Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Empat


__ADS_3

"Ya ampun gue nggak nyangka lu beneran resign, Car!" Meli heboh sejak pertama kali datang. Ia masih tidak menyangka temannya yang dari dulu seorang workaholic sekarang akhirnya memutuskan untuk resign lebih awal. Meli ingat Caramel pernah bilang akan terus bekerja hingga kakinya tak bisa menumpu tubuhnya lagi karena hamil besar.


Meli dan Sani telah mengatur jadwal bertemu dengan Caramel serta Rafka di Ojju. Sebagai salam perpisahan Caramel mentraktir mereka dengan berbagai hidangan Korea yang saat ini tengah hits. Walaupun Caramel baru keluar kemarin dari rumah sakit dan dokter menyarankan nya untuk istirahat di rumah tapi ia ngeyel ingin makan di luar dengan Meli dan Sani.


"Seorang Caramel yang walaupun pilek, pusing suaranya sampe hilang maksa kerja terus sekarang resign tuh gue belum siap." Tambah Sani.


"Eh nggak usah lebay ya kalian, lagian dengan resign tuh bukan berarti gue jadi pengangguran." Caramel mengaduk-aduk dan meminum Lemon Tea miliknya, ia hampir mengabiskan minuman itu sambil menunggu makanan utama siap disajikan.


"Iya gue tahu bisnis lu udah sukses, dengar-dengar orderan pertama Caramel Sleepwear tembus seribu ya?" Meli mendekatkan wajahnya pada Caramel.


Caramel hampir tersedak mendengar kalimat Meli tapi Rafka buru-buru mengelus tengkuknya dengan cekatan, "duh terlalu dini untuk dibilang sukses." Ia mengibaskan tangannya pada Meli.


"Jangan minum lagi." Rafka meraih Lemon Tea Caramel sebelum habis.


"Kenapa?" Caramel melipat bibir bawahnya karena Rafka merebut minuman miliknya.


"Nanti kamu kenyang sebelum makan, bukankah kita sudah memesan banyak makanan?"


Caramel mendengus, bisa-bisanya Rafka merusak kebahagiaannya minum Lemon Tea setelah beberapa hari hanya minum air putih di rumah sakit. Itu hanya tiga hari tapi terasa sangat lama bagi Caramel karena ia harus berdiam diri di atas ranjang sepanjang hari.


Mata tiga perempuan yang sedang duduk berhadapan itu berkilat-kilat saat pesanan datang memenuhi meja. Air liur memenuhi rongga mulut mereka melihat potongan ayam di atas wajan yang dibalut saus super pedas dan keju mozzarella di atasnya.


Setelah ini mereka akan jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, mereka harus memanfaatkan momen seperti ini selagi bisa.


"Nasi goreng punya kamu?" Caramel menggeser nasi goreng ke dekat Rafka.


"Iya." Rafka mengangguk.


Dimana pun makannya, Rafka tetap akan setia memesan nasi. Ia sangat mencerminkan warga Indonesia yang tidak bisa jika tak makan nasi. Tentu itu berbanding terbalik dengan Caramel yang suka mencoba menu baru walaupun ia tetap penggemar ayam goreng KFC sejati.


"Aku coba dulu." Rafka mencegah Caramel yang hendak mencomot ayam di atas wajan.


"Kenapa mau coba, ini pedes loh."


"Biar aku dulu yang memakannya." Rafka menggigit sepotong paha ayam yang berbalut saus berwarna merah pekat itu dengan perasaan terpaksa. Namun ia harus memastikan makanan itu tidak terlalu pedas untuk Caramel sebab dokter bilang itu tidak baik untuk kesehatannya. "Uhuk-uhuk!" Rafka langsung terbatuk-batuk saat ia mencicipi ayam tersebut, rasa pedas dan panas cabai seketika menyerang tenggorokannya. Mengapa orang-orang menyukai makanan yang bahkan terasa menyakitkan seperti ini? Rafka menyambar lemon tea yang disodorkan oleh Caramel untuk meredakan rasa panas di kerongkongan nya.


"Kamu nggak bisa makan pedes jangan coba-coba deh." Caramel mengambil alih paha ayam di tangan Rafka dan meletakkannya pada piring.


"Kamu juga jangan makan, ini terlalu pedas." Kata Rafka setelah meneguk habis lemon tea milik Caramel.


Meli dan Sani saling sikut melihat pasangan yang memiliki sifat berbanding terbalik itu. Senyum mereka tertahan ikut senang karena Rafka begitu perhatian kepada Caramel.


"Pedes itu relatif, buat kamu pedes buat aku biasa aja."


"Ini pedas." Tegas Rafka, "pesan makanan lain."


"Tanya aja sama mereka, ayamnya nggak pedes kan?" Caramel melihat ke arah Meli dan Sani berharap dua temannya itu bisa diajak kompromi. Caramel ngidam ingin makan ayam pedas tersebut sejak ia berada di rumah sakit.


"Hm?" Meli berhenti mengunyah saat ditatap tajam oleh Rafka. Ia melirik Caramel yang memasang wajah memelas kepadanya. "Nggak pedes kok." Ujarnya.


"Kau berbohong." Sahut Rafka cepat, "lihat kening mu berkeringat itu berarti makanan ini pedas."


"Bukan-bukan, ini karena panas banget disini." Meli mengipas wajahnya dengan tangan, sambil menoleh ke kanan dan kiri menghindar dari tatapan Rafka yang sangat dingin.


"Ini bukan aku yang pengen, tapi dia." Caramel menyentuh perutnya, jurus yang selalu berhasil menaklukkan suami agar memenuhi keinginan istrinya. Masih dalam perut udah kena fitnah Mama!


"Ya sudah satu atau dua potong saja jangan lebih." Rafka menyerah, ia memang selalu mengalah kepada Caramel. Walaupun pada hal-hal tertentu ia akan sangat tegas tanpa bisa diganggu gugat.

__ADS_1


"Oke!" Caramel bersemangat menyantap ayam dengan keju mozzarella yang meleleh di atasnya.


Rafka heran mengapa mereka memesan makanan super pedas di cuaca terik seperti ini. Melihatnya saja Rafka ikut gerah. Rafka memesan dua minuman lagi untuk Caramel, ia tahu sang istri akan kepedasan setelah makan.


******


"Duh kangen banget." Caramel memejamkan mata menghirup aroma apartemen yang entah kenapa membuatnya rindu, aroma yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi selalu terngiang dalam pikiran. Berbagai tempat memang memiliki aroma yang berbeda. Kadang saat mencium aroma yang sama itu akan membawa kita mengingat kembali kenangan dimasa lalu setelah mengendap cukup lama dalam diri.


"Aku memintamu makan satu atau dua potong tapi kamu makan banyak, kau membohongiku." Ucap Rafka yang berjalan agak di belakang Caramel.


Caramel tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar ucapan Rafka, ia pikir Rafka akan melupakan soal ayam itu. Usai makan mereka pergi berkeliling Grand Indonesia membeli beberapa keperluan rumah dan bahan makanan.


"Iya sorry, soalnya enak jadi aku keterusan." Caramel mundur menggandeng tangan Rafka yang membawa barang belanjaan dan makanan untuk nanti malam.


"Jangan menggodaku."


"Nggak apa-apa dong godain suami sendiri." Caramel semakin menempel pada Rafka, dalam hal menggoda ia memang ahlinya.


Caramel terus menempel hingga sampai di koridor menuju apartemen mereka. Walaupun Rafka jadi sulit berjalan tapi ia membiarkan Caramel memalukannya.


"Kamu pakai parfum apa?" Caramel mengendus aroma kemeja Rafka, seperti aroma mint bercampur dengan aroma pantai dan buah-buahan segar.


"Aku mencoba salah satu parfum di Mall tadi."


"Nggak dibeli?" Caramel melihat Rafka.


Rafka menggeleng, "itu adalah parfum yang ku pakai saat SMP hingga SMA."


"Wah enak banget wanginya, aku suka." Caramel kembali menghirup aroma kemeja Rafka, semakin menciumnya ia makin merasa bahwa aroma itu tidak asing untuknya. Caramel yakin pernah mengalami momen penting berkaitan dengan aroma ini, tapi apa? ia lupa.


"Selamat siang."


"Siang." Caramel tersenyum kaku membalas sapaan wanita yang terlihat beberapa tahun lebih muda darinya.


"Kenalin kak, aku penghuni baru di apartemen sebelah kakak." Ia mengulurkan tangan kepada Caramel.


"Oh." Caramel membalas uluran tangan wanita itu, baru ditinggal tiga hari ternyata apartemen sebelah sudah berpenghuni.


"Aku Anna." Katanya memperkenalkan diri.


"Caramel, ini suami aku Rafka." Caramel memperkenalkan Rafka kepada Anna.


Rafka hanya tersenyum tipis ke arah Anna—tetangga baru mereka tanpa mengulurkan tangan. Selain karena tangan Rafka penuh dengan barang belanjaan, ia juga enggan terlalu akrab dengan orang asing.


"Ayo masuk, tanganku pegal." Tukas Rafka.


"Ayo, aku duluan ya Anna." Caramel melempar senyum ramah dan berlalu dari hadapan Anna.


Sesampainya di dalam apartemen, Caramel langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur king size di kamarnya. Caramel melihat langit-langit kamar cukup lama. Entah apa yang menarik dari sebuah plavon dengan 6 lampu tersebut. Caramel hanya sedang melepas rindu dengan tempat tinggalnya.


"Kenapa Anna tahu kita tinggal di sebelah apartemen nya?" Rafka tiba-tiba masuk meletakkan bungkusan di atas meja rias dan melepas kemeja yang ia kenakan.


"Hm?" Spontan Caramel bangkit dari posisi tidur melihat Rafka yang memunggunginya, ia bisa melihat dengan jelas punggung kekar sang suami yang basah oleh keringat.


"Kita bahkan belum pernah bertemu dengannya." Ucap Rafka lagi tanpa menoleh, ia masuk ke kamar mandi untuk meletakkan baju kotornya disana.


Caramel terdiam mencerna ucapan Rafka, kenapa ia tidak berpikir sampai kesitu. Menurutnya itu adalah hal yang wajar, bisa saja Anna mengetahui tentang dirinya dan Rafka dari tetangga lain.

__ADS_1


"Mungkin tahu dari tetangga sini." Kata Caramel setelah Rafka kembali dan berjalan menuju walk in closet.


"Menurutmu begitu?" Rafka telah selesai mengganti pakaiannya dengan celana pendek selutut dan kaos oblong.


"Ya." Caramel mengangguk.


"Mungkin wajar kalau mereka hanya tahu nama kita, tapi sungguh tidak masuk akal jika dia langsung tahu saat pertama kali melihat kita." Rafka duduk di sebelah Caramel menyalakan televisi.


"Tahu ah, aku nggak mau mikirin itu lagian dia cuma cewek yang baru beranjak dewasa." Caramel kembali berbaring, setelah kenyang ia ingin tidur siang sambil memeluk robot kesayangannya.


Ting tong!


Bel apartemen berdenting beberapa kali membuat Caramel kembali membuka matanya, ia segera turun dari tempat tidur.


"Siapa ya? kamu ada pesen makanan nggak?" Tanya Caramel pada Rafka.


"Tidak, apa aku perlu membukanya?"


"Biar aku aja." Caramel keluar kamar.


Caramel berjinjit mengintip dari lubang pintu untuk melihat siapa yang datang. Tidak mungkin Jane dan Kayla karena mereka sudah bertemu dengan Caramel tadi pagi di rumah sakit.


"Anna?" Caramel membuka pintu setelah tahu bahwa seseorang di depan apartemen nya adalah Anna dengan seorang lelaki.


"Maaf aku ganggu Kak, ini kue perkenalan dari aku, semua orang dapat kok." Anna menyodorkan sepiring bolu pandan kepada Caramel.


"Wah kamu bikin sendiri, makasih ya." Caramel menerima bolu berwarna hijau yang tampak menggiurkan tersebut.


"Iya, semoga Kak Caramel suka, oh iya ini suami aku, Joni, kami baru menikah dua bulan."


"Sesuai dugaan ku kalian pasti pengantin baru." Caramel berjabat tangan dengan suami Anna. "Kalau gitu ayo masuk, kita ngobrol di dalam." Ajaknya kepada Anna dan Joni walaupun ia berharap mereka tidak mau masuk. Caramel sudah membayangkan tidur di kasurnya yang empuk dan luas, jika mereka bertamu maka waktu tidur siangnya pasti akan terpotong. Ajakan itu hanya basa-basi semata sebagai tetangga yang baik.


"Oh, emang boleh?" Anna tersenyum lebar.


"Sayang, bukannya kamu harus istirahat?" Rafka muncul dari belakang Caramel, ia menatap dua orang di depan itu dengan raut muka tidak suka, ia tak bisa menyembunyikan itu. Rafka tipe orang yang jujur dan terus terang, jika tidak suka maka ia akan menunjukkannya secara terang-terangan.


Suara Rafka seperti sumber mata air di tengah gurun pasir yang begitu menyegarkan Caramel—yang menyelamatkan hidup Caramel dari kesusahan.


"Kalau gitu lain kali aja kami mampir, maaf udah ganggu waktu kalian." Anna berusaha mempertahankan senyumnya.


"Maaf ya Ann, lain kali kita bisa ngobrol lebih banyak."


"Iya Kak, aku sama Joni permisi dulu."


"Makasih sekali lagi kue nya." Caramel menebar senyum lalu menutup pintu dengan perasaan gembira seperti seorang anak yang baru dapat uang saku tambahan dari orangtuanya. Ia senang bukan karena mendapat kue, tapi karena rencananya untuk tidur siang masih bisa terlaksana berkat sang robot kesayangan.


"Kamu datang diwaktu yang tepat." Caramel nyengir melangkah menuju meja makan untuk meletakkan bolu pandan dari Anna.


"Kau memang harus istirahat sayang." Rafka mengusap puncak kepala Caramel ketika mereka kembali ke kamar.


"Kamu masih mau nonton?" Caramel melihat Rafka yang kembali ke posisi semula, fokus pada layar televisi di hadapannya.


"Iya."


"Kalau gitu aku tidur disini." Caramel memposisikan diri tidur di pangkuan Rafka.


"Apa nyaman seperti ini?"

__ADS_1


"Umm." Caramel mengangguk, "nyaman banget."


"Tidur lah."


__ADS_2