
Pagi ini aku dengar suara burung berkicau serta air mengalir seperti suasana pedesaan. Tapi tidak mungkin, sudah belasan tahun aku tidak pernah mendengar kicauan burung. Aku membuka mata, meraba-raba ranjang di samping ku, tidak ada Caramel, dimana dia.
Pandanganku langsung tertuju pada speaker di meja bawah televisi, suara burung itu berasal dari sana sedangkan suara air mengalir dari kamar mandi. Ternyata Caramel masih takut mandi disana, buktinya ia tidak menutup pintu kamar mandi tersebut padahal ini sudah pagi. Bukannya hantu takut dengan matahari?
Jam dinding menunjukkan pukul setengah 6, aku bangkit dari tempat tidur dan membuka gorden jendela. Pemandangan bundaran HI langsung menyapaku, entah apa yang istimewa dari air mancur dengan patung selamat datang tersebut hingga membuat Caramel begitu menyukainya.
Aku melangkah keluar kamar, sekilas ku lihat meja rias sudah penuh dengan peralatan make-up Caramel. Lemari di dapur juga penuh oleh mie instan berbagai macam rasa.
Dua buah telur mata sapi dan sayur asem yang terdiri dari daun melinjo, kacang panjang, jagung dan labu siam seperti sayur asem pada umumnya. Namun aku tidak tahu kalau Caramel juga bisa masak makanan kesukaanku ini. Aku melihat ponsel Caramel yang juga berada di atas meja makan bahkan dalam keadaan menyala. Aku bisa melihat kalau Caramel sedang menonton video cara memasak sayur asem. Perlahan senyumku mengembang, mengapa ia terburu-buru sekali hingga lupa mematikan ponselnya kembali.
Jam berapa Caramel bangun demi menyiapkan sarapan ini, sepertinya ia juga pergi keluar karena setahuku tidak ada sayuran di dalam kulkas. Semalam kami hanya sempat menyimpan minuman disana.
"Rafka kamu udah bangun?" Suara Caramel membuatku membalikkan badan, ia tampak mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil sementara bathrobe menempel di tubuhnya. Ini sih lebih menawan lagi dari pada saat aku melihat Caramel mengenakan pakaian kerja. Wanita tanpa riasan jauh lebih cantik, maksudku bukan wanita pada umumnya, hanya Caramel. Aku tidak punya waktu untuk menilai wanita lain.
"Buruan mandi gih, aku udah beli sampo khusus buat cowok, yang botol merah ya." Ia kembali masuk ke kamar.
Aku menyusul Caramel, ia duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Kamu tadi keluar?" Aku melihat Caramel melalui pantulan cermin.
"Iya, beli sayur sama alat mandi kamu kan belum ada."
"Makasih ya."
"Ceileh pakai makasih segala kayak sama siapa aja." Caramel mengibaskan tangannya agar aku segera pergi ke kamar mandi.
Terdapat beberapa barang baru di kamar mandi, pasti ini yang Caramel bicarakan barusan. Bahkan ia juga sudah menyiapkan alat cukur lengkap dengan shaving cream. Rupanya Caramel tahu kalau aku mencukur kumis dan jenggot setiap hari.
Guyuran air hangat melalui shower begitu tenang mengalir dari ujung kepala hingga kaki. Sesuai perkataan Caramel, aku mengambil botol sampo berwarna merah di antara banyak botol lain. Sekilas aku membaca tulisan pada botol tersebut, Sumber Ayu. Aku tak pernah tahu merek sampo tersebut, tapi sebaiknya aku pakai saja karena Caramel jauh lebih tahu banyak hal dibandingkan denganku.
Aku mengabaikan tekstur cair dari sampo tersebut, yang penting wangi dan bisa membersihkan rambutku. Aku juga masih bisa mencium aroma sabun Caramel disini, pasti ia baru saja berendam di bathtub. Sedangkan aku sejak 30 tahun tidak pernah menceburkan diri ke dalam bathtub tersebut, menurutku sangat menguras waktu.
__ADS_1
Caramel sudah mengganti bathrobe dengan celana pendek di atas lutut dan atasan berbahan kaos. Pakaian itu memperlihatkan kaki jenjang nya sungguh tampak mempesona di mataku.
"Kok kamu bau ini sih." Caramel mendekatiku, mengendus rambut dan badan ku.
"Bau apa? Aku sudah pakai sabun." Apa aku masih bau keringat?
"Kamu pakai sampo apa sih?"
"Sampo botol merah yang kamu bilang." Kenapa? aku salah?
"Botol merah yang mana?" Caramel menarik tanganku masuk ke kamar mandi.
"Yang itu, sumber ayu." Aku menunjuk botol sampo yang baru saja ku gunakan.
"Ya ampun!" Ia memekik melihatku, aku sampai terkesiap karena suara teriakan Caramel. Apa aku salah menggunakan sampo miliknya? "Mandi lagi, ayo mandi lagi." Caramel berusaha melepaskan handuk yang melilit pinggang ku hingga ke bawah sebatas lutut.
Aku menahan handuk tersebut agar tidak jatuh. "Kenapa aku harus mandi lagi?" Tanyaku.
Aku berkedip satu kali, "kenapa?"
"Ini sabun khusus punya cewek, buat ini."
"Buat apa?"
"Buat ini." Caramel melirik bagian bawah tubuhnya.
Aku terkejut bukan main, mungkin karena aku terlalu percaya pada Caramel hingga akhirnya salah menggunakan sabun seperti ini. Aku juga tidak membaca keterangan pada kemasan tadi.
"Aku mandi lagi." Aku segera mendorong Caramel keluar kamar mandi dan menutup pintu, sekilas ku dengar Caramel tertawa. Ah teganya dia mentertawakan suami sendiri.
Kali ini aku menggunakan sampo sesungguhnya, bukan sabun milik Caramel. Pantas saja tadi aroma nya sedikit aneh, aku belum pernah mencium sampo yang memiliki aroma seperti itu. Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalau Danu tahu mungkin ia akan tertawa sambil memukul-mukul meja yang akan membuat orang-orang sekitar melihat ke arah kami. Tidak, Danu tidak boleh tahu.
__ADS_1
Saat aku keluar kamar mandi, Caramel tidak ada disana. Aku memakai baju dengan cepat dan menemukan Caramel duduk di meja makan sambil menggigit sendok, sedangkan tangannya sibuk dengan ponsel. Ibu jarinya bergerak lincah di atas layar tipis tersebut, apa ia sedang menceritakan kejadian ini kepada Jane dan Kayla? apa dia juga akan membuatku malu di depan mereka? tidak, tidak mungkin Caramel begitu.
"Eh, udah selesai?" Ucapan Caramel tidak jelas karena ia sedang menggigit sendok, ia melihatku sekilas duduk di hadapannya.
Caramel sedang makan Nutella tanpa apapun, maksudku ia hanya makan selai coklat tanpa roti.
"Aku makan selai untuk menunda lapar." Ia menyodorkan piring berisi nasi yang sudah didinginkan.
"Kenapa kamu tidak makan saja dulu?" Tanyaku.
"Aku pengen nungguin kamu." Caramel meletakkan sendok nya di atas tutup Nutella.
Aku mengambil sayur asem dan satu telur goreng, kelihatannya sangat enak.
"Semoga kamu suka, ini pertama kalinya aku bikin sayur asem." Ujar Caramel. Aku mengangguk dan mulai makan, ah tidak salah lagi ini memang enak.
"Ini sangat enak." Pujiku. Mata Caramel berkilat-kilat mendengar ucapanku, ia tersenyum sangat lebar sembari ikut makan.
"Pasti sebenarnya aku punya bakat terpendam, yaitu masak," Katanya, "Mama aja pinter masak pasti nurun sama anaknya."
Aku mengangguk mengiayakan ucapan Caramel.
"Maaf ya soal barusan, nanti aku buang sabun itu biar kamu nggak salah lagi."
"Tidak perlu, aku tidak akan salah menggunakannya lagi."
"Ini ulah Jane yang paksa aku pakai sabun begituan, tapi semalem gimana rasanya?" Caramel sedikit mendekatkan wajahnya kepadaku.
"Rasa apa?"
"Tahu ah!" Ia mendelik, sungguh aku tidak mengerti pada maksud kalimat Caramel. "Apa lihat lihat, ayo nunduk dan habisin makan kamu!"
__ADS_1
Aku menuruti ucapan Caramel, menunduk dan melanjutkan sarapan dengan sayur asem buatan istriku.