Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Tatapannya masih sama seperti 4 tahun yang lalu—penuh cinta seolah-olah tatapan itu hanya ia berikan kepadaku, tidak ada yang lain. Dulu aku begitu memuja tatapan matanya tapi sekarang aku merasa muak, mendengar namanya saja membuatku ingin muntah. Jika boleh jujur sampai sekarang aku tidak percaya bahwa kami telah menghabiskan waktu selama 8 tahun bersama tapi ia begitu mudahnya mengkhianati ku. Lalu apakah kebersamaan kami yang tidak bisa disebut sebentar itu tak ada artinya? jika karena nafsu, apakah ia tidak bisa menahannya sebentar lagi—sampai hari pernikahan itu?


Bukan aku masih cinta, hanya saja hati ini tidak bisa menerima pengkhianatan itu bahkan sampai sekarang. Walaupun ia telah mengutarakan berbagai macam alasan dengan ribuan maaf dari mulutnya, aku tetap tidak bisa menerima itu semua.


Jika tidak setia, mengapa ia mau menjalani hubungan ini hingga 8 tahun? jika ia tidak mencintaiku, mengapa sekarang tatapannya masih sama seperti dulu.


"Menurut keterangan Bu Adena, dia melakukan itu karena emosi sesaat tanpa ada niat mengacungkan gunting kepada Bu Caramel sebelumnya."


Aku berdecih mendengar ucapan polisi, apakah jika tanpa niat maka bisa dimaafkan begitu saja? jika begitu maka semua tersangka kejahatan bisa menggunakan alasan tidak ada niat sebelumnya untuk membela diri.


"Saya menyesal, saya benar-benar minta maaf." Adena menunduk dalam, dari tadi ia memang enggan melihatku barang sebentar. Ia memang terlihat menyesal tapi aku tetap tidak bisa melupakan kejadian dimana Adena mengacungkan gunting kepadaku, jika tidak ada Rafka pasti aku sudah habis olehnya.


"Jika kalian memilih jalan damai, kami akan selesaikan kasus ini sampai disini tapi kalau Bu Caramel tidak bisa memaafkan Bu Adena maka kami akan meneruskannya hingga ke meja hijau." Jelas polisi itu lagi.


"Saya tidak bisa memaafkannya." Ucapku dengan nada dibuat sedatar mungkin berusaha menyembunyikan emosi yang bergejolak di dalam dada.


Ini sudah seminggu sejak kejadian itu, tapi aku tidak bisa melupakannya bahkan aku susah tidur. Andai tidak sedang hamil, pasti aku sudah mengkonsumsi banyak obat tidur agar tidak tersiksa dimalam hari.


"Caramel, kamu kalau jadi aku pasti akan melakukan hal sama, ketika suami kamu setiap hari ngeliatin foto wanita lain, perhatiannya sama kamu makin hilang, bahkan dia bilang pengen perjuangin kamu lagi, coba kalau kamu jadi aku gimana perasaan kamu." Adena memaki ku, matanya memerah dengan air mata berderai.


Aku mengepalkan tangan dan bangkit dari duduk ku, "coba kalau kamu jadi aku gimana!" Aku setengah berteriak di depan wajahnya, "ketika calon suami kamu yang hampir nikah sama kamu, tinggal nunggu beberapa hari tapi dia malah ilang nggak tahu kemana, coba kamu bayangin gimana menderitanya aku waktu itu, kamu bisa mikirin itu nggak?" Emosiku meledak tak dapat dibendung lagi.


"Aku harus nyembuhin diri sendiri selama bertahun-tahun lalu setelah aku lupa semuanya dan menikah, aku baru tahu kalau ternyata dia ngehamilin cewek lain!" Aku menunjuk Rama yang duduk di sebelah Adena, aku menatapnya penuh kebencian. Penyesalan menggerogoti hatiku karena telah menyia-nyiakan waktu sangat lama bersamanya.


"Cara." Rafka meraih tanganku, menggenggamnya dan memintaku untuk duduk kembali.


Adena terdiam dengan tatapan nanar, pandanganku sedikit kabur karena terhalang air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Adena lunglai tidak sanggup membalas rentetan kalimatku.


Ku lihat Rama juga terdiam, tidak ada niat untuk menjawab perkataan ku. Ia hanya menunduk dengan wajah pucat pasi. Jelas-jelas ia yang paling bersalah tapi sebagai laki-laki ia sama sekali tidak menunjukkan sifat yang harus dimiliki seorang lelaki. Dasar pengecut!

__ADS_1


"Maaf, Pak, sepertinya kami tidak bisa melanjutkannya hari ini, nanti saya akan hubungi bapak tentang bagaimana keinginan kami terhadap kasus ini." Rafka berkata dengan tenang, merangkul bahuku, "kami permisi."


"Silahkan." Polisi yang tadi melakukan tanya jawab dengan kami mempersilahkan aku dan Rafka keluar.


Sesampainya di luar aku menangis tersedu-sedu, aku tidak sanggup menahannya lagi, sudah cukup aku sok kuat selama berada di dalam sana. Tak apa hari ini melow yang penting besok—lusa dan setelahnya aku bisa bahagia, melow itu bukan sifat Caramel.


"Ssshh tenangin diri kamu." Rafka menepuk punggung ku, menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang—bukan hanya di luar tapi ia benar-benar punya dada yang lapang karena bisa menerimaku setulus hatinya, menungguku hingga bertahun-tahun lamanya. Setelah trauma luar biasa soal cinta, dengan sifatku yang egois ini—Rafka tetap menerimaku dengan suka cita.


"Menangis lah hari ini, tapi besok jangan, kamu harus bahagia, aku akan membahagiakan mu Cara." Kata Rafka lagi dengan lembut, aku makin menangis entah kenapa. Sejak hamil aku jadi gampang menangis padahal dulu aku paling anti menangis.


"Caramel, aku minta maaf karena udah bikin kamu menderita selama ini."


Suara Rama mengejutkan ku, spontan aku mengangkat wajah dari dada Rafka, ku lihat Rama berlutut di dekatku—tepat di depan pintu.


"Cara, aku tahu seribu kali pun aku minta maaf, itu nggak akan bisa memperbaiki semuanya tapi aku mohon maafin aku." Ia hendak meraih tanganku tapi dengan cepat Rafka menepisnya.


"Lu gila?" Aku menyipitkan mata melihatnya yang sudah seperti kehilangan akal sehat, berlutut di tempat umum.


Aku mendelik, kalimat itu benar-benar ingin membuatku muntah, aku ingin muntah di depan mukanya yang seolah-olah tak berdosa.


"Bangun!" Aku maju selangkah—menarik kerah bajunya agar Rama bangun.


"Maafin aku Car, aku nyesel." Katanya dengan mata memerah.


"Munafik!" Aku mendaratkan tamparan keras di pipinya hingga meninggalkan bekas merah disana, bahkan telapak tanganku ikut nyeri saking kerasnya. "Gue jijik banget sama Lu Ram, Lu bilang mau nikahin Gue tapi Lu hamilin Adena, dan setelah bertahun-tahun kalian bareng lu masih bilang cinta sama gue?" Aku tertawa mengejeknya walaupun dengan wajah penuh air mata.


"Karena lu udah nikahin Adena, lu harus bertanggungjawab sepenuhnya sama dia, cintain dia, dulu gue sedih banget pas lu hilang tapi sekarang—" aku merapikan rambut yang menghalangi wajahku sebelum melanjutkan kalimat, "gue ngerasa jadi cewek paling beruntung karena Tuhan tuh baik banget, Dia nggak membiarkan gue nikah sama cowok kayak elu!"


"Ayo pergi." Aku memutar badan menarik tangan Rafka agar kami bisa segera pergi dari ini.

__ADS_1


Kini aku merasa lega karena telah mengeluarkan semua kata-kata yang ingin ku ucapkan selama ini. Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan memaki Rama setelah sekian lama menahan derita. Walaupun makian tak bisa memperbaiki keadaan tapi paling tidak aku bisa membuat Rama sakit hati dengan ucapanku, itu tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang aku rasakan selama ini.


"Kita bisa pindah ke rumah dinas kalau memang kamu mau pindah." Ucap Rafka.


"Aku suka apartemen itu." Aku menunduk, memperhatikan langkah kakiku sendiri. Aku bingung, jujur tak ada yang tidak aku suka dari apartemen itu, andai tetanggaku bukan Rama pasti aku lebih tenang tinggal disana.


"Aku tahu." Rafka kembali merangkul bahuku dan mengusapnya sebentar, "aku pasti lakuin apapun yang kamu inginkan."


"Makasih Ka." Aku meraih tangan Rafka dan menggandengnya. Aku tidak bisa mengucapkan apapun lagi selain terimakasih. Rafka selalu berhasil mengobati lukaku, ia seperti hansap—maksudku plester. Aku tidak akan menyebutkan merek karena aku tidak diendorse oleh hansapl*st. Canda eh.


Sekarang aku bingung harus menyebut Rafka robot atau plester, dulu dia kaku tapi semakin aku mengenalnya aku mengetahui sisi lain dari Rafka. Ia benar-benar hangat, tindakannya sederhana tapi berhasil membuatku jatuh hati lagi dan lagi. Rafka tak banyak bicara tapi ia bisa menyelesaikan masalah dalam sekejap. Robotku sudah berevolusi menjadi plester.


"Caramel!"


Kami menghentikan langkah mendengar suara perempuan memanggilku, spontan aku menoleh dan mendapati Adena berlari menghampiriku. Ku pikir aku sudah menyelesaikan perdebatan kami di dalam tadi tapi kenapa Adena masih mengejar ku. Apakah ia benar-benar akan membunuhku kali ini? Aku takut tapi harus sok berani di hadapan Adena, aku tidak mau terlihat lemah.


Aku melepas pegangan ku pada lengan Rafka dan maju selangkah saat Adena sudah dekat. Namun dengan gerakan tak terduga Rafka memposisikan diri berada tepat di depanku, ia menyembunyikan aku di belakang punggungnya.


"Saya pikir semua sudah selesai, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Ujar Rafka dengan nada dingin.


"Aku mohon maafin aku."


Aku mendelik, kenapa sekarang Adena ikut berlutut, ia tak perlu melakukan ini hanya untuk mendapat simpati ku. Aku bukannya orang yang tidak punya rasa empati.


"Caramel, kalau aku dipenjara nanti gimana dengan Ara, aku nggak peduli kamu benci aku atau Rama tapi aku mohon maafin aku, Ara masih kecil dan butuh kasih sayang Mamanya, mungkin kamu nggak akan ngerti karena kamu belum punya anak tapi Ara bener-bener butuh sosok Mamanya, aku nggak mau Ara punya Mama seorang napi."


Aku memejamkan mata tidak sanggup melihat Adena yang berderai air mata. Membayangkan sosok Ara yang menggemaskan membuatku tidak tega jika sampai ia sedih. Ara tidak tahu apapun, ia hanya anak kecil yang tidak berdosa.


"Aku pengen pulang." Rengekku pada Rafka, aku tidak sanggup lagi bertahan lebih lama melihat betapa melownya Adena saat ini.

__ADS_1


"Berdiri lah." Pinta Rafka pada Adena sebelum ia menarik ku meninggalkan koridor.



__ADS_2