
Pemandangan kota metropolitan terlihat indah menjelang matahari terbit. Sinar kemerahan menghiasi langit kota Jakarta bersama dengan hembusan angin dingin menyentuh permukaan kulit.
Caramel menggosok-gosok lengannya sendiri saat angin menerpa tubuhnya. Hari ini Caramel bangun lebih awal demi melihat matahari terbit dari balkon. Caramel merasa ini bukan seperti dirinya sendiri, mungkin janin di dalam perutnya lebih rajin dari pada dirinya.
Untung saja Caramel menuruti saran Febi untuk meletakkan kursi dan meja pada balkon sehingga ia bisa menikmati pemandangan disini tanpa khawatir lelah karena berdiri terlalu lama.
Caramel menghela napas, "ini weekend tapi kenapa gue justru nongkrong disini dipagi buta."
Suara Caramel terdengar seperti orang mengeluh tapi ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia bahagia melakukan ini. Ternyata bangun sebelum matahari terbit itu tak seburuk bayangannya selama ini. Caramel selalu memanfaatkan akhir pekannya untuk tidur dan jalan-jalan, kali ini ia akan melakukan sesuatu yang berbeda seperti menyaksikan matahari terbit dan makan ayam goreng KFC di rumah—ah itu bukan sesuatu yang berbeda.
"Wah cantik banget!" Pekik Caramel saat matahari perlahan naik, ia menyambar ponsel di sampingnya untuk mengabadikan momen tersebut.
"Cara!"
Caramel menoleh mendengar suara Rafka memanggilnya, ia meletakkan ponsel melihat Rafka berjalan ke arahnya.
"Kenapa kamu sudah bangun sepagi ini?" Tanya Rafka heran.
"Kamu udah cuci muka?" Bukannya menjawab, Caramel justru balik bertanya saat melihat wajah Rafka basah. Caramel merasa wajah Rafka lebih tampan saat baru bangun tidur, tapi lebih tampan lagi jika lelaki itu telah siap pergi bekerja dengan kemeja batiknya. Caramel jadi bingung sebenarnya Rafka paling tampan saat baru bangun tidur atau setelah mandi dan ganti baju.
"Sudah, kenapa kamu tidak pakai jaket, disini sangat dingin." Rafka memegang lengan Caramel yang terasa dingin.
"Aku ingin membiarkan alam menggodaku." Caramel nyengir, sejak kapan ia bisa mengeluarkan kalimat puitis seperti itu?
"Alam membuatku kedinginan dan tenang sekaligus."
"Kamu tidak boleh digoda oleh siapapun." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya dengan posesif.
Caramel tersenyum lebar dalam pelukan Rafka, semakin lama ia makin merasakan sikap manis Rafka yang selalu berhasil membuatnya seperti melayang-layang ke angkasa hingga mengelilingi satelit Bima Sakti.
"Nanti kalau kamu masuk angin bagaimana?"
"Menurut artikel yang aku baca, angin pagi itu bagus untuk ibu hamil."
Rafka melepas pelukannya memandang Caramel tidak percaya, ia tak pernah mendengar hal itu sebelumnya.
"Kamu mau jalan-jalan di sekitar sini?"
Caramel mengangguk seraya menebar senyum cerah—secerah matahari yang telah sepenuhnya muncul di ufuk timur.
"Aku siap-siap dulu." Caramel mencium pipi Rafka sebelum berlari masuk kamar.
Caramel masuk untuk menguncir rambutnya dan mengoleskan liptint andalannya, produk liptint Korea yang sedang digandrungi para wanita. Ia begitu bersemangat untuk keliling apartemen. Mereka sudah cukup lama tinggal disini tapi belum pernah menjelajahi seluruh kawasan apartemen yang bersebelahan dengan Hotel Kempinski.
"Tunggu sebentar aku ingin buang air besar." Rafka masuk ke kamar.
Caramel melihat Rafka berlari masuk ke kamar mandi.
"Rafka, aku tungguin di bawah ya." Caramel menempelkan telinganya pada daun pintu kamar mandi.
"Iya." Terdengar jawaban dari dalam sana.
Sebelum keluar Caramel sempat menyambar keripik kentang di atas meja makan agar ia tidak bosan selama menunggu Rafka.
Lorong apartemen lengang saat Caramel keluar, ia jadi ngeri membayangkannya jika tiba-tiba ada hantu yang mengintainya. Setiap kali selesai menonton film horor, Caramel jadi serba parno membayangkan dirinya berada di film.
"Cara!"
"Ahh!" Pekik Caramel mendengar seseorang tiba-tiba memanggil namanya hingga membuat keripik kentang di tangannya terjatuh. Jantung Caramel seperti hampir melompat dari peradapannya karena terkejut, siapa orang yang sudah mengagetkannya?
"Kamu masih suka keripik kentang ini?" Rama memungut keripik kentang Caramel yang terjatuh.
Untuk beberapa saat Caramel menahan napas melihat Rama berada sangat dekat dengannya, setelah cukup lama akhirnya mereka bertemu lagi. Walaupun tinggal bersebalahan tapi sebisa mungkin Caramel tidak bertemu dengan Rama.
"Hampir semua orang suka keripik kentang, ini beredar hampir di seluruh market place." Caramel mengambil kembali keripik kentang miliknya. Ia tidak mau Rama bersikap seolah-olah tahu segala hal tentangnya.
"Kamu juga masih suka rasa barbeque."
"Ini rasa kesukaan Rafka."
"Kamu nggak berubah sama sekali Car." Rama maju selangkah hendak menyentuh lengan Caramel, ia tidak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia sudah melupakan Caramel. Rama masih memiliki rasa yang sama walaupun sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Ada satu yang berubah yaitu perasaanku, maka aku mohon jangan pernah ganggu kebahagiaanku sama Rafka." Caramel berbalik dan hendak meninggalkan Rama tapi lelaki itu menahannya.
"Jangan berani sentuh aku!" Caramel menepis tangan Rama dan segera berlari sebelum Rama menahannya lagi.
Caramel tidak tahu sejak kapan Rama berada disitu padahal ia yakin koridor itu sepi. Caramel tidak sudi melihat wajah itu lagi, bukan karena ia belum move on hanya saja hatinya enggan berdamai mengingat perbuatan Rama dulu. Apalagi setelah Caramel tahu bahwa Rama meninggalkannya karena telah menghamili wanita lain.
"Robot lama banget sih poop nya." Keluh Caramel dengan napas terengah-engah setelah berlari barusan. Caramel duduk di pinggiran teras apartemen, ia memang cewek yang jarang jaim. Kalau ada Jane pasti ia akan bilang, dasar nggak punya malu main duduk aja lu di depan apartemen! orang-orang bakal ngira lu pengemis tahu nggak.
"Masa pengemis cantik begini." Caramel bicara dengan dirinya sendiri, bukan pengemis melainkan orang gila karena bicara sendirian.
Caramel beranjak untuk membuang sampah, dalam sekejap ia telah menghabiskan satu bungkus keripik kentang. Sebelum membakar kalori dengan jalan-jalan ia harus mengisinya dengan camilan—tidak—sehat tersebut.
"Dingin di luar." Rafka datang dan langsung menyampirkan jaket pada punggung Caramel.
Senyum Caramel mengembang melihat Rafka. Kenapa adegan ini tidak asing? seperti yang ia lihat di drama korea, atau jangan-jangan Rafka memang menyontek dari sana.
"Ayo jalan." Rafka mengulurkan tangan.
Caramel menyambutnya dan beranjak, "kamu pernah nonton drakor nggak?" Jika iya, berarti Rafka memang nyontek adegan dalam drama korea.
"Apa itu drakor?"
"Drama Korea."
"Tidak."
Caramel menggandeng tangan Rafka, ternyata dugaannya salah bahwa Rafka mengikuti adegan drakor. Caramel menyandarkan kepalanya pada lengan Rafka seolah-olah tidak mau robotnya terlepas.
Pemandangan di sekitar apartemen benar-benar asri dengan pohon palem dan tanaman perdu di sepanjang taman. Tentu saja itu setimpal dengan harganya yang fantastis. Apalagi apartemen tersebut terletak di jantung kota.
"Aduh enak banget." Caramel memejamkan mata saat sinar matahari menerpa tubuhnya. Akibat berangkat pagi pulang sore Caramel sampai lupa seperti apa rasanya terkena sinar matahari pagi, ternyata ini sangat hangat—sehangat pelukan Rafka.
"Coba aja bisa begini setiap hari."
"Kenapa kau tidak berhenti kerja saja." Sahut Rafka
Caramel tidak menjawab justru berlari menuju kursi dan duduk di atasnya.
"Itu temen kamu kan?" Caramel menyikut lengan Rafka saat melihat seorang lelaki melambaikan tangan pada Rafka.
"Iya, itu Dio yang memperbaiki AC kita beberapa hari yang lalu." Rafka melihat Dio berjalan ke arahnya.
"Kita ketemu lagi." Sapa Dio.
"Kamu juga tinggal disini?" Tanya Rafka.
"Kamu bercanda? apa kamu pikir gaji menjadi tukang servis AC cukup untuk menyewa apartemen semewah ini?" Dio tertawa.
"Kenapa tidak?" Wajah Rafka datar, ia tidak merasa bahwa perkataannya salah.
"Ah sudah lah," Dio mengibaskan tangannya, "kamu ikut kan reuni SMA kita minggu depan?"
"Hm?" Rafka melihat Dio tidak mengerti, ia tak tahu jika SMA mereka mengadakan reuni.
"Jangan bilang kamu nggak tahu, dari dua minggu lalu grub kita ribut bahas soal itu, akhirnya setelah perdebatan panjang karena menyesuaikan dengan jadwal masing-masing, reuni itu akan dilaksanakan minggu depan."
"Oh ya?" Rafka tak tampak terkejut, ia memang bergabung dengan grub kelas dan sekolahnya semasa SMA dulu tapi tidak pernah ikut nimbrung. Rafka membiarkan pesan tersebut menumpuk hingga ribuan, jika ada waktu senggang ia hanya akan membersihkan semua pesan tanpa membacanya.
"Kamu harus hadir, kemungkinan semua angkatan kita akan hadir sembilan puluh persen."
"Odysseia, makanya sekali-kali lihat grub chat kita biar kamu tahu."
"Wah aku juga pengen banget kesana, Rafka pasti hadir." Timpal Caramel.
"Silahkan baca pengumuman di grub, disitu ada cara registrasinya." Terang Dio, "kalau gitu aku pergi dulu, mau benerin AC hotel."
"Iya makasih," Justru Caramel yang menjawab, "wah dia rajin banget ya, pagi-pagi gini udah kerja."
"Kau ingin kesana?" Rafka menoleh pada Caramel.
"Kemana? hotel?"
__ADS_1
"Bukan, Odysseia."
"Iya, ayo pergi." Rayu Caramel, ia adalah orang paling semangat jika soal reuni—walaupun itu bukan reuni SMA nya tapi setidaknya ia bisa bertemu orang-orang baru nanti.
"Ini akan jadi kali pertama aku hadir di reuni."
"Oh ya?" Caramel terkejut, sepertinya sifat mereka memang berbanding terbalik tapi itu artinya Rafka dan Caramel bisa saling melengkapi satu sama lain agar hubungan mereka tetap harmonis hingga nanti.
"Ya." Rafka mengangguk.
"Danu?"
"Danu selalu hadir dan mengajakku tapi aku tetap tidak mau ikut."
"Kenapa?"
"Itu tidak ada gunanya."
Caramel melongo, Rafka benar-benar tidak tahu cara membahagiakan dirinya sendiri. Hadir dalam acara reuni bisa mengingatkan kita pada masa-masa indah saat sekolah dulu. Itu membuat dadamu dipenuhi bunga bermekaran saat ingat betapa indahnya masa remaja di bangku SMA.
"Pasti Danu nggak ngasih tahu tentang reuni ini karena kamu nggak pernah mau ikut."
"Ya."
Mereka terdiam cukup lama melihat orang-orang yang joging di sekitar taman. Caramel melihat seorang pedagang bubur ayam yang dikerumuni oleh pembeli, air liurnya memenuhi rongga mulut melihat pemandangan tersebut.
"Aduh, perutku sakit." Caramel memegangi perutnya.
"Ada apa?" Rafka panik melihat Caramel mengaduh kesakitan.
"Aduh Rafka, tolong." Caramel meringis.
"Kenapa tiba-tiba sakit?" Rafka hendak mengangkat tubuh Caramel.
"Aku laper." Caramel nyengir seketika membuat ekspresi wajah Rafka yang tadinya panik berubah datar.
Rafka mengatup bibir menahan marah, ia tidak suka cara bercanda Caramel seperti ini.
"Aku mau bubur ayam itu." Caramel menunjuk pedagang bubur ayam tak jauh dari tempat mereka berada.
"Tunggu sebentar." Tanpa babibu Rafka segera beranjak membeli bubur ayam sesuai kemauan Caramel.
Gerecep sekali sih robotku, makin jatuh cinta dimana dong.
Caramel melihat Rafka ikut mengantre dengan pembeli yang sebagian besar wanita. Sepertinya Rafka tidak terganggu dengan keberadaan mereka atau bahkan tidak peduli.
"Dari jauh ganteng banget." Caramel senyum-senyum sendiri melihat suaminya sendiri, ia sudah memasuki bucin level akut yang tidak bisa diobati.
Rafka berhasil mendapatkan 2 porsi bubur ayam setelah 10 menit mengantre. Ia kembali ke kursi tempat Caramel duduk dari tadi. Rafka bertanya-tanya mengapa Caramel tersenyum manis sekali saat ia datang membawa bubur, apakah Caramel begitu menginginkan bubur ini?
"Aku mau makan disini." Caramel mengeluarkan kotak styrofoam berisi bubur yang masih panas.
"Kenapa tidak di apartemen saja?"
"Aku pengen disini."
Baiklah, apa sih yang tidak untuk Caramel.
"Kenapa kamu mengaduknya?" Rafka merasa aneh melihat Caramel mengaduk buburnya.
"Kenapa? aku tim aduk." Dengan semangat Caramel melahap bubur dengan suwiran ayam, kacang goreng dan sate usus.
"Kamu tim nggak diaduk?" Ahh, terlalu banyak perbedaan di antara mereka.
Rafka mengangguk, ia membuka styrofoam bubur miliknya—menyendok sedikit lalu melahapnya.
.
.
Kalian tim aduk atau tidak? 😂
__ADS_1