
Caramel memandang lingerie merah yang berada di antara deretan baju tidur lainnya. Itu adalah hadiah pernikahan dari Jane dan Kayla dulu. Caramel belum pernah memakainya satu kali pun lagi pula lingerie itu terlihat begitu kecil, ia tak yakin apakah baju itu cukup di tubuhnya. Caramel menarik lingerie tersebut dari gantungan baju dan coba memakainya.
"Ah ternyata bahannya melar." Caramel melihat pantulan dirinya melalui cermin setelah mengenakan lingerie yang sedikit transparan memperlihatkan tubuhnya. Karena warnanya merah jadi kulit Caramel semakin terlihat cerah saat mengenakannya.
"Bagus juga nih lingerie." Caramel merasa bersalah karena dulu sempat membenci lingerie tersebut tapi ternyata setelah memakainya itu terlihat cantik dan—sexy. Caramel berputar-putar di depan cermin.
"Mama."
Caramel terperanjat mendengar suara Rafka, ia hampir saja kehilangan keseimbangan jika Rafka tidak menahan tubuhnya.
"Kamu bikin kaget aja." Caramel memukul lengan Rafka pelan karena muncul secara tiba-tiba di ruangan itu.
"Kenapa kamu pakai baju seperti ini?" Rafka menatap Caramel dari atas sampai bawah, "maksudku saat kamu sedang datang bulan."
Caramel mundur selangkah, "emang apa hubungannya baju ini sama datang bulan?"
Alis Rafka terangkat, tentu saja mereka berhubungan erat karena Caramel terlihat mempesona dengan lingerie tersebut hingga memancing sesuatu dari dalam diri Rafka dan jika Caramel datang bulan Rafka tidak bisa menyalurkan sesuatu yang telah terpancing tersebut. Apakah Caramel tidak mengerti atau hanya pura-pura tak tahu.
Anak-anak sedang tidak ada di rumah, ART juga libur saat weekend maka tak ada kombinasi yang lebih sempurna dari itu.
"Kamu cantik pakai ini." Rafka menarik Caramel agar kembali mendekat.
"Oh ya?" Caramel mengibaskan rambutnya yang masih setengah basah.
"Tapi kamu harus segera menggantinya." Rafka melepaskan tangan Caramel meski berat, ia harus keluar dari sini tapi kakinya serasa dipaku hingga tidak bisa beranjak sedikitpun.
"Kenapa?" Caramel mengerutkan kening.
"Karena kamu datang bulan, apalagi?" Rafka berbalik melangkah menjauhi Caramel, lebih baik ia menonton acara malam favoritnya dari pada melihat Caramel dengan pakaian seperti itu.
"Aku suka baju ini." Caramel ingat betapa ia tidak menyukai pakaian ini dulu saat Kayla dan Jane memberikannya. Namun sekarang selera fashionnya telah banyak berubah.
__ADS_1
"Pakai saja lain kali." Rafka melihat Caramel sekilas ketika ia sampai di ambang pintu yang membatasi antara kamar dan walk in closet.
"Aku nggak lagi datang bulan."
Rafka langsung membalikkan badan dengan cepat lalu kembali menghampiri Caramel.
"Kenapa nggak bilang dari tadi." Rafka mencium leher Caramel yang mengeluarkan aroma mawar. Sabun apa yang Caramel gunakan saat mandi barusan, aromanya membuat Rafka hampir gila.
"Jangan ada bekas." Caramel menahan kepala Rafka agar tidak terlalu kencang memberikan ciuman pada lehernya, ia tidak mau ada kiss mark disana.
Rafka mengangkat tubuh Caramel membawanya menuju kamar. Bagaimana mungkin ia bisa mengendalikan diri mencium Caramel tanpa meninggalkan bekas. Rafka tidak bisa melakukannya, lebih baik ia tidak makan sayur asem selama satu bulan dari pada tidak mencium Caramel, sungguh.
"Kamu masih kuat gendong aku?" Caramel mengusap kepala Rafka. Ia tak tahu berat badannya naik berapa kilogram setelah melahirkan. Namun Caramel merasa tubuhnya tak se-langsing dulu.
"Kamu se-ringan kapas, Ma."
Caramel dibuat melayang dengan kata-kata itu, wanita memang paling suka dipuji ringan. Caramel memekik pelan ketika Rafka menghempaskan nya ke atas ranjang.
"Kamu sengaja nggak pakai bra?" Tangan Rafka menelusup ke dalam lingerie Caramel.
Rafka mengecup bibir Caramel lembut tapi dalam dan intens yang membuat Caramel melayang jauh ke angkasa dan hilang kendali. Tangan Caramel bergerak untuk melepas kancing piyama Rafka, kali ini tak ada lagi ceritanya kancing piyama susah dilepas karena Caramel mengubah ukuran kancing piyama Caramel Sleepwear menjadi lebih kecil.
"Kita akan begadang malam ini." Ujar Rafka dengan napas tersengal karena gairah yang mulai memuncak.
"Tapi kamu besok kerja."
"Nggak masalah." Rafka menarik lingerie yang telah menghalangi pandangannya, walaupun itu bagus di tubuh Caramel tapi ia tak ingin melihatnya lagi sekarang.
Caramel memejamkan mata ketika Rafka mulai menjamahnya lebih dalam. Ia tak lagi memikirkan pakaian apa yang harus ia siapkan besok untuk Rafka dihari Senin. Caramel tak bisa memikirkan apapun sekarang.
******
__ADS_1
Senin akan selalu menjadi hari yang sibuk tak hanya bagi mereka yang bekerja tapi juga bagi Caramel karena ia harus mengurus persiapan Narel dan Binar untuk masuk sekolah. Selain itu mereka juga akan segera pindah dari apartemen ini. Meski Caramel amat menyukai apartemen yang menyajikan pemandangan bundaran HI tersebut tapi benar kata Rafka bahwa bisa saja Rama tiba-tiba datang kesini. Akhirnya setelah bertahun-tahun menikah mereka akan menempati rumah dinas Rafka yang sudah lama nganggur.
Caramel duduk di balkon menatap kendaraan yang tak henti berlalu-lalang di bawah sana. Ia ingin melihat pemandangan itu sangat lama sebelum meninggalkan apartemen ini.
"Kita akan kesini sesekali ketika kamu rindu pemandangan ini." Rafka muncul dari belakang, ia mengusap bahu Caramel. Rafka mengerti betapa Caramel menyukai apartemen ini karena begitu melihat keluar jendela mereka akan disajikan pemandangan bundaran HI. Caramel juga bisa jalan kaki menuju Grand Indonesia. Namun mereka telah membicarakan ini semalam bahwa Caramel setuju jika mereka pindah ke rumah dinas Rafka.
Setelah pindah ke rumah dinas, Caramel akan memfungsikan apartemen ini sebagai studio nya untuk pemotretan produk Caramel Sleepwear.
"Makasih ya." Caramel mendongak melihat Rafka.
"Untuk apa?"
"Karena kamu bener-bener jaga perasaan ku." Caramel beranjak memeluk Rafka.
Angin pagi bertiup lembut seolah ikut menenangkan hati Caramel yang galau karena harus meninggalkan apartemen yang telah menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka selama 6 tahun ini.
Apartemen itulah yang menjadi saksi betapa sakitnya Rafka saat Caramel mendiamkannya selama 2 bulan setelah kepergian Arnesh. Itu adlah saat-saat tersulit bagi mereka kehilangan seorang ana pertama yang baru mereka rawat 3 bulan. Lalu saat Caramel menangis, marah dan kesal karena dirinya tak segera hamil. Namun mendung yang tebal pasti akan menurunkan hujan lalu matahari akan terbit keesokan harinya. Setelah kehilangan Arnesh mereka mendapat hadiah 2 sekaligus yakni Narel dan Binar yang sekarang telah tumbuh menjadi anak yang aktif dan menggemaskan.
"Sepi ya nggak ada anak-anak." Gumam Rafka ketika Caramel mengurai pelukan.
"Biarin mereka di rumah Opa Oma nya dulu sementara kita ngurus pindahan, kamu berangkat gih nanti telat ini kan hari senin." Caramel merapikan kemeja putih Rafka yang sedikit kusut karena pelukannya barusan. Caramel tidak mau merusak mahakarya Naya yang telah menyetrika baju tersebut hingga licin bahkan jika lalat hinggap di atasnya niscaya ia akan tergelincir. Maaf lalat kamu tidak berkesempatan hinggap di kemeja Rafka.
"Jaga diri di rumah, jangan terlalu capek aku tahu ada banyak yang harus diselesaikan tapi aku harap kamu nggak memaksakan diri." Rafka menyelipkan rambut Caramel ke belakang telinga.
Caramel mengantar Rafka hingga depan pintu lift. Sebelum pergi Rafka tidak lupa memberi kecupan di kening Caramel, itu adalah ritual yang tidak boleh dilewatkan karena Caramel akan uring-uringan seharian. Level bucin Caramel sudah mencapai tahap akut.
"Bu, nanti mau masak apa?" Naya menghampiri Caramel, ia merupakan ART Caramel sejak tiga tahun terakhir.
"Nggak usah masak Mbak, nanti saya kayaknya makan di luar." Caramel membalikkan badan setelah berdiri cukup lama di depan pintu lift padahal Rafka telah pergi sejak 5 menit yang lalu.
"Baik kalau begitu saya lanjut nyuci dulu." Naya undur diri dari sana, salah satu hal yang paling menyenangkan bagi Naya adalah ketika Caramel mengatakan tidak usah memasak karena ia bisa mengerjakan yang lain.
__ADS_1
Caramel pergi ke kamarnya dan membuka laptop, ia mengecek sekali lagi formulir pendaftaran Narel dan Binar sebelum dikirim melalui email.
Nanti siang Caramel akan pergi ke rumah dinas Rafka karena ingin melihat-lihat keadaan disana. Sejak menikah Caramel tak pernah tahu seperti apa rumah tersebut karena ia tidak berpikir akan tinggal disana.