
"Maaf membuat Papa dan Mama menunggu lama."
Suara datar Rafka berhasil menarikku kembali ke dunia nyata setelah cukup lama jalan-jalan di dunia mimpi. Perlahan aku mengangkat kepala, dimana aku? di lorong apartemen aku tahu, tapi kenapa aku melayang? apa aku mati? aku juga melihat papa dan mama berdiri di depan pintu apartemen.
"Kalian dari mana?" Suara papa terdengar datar, seperti suara Rafka. Aku mengerjapkan mata berkali-kali berusaha menyadarkan diri sepenuhnya.
"Caramel tidur?" Mama mendekat.
"Iya tadi Caramel tidur selama perjalanan."
"Dasar kebo!"
"Aw!" Aku merintih saat mama memukul punggung ku cukup keras, aku tak perlu waktu lama untuk bangun, mama benar-benar ahli dalam membangunkan orang.
"Kamu tuh malu-maluin, kan kasihan Rafka gendong kamu dari bawah sampai sini, turun nggak!"
"Aduh Mama kejam banget sih!" Aku melompat turun dari punggung Rafka, ternyata aku melayang karena Rafka menggendong ku. Aku memang pantas disebut kebo, bisa-bisanya aku tidak bangun saat Rafka mengangkat ku dari mobil hingga ke apartemen kami. Mungkin aku kekenyangan karena menghabiskan banyak nastar di rumah kakek Jono.
Rafka mengusap punggung ku lembut meredakan nyeri gara-gara pukulan mama. Bukannya dipeluk atau dicium setelah lama tidak bertemu, mama justru memukulku.
"Mari masuk Pa, Ma." Rafka mengajak orangtuaku masuk sedangkan aku masih bersungut-sungut mengekori Rafka.
"Kalian kok nggak ngasih tahu kalau mau datang?" Aku ikut duduk di sofa ruang tamu bersama papa dan mama.
Aku menatap mereka menunggu jawaban tapi baik papa maupun mama tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Mereka diam menatapku lurus dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada apa dengan mereka?
"Tadi pihak apartemen sudah mengkonfirmasikan kedatangan Papa dan Mama." Sahut Rafka.
"Kok kamu nggak ngasih tahu aku?" Aku mendongak melihat Rafka, aku tidak tahu jika mereka akan datang.
"Karena kamu tidur—Papa dan Mama mau minum apa?" Tanya Rafka yang masih berdiri.
"Nggak usah, duduk aja, papa dan mama mau bicara penting." Balas papa.
Aku terpaku, tidak biasanya mereka memasang wajah serius seperti ini. Aku jadi merinding takut jika Rafka dan aku membuat kesalahan, tapi setelah ku pikirkan lagi, kami tak pernah berbuat sesuatu yang melanggar peraturan.
Angin bertiup cukup kencang menggoyangkan gorden putih yang menutupi kaca dan jendela pembatas antara ruang tamu serta balkon membuat suasana terasa seperti di film horor. Bulu kuduk ku meremang, bukan karena suasana horor ini tapi karena angin yang menyentuh permukaan kulit ku. Angin yang bertiup setelah hujan memang terasa lebih dingin.
Perlahan Rafka beringsut duduk di sampingku, aku lihat ia juga tegang dan gugup.
"Kenapa kalian nggak ngasih tahu kalau wanita yang di video itu sebenarnya istri Rama?" Mama melempar tatapan tajam kepadaku.
Aku mendelik, dari mana mama tahu. Aku sudah minta Jane dan Kayla merahasiakan hal ini dari papa dan mama, aku tidak mau membuat mereka khawatir.
"Kalian juga nggak ngasih tahu dari awal kalau Rama dan istrinya tinggal persis di samping apartemen ini!"
Aku terkesiap mendengar ucapan mama, "aku mau kasih tahu Mama dan Papa tapi nunggu waktu yang tepat."
"Sampai kapan? mungkin kalau kami nggak kesini sendiri, kami nggak akan tahu kalau sebenernya kalian bertetangga, bisa-bisanya kamu merahasiakan hal sebesar ini." Mata mama memerah karena marah, aku tahu bagi keluarga kami, Rama adalah luka dalam yang membuat ku terpuruk begitu lama. Kenyataan bahwa Rama dan istrinya tinggal bersebelahan denganku pasti membuat mereka takut jika aku akan kembali membuka luka lama.
"Ma, Pa kami nggak bermaksud menyembunyikan hal ini tapi kami nggak mau bikin kalian khawatir." Sahut Rafka, ia menggenggam tanganku seolah memberi kekuatan. "Saya akan selalu ada di dekat Caramel untuk menjaganya." Nada suara Rafka begitu lembut, aku yakin ucapan Rafka akan berhasil melelehkan hati papa dan mama. Tidak sepertiku yang bicara penuh emosi, Rafka tampak tenang dan bijak menjelaskan semuanya.
"Sekarang rumah tangga kalian sudah terusik dengan keberadaan Rama." Papa akhirnya bersuara, wajahnya muram, "Papa yakin ini nggak baik untuk hubungan kalian."
"Pa." Aku menyela, "aku sama Rafka udah dewasa, hubungan kami juga baik-baik aja."
__ADS_1
"Mama bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, Mama nggak mau kamu sakit hati lagi karena tinggal deket dia."
Aku mengangguk, "aku tahu Ma."
"Mama tenang saja, saya pastikan Rama pindah dari apartemen ini." Kata Rafka seraya mengangguk mantap berusaha meyakinkan mama dan papa. Aku terkejut, bagaimana mungkin Rafka seyakin itu membuat Rama pindah dari apartemen ini.
"Ya." Mama mengangguk, akhirnya senyum terbit juga di bibirnya, "mama percayakan semua sama kamu."
"Mama nggak percaya sama aku?" Aku mengangkat dagu menuntut kepercayaan juga dari mama.
"Mama lebih percaya sama Rafka." Balas mama dengan nada dibuat-buat.
Aku mendelik melompat pindah duduk di samping mama, "jadi sekarang Mama lebih percaya sama Rafka." Aku protes.
Mama tertawa mengejek, ia memang tidak pernah bersikap lembut kepadaku hingga aku tumbuh menjadi wanita yang keras juga.
"Mama nggak mau kamu digangguin Rama, Mama nggak mau kamu jatuh cinta lagi sama dia." Mama berbisik di telingaku.
Ih, mana mungkin aku seperti itu, melihat wajahnya saja membuatku ingin muntah. Jika waktu boleh diputar kembali, aku tidak akan memilih Rama sebagai pacarku dulu, aku akan memilihnya sebagai calon suamiku.
Mama tidak tahu kalau aku sudah menjadi bucin nya Rafka, aku selalu nangis bombay setiap kali Rafka akan berangkat kerja, alhasil ia menyelesaikan pekerjaannya dari rumah selama seminggu terakhir. Aku tahu itu tidak sehat jadi aku memutuskan untuk kembali bekerja setelah menyelesaikan masalah ku dengan Adena.
"Kalau gitu Papa dan Mama pulang dulu." Ujar papa.
"Loh nggak mau makan malam disini sekalian?" Aku melihat papa dan mama bergantian.
"Kami nggak mau mengganggu waktu kalian." Mama beranjak dari duduknya, "yang penting Mama tahu keadaan kalian disini."
"Setiap akhir pekan kami akan mengunjungi Mama dan Papa di rumah." Rafka ikut beranjak.
"Mama tahu kalian sibuk tapi jangan lupa jaga kesehatan." Mama mengusap lenganku seolah lupa kalau tadi ia memukul punggung ku cukup keras. Mungkin mama lupa kalau aku sedang hamil, ia bisa membuat hidung anak ku pesek akibat pukulannnya.
"Iya Ma." Aku mengangguk.
"Rafka, Papa titip Caramel sama kamu." Papa menepuk bahu Rafka beberapa kali.
Rafka dan aku mengantar mereka hingga depan pintu.
"Mama dan Papa juga jaga kesehatan, cukup makan dan istirahat." Pesan Rafka sebelum mereka melangkah melewati koridor dan tidak lagi terlihat masuk ke dalam lift.
Kami kembali masuk setelah memastikan papa dan mama tidak lagi terlihat. Aku ingin membersihkan diri dan berendam di bathtub untuk sejenak melupakan kejadian hari ini. Aku juga ingin memikirkan tindakan selanjutnya yang akan aku ambil—melanjutkan kasus ini atau berakhir damai dengan Adena. Aku bukan orang baik yang dengan mudahnya memaafkan kesalahan orang lain, tapi ucapan Adena tentang Ara sukses mengganggu pikiranku hingga sekarang.
"Kamu mau kopi? biar aku buatkan." Rafka melangkah menuju meja bar.
"Tumben kamu nawarin kopi." Aku meliriknya.
"Hari ini kamu belum minum kopi sama sekali kan." Ia mengambil satu kapsul kopi favoritku dari dalam lemari penyimpanan.
"Nggak usah, aku mau mandi dulu." Aku mengibaskan tangan kepadanya agar ia menghentikan aktivitasnya membuatkan ku kopi.
Pintu kamar mandi ku buka lebar sebelum melangkah masuk, ku pikir setelah beberapa bulan tinggal disini aku bisa membiasakan diri mandi sendiri dengan pintu tertutup tapi ternyata aku salah. Aku tetap tidak berani mandi sendirian, jika boleh jujur aku benci kebiasaan ini tapi untung saja Rafka tidak masalah soal itu. Aku juga lebih tenang karena kami hanya tinggal berdua sehingga tidak akan ada orang lain yang masuk kamar mandi sembarangan.
Lagu Kumau Dia mengalun lembut dari ponsel milik ku, ini adalah salah satu rangkaian wajib sebelum berendam. Aku menuangkan Bath Foam—menghirup aroma white musk yang menguar ke seluruh penjuru kamar mandi. Tidak salah aku memilih sabun yang awalnya untuk Rafka tapi akhirnya aku yang lebih sering menggunakannya karena Rafka tidak suka berendam. Aromanya berhasil memikat ku untuk segera menenggelamkan diri ke dalam bathtub bersama lembutnya busa yang sudah mengembang.
"Kumau dia, walau banyak perbedaan
__ADS_1
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku .... " Aku bersenandung kecil dengan mata terpejam menikmati sesi berendam ku sore ini.
Aku lega karena mama dan papa tidak terlalu marah soal Rama dan video itu. Aku tahu bahwa itu adalah hal penting yang seharusnya tidak ku rahasiakan dari mereka. Aku tidak mau Rama berpengaruh begitu besar terhadap keluarga kami, aku ingin benar-benar menenggelamkannya dari kehidupan kami sehingga aku tidak ingin memberitahu papa dan mama. Namun mengingat ucapan mama pasti tadi mereka bertemu dengan Rama di apartemen ini.
"Aaa!" Aku berteriak kaget merasakan ada seseorang yang menindihi tubuhku, spontan aku membuka mata dan melihat Rafka sudah berada di dalam bathtub bergabung dengan ku.
"Kamu ngapain?" Aku mendelik.
"Aku ingin mandi bersamamu." Jawab Rafka dengan nada datar seperti biasa, kenapa ia santai sekali masuk ke bathub saat ada orang lain di dalamnya. Walaupun kami sudah menikah tapi aku tidak pernah berendam dengan orang lain di dalam bathub.
"Katanya kamu nggak suka berendam di bathub?"
"Hari ini pengecualian." Rafka memeluk tubuhku, untung saja bathub disini berukuran cukup besar sehingga cukup menampung dua orang tanpa berdesakan.
"Kamu kenapa sih?" Aku menggeliat risih dengan tangannya yang melingkari perutku. Rafka aneh sekali, ini masih sore—maksudku kami biasa melakukan hal semacam ini saat malam hari dan bukan di dalam bathtub.
Bukannya menjawab Rafka justru membungkam mulutku dengan kecupan yang dalam dan lama hingga membuatku sulit bernapas. Tatapannya penuh gairah, tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Sepertinya aku salah jika bilang Rafka perkasa di atas ranjang—ia juga perkasa di dalam bathub.
"Rafka, kamu nggak bisa nunggu sampai aku selesai mandi?" Aku menahan kepalanya sedikit menjauh.
Ia menggeleng samar, apa yang salah dengannya?
Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi saat Rafka menyingkirkan jarak di antara kami dan mencecap leherku. Ah aku besok harus kerja tapi aku yakin Rafka akan meninggalkan bekas di leherku. Aku merasakan gelenyar aneh ketika tubuh kami mulai menyatu. Aku tidak percaya kami melakukannya di dalam bathub, ini seperti adegan film.
******
"Kemana mereka pergi?" Mama Caramel melangkah santai memasuki lift untuk menuju unit apartemen Rafka setelah mendapatkan kartu visitor dari pihak apartemen.
Papa Caramel hanya mengedikkan bahu menanggapi pertanyaan sang istri, tadi pihak apartemen hanya bilang kalau Rafka mengizinkan mereka masuk.
"Wah Rafka memberikan tempat tinggal mewah untuk Caramel, Pa." Mama tidak bisa berhenti kagum pada interior apartemen yang begitu terasa nyaman, pantas saja Caramel dulu sempat menghayal untuk tinggal di tempat ini.
"Kita harus bersyukur punya menantu seperti Rafka, sepertinya Caramel juga mulai jatuh cinta pada Rafka."
"Oh ya?" Mama Caramel melihat sang suami, ia mengangkat alisnya sebelah. Ia tidak bisa melihat perubahan perasaan Caramel karena mereka jarang bertemu tapi ia tak menyangka jika sang suami bisa merasakannya.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka melangkah keluar.
"Rama!" Mama Caramel memekik melihat laki-laki yang dulu sempat mengisi kehidupan Caramel, ia tak percaya jika lelaki bernama Rama itu akan bertemu dengannya lagi setelah sekian lama.
Si pemilik nama spontan menghentikan aktivitasnya membuka pintu masuk apartemen miliknya, ia menoleh melihat mama Caramel. Ekspresi mereka sama-sama terkejut karena ini adalah pertemuan yang tidak diharapkan. Apalagi Rama dan Caramel baru saja mengalami pertengkaran hebat di kantor polisi. Bahkan Rama masih bisa merasakan bekas tamparan Caramel di pipinya.
"Om, Tante apa kabar?" Rama menyapa orangtua Caramel kaku setelah beberapa menit mengumpulkan mental.
Papa Caramel menahan tangan istrinya untuk tidak bergerak lebih dekat.
Rama menelan salivanya dengan susah payah, seperti ada benda besar yang tercekat di tenggorokan nya. Matanya memanas, hubungan mereka dulu sangat dekat. Keluarga Caramel menerimanya dengan baik hingga menjelang pernikahan—sebelum insiden itu.
"Mmm .... " Rama tidak tahu harus bicara apa, ia tergagap ingin segera menghilang dari sini.
"Mas, ayo masuk." Adena muncul dari balik pintu, "ngapain sih disitu?"
Mama Caramel memperhatikan Adena yang ikut keluar, ia tahu persis bahwa itu adalah wanita yang melakukan percobaan pembunuhan kepada Caramel. Ia mengepalkan tangan menahan emosi.
__ADS_1
"Siapa?" Adena melihat Rama lalu dua orang asing yang berada tak jauh dari mereka.
"Ayo masuk." Rama menarik Adena masuk ke apartemen mereka tanpa menjawab pertanyaan sang istri. Ia tidak bisa menunjukkan diri lebih lama di depan orangtua Caramel karena terlalu malu. Kini penyesalan terasa semakin menggerogoti hati Rama, dulu ia pergi begitu saja tanpa mempedulikan perasaan Caramel. Tamparan kerasa Caramel tadi menyadarkannya bahwa ia tak pantas kembali, ia harus pergi sejauh mungkin walaupun jauh di dalam relung hatinya merindukan sosok Caramel.