
"Makasih rob ... sayangku." Caramel berteriak girang melihat satu porsi seblak dengan toping lengkap yang dibawa oleh Rafka. Hampir saja Caramel kelepasan memanggil Rafka dengan sebutan robot, itu panggilan spesial yang hanya boleh diketahui oleh dirinya seorang.
Mata Caramel berkilat-kilat melihat seblak yang masih mengepulkan asap, kuah berwarna merah itu selalu berhasil menggugah selera makannya.
"Kok cuma satu?" Tanya Caramel saat sadar bahwa Rafka hanya membeli satu porsi seblak.
"Kamu mau dua?" Rafka membelalak.
"Maksudku buat kamu."
"Aku tidak suka, melihatnya saja membuatku mual."
Dasar cowok aneh! Caramel mengumpat dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya, ia menutup kembali seblak di tangannya dan membungkusnya dengan kantong plastik seperti semula.
"Padahal aku pengen makan sekarang." Caramel memasang wajah melas, ia ingin makan seblak itu sekarang juga. Caramel tidak bisa menunggu hingga mereka pulang dari dokter karena seblak itu pasti akan dingin dan tidak menggiurkan lagi.
"Tapi kita harus ke dokter." Rafka mulai menjalankan mobilnya. Ia sudah melakukan pendaftaran online melalui WhatsApp kemarin, satu-satunya media sosial yang bisa digunakannya. Mungkin nanti Rafka akan belajar cara menggunakan Instagram setelah ia merasa memerlukannya untuk urusan kerja.
"Berapa lama kita sampe sana?"
"Entah lah, jalanan macet mungkin setengah jam."
"Aku bakal makan disini." Caramel membuka seat belt dan berpindah ke jok belakang dengan gesitnya.
Rafka sempat melongo karena Caramel berpindah tempat begitu cepat padahal pakaiannya terlihat ketat dan tak memungkinkan untuk bergerak terlalu cepat. Namun Caramel sudah terbiasa melakukan itu, ia harus gesit dan cekatan apalagi saat antrean nasabah menumpuk menjelang jam istirahat.
"Ya Tuhan ini enak banget." Seru Caramel dengan mulut penuh seblak, sosis dan kuah kental.
Rafka tersenyum samar melihat Caramel makan begitu lahap melalui spion.
"Pedes tapi enak." Katanya lagi.
"Ambil minumnya." Rafka menyodorkan sebotol air mineral pada Caramel.
Caramel langsung menyambar botol tersebut dan meneguknya. Seharusnya ia minta dibelikan Thai Tea juga agar kebahagiaannya hari ini terasa lebih lengkap.
"Apakah rasanya begitu enak?" Tanya Rafka.
"Kamu belum pernah makan seblak?"
Rafka menggeleng, entah Caramel melihatnya atau tidak. Selama 30 tahun hidup di bumi Rafka jarang sekali mencoba hal baru seperti halnya saat jatuh cinta pada satu orang maka ia tak akan pernah mencoba mencintai orang lain. Rafka memang dilahirkan seperti itu, sekali mencoba sesuatu maka ia akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh.
"Cobain nih." Caramel menyodorkan sesendok seblak dengan suwiran daging ayam kepada Rafka yang masih fokus menyetir.
"Tidak-tidak." Rafka menutup mulut dan hidungnya dengan satu tangan.
"Ya udah kalau nggak mau." Caramel melahap sendiri sesendok seblak tersebut, itu adalah suapan terakhirnya. Mangkok plastik di tangan Caramel sudah kosong, hanya tersisa tulang-tulang ceker ayam sedangkan yang lain ludes dimakannya.
Caramel membungkus mangkok bekas makannya, ia akan membuangnya nanti setelah sampai di rumah sakit. Ia kembali pindah ke jok depan di samping Rafka.
"Aku pinjem hp kamu dong." Pinta Caramel, ia ingin selfie dengan ponsel milik Rafka karena kameranya lebih jernih.
"Aku ambil ya." Caramel memasukkan tangannya ke dalam saku celana Rafka, ia tahu ponsel tersebut ada disana.
Rafka mengangguk.
"Sandinya masih tanggal lahirku?"
"Iya."
Entah kenapa Caramel spontan tersenyum mendengar jawaban Rafka.
__ADS_1
"Apa aku sangat berarti buat kamu?" Caramel mendekatkan wajahnya pada Rafka.
"Tentu saja."
Senyum Caramel semakin lebar, ia mundur dan menyandarkan tubuhnya bersiap untuk selfie. Bagi Caramel, tidak ada hari tanpa selfie.
Caramel membuka galeri untuk melihat hasil fotonya. Kini galeri ponsel Rafka penuh oleh foto Caramel dengan berbagai gaya. Sebelumnya galeri tersebut kosong, Rafka tidak pernah mengambil foto apapun dengan ponsel tersebut. Beberapa waktu lalu Caramel bertanya mengapa tidak ada foto sama sekali, Rafka menjawab ia lebih suka mengambil gambar dengan kamera digital karena hasilnya jauh lebih bagus.
Foto siapa nih?
Caramel menemukan dua foto cewek berambut coklat dengan bagian dada sedikit terbuka. Caramel menyembunyikan keterkejutannya, mengapa bisa ada foto seperti itu di ponsel Rafka? tidak-tidak, Caramel tidak boleh berpikiran buruk.
Karena penasaran Caramel membuka WhatsApp Rafka, hanya ada sedikit sejarah percakapan dengannya, Danu, Febi dan grub SMA, STMKG, serta BMKG.
Merasa bersalah Caramel urung melihat isi percakapannya, ia tak seharusnya mencurigai Rafka seperti ini.
"Ini foto siapa?" Caramel menunjukkan foto cewek di galeri pada Rafka.
Rafka menoleh sesaat, "aku tidak tahu."
"Gimana bisa nggak tahu, foto ini ada di hp mu."
"Aku tidak tahu biasanya foto-foto masuk secara otomatis ke galeri melalui WhatsApp."
Caramel mendengus tak percaya walaupun ucapan Rafka begitu masuk akal, ia sering mengalami itu. Saking banyaknya grub percakapan di WhatsApp, Caramel tidak tahu dari mana datangnya foto-foto yang masuk ke galerinya. Namun apa salahnya Caramel curiga?
"Hapus saja, itu mengganggu pemandangan." Ucap Rafka.
"Bilang aja suka!" Ketus Caramel.
"Aku tidak punya alasan untuk menyukai foto tersebut."
"Ada lah alasannya, lihat dadanya montok nih."
"Milikmu lebih besar."
Savage!
Caramel menganga tak percaya, bisa-bisanya Rafka mengucapkan kalimat itu dengan wajah sedatar lantai apartemen. Kadang Caramel bingung Rafka itu polos atau justru sangat berpengalaman soal cewek. Caramel sulit membedakannya.
"Aku yang hapus." Rafka merebut ponselnya dan segera menghapus dua foto perempuan yang tak dikenalnya itu. Sebenarnya Rafka tak pernah memeriksa galeri foto di ponselnya sehingga ia tidak tahu sejak kapan foto tersebut ada disana.
"Sisirin rambut aku." Caramel menyodorkan sisir kepada Rafka saat mobil mereka berhenti di tempat parkir rumah sakit.
Rafka membantu menggerai rambut Caramel dan menyisirnya pelan-pelan.
"Kenapa kau menggerai nya?"
"Pusing."
"Kamu sakit?" Rafka berusaha melihat wajah Caramel yang memunggunginya.
"Bukan, kalau kelamaan dikuncir jadi pusing, cowok mana tahu." Caramel mengerucutkan mulutnya kesal.
Diam-diam Rafka menghirup aroma rambut Caramel, ia suka semua yang ada pada wanita itu termasuk omelannya. Bukannya kesal, Rafka justru gemas jika Caramel mengomel.
Rafka langsung menuju resepsionis sesampainya di lobi rumah sakit, ia menunjukkan nomor antrean di ponselnya kepada petugas resepsionis.
"Baru pertama kali?" Sapa seorang dokter cantik berusia sekitar 40 tahunan.
Caramel melihat nametag yang terpasang di dada kanan dokter tersebut, Indah.
__ADS_1
"Iya dokter." Jawab Caramel.
Mereka memilih dokter tersebut karena tempat praktek nya paling dekat dengan apartemen.
Indah mempersilahkan Caramel dan Rafka duduk di hadapannya. Ia mengajukan beberapa pertanyaan umum kepada Caramel seperti tanggal terakhir menstruasi dan gejala yang dirasakan.
Kemudian Caramel berbaring di atas ranjang menuruti perintah Indah. Tubuh Caramel menegang saat Indah mengoleskan gel yang terasa dingin menyentuh permukaan perutnya.
"Tidak usah tegang, rileks saja." Indah menebarkan senyum kepada Caramel, ia biasa menangani pasien yang merasa canggung dan takut saat pertama kali melakukan pemeriksaan.
"Apa itu bayinya?" Rafka menunjuk layar monitor di dekat dokter, bentuknya memang belum seperti bayi. Namun Rafka menerka bahwa itu bayi mereka.
"Ya besarnya masih sekitar 5 centimeter, tapi jantungnya sudah bisa berdetak." Jelas Indah.
Caramel berbinar karena ia bisa melihat janin di dalam perutnya. Walaupun wajah buah hatinya belum terbentuk tapi Caramel merasa sesuatu di dalam perutnya adalah suatu keajaiban. Berapa kali pun Caramel memikirkan mengapa bisa ada bayi di dalam perut seseorang, ia tidak mendapatkan jawabannya. Proses pembuahan memang sudah dijelaskan pada pelajaran biologi, tapi bagi Caramel itu terjadi karena keajaiban.
"Makanlah apapun yang mengandung nutrisi seimbang." Ucap Indah setelah mereka menyelesaikan USG.
"Apa Ibu Caramel sudah mulai minum susu kehamilan?" Tanyanya.
"Belum." Caramel menggeleng.
"Kalau mau ditambah susu kehamilan juga boleh, diminum dua kali sehari, pilih rasa yang biasanya Ibu Caramel suka."
"Baik dokter, umm ... saya biasanya minum kopi setiap pagi."
"Mulai sekarang perhatikan takaran kopi, maksimal 2 gelas sehari dan usahakan jangan konsumsi makanan lain yang mengandung kafein karena kopi sendiri sudah mengandung kafein tinggi."
"Iya, makasih dokter." Caramel mengangguk senang karena ia pikir dokter akan melarangnya minum kopi.
Dokter juga menyarankan Caramel mengkonsumsi asam folat secara rutin. Sebelum pulang, mereka pergi ke apotek untuk membeli beberapa vitamin menurut resep yang diberikan oleh dokter.
*******
Layar televisi menampilkan sebuah film horor Indonesia terbaru hasil dari adaptasi novel. Sebenarnya Caramel jarang sekali menonton film horor Indonesia karena hantu-hantu lokal terlihat lebih seram dari pada hantu luar negeri. Caramel ngeri jika pocong atau kuntilanak dalam film tiba-tiba mendatanginya saat mandi. Jika film luar negeri, paling tidak hantunya harus naik pesawat untuk sampai disini.
Rafka mengatur AC cukup dingin tapi Caramel tetap bersimbah keringat di balik selimut tebal yang membalut tubuhnya. Caramel enggan menyingkap selimutnya walaupun berkeringat, ia takut jika tiba-tiba hantu itu menarik kakinya.
"Aaah!" Spontan Caramel berteriak saat ada jumpscare, ia paling benci itu tapi kurang greget tanpa kehadirannya.
"Ka jangan tidur." Caramel mengguncang lengan Rafka agar tidak tidur lebih dulu.
"Aku tidak tidur." Lirih Rafka padahal barusan matanya sudah setengah tertutup. Mengerjakan laporan seharian penuh membuat Rafka lelah dan ingin tidur cepat tapi ternyata Caramel mengajaknya nonton film. Niat Rafka tidur cepat kandas seketika, ia harus menahan kantuk hingga film tersebut selesai.
"Rafka, hantunya udah keluar belum?" Caramel menutup wajahnya dengan selimut.
"Belum." Jawab Rafka singkat.
Perlahan Caramel menurunkan selimutnya dan menelan ludah, tangannya basah oleh keringat karena takut sekaligus penasaran.
"Caramel, buka selimutnya," Rafka menarik selimut, "ada aku disini jangan takut." Ia tidak tega melihat Caramel berkeringat dengan selimut tebal itu.
Caramel menurut, sebagai gantinya ia menempel pada Rafka menghilangkan jarang di antara mereka. Kenapa ia suka nonton film horor walaupun takut adalah sama seperti mengapa orang suka makan pedas padahal membuat lidah terbakar atau mereka yang suka naik roller coaster padahal mengerikan, alasannya kurang lebih sama.
Cara, aku ngantuk. Bolehkah aku memejamkan mata sebentar, hanya lima menit.
"Rafka." Caramel mengalihkan pandangan pada Rafka. Perlahan mulut Caramel terkatup melihat Rafka sudah memejamkan mata, terdengar dengkuran halus dari lelaki itu.
Caramel tidak tega membangunkan Rafka yang terlihat sangat lelah. Ini adalah hari pertama bekerja setelah keluar dari rumah sakit. Caramel menyelimuti tubuh Rafka dan menaikkan suhu AC agar suaminya tidak kedinginan.
"Betapa beruntungnya aku punya kamu Ka." Caramel menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Rafka. Andai ia menyadari keberadaan Rafka jauh lebih awal mungkin ia tak perlu membuang waktu berharganya untuk Rama yang sekarang menjadi suami orang lain. Andai Caramel bisa memutar waktu, ia tak ingin membuang waktunya untuk menjaga jodoh orang.
__ADS_1