Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Dua Puluh Lima


__ADS_3

"Maaf." Caramel menggenggam tangan Rafka dan menciumnya berkali-kali, ia sangat terpukul melihat suaminya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Andai Caramel tidak memaksa Rafka minum kopi, pasti sekarang lelaki itu baik-baik saja. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


Danu dan dua teman Rafka yang lain sudah kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan. Tadi Danu juga bercerita bahwa Rafka pernah masuk rumah sakit setelah minum kopi, kejadiannya sekitar 12 tahun yang lalu. Saat mereka masih kelas 3 SMA. Sejak kecil Rafka tidak pernah minum kopi, sehingga alerginya terhadap kafein terlambat diketahui.


Rafka melepas alat bantu napasnya dan mengusap puncak kepala Caramel, "kenapa kamu minta maaf?" Suara Rafka serak, dokter tadi mengatakan saluran pernapasannya bengkak akibat reaksi alergi terhadap kopi yang memiliki kandungan kafein tinggi.


"Harusnya aku nggak maksa kamu minum kopi."


"Ini bukan salah kamu." Rafka tersenyum tipis.


"Rafka, aku takut kamu nggak ada." Caramel terbata-bata, pandangannya kabur terhalang air mata. Ia tidak bisa membayangkan jika Rafka terlambat ditangani, lelaki itu tak akan tertolong.


"Aku ada, aku akan selalu menemanimu hingga kita menua bersama, bahagia dengan anak cucu kita." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya.


Caramel memejamkan mata, betapa ia merasa bersalah pada Rafka. Dulu Rafka pernah menyelamatkannya dari kegelapan tapi sekarang justru Caramel membuat lelaki itu celaka dan hampir kehilangan nyawa. Caramel tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika kehilangan lelaki yang dicintai untuk kedua kalinya.


"Maaf membuat Caramel khawatir." Lirih Rafka.


Tuh kan, kenapa sih kamu baik banget, dengan keadaan seperti ini masih aja minta maaf.


Kejadian ini mengingatkan Rafka pada saat pertama kali ia mendapatkan alergi. Waktu itu Rafka dan Danu mengikuti Caramel dan dua sahabat karibnya, Jane dan Kayla ke sebuah tempat minum kopi yang cukup populer di kalangan anak muda.


Danu tak pernah menolak diajak membuntuti Caramel, sekalian ia kencan dengan gebetannya waktu itu. Lagi pula Rafka bersedia mentraktir mereka.


"Si Caramel pesen americano, gih pesan juga." Bisik Danu.


Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Rafka langsung ikut memesan americano sedangkan Danu dan Silvia, gebetannya memesan ice coffe latte.


Rafka melihat Caramel dari kejauhan, berjarak tiga meja, ia masih bisa mendengar tawa renyah Caramel dan dua sahabatnya. Rafka menyesap kopinya sama seperti yang Caramel lakukan.


"Dih sekali teguk langsung abis, dasar nggak gaul lu." Cibir Danu melihat gelas Rafka kosong.


"Aku haus." Sahut Rafka.


Sekitar 30 menit kemudian Caramel beranjak dari duduknya.


"Caramel udah keluar tuh." Arah pandang Danu mengikuti Caramel yang keluar dari tempat minum kopi disusul dua sahabatnya.


Rafka masih bisa melihat Caramel naik ke atas motor dengan Jane.


"Kenapa dia naik motor, pahanya jadi kelihatan." Gumam Rafka seraya memalingkan wajah. "Ayo pulang juga." Rafka beranjak dari duduknya.


"Aku ikut." Danu ikut beranjak.


"Aku pulang sama siapa?" Silvia menunjuk dirinya sendiri dan melihat dua gelas frappuccino yang masih tersisa setengah.


"Kamu pulang naik bus ya, aku numpang Rafka soalnya." Danu nyengir mengekori Rafka, sebagai playboy cap ikan teri ia memang jarang modal.


"Ahh!" Rafka memegangi lehernya yang terasa seperti dicekik.


"Kenapa Ka?" Danu urung naik ke atas motor Rafka.


"Duh, kok susah napas ya." Rafka melonggarkan dasinya agar lebih bebas bernapas tapi itu tidak menghasilkan apapun.


"Hah kenapa lu!" Danu mengguncang tubuh Rafka, ia bisa melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu. Bahkan bibir Rafka berwarna kebiruan, Danu langsung menaikkan tubuh tinggi Rafka ke punggungnya.


"Argggh!" Rafka merasa lehernya kini benar-benar tercekik, tidak ada udara yang bisa ia hirup.


"Rafka, Rafka! kamu kenapa?" Caramel mengguncang tubuh Rafka dan memasangkan alat bantu napas yang tadi sempat dilepas.


Rafka terbangun, rupanya ingatannya barusan adalah mimpi dan terasa hingga dunia nyata. Rafka berusaha menenangkan diri dan menarik napas perlahan.


"Aku panggil dokter ya." Caramel hendak beranjak dari duduknya tapi Rafka menahan tangannya.


"Disini saja, aku tidak mau kamu pergi." Lirih Rafka, jika dulu Caramel meninggalkannya saat ia pertama kali tahu alergi kafein kali ini ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Rafka ingin wanita itu selalu ada di sampingnya.


Caramel menghela napas panjang, ia menggenggam tangan Rafka yang dingin.


"Jangan telepon Mama, aku tidak mau membuatnya khawatir."


Caramel mengangguk, ia memang belum menghubungi siapapun karena terlalu terkejut hingga tidak sempat melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Dokter bilang saluran napas mu bengkak jadi harus pakai ini, jangan dilepas lagi." Ujar Caramel mengingatkan.


"Bagaimana kalau aku ingin mencium mu?"


"Untuk sementara aku aja yang cium." Caramel tersenyum, perlahan ia bergerak mengecup kening Rafka sangat lama. "Lekas sembuh sayang." Gumamnya.


Darah Rafka mengalir cepat mendengar Caramel memanggilnya sayang. Rafka membuka mata saat Caramel melepas ciumannya.


"Aku nggak tahu kalau kamu pernah ngikutin aku ke Starbuck waktu SMA." Caramel memandang teduh suaminya yang tetap tampan walaupun pucat seperti itu.


"Danu menceritakan semua?" Rafka sudah menduga kalau Danu akan menceritakan kejadian itu pada Caramel.


"Bodohnya aku sama sekali nggak lihat kamu waktu itu." Caramel tersenyum hambar, kenapa ia tak bisa melihat sedikit saja lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Rasanya sampai sekarang Caramel tidak percaya bahwa Rafka sudah menaruh hati sejak mereka SMA, 12 tahun yang lalu. Rafka benar-benar tahan menyimpan rasa se-lama itu.


"Kenapa kamu nggak pernah muncul di depanku, kenapa justru diam-diam ngikutin aku?"


"Karena ada Rama setiap kali aku hendak menghampirimu."


Caramel memejamkan mata bersamaan dengan kristal bening yang menetes ke di pipinya, pasti amat menyakitkan selama ini bagi Rafka. Memendam rasa bukanlah hal yang mudah, itu seperti bara api yang bisa menyakitimu secara perlahan. Mencintai diam-diam itu perlahan akan mengikismu dan membuatmu tak berdaya.


"Kenapa aku menyia-nyiakan lelaki setampan ini." Caramel tersenyum, ia mengusap air mata yang mengenai bibirnya.


"Aku pengecut karena tidak pernah berani mengungkapkan perasaan."


"Untungnya aku udah jadi milik kamu sekarang."


"Tuhan begitu baik kepadaku." Rafka mengelus rambut Caramel yang kini tergerai tidak seperti tadi saat pertama kali kesini.


"Ternyata kamu aku tahu jauh sebelum perjodohan itu."


Rafka mengangguk samar, "ya, dunia tahu kalau aku tidak berani ungkapkan cinta hingga jadilah perjodohan itu."


"Kalau waktu itu ternyata aku tolak kamu gimana?"


"Aku akan membujang hingga kesempatan hidup tidak ada lagi untukku."


"Kenapa kamu gampang banget menyerah sama takdir, kenapa kamu nggak dateng waktu aku batal nikah setidaknya kamu bisa hibur aku."


"Kamu salah," Caramel membenarkan selimut Rafka yang tersingkap di bagian kaki. "Aku bahagia setelah kenal kamu."


"Syukurlah, kamu mau tidur disini?" Rafka menepuk ranjang.


"Emang cukup?"


"Kenapa tidak cukup, kamu kurus."


Caramel tersenyum lebar, rupanya Rafka tahu bagaimana cara membahagiakan istri yakni dengan mengatakan dia kurus walaupun tak pernah olahraga. Caramel naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Rafka dengan hati-hati takut mengenai selang infus dan ventilator.


"Ternyata ranjangnya cukup luas." Caramel meletakkan kepalanya pada lengan Rafka dengan nyaman. Walaupun tak seluas ranjang kamar tapi lumayan juga untuk mereka berdua tidur.


******


Nada dering ponsel Caramel berbunyi cukup nyaring hingga membuat dua sejoli yang sedang tidur nyenyak itu terpaksa bangun. Caramel meraba-raba nakas di samping ranjang dan menjawab telepon tanpa melihat si penelepon terlebih dahulu.


"Car, Kayla mau ngelahirin."


"Kayla?" Caramel langsung membuka mata lalu menutup mulutnya dengan tangan karena sadar sudah bicara terlalu kencang, ia baru ingat kalau ini bukan apartemen melainkan rumah sakit.


"Iya, gue lagi di Citra Medika nih, masih mules-mules."


"Gue juga disini."


"Lah, ngapain lu?"


"Rafka masuk rumah sakit, kalau gitu gue kesana deh bentaran."


"Sakit apa si Rafka?"


"Nanti gue ceritain." Caramel memutus sambungan dan kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.


"Ada apa?" Suara berat Rafka mengejutkan Caramel. Wanita itu mengira bahwa sang suami masih tidur.

__ADS_1


"Kamu bangun? maaf aku kekencengan ya ngomong nya."


"Aku memang sudah bangun."


"Kayla mau ngelahirin katanya, ada di rumah sakit ini juga." Caramel bangkit dari posisi tidur, ia menguncir rambutnya asal-asalan. "Eh, udah ada makan siang buat kamu, aku suapin ya." Ia turun dari ranjang.


"Apakah pakaianmu nyaman?" Rafka melihat rok span yang Caramel kenakan dengan kemeja biru muda.


"Kenapa?" Caramel melihat Rafka, ia membuka tutup plastik yang melindungi makanan milik Rafka berupa bubur dengan potongan wortel dan buncis, itu terlihat bseperti makanan bayi.


"Kamu boleh pulang untuk ambil pakaian."


"Aku mau ke kantor kamu dulu ambil mobil terus pulang, kamu nggak apa-apa sendiri?"


Rafka membuka mulutnya menyambut sesendok nasi dengan suwiran ayam dari tangan Caramel.


"Tapi kamu harus hati-hati."


"Iya, aku mampir sebentar lihat Kayla."


Rafka mengangguk.


"Makanannya enak nggak?" Tanya Caramel, melihat Rafka makan pelan-pelan ia menduga bubur tidak terlalu enak.


"Lebih enak masakan kamu."


"Nanti aku bakal masakin kamu yang enak-enak setelah pulang dari sini." Caramel menyesal hanya membuat ayam goreng tiap pagi, harusnya ia mengadakan makanan yang lebih bervariasi.


Walaupun begitu Rafka tak pernah protes terhadap masakan Caramel. Itu yang membuat Caramel semakin merasa bersalah.


Caramel menyampirkan tas selempang miliknya setelah mengenakan jas kerja. Sebelum keluar, ia lebih dulu mengecup kening Rafka cukup lama. Caramel akan kembali secepat mungkin, ia tidak tega meninggalkan Rafka sendiri disini.


Caramel tidak menggunakan alas kaki, ia lebih memilih menenteng high heels nya. Kakinya melangkah hingga sampai ke tempat khusus bersalin. Matanya fokus mencari ruangan Kayla, ini bukan pertama kalinya bagi Caramel menyaksikan ibu hendak melahirkan tapi setiap kali itu terjadi ia jadi ikutan tegang.


"Itu dia." Caramel mempercepat langkahnya masuk ke salah satu ruangan dimana ada Jane juga yang ikut mendampingi Kayla.


"Dari mana lu, kayak gembel begitu?" Semprot Jane Caramel berjalan tanpa alas kaki dan rambut acak-acakan.


"Rafka masuk rumah sakit, hampir aja gue kehilangan dia." Caramel duduk di sofa, ia melihat Kayla sedang meringis kesakitan sambil mencengkram baju suaminya.


"Kenapa dia?" Tanya Kayla, ternyata walaupun sedang kesakitan ia masih sempat mendengarkan cerita Caramel.


"Gue baru tahu kalau dia alergi kopi."


"Wah, kalian punya perbedaan yang amat besar." Jane geleng-geleng dramatis, ia tahu Caramel adalah pecinta kopi sejati.


"Aduh!" Kayla menjambak rambut suaminya hingga lelaki itu ikut mengaduh.


Caramel ikut meringis, ngeri membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Kayla. Tak sengaja menyentuh panci panas saja Caramel menjerit tak karuan, apalagi mengelus bayi.


"Kenapa gitu muka lu, tenang aja sebentar lagi lu juga bakal kayak Kayla." Ujar Jane.


"Jangan gitu dong, kan jadi parno nih gue."


"Itu lebih sakit dari yang lu bayangin, selama ini kalau lu PMS, sakitnya ngelahirin bahkan sepuluh kali lipat dari itu."


"Eh jangan nakut-nakutin ya." Caramel menunjuk Jane kesal.


"Lah kagak percaya sama yang berpengalaman."


"Nanti gue sesar aja." Caramel melipat tangan di depan dada.


"Sama aja, lu bakal ngerasain kontraksi juga pada akhirnya."


"Ya gue nanti sesar nya sebelum sembilan bulan." Caramel menaikkan kedua alis berpura-pura percaya diri padahal dalam hati ia sangat takut membayangkan seperti apa rasanya melahirkan. "Udah ah gue balik dulu." Ia beranjak.


"Lu nggak mau nemenin gue Car?" Tanya Kayla.


"Suami gue sendirian, nanti aja pas bayinya lahir gue kesini lagi."


Maaf atas keterlambatannya, sesungguhnya Author sibuk nonton The King: Eternal Monarch 🤣

__ADS_1


__ADS_2