.

__ADS_1


"Mama cerita ya kalau aku takut gelap?" Siapa lagi yang memberitahu Rafka jika bukan mama. Bukankah pagi itu mereka mengobrol banyak hal.


"Tidak." Rafka menggeleng.


"Lalu siapa yang memberitahumu?"


"Tidak ada, saya memang tahu." Wajah Rafka kembali datar padahal satu menit yang lalu jelas sekali ia panik.


"Bo–"


"Caramel, ini HP Tante."


Aku urung melanjutkan ucapanku saat mama Rafka kembali ke kamar menyodorkan ponselnya padaku, pasti Rafka berbohong soal ini.


"Oh, iya Tante." Aku menerima ponsel milik mama Rafka, sebuah Samsung galaxy note keluaran lama. Kenapa Rafka tidak memberikan mama nya iPhone padahal dirinya menggunakan ponsel tersebut.


"Mau diapakan?" Rafka melihat ponsel Mama nya di tanganku.


"Itu loh Ka WhatsApp sekarang bisa dibikin mode gelap." Jawab mama Rafka.


"Kamu nggak tahu?" Aku melihat Rafka, ia menggeleng pelan. Yang benar saja ia tak tahu soal ini, kudet banget sih calon suamiku! "Sudah Tante."


"Makasih ya." Mama Rafka girang menerima ponsel nya kembali, "Bu Winda yang ngasih tahu Tante soal ini." Oh ternyata mama yang menyebarkan virus ini, ia memang tak pernah ketinggalan soal tren masa kini. "Tante keluar dulu mau video call temen-temen, kalian ngobrol aja." Ia melangkah meninggalkan kamar.


"Tadi aku lihat cahaya disini." Aku melangkah ke dekat nakas, tidak ada sesuatu yang bercahaya disana kecuali jar berisi tumpukan origami persis seperti bikinan Rafka di apartemen.


"Caramel melihatnya?" Rafka menghampiriku.


"Tapi apa?"


"Ini." Rafka meraih jar tersebut.


"Maksudmu origami ini? kamu mempermainkan ku?"


"Coba matikan lampu nya maka kamu akan melihat cahaya dari origami ini."


"Enggak, nggak mau." Aku menggeleng.


"Bukankah saya tidak pernah berbohong?"


Aku menelan saliva, bisakah aku mempercayai nya? Rafka memang tak pernah berbohong tapi tetap saja kami belum lama kenal.


Ctekk!


"Rafka!" Aku memekik saat Rafka mematikan lampu.


Namun sebelum memarahinya, aku melihat origami itu berpendar di kegelapan. Aku terperangah, mereka tampak seperti bintang di langit yang Rafka ambil lalu ia kumpulkan pada jar ini, indah sekali.


"Aku jadi inget hadiah di dalam loker sepuluh tahun lalu, ada yang ngasih origami kayak gini juga tepat dihari ulang tahun aku."


Rafka tampak membuka mulut hendak membalas ucapanku.


"Tapi sayang hadiah itu nggak membuktikan kalau dia setia, buktinya dia ngilang gitu aja seminggu sebelum kami nikah." Aku lebih dulu mencela hingga membuat Rafka menutup bibirnya lagi, ia mengembalikan jar itu ke atas nakas dan menghidupkan lampu ruangan.


"Mari saya antar pulang, sudah malam." Ujarnya sembari meraih kunci mobil yang digantung di dekat pintu.


Kenapa tiba-tiba? aku pikir Rafka ingin berlama-lama dengan ku. Kami kesini memang saat hari sudah malam lalu kenapa ia berkata begitu.


Terimakasih sudah membaca Suamiku Bukan CEO.


Jangan lupa tambahkan novel ini ke favorit agar tidak ketinggalan setiap episode nya^^


Tinggalkan komentar kalian tentang apapun. sekali lagi terimakasih^^

__ADS_1


__ADS_2