Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Belas


__ADS_3

"Aku sampai di basemen."


Aku menggapit ponsel di antara bahu dan telinga sembari mengenakan jaket milik Rafka yang berada di sandaran kursi untuk menutupi badanku. Terlalu lama jika aku harus ke kamar dan mencari pakaian.


Koridor sepi saat aku melewatinya, seharian ini aku tidak keluar apartemen jadi aku ingin berjalan-jalan untuk menyegarkan otak. Aku belum mengobrol dengan siapapun kecuali Jane dan Kayla. Siapa tahu dengan begini aku akan mendapatkan tetangga baru selain Adena. Sendiri itu membosankan.


"Aku turun ya." Aku masuk ke lift umum, tapi tidak ada siapapun. Percuma aku memilih lift ini jika tidak ada seseorang yang bisa diajak berkenalan.


Aku menekan tombol angka 1, pintu lift hendak tertutup namun seseorang menahannya. Aku tercengang melihat laki-laki yang masuk ke dalam lift, aku menutup mulut ku yang terbuka dengan kedua tangan. Jantungku berdegup kencang di tengah keheningan, aku tidak percaya pada apa yang aku lihat. Mataku memanas saat ia balas menatapku. Mungkin aku sudah gila karena melihat dia disini, ah ya ini hanya halusinasi karena menonton film horor tadi. Ia tak lebih dari sosok hantu yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


"Caramel .... " Suara itu, aku sangat mengenalnya. "Cara, itu kamu." Ia mendekat, aku mundur.


Air mataku tertahan, seperti ada sesuatu yang menyumbat saluran pernapasanku. Wajah itu, mengapa aku melihatnya lagi setelah 4 tahun. Aku tak berharap ia datang lagi, aku sudah bahagia dengan diriku sendiri.


Ia melangkah lebih dekat membuatku mundur hingga akhirnya menghantam dinding lift.


"Aku merindukanmu."


"Sebentar lagi kita bakal nikah, nggak nyangka akhirnya perjuangan kita membuahkan hasil!"


"Kamu satu-satunya wanita yang bikin aku jatuh cinta sedalam ini, aku akan menjagamu seumur hidupku, aku akan menggunakan sisa hidupku hanya untuk bersamamu."


Tubuhku lemas saat ia menghambur memeluk ku, ponselku jatuh entah kemana. Beraninya ia berkata seperti itu, aku ingin muntah.


"Maafkan aku karena tiba-tiba hilang begitu saja sesaat sebelum kita menikah, aku bisa menjelaskan semuanya."


"Kamu mimpi apa semalam, ini udah empat tahun sejak hari itu, penjelasan seperti apa yang mau kamu bicarakan itu nggak akan merubah apapun."


"Aku masih mencintaimu, aku nggak bisa lupain kamu selama ini Cara."


Setitik kristal bening lolos dari mataku, omong kosong macam apa yang ia ucapkan. Rama tak punya alasan untuk mencintaiku, jika iya mengapa hari itu ia pergi meninggalkanku sendiri, membiarkanku menyembuhkan sakit hati sendiri.


Aku menarik napas dan mengumpulkan tenaga, "beraninya kamu!" Aku mendorong tubuhnya dengan seluruh tenaga yang ku kerahkan.


"Cara, Caramel tenang dulu."


"Bangs*t!" Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya, aku benci aroma ini. Indra penciumanku menolak aroma tubuhnya. "B*jingan, lepasin aku!"


"Caramel!" Rafka berteriak saat pintu lift terbuka, ia menerobos masuk dan menyeret tubuh Rama agar menjauh dariku. Rafka menarik kerah baju Rama lalu melayangkan tinju berkali-kali pada wajah lelaki yang dulu pernah menjadi calon suamiku.


Aku tercengang melihat pertama kalinya Rafka marah, wajahnya memerah. Aku tidak menyangka ia bisa se-marah itu hingga membuat Rama tak berdaya. Aku pikir Rafka tak memiliki amarah, ia adalah lelaki paling datar yang pernah ku kenal selama ini.


Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibir Rama, ia jatuh tersungkur di atas lantai. Rafka melihatku, ia segera menarik ku ke dalam pelukannya.


"Rafka .... " Tubuhku gemetar, aku tak ingin bertemu Rama lagi setelah bersusah payah melupakannya. Rafka mendekap tubuhku erat, aku memejamkan mata untuk menenangkan diri.


Beberapa orang dan satpam berkerumun di tempat ini, aku tidak mau melihatnya. Aku ingin pergi dari tempat ini sekarang juga.


"Bapak, bisa jelaskan apa yang terjadi?" Suara salah satu satpam apartemen.


"Lelaki ini, memeluk istri saya." Jawab Rafka. "Itu tindak kriminal."


Tidak ada jawaban dari Rama, rupanya ia tidak melakukan pembelaan.


"Kalian sama-sama melakukan tindak kriminal!" Suara berat satpam tersebut membuatku enggan melepaskan diri dari Rafka. "Mari selesaikan masalah ini di kantor."


Rafka menghela napas keras, ia merangkul bahuku keluar lift. Apa ini mimpi buruk? biasanya aku mimpi buruk setelah menonton film horor tapi ini terlalu buruk hingga aku tidak bisa melupakannya walaupun sudah bangun nanti.


Empat tahun lalu ia menghilang seminggu sebelum hari pernikahan kami. Jangan tanya bagaimana hancurnya perasaanku saat itu, aku malu dan menutup diri hingga dua bulan. Aku menyembuhkan sakit ku sendiri, seorang diri agar bisa menjalankan kehidupan normal walaupun itu tak mudah.

__ADS_1


Sekarang Rama datang dan bilang ia masih mencintaiku? Aku ingin tertawa keras tepat di depan wajahnya. Sungguh omong kosong!


"Mas Rama, ya ampun kamu kenapa!"


Adena?


Adena masuk ke pos keamanan diikuti gadis kecil di belakangnya, Ara.


Ara itu gabungan nama ku dan suamiku.


Sangat mengejutkan, jadi suami Adena itu Rama.


"Bu, silahkan duduk." Titah kepala keamanan yang dari tadi duduk di hadapan kami.


Adena duduk di samping Rama memangku Ara. Hatiku terasa perih, kejadian ini membuat luka yang sudah lama mengering kini kembali tergores. Seperti ada benda tajam yang menghujam dadaku, sakit sekali.


"Pak Rama, apa anda mengenal Bu Caramel?" Tanya lelaki berpakaian hitam-hitam bertubuh jangkung tersebut. Bram, nama yang tertulis di nametag di dada kanannya.


"Ya." Rama mengangguk.


"Apa benar Bu Caramel?" Ia melihatku.


Aku mengangguk. Layar di depan kami menayangkan rekaman CCTV dimana Rama masuk ke lift dan tiba-tiba memeluk ku cukup lama. Aku melakukan perlawanan namun kekuatanku tak sebanding dengan Rama. Hingga akhirnya Rafka datang dan menghajar Rama tanpa ampun.


Adena terkejut melihat rekaman tersebut, ia melihat suaminya lalu melihatku dengan tatapan tidak percaya. Sepertinya ia tak tahu bahwa suaminya dulu pernah hampir menikah dengan perempuan lain. Atau ia tahu tapi tak pernah menduga bahwa wanita itu adalah aku. Rama benar-benar hilang dan melupakan ku dari kehidupannya, ini tak adil disaat aku bersusah payah melupakannya.


"Mari selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan." Pak Bram mematikan rekaman dan melihat ke arah kami.


"Bagaimana mungkin seseorang tiba-tiba datang dan memeluk wanita bersuami padahal ia sudah punya istri." Suara Rafka begitu dingin. Marahnya orang pendiam memang sangat menakutkan. Rafka melempar tatapan tajam kepada Rama, jika tatapan bisa membunuh maka pasti sekarang Rama sudah meregang nyawa.


"Saya khilaf, itu spontanitas." Sahut Rama.


Rama tidak menjawab pertanyaan Adena, dasar pengecut!


"Mari saling minta maaf agar masalah ini tidak sampai ke kepolisian." Kata Pak Bram lagi. "Pak Rafka, apa anda memaafkan Pak Rama?"


Rahang Rafka mengeras, tangannya mengepal kuat.


"Jika kasus ini diusut oleh polisi mungkin saja Pak Rafka akan kalah karena anda telah menyerang dan melukai fisik Pak Rama."


Rafka melihat ke arahku, aku mengangguk samar. Lebih baik tak memperpanjang masalah ini, aku yakin Rafka akan jadi tersangka menurut peraturan hukum.


"Saya ingin masalah ini selesai sekarang juga." Tukas Rama.


"Bagaimana Pak Rafka?"


Rafka mengangguk, walaupun aku yakin hatinya masih dipenuhi kemarahan itu terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Baik, semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, Pak Rama mohon berhati-hati, jangan mengulang kejadian yang sama."


"Bisakah saya bicara berdua dengan Caramel disini?"


Apa katanya? aku tak percaya Rama masih berani meminta hal seperti itu.


"Saya janji tidak akan mengganggunya lagi setelah ini." Tambahnya.


"Saya serahkan kepada Pak Rafka." Pak Bram beranjak dari duduknya begitupun dengan dua satpam lain.


"Aku nggak mau!" Adena berseru, ia masih tersulut emosi. Kau pikir aku mau?

__ADS_1


"Dena, nanti aku jelasin semuanya ke kamu, sekarang biarin aku bicara sama Caramel dulu."


"Jika kamu berani macam-macam dengan Caramel, kau mungkin tak akan melihat dunia lagi." Rafka beranjak, ia berlalu tanpa mengucapakan apapun lagi. Adena juga keluar dengan terpaksa, ia membawa Ara yang tidak mengerti apa-apa.


Rama melihatku, dengan tatapan itu. Tatapan yang sama dengan empat tahun lalu, tak pernah berubah. Perih itu kembali menelusup ke dalam dada, ia belum mengucapakan apapun tapi air mataku sudah mengalir begitu saja tanpa seizinku, ini menyebalkan.


Fisik Rama tak banyak berubah, hanya saja ia terlihat sedikit lebih kurus. Rambutnya sedikit berantakan, apa ia hidup bahagia selama ini? meninggalkan aku menderita sendirian.


"Aku menikah dengan Adena seminggu sebelum hari pernikahan kita."


Kalimat pendek itu berhasil membuatku terkesiap, aku kaget setengah mati. Setelah 8 tahun menjalin hubungan, seminggu sebelum hari pernikahan, ia justru menikahi perempuan lain. Aku tak pernah mengenal laki-laki brengsek seperti dia di dunia ini, hanya Rama. Aku harap tak ada manusia lain yang tercipta seperti dirinya.


"Dia hamil anakku."


Aku memejamkan mata, "berapa lama kamu berselingkuh?"


"Maaf Caramel, sebenarnya waktu itu nggak ada niat selingkuh."


"Apa?" Aku tertawa disela tangis, "jika tidak ada niat mengapa Ara bisa hadir di tengah-tengah kalian?"


"Waktu itu aku stress karena persiapan pernikahan kita, kamu tahu permintaanmu sangat banyak." Mengapa ia menggunakan alasan itu atas kesalahannya sendiri, aku muak. Rama sendiri yang bilang kalau pernikahan kami harus istimewa karena ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup.


"Lalu?"


"Aku nggak sengaja ketemu Adena dan beberapa kali makan bareng."


"Lalu kamu lupa diri dan menghamilinya?" Aku menyeringai, "Tuhan begitu baik karena aku dijauhin dari laki-laki kayak kamu, terimakasih atas penjelasannya." Aku beranjak.


"Tapi Cara, kamu tahu aku cintanya cuma sama kamu." Rama menahan tanganku.


Aku meliriknya tajam, "kamu nggak lihat aku udah nikah, dia laki-laki baik yang nggak pernah stress hanya karena permintaan pasangannya." Aku menepis tangan Rama dan berlalu dari sana.


******


Ponsel Rama berdering, tertulis nama Adena pada layar ponselnya. Rama mengabaikan panggilan tersebut karena sedang sibuk memilih foto prewedding yang akan disisipkan pada kartu undangan pernikahannya dengan Caramel.


"Ganggu aja!" Rama menggerutu, ia menjawab telepon dari Adena karena tak tahan dengan dering ponselnya yang tiada henti.


"Ram, aku hamil."


Rama mendelik mendengar perkataan Adena, "kok bisa?"


"Kok bisa kamu bilang, kamu lupa kejadian malam itu?"


"Kita ngelakuin itu cuma sekali."


"Terus kenapa? buktinya sekarang aku hamil, aku mau pertanggungjawaban kamu, nikahin aku."


"Kamu gila, sebentar lagi aku bakal nikah sama pacarku."


"Kenapa kamu melakukan itu sama aku padahal nggak lama lagi kamu mau nikah."


Ponsel Rama terjatuh, sambungan terputus. Ia tak percaya pada apa yang Adena ucapkan baru saja, bagaimana mungkin wanita itu hamil. Rama ternganga memandang foto-foto prewedding nya dengan Caramel.


Saat itu juga Rama merasa hidupnya hancur karena gagal menikah dengan wanita yang dicintainya. Rama tak mungkin menjelaskan semuanya pada Caramel, itu hanya memperburuk keadaan. Rama juga tidak mungkin menyuruh Adena menggugurkan kandungannya, bayi itu tak bersalah.


Air mata Rama menetes mengenai foto Caramel yang sedang tersenyum ke arah kamera, wanita itu cantik sekali dengan dress biru wardah brokat di bagian dada. Rambut kecoklatan Caramel terurai indah terkena sinar matahari.


Andai ia bisa mengulang waktu, Rama tak akan pernah mencoba bermain-main dengan wanita lain yang akhirnya berakibat fatal seperti ini. Apa yang akan ia ucapkan pada orangtuanya nanti.

__ADS_1


__ADS_2