Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Dua Puluh Enam


__ADS_3

Srrrett!


Suara ban mobil bergesekan dengan aspal terdengar begitu nyaring saat Caramel menginjak rem kuat-kuat bersamaan dengan teriakan orang-orang di sekitar. Dada Caramel membentur kemudi akibat nge-rem mendadak saat ia melihat gadis kecil tiba-tiba berlari di depan mobilnya yang sedang melaju. Sekitar 10 meter lagi ia akan segera sampai ke basemen tapi itu tidak berjalan mulus.


Caramel mengelus dadanya yang berdegup kencang, ia membasahi bibir bawah dan turun dari mobil. Ara lagi? Caramel menghampiri Ara yang berdiri tepat di depan mobilnya, jika Caramel sedikit saja telat menginjak rem pasti Ara sudah berbenturan dengan mobil BMW milik Rafka tersebut.


Ara tampak menangis akibat dimarahi oleh mamanya yang kesal karena Ara tak pernah mendengarkan nasehatnya. Ara selalu berlari mendahului mamanya, itu sangat berbahaya bagi bocah kecil seusianya.


"Anaknya jangan dibiarin begitu mbak, bahaya tahu!"


"Untung aja mobilnya langsung nge-rem, kalau nggak pasti udah ketabrak."


"Anaknya dipegang dong."


Begitu ucapan orang-orang di sekitar yang sempat terkejut dengan kejadian di depan mereka baru saja.


"Aku minta maaf." Caramel duduk menyamakan tinggi dengan Ara, tapi maafnya tertuju pada Adena. Caramel mengusap rambut panjang Ara yang dikuncir kuda. Ia menatap sayu pada Ara yang memiliki manik persis seperti Rama. Dua manik yang dulu pernah membuat Caramel tergila-gila. Delapan tahun yang sia-sia, jagain jodoh orang, kata Jane waktu itu.


"Aku yang minta maaf." Adena menarik Ara dan menggendongnya.


"Ada apa ini?" Rama menghampiri mereka, ia melihat Caramel lalu Ara yang menangis.


"Anak kamu nih selalu lari-lari, hampir aja ketabrak." Omel Adena, ia lelah menghadapi Ara yang sangat aktif lari kesana kemari hingga ia tak mampu mengejarnya.


"Sini sama Papa." Rama mengambil alih Ara. Bocah kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya pada leher papanya.


"Sekali lagi aku minta maaf." Ujar Caramel lagi, ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


Rama memandang Caramel lekat, walaupun penampilan wanita itu sedikit berantakan tapi baginya Caramel adalah cinta pertama yang tak bisa ia lupakan sampai kapanpun. Sekarang tinggal penyesalan yang terasa menggerogoti tubuhnya secara perlahan.


"Ara nggak apa-apa kok." Kata Adena, ia jadi merasa bersalah karena ini bukan pertama kali bagi mereka. Ara selalu berlari kencang ke arah Caramel.


"Kalau gitu aku permisi." Pamit Caramel tanpa melihat Rama sedikitpun, ia tak sudi melakukan itu.


Caramel kembali ke mobil, ia harus membersihkan diri dan mengambil beberapa keperluan untuk Rafka. Ia tidak mau membiarkan Rafka sendirian di rumah sakit terlalu lama.


"Harus berani mandi sendiri." Gumam Caramel mengepalkan tangannya memberanikan diri masuk ke kamar mandi.


Walaupun Rafka lebih banyak diam tapi Caramel merasakan kesepian saat masuk ke apartemen ini.


Caramel tidak berani memejamkan mata walaupun sekarang tubuhnya berada di bawah guyuran air dari shower. Akibat hobi menonton film horor, Caramel jadi sering parno. Biasanya pada film, hantu akan muncul di kamar mandi. Air menjadi darah lalu muncul bayangan berkelebat di depan cermin.


"Duh perih!" Pekik Caramel saat busa sampo mengalir ke matanya, tangannya meraba-raba dinding dan menyalakan shower sehingga ia bisa segera membuka mata. "Untung nggak pakai eyelash extension, bisa rontok semua kalau pakai." Gerutunya.


Biasanya Caramel menghabiskan waktu paling sebentar 30 menit di kamar mandi tapi kali ini ia hanya butuh 15 menit. Ternyata ia belum punya keberanian berada di kamar mandi sendirian. Caramel punya hobi yang buruk untuk kehidupannya sehari-hari.


Tangan Caramel meraba bekas ciuman Rafka di lehernya saat bercermin. Tadi pagi Caramel sangat kesal melihat itu tapi sekarang ia justru sedih. Dari pada memakaikan concealer, Caramel memilih menggerai rambutnya untuk menutupi bekas kemerahan tersebut.


Caramel memasukkan berbagai keperluan ke dalam koper kecil, ia akan cuti beberapa hari hingga Rafka benar-benar pulih. Caramel juga memasukkan hair dryer, ia akan mengeringkan rambutnya di rumah sakit.

__ADS_1


******


"Kamu tidak apa-apa?"


Caramel membalikkan badan melihat Rafka yang berbaring di ranjang. Ia meletakkan koper kecil dekat sofa dan mengeluarkan sebagian isinya.


"Emang aku kenapa?" Tanya Caramel seraya mengangkat kedua alisnya, ia menghampiri Rafka dan duduk di kursi kecil dekat ranjang.


"Perasaanku tidak enak saat kamu keluar tadi."


"Nggak apa-apa kok, buktinya aku balik cepet kan." Caramel tersenyum simpul. Sepertinya Rafka bisa merasakan kejadian buruk yang menimpa Caramel tadi. Namun Caramel tidak akan memberitahukannya pada Rafka sekarang, lagi pula ia baik-baik saja, hanya sedikit sakit di bagian dada akibat membentur kemudi.


"Syukurlah," Rafka mengusap pipi Caramel, "kamu belum makan siang kan?"


"Oh iya .... " Caramel melirik arloji yang dikenakannya, pukul 2 siang. Caramel sudah melewatkan jam makan siang begitu jauh, ia tidak merasa lapar dari tadi. Sekalian diet ya kan.


"Aku sudah pesan ayam goreng kesukaan kamu." Rafka menunjukkan ponselnya, ia baru saja memesan paket KFC melalui ojek online. "Sedang di perjalanan." Tambahnya.


"Kamu mau makan lagi?"


Rafka menggeleng, ia hanya ingin melihat Caramel mengunyah makannya dengan baik hingga habis.


"Terimakasih sudah memilihku." Rafka menarik Caramel dan memeluknya erat.


"Ahh!" Reflek Caramel mengaduh saat dadanya terasa sakit, ia pikir benturan itu tidak akan sakit tapi ternyata rasanya cukup nyeri.


"Ada apa?" Rafka meregangkan pelukannya dan melihat Caramel serius, ia tahu ada yang salah dengan sang istri tadi saat baru kesini.


"Kenapa tidak segera dikeringkan, kau bisa masuk angin."


"Aku pengen cepetan kesini makanya nggak sempet ngeringin di rumah."


Rafka tidak tahu saja seberapa terburu-buru nya Caramel menyelesaikan mandi dan berkemas karena takut sendiri di rumah.


Caramel mencium aroma ayam goreng saat seseorang mengetuk pintu, sepertinya ia dilahirkan dengan hidung tajam—setajam silet. Benar saja, seorang lelaki mengenakan jaket hijau menyapa mereka dengan ramah membawa satu bungkus ayam KFC kesukaan Caramel.


"Makasih Mas." Caramel menyambut sekotak ayam goreng lengkap dengan nasi dan Pepsi, itu adalah paket komplit yang mampu membahagiakannya—lahir dan batin.


"Makasih Ka." Seru Caramel setelah mas-mas GoFood itu pergi.


Itulah cara sederhana membuat Caramel tersenyum lebar hingga deretan giginya yang rapi itu terlihat. Rafka bisa membelikan 10 bungkus ayam goreng seperti itu demi melihat senyum manis sang istri.


Rafka menahan senyum ketika mendengar suara perut Caramel, ia berusaha memasang wajah datar agar wanita itu tidak malu. Kadang Caramel juga buang angin di kamar dan Rafka pura-pura fokus pada televisi seolah-olah tidak mendengarnya.


"Yakin nggak mau?" Caramel mengacungkan sepotong paha ayam pada Rafka.


"Aku harus makan makanan yang bertekstur lembut setelah syok anafilaktik tadi."


"Oh." Caramel menutup mulutnya yang penuh dengan makanan. "Untungnya kamu tahu."

__ADS_1


"Tentu saja, ini kali kedua."


"Semoga yang terakhir, aku nggak mau kamu gini lagi."


Rafka mengedipkan mata mengulas senyum simpul. Caramel menikmati makanannya dengan lahap, itu adalah pemandangan indah yang tidak ingin Rafka lewatkan. Melihat pipi itu menggembung penuh makanan merupakan kebahagiaan bagi Rafka. Apa semua orang jatuh cinta seperti itu?


"Hujan?" Caramel memutar kepala melihat keluar jendela, hujan baru saja turun disertai kilat. Cuaca memang sulit diprediksi, sepertinya bumi tidak mau manusia memperkirakan kondisinya dimasa depan.


Caramel menguncir rambutnya yang belum sepenuhnya kering agar lebih leluasa untuk makan. Walaupun kemungkinan ia bisa masuk angin jika tidak segera mengeringkan rambut tapi mungkin itu tak akan terjadi saat perutnya kenyang.


"Kau tidak menutupi bekas merah itu?"


"Mana sempat keburu telat." Ujar Caramel persis seperti pada salah satu iklan di televisi.


"Memangnya pintu rumah sakit akan ditutup pada jam tertentu?" Rafka mengerutkan kening.


Caramel tersenyum lebar, kenapa ia bisa lupa kalau Rafka itu robot. Diajak bercanda jenis apapun juga Rafka akan menanggapinya dengan serius, Sepertinya Caramel butuh waktu lebih lama untuk mengajari robot kesayangannya itu.


Kotak kertas bekas makanan di atas meja kini bersih, Caramel tidak menyisakan satu butir pun di dalamnya. Caramel membereskan kotak tersebut dan menutup gorden serta menyalakan lampu karena hari mulai sore. Sebentar lagi matahari tenggelam karena tak pakai pelampung padahal sudah tahu tidak bisa berenang.


"Kamu yakin nggak mau ngasih tahu Mama?" Caramel duduk di samping Rafka dan menaikkan posisi ranjang bagian kepala.


"Tidak usah, besok atau lusa mungkin aku sudah boleh pulang."


Caramel meraih tangan Rafka dan menggenggamnya, memandangi wajah pucat lelaki itu yang sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.


"Tangan mu dingin sekali." Gumam Rafka, "kamu kenapa?"


"Umh!" Caramel melepaskan genggamannya dan beranjak berlari menuju kamar mandi saat perutnya terasa diaduk-aduk, ada yang mendesak dari dalam sana.


Caramel memuntahkan semua makanannya yang belum dicerna sempurna. Lambungnya menolak makanan yang paling disukainya itu.


Rafka menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang, ia mendorong tiang infus menyusul Caramel ke kamar mandi. Ia mengusap punggung langsing Caramel dengan lembut.


"Kenapa kamu kesini?" Caramel mengibaskan tangannya meminta Rafka keluar.


"Muntahkan saja biar lebih enak." Rafka membantu Caramel menekan tombol flush.


"Hah!" Caramel berpegangan pada pinggiran closed, tubuhnya gemetar karena muntah. Tenggorokannya terasa perih, ia beranjak berpegangan pada lengan Rafka.


"Pasti kamu masuk angin." Rafka memapah tubuh Caramel dan mendudukkannya di sofa. "Kamu bawa minyak angin?"


Caramel mengangguk, sia-sia ia makan nasi dan ayam dengan lahap tadi. Semua itu sudah keluar sebelum dicerna.


Rafka mengoleskan minyak angin pada perut Caramel dengan telaten dan membetulkan kuncir rambut sang istri.


"Aku panggil dokter buat periksa ya?"


"Nggak usah, aku mau tidur aja."

__ADS_1


"Ayo tidur di ranjang, aku jagain."


Caramel menatap Rafka sayu, seharusnya ia yang menjaga lelaki itu bukan sebaliknya. Jika tahu ini terjadi pasti Caramel akan mengeringkan rambut di rumah tanpa menundanya, kenapa hidupnya selalu dipenuhi penyesalan.


__ADS_2