Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Dua


__ADS_3

Sejak kembali ke apartemen, Caramel selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Berangkat pagi ke toko Caramel Sleepwear dan pulang sore, begitu setiap hari seolah Caramel tak ingin pikirannya dimasuki oleh kenyataan bahwa Arnesh sudah tiada.


Awalnya Rafka membiarkan Caramel melakukan apapun asal tidak berlarut-larut dalam kesedihan, Rafka biarkan Caramel pulang hingga larut malam saat mall tutup. Padahal Caramel tak perlu melakukan itu karena sudah ada para karyawan yang akan mengurusnya. Rafka berharap Caramel akan kembali seperti dulu, Caramel yang ceria dan banyak bicara. Namun bukannya makin membaik Caramel justru terlihat seperti jiwa yang kosong. Terhitung 2 bulan sejak mereka kembali ke apartemen, Caramel tak seperti Caramel yang dulu. Akhirnya Rafka lelah juga, ia merasa keberadaannya tak dianggap oleh Caramel. Wanita itu sibuk dengan dirinya sendiri dengan dunianya.


Rafka tak masalah jika Caramel tidak mau membersihkan rumah karena ia bisa memanggil jasa bersih-bersih seminggu sekali. Rafka juga tidak masalah jika Caramel tidak memasak karena ia bisa memesan makanan setiap hari tiga kali sehari. Namun Rafka bisa jengah juga karena Caramel hanya bangun-pergi-pulang dan langsung tidur.


Bahkan Caramel tak pernah lagi menggunakan rangkaian skincare atau perawatan tubuh lain yang dulu menjadi obsesinya. Kadang Rafka diam-diam mengoleskan krim pelembap, serum atau apapun yang biasa Caramel gunakan saat malam hari sebelum tidur. Rafka melakukannya saat Caramel tidur.


Rafka mengangkat lengan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul 9 malam. Ia sudah mondar-mandir dari tadi menunggu kedatangan Caramel. Rafka berjalan menuju meja makan dimana terdapat ayam goreng KFC kesukaan Caramel. Rafka membelinya sore tadi berharap Caramel pulang lebih awal. Namun Rafka harus menelan kekecewaan lagi saat ia menelepon Caramel tadi sore.


"Aku jemput ya."


"Nggak usah."


"Kenapa? aku bawa ayam goreng KFC untukmu, atau kamu juga mau seblak Bu Rudy?"


"Aku pulang sendiri."


Begitulah percakapan singkat mereka sore tadi saat Rafka menghentikan mobil di depan PIM. Rafka hanya bisa melihat bangunan tersebut dari dalam mobil berharap Caramel berlari ke arahnya dan pulang bersama. Rafka menangis dalam hati, mengapa Caramel harus seperti ini untuk menyembuhkan sakitnya kehilangan Arnesh.


Rafka terlonjak saat pintu apartemen terbuka, ia melihat Caramel membawa kantong plastik di tangannya.


"Kamu belanja?" Rafka menghampiri Caramel.


"Iya, beli pisang sama alpukat." Caramel melangkah melewati Rafka meletakkan belanjaannya di atas meja makan.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Mau belajar bikin MPASI buat Arnesh, dia udah waktunya belajar makan." Caramel bersemangat mengeluarkan buah pisang dan alpukat dari kantong tersebut.


Wajah Rafka berubah masam, kemarin Caramel membeli biskuit bayi. Caramel bilang Arnesh sudah mau tumbuh gigi jadi harus belajar makan biskuit seperti itu. Tak hanya sekali dua kali Caramel membeli barang dan makanan untuk Arnesh, pada akhirnya Rafka yang menghabiskan biskuit, jelly atau apapun yang Caramel beli karena tak mau itu terbuang sia-sia. Sekarang Rafka benar-benar lelah dengan sikap Caramel yang tidak membiarkan siapapun masuk ke dunianya. Caramel menutup diri begitu rapat.


"Caramel." Rafka memegang tangan Caramel untuk menghentikan aktivitas wanita itu.


Caramel melihat Rafka datar, "apa?" Tatapannya berubah sinis karena Rafka telah mengganggu aktivitasnya.


"Kamu bilang mau bikin makanan untuk Arnesh?" Rafka membalas tatapan tajam Caramel.


"Kenapa?"


Rafka menarik napas dalam lalu beranjak dari duduknya, ia memegang kedua tangan Caramel. Ia harus menyadarkan Caramel kembali pada kenyataan.


"Apa?" Caramel mengerutkan kening. "Jangan bilang itu."


"Sadar Car, Arnesh udah nggak ada." Rafka frustrasi, suaranya pelan tapi penuh penekanan. Ia harus mengucapkan ini agar Caramel tak lagi melantur.


Caramel menggeleng kuat dengan air mata yang telah menghujani wajahnya, "enggak nggak nggak!" Teriaknya.


"Arnesh udah meninggal!" Suara Rafka meninggi.


"Enggak!" Caramel menarik taplak meja makan hingga menjatuhkan semua barang yang ada di atasnya termasuk makanan yang sudah Rafka siapkan.

__ADS_1


"Selama ini kamu sibuk dengan diri kamu sendiri, aku sudah cukup sabar menghadapi tingkah laku kamu, aku pikir itu cara kamu menyembuhkan sakit hati mu, aku tidak pernah menegur mu walaupun kamu berangkat pagi pulang malam dan mengabaikan ku, aku menerima semua perlakuan mu terhadap ku tapi makin hari kamu makin menjadi, beli pisang untuk Arnesh, kenapa kamu tidak beli makanan buat aku, aku suami kamu, aku butuh kamu!" Emosi Rafka meluap, ia tak tahan lagi dengan kehidupan rumah tangga mereka saat ini.


"Kamu nggak tahu rasanya kehilangan, aku yang hamil dia 7 bulan, aku yang ngelahirin dia, kamu nggak tahu!" Caramel berteriak dan terduduk di atas lantai.


"Arnesh juga anak aku, aku Papa nya, kamu pikir aku tidak merasa kehilangan? aku juga kehilangan sosok Arnesh tapi aku bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, aku tidak seperti kamu, kamu egois!"


Hening. Caramel menangis tanpa suara, ia menekan dadanya menunduk dalam dan memejamkan mata membiarkan air matanya kembali mengalir.


"Kamu istriku tapi kamu tidak bersikap seolah hidup sendiri di dunia ini dan sibuk memikirkan sakit mu hingga melupakan aku ,kamu tidak makan masakan ku kamu datang dan langsung tidur, begitu setiap hari, aku capek!" Rafka melangkah melewati Caramel dan membanting pintu kamar hingga membuat Caramel terlonjak kaget.


Kesabaran itu memang tidak batasnya tapi Rafka harus mengatakan itu pada Caramel meski menyakitkan demi kelangsungan rumah tangga mereka.


Caramel meraih kursi sebagai pegangan untuk ia berdiri. Caramel naik ke sofa memeluk lutut masih terisak. Marahnya orang penyabar memang menakutkan, itu yang Caramel rasakan sekarang.


Benar juga Caramel selama ini terlalu egois karena telah mengabaikan Rafka begitu lama. Harusnya Caramel juga memikirkan perasaan Rafka. Mereka berdua sama-sama kehilangan Arnesh tapi selama ini Rafka yang selalu menghibur Caramel meski dirinya sendiri juga dirundung kesedihan.


Kasihan Rafka, pasti 2 bulan ini terasa amat berat untuknya. Kehilangan anak sekaligus sosok istri yang tiba-tiba bersikap seperti orang asing. Hidup seatap tapi tak saling menghangatkan.


Caramel mendongak, meski pandangannya berkabut penuh air mata ia masih bisa melihat jam menunjukkan pukul 11 malam. Itu berarti Caramel menangis sangat lama. Caramel menghapus air matanya kasar dan melangkah membuka pintu kamar.


Caramel melihat Rafka terlelap di atas ranjang tanpa selimut padahal suhu AC sangat dingin. Caramel melangkah pelan agar tidak membangunkan Rafka. Ia naik ke tempat tidur memandang wajah sang suami lama. Wajah Rafka redup dengan kumis dan janggut yang lebat menumbuhi dagunya. Kapan terakhir kali Rafka mencukur kumisnya? Apa itu dua bulan yang lalu?


"Maafin aku." Lirih Caramel, ia mengusap kepala Rafka dan wajahnya dengan lembut. Caramel menggigit bibirnya yang gemetar menahan tangis, ia telah banyak menyakiti Rafka. "Rafka, maafin aku." Caramel menjatuhkan kepalanya ke samping Rafka, ia memeluk lengan kekar sang suami begitu erat dan kembali menangis dalam diam hingga ikut terlelap.


__ADS_1



__ADS_2