
Orang-orang berlalu lalang melewati ku di depan Grand Indonesia, aku tak peduli jika mereka melihatku dan berpikir aneh, terserah. Padahal Aku sudah sok kuat pulang dulu tanpa menunggu Rafka, ternyata baru sampai sini sudah tidak bisa berjalan. Kenapa tamu ini datang tiba-tiba disaat aku belum selesai makan Pepperoni Jalapeno, ah aku ingin marah tapi pada siapa.
"Cara!"
Aku merasa sedikit lega mendengar suara robot kesayanganku. Ternyata ia berhasil menemukanku dalam waktu singkat.
"Caramel, ayo naik." Rafka berjongkok di depanku. Naik katanya?
Ia memutar badan lalu menarik tanganku agar segera naik ke punggungnya. Ternyata sepotong pizza tidak membuatku cukup kuat menolak tawarannya, aku pasrah berada di gendongan Rafka. Bukankah ini seperti adegan drama Korea?
Aku melingkarkan tangan pada lehernya dan memejamkan mata, selain karena pusing aku juga malu pada orang-orang yang melihat kami. Untung saja ada akses lift pribadi sehingga kami tak perlu menunggu giliran untuk naik.
Mungkin sebagian perempuan merasakan hal yang sama saat datang bulan alias menstruasi. Kram perut, badan lemas dan gemetar, mual, pusing dan kedinginan. Kadang aku ingin protes mengapa setiap bulan aku harus merasakan seperti ini, padahal Jane dan Kayla baik-baik saja saat datang bulan. Namun mama pernah bilang kalau sakit saat melahirkan itu 10 kali lipat dibandingkan ini, aku tidak mau membayangkan rasanya bagaimana.
Rafka meletakkan tubuhku di atas tempat tidur dengan hati-hati, ia melonggarkan celana ku tanpa diperintah, tumben dia peka.
"Rafka, aku minta tolong beliin pembalut ya sama obat anti nyeri." Aku memegangi telunjuknya. Seharusnya aku menyiapkan pembalut dan obat itu sejak awal, aku lupa karena terlalu bahagia dengan pernikahan ini.
Rafka menarik selimut menutupi tubuhku hingga sebatas leher, lalu mematikan AC. Robotku sudah pintar sekarang, settingan barunya berhasil!
"Catat nama nya disini." Rafka menyodorkan ponselnya, aku segera mengetik merek pembalut dan obat yang biasa ku pakai saat datang bulan pada ponsel tersebut.
Rafka pergi tanpa berkata apapun, kenapa ia tidak pamit atau mencium keningku lalu bilang jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali sangat cepat.
Kalau begini aku ingin melahirkan secara Caesar saja, aku tak sanggup merasakan sakit yang lebih besar dari ini. Ibu hamil 9 bulan dan melahirkan anaknya dengan susah payah lalu setelah ia tumbuh dewasa suka membentak orangtuanya, gue getok kepalanya pakai centong nasi!
Aku memejamkan mata berusaha terlelap agar bisa melupakan sakit ini, perutku seperti diaduk-aduk. Tiba-tiba aku ingin buang air besar, kenapa semua ini menyerang bersamaan.
Mataku terbuka melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup, belum masuk saja aku sudah takut. Bukankah pizza biasanya cukup lama untuk dicerna tubuh tapi kenapa mereka langsung mendesak ingin keluar.
"Lambung, apa kamu membiarkan pizza ku lewat gitu aja?" Aku mengomel sendiri lalu kembali melihat ke arah pintu kamar mandi. Lebih baik aku menunggu Rafka dari pada pingsan di kamar mandi karena ketakutan.
Perlahan aku beringsut dari tempat tidur dan merangkak menuju meja rias mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan pada perutku yang bandel ini.
"Kenapa lantai nya dingin banget sih?" Aku mengeluh, sekedar berjalan kembali ke tempat tidur saja kaki ku tak mampu.
"Sedang apa kamu di bawah?" Rafka datang menghampiriku, ia mengangkat tubuhku dengan mudah kembali ke tempat tidur.
Rafka cepat sekali kembali, jangan-jangan ia punya sayap yang bisa digunakan untuk terbang kemanapun.
"Ayo minum obatnya." Ia menyodorkan satu butir obat berwarna merah muda padaku beserta air putih. Aku meminumnya dengan cepat agar sakit ini bisa segera teratasi.
"Rafka, sebenarnya aku pengen poop." Lirih ku seraya meletakkan air putih ke atas nakas.
Ia menatapku bingung, mungkin ia bertanya-tanya, mau poop ngapain bilang sama aku, tinggal poop aja di kamar mandi masa nggak bisa.
"Anterin." Kataku seolah-olah mengetahui apa yang dipikirkannya.
Aku beranjak dipapah oleh robot ku tercinta menuju kamar mandi.
"Tidak apa-apa aku disini nungguin kamu?" Rafka melihatku yang sudah duduk di atas closet. Seharusnya aku yang nanya, nggak apa-apa kamu disini? nanti bau lo.
__ADS_1
"Tunggu aja di luar, tapi pintunya jangan ditutup."
"Nanti kalau kamu tiba-tiba pingsan gimana?"
Aku tersenyum, jika tidak sedang kesakitan pasti aku sudah tertawa lebar. "Aku nggak pernah pingsan seumur hidup." Ujar ku meyakinkan nya.
"Kalau perlu apa-apa, panggil aku." Katanya. Aku mengangguk. Rafka keluar kamar mandi dan membuka pintu lebar-lebar sesuai permintaan ku.
Terdengar suara televisi dari luar, pasti Rafka menyalakan benda datar tersebut. Aku jadi ingat Jane tadi pagi memberitahu ku bahwa ia baru saja menemukan film horor bagus di netflix, aku harus menontonnya malam ini bersama Rafka.
Saat keluar dari kamar mandi, Rafka sudah tidur bersandar pada ujung ranjang. Aku mematikan televisi dan merayap naik ke tempat tidur dengan gerakan perlahan takut Rafka bangun. Besok ia sudah masuk kerja, aku pasti kesepian disini. Jika boleh maka aku akan meminta Jane dan Kayla kesini.
"Rafka .... " Aku menepuk pipi Rafka, kasihan juga jika ia tidur dengan posisi seperti ini. "Ayo benerin posisinya."
Rafka membuka mata setengah sadar menuruti ucapanku, kepalanya merosot hingga menyentuh bantal lalu ia kembali terpejam. Bagaimana ini, kenapa suamiku tampan sekali saat tidur? ah tidak, dia memang tampan walaupun sedang terjaga. Wajahnya mulus tanpa kumis atau jenggot, aku heran mengapa Rafka bisa memiliki wajah bersih dan mulus padahal ia hanya menggunakan sabun mandi untuk cuci muka. Sedangkan aku jangan ditanya, belasan produk selalu ada di permukaan wajah demi memiliki kulit cantik. Apa ini adil?
Aku ikut berbaring di samping Rafka, setelah bangun tidur nanti pasti kram perutku akan mereda karena pengaruh obat. Semoga besok pagi tak separah ini agar aku bisa membuat bekal untuk Rafka. Mama mertuaku bilang Rafka suka membawa bekal dari rumah dari pada makan di kantin tempat kerjanya. Lumayan, tipe suami hemat tapi untungnya tidak medit alias pelit bin kikir. Aku sudah menonton cara memasak berbagai macam makanan di YouTube dan siap mempraktekkan nya setiap hari.
******
Lagu On dari BTS berdering keras menarik ku dengan paksa dari dunia mimpi ke dunia nyata. Itu nada dering ponselku, pasti kerjaan Kayla yang sering mengganti nada dering tersebut. Tanganku terulur meraba nakas meraih benda tipis yang telah membangunkan ku.
Telunjuk ku mengetuk ikon berwarna hijau dan menempelkan ponsel pada telinga tanpa membaca nama si penelepon.
"Car, lu udah lihat film nya belum?" Suara Jane.
"Belum, masih tidur gue." Balas ku dengan suara tidak terlalu jelas.
Aku membelalak, berarti aku tidur lama sekali jika ini pukul 5. Dimana Rafka, kenapa ia tidak membangunkan ku.
"Ya udah gue tutup, suami gue takut kabur." Aku memutus sambungan dan meletakkan ponsel ke sembarang tempat. "Rafka!" Aku setengah berteriak keluar kamar.
Aroma jahe menyeruak dari arah dapur, aku melihat Rafka membelakangi pintu. Apa yang sedang dibuatnya?
"Kamu lagi bikin apa?" Aku menghampirinya, memeluknya dari belakang. Tak apa kan kalau aku genit pada suamiku sendiri?
"Aku baru mau bangunin kamu setelah selesai membuat seduhan kayu manis dan jahe, ini bagus untuk meredakan nyeri datang bulan."
Ah ya ampun, aku tersentuh. Baiklah, tak apa jika aku yang jatuh cinta duluan di antara kami aku ikhlas lahir dan batin. Kalian boleh menyebutku bucin nya Rafka, aku akan menerimanya dengan lapang dada, sungguh!
"Mau makan dulu?" Tanya Rafka setelah aku melepas pelukan pada perutnya, ia berbalik menatapku.
Aku menggeleng, "langsung minum itu aja."
Kami duduk di kursi ruang makan, aku mencium aroma jahe bercampur kayu manis begitu dalam dari minuman hangat tersebut. Aku baru tahu kalau Rafka pandai membuat minuman herbal seperti ini.
"Enak." Tukas ku setelah menyesap setengah bagian minuman nya, "sebentar lagi kita nonton film ya."
"Iya." Rafka mengangguk.
"Kamu suka nonton film horor nggak?"
__ADS_1
"Aku tidak punya selera khusus untuk film."
Aku manggut-manggut, semoga ia tidak takut menonton film horor karena sejujurnya itu genre favoritku asal ada seseorang yang menemani nonton bersama. Jika Rafka takut, maka aku akan dua kali lebih takut dari biasanya.
Rafka beranjak mengambil beberapa makanan ringan di lemari dapur, ternyata robot tahu kalau menonton film memang paling enak sambil makan camilan. Aku juga sudah mengisi semua lemari di dapur dengan makanan, bukan dengan perabot. Mungkin setelah pandai masak nanti, aku akan mulai mengoleksi peralatan memasak. Seperti saat pertama kali belajar make-up, aku selalu bersemangat mengumpulkan berbagai alat make-up.
Aku mencuci bekas gelas minuman dan menyusul Rafka ke kamar. Langit mulai gelap saat aku menutup gorden hingga menutupi seluruh permukaan jendela kaca super luas yang menyajikan pemandangan indah gedung kota Jakarta di pagi hari.
"Masih sakit perutnya?" Suara berat Rafka membuatku sedikit terlonjak dan berbalik melihatnya.
"Udah nggak kok." Aku mengembangkan senyum menghampirinya. "Besok mau dimasakin apa?" Aku tidak percaya akan menanyakan hal semacam itu pada Rafka, pertanyaan yang sering mama lontarkan pada papa. Menurut pengalaman, papa biasanya akan menjawab terserah lalu mama pasti cemberut setelah mendapat jawaban semacam itu.
"Di kulkas ada tenderloin, kamu bisa memanggangnya."
Kapan kami punya daging di kulkas? oh pasti ia pergi belanja saat aku tidur tadi.
"Kalau gitu aku rebus sayuran juga, dan bikin mashed potato buat temen daging nya."
"Boleh." Rafka mengangguk. Ternyata Rafka beda dengan papa, ia mau membantu kesulitan seorang istri.
Aku naik ke tempat tidur bersiap menonton film yang Jane bilang sangat seram dibandingkan dengan Misdommar, siap-siap tidak bisa tidur tapi ada Rafka di samping ku.
"Ini." Rafka menyodorkan sebungkus keripik kentang beraroma sapi panggang yang sudah dibuka.
"Makasih."
Lalu kami terdiam, serius menonton. Lampu ruangan sengaja dimatikan, menyisakan sinar remang-remang dari lampu di sisi kanan dan kiri tempat tidur.
Aku meletakkan keripik kentang dan mendekat lagi pada Rafka padahal kami sudah cukup dekat, aku memeluk lengan besar nya dan menarik selimut untuk menutupi kaki.
"Kamu berkeringat, kenapa pakai selimut?" Rafka melihatku.
"Biarin aja." Tukas ku, "aku takut hantu nya tiba-tiba pegang kaki ku."
Aku lihat Rafka menahan senyum, "mereka tidak akan melompat dari layar itu sayang."
Apa? dia memanggilku sayang, coba diulang lagi, mana tayangan ulangnya aku mohon. Apa dia mulai mencintaiku? akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aaaa!" Aku berteriak saat hantu pada film itu tiba-tiba muncul sangat dekat dengan layar, ah aku benci jumpscare.
"Kenapa suka nonton film horor kalau takut?" Rafka menarik tubuhku dan mendekapnya hingga aku bisa mendengarkan detak jantung nya yang lebih cepat. Tentu saja robot kesayanganku ini punya jantung juga sepertiku.
"Mau aku turunkan suhu AC nya?" Rafka hendak beranjak namun aku menahannya.
"Jangan kemana-mana, disini aja." Kataku.
"Tapi kamu berkeringat."
"Nggak apa-apa, aku biasa seperti ini." Aku mencengkram dada Rafka tetap fokus pada film yang semakin terasa menakutkan itu. Ini impianku sejak dulu, menonton film horor bersama suami. Ternyata tetap saja aku ketakutan, mungkin jika ditambah Jane dan Kayla aku tidak akan setakut ini.
Rafka mengusap-usap punggung ku, kenapa ia melakukan ini, aku jadi mengantuk setelah tidur 4 jam tadi. Film nya masih setengah jalan, aku tidak mau melewatkannya dengan tidur. Robot ku tenang sekali seperti sedang nonton kartun, bahkan ia tidak terkejut saat beberapa kali ada jumpscare. Aku suka teman nonton yang seperti ini.
__ADS_1