
Mata Caramel berkilat-kilat melihat piyama yang berada di hadapannya. Ia memang menyukai piyama tapi tak pernah sebahagia ini saat melihat baju tidur tersebut. Senyumnya merekah-akhirnya setelah perjuangan panjang dan penuh emosi sampel produk pertamanya telah jadi. Perlahan Caramel menyentuh piyama berbahan katun dengan motif bunga edelweis di beberapa bagian. Tak sia-sia ia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya demi mendapatkan piyama yang sesuai keinginannya.
"Gimana menurut kamu?" Caramel memutar kepala melihat Rafka yang dari tadi berada di belakangnya.
"Luar biasa." Puji Rafka tulus, walaupun tidak tahu banyak tentang dunia fashion tapi piyama tersebut memang cantik dengan warna merah muda yang lembut. Begitu melihatnya itu akan mengingatkan Rafka pada Caramel yang identik dengan piyama.
"Aku mau coba." Caramel dengan semangat melepas sepasang piyama berlengan pendek itu dari gantungan. Ia tidak sabar untuk mencobanya. Saat memutuskan untuk membuat brand piyama sendiri, misi Caramel adalah menjadikan piyama sebagai pakaian sehari-hari yang membuat si pemakai tetap cantik dan trendy. Tentunya ia juga membuat piyama dari bahan berkualitas tapi tetap dijual dengan harga terjangkau.
"Kenapa tidak ganti disini saja?" Rafka menahan Caramel yang hendak pergi ke kamar sebelah.
Caramel melihat sekeliling, mereka sedang berada di ruang kerja Rafka. Memang tidak ada siapapun tapi Caramel tidak nyaman jika mengganti pakaian disini.
"Kamu malu?"
Caramel menggeleng, "kenapa aku harus malu?"
"Gantilah."
"Tapi ada yang harus aku ambil di kamar." Caramel buru-buru kabur sebelum Rafka mencegahnya lagi.
"Kenapa masih malu, apa Cara pemalu di sore hari dan pemberani di malam hari?" Rafka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mereka sudah pernah mandi bersama dan ganti baju di tempat yang sama mengapa Caramel masih malu. Ini tidak adil bagi Rafka sebab setiap pagi Rafka selalu mengganti pakaian di depan Caramel.
Kenapa aku jadi mempermasalahkan soal ini?
Lima menit kemudian Caramel keluar dengan piyama celana pendek di atas lutut memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Rafka tidak kaget, Caramel memang tampak cantik dengan pakaian apapun.
"Ini akan disukai para wanita di luar sana." Rafka mendekat pada Caramel, ia menyentuh bahu Caramel lalu turun ke lengan.
"Apa ini bakal berhasil?" Caramel jadi gugup untuk memperkenalkan brand nya ke publik. Ia takut pada kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.
"Coba saja dulu, berpikirlah positif." Rafka menenangkan Caramel.
Caramel menarik napas dalam lalu mengangguk mantap. Ia meraih ponsel di atas meja untuk membuka akun Instagram miliknya. Bermodalkan followers puluhan ribu Caramel akan mulai memperkenalkan produk miliknya. Ia akan melihat tanggapan orang-orang terlebih dahulu sebelum membuat akun Instagram khusus produk tersebut.
Selanjutnya Caramel melakukan sesi foto, ia tidak perlu menyewa fotografer profesional karena Rafka cukup pandai memotret. Ia meminimalkan biaya di luar produksi demi mendapatkan bahan berkualitas tapi bisa dijual dengan harga miring. Ia bisa menjadi model sedangkan Rafka fotografernya, ia sudah mendekorasi salah satu sisi ruang kerja Rafka sebagai latar belakang fotonya.
"Kaki mu kenapa?" Perhatian Rafka tiba-tiba teralih pada tumit Caramel yang sedikit mengelupas dan berubah kemerahan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa." Caramel mengambil alih kamera di tangan Rafka untuk melihat hasil fotonya.
Bukankah nggak apa-apa yang perempuan katakan berarti sebaliknya?
"Kenapa bisa lecet seperti ini?" Rafka berjongkok agar bisa melihat kaki Caramel lebih jelas.
"Iya kemarin aku lupa pakai kaos kaki." Jawab Caramel enteng.
Rafka berdiri dan mendudukkan Caramel di atas kursi kerjanya, "kaki mu bengak?"
"Iya dikit, dokter bilang itu normal kan?" Caramel meletakkan kamera di atas meja dan melihat Rafka sepenuhnya.
"Aku ingat dokter bilang itu normal jika kamu sudah memasuki trimester ketiga, tapi kamu?" Rafka kembali duduk di atas lantai, ia melepas sandal yang Caramel kenakan.
"Itu normal sayang." Caramel tersenyum menarik tangan Rafka agar kembali berdiri.
"Kapan kamu akan mengundurkan diri, bukankah waktu itu kamu bilang akan berhenti dari kantor setelah pakaian itu jadi?" Wajah Rafka serius, ia tidak ingin Caramel bekerja terlalu keras. Lagi pula sejauh ini ia bisa memenuhi kebutuhan sang istri.
"Aku bilang setelah produk aku dikenal publik, aku masih mampu kok." Caramel menggenggam tangan Rafka.
"Selama ini aku membebaskan mu untuk melakukan apapun tapi bukan berarti aku tidak memperhatikan mu, jangan egois, tubuh kamu bilang tidak."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Rafka melepas genggaman Caramel dan pergi dari ruang kerjanya. Ia melangkah meninggalkan Caramel menuju dapur. Rafka tahu jika itu hanya alasan Caramel untuk menghentikan perdebatan mereka tapi ia tetap pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Caramel kembali memainkan ponsel untuk meng-upload foto dirinya mengenakan piyama ke akun Instagram. Tak perlu menunggu lama foto tersebut mendapat banyak like dari pengikutnya di Instagram. Media sosial memang membuat informasi lebih cepat tersampaikan dalam hitungan detik.
Siapa sangka anak IPA yang dulu paling pandai menyelesaikan rumus fisika dan bekerja di bank itu kini mencoba hal baru yakni memulai bisnisnya sendiri. Caramel memang suka tantangan, walaupun lulus dari jurusan IPA tapi ia justru mengambil manajemen perbankan setelah kuliah. Lalu sekarang, ia mencoba membuat brand piyama sendiri hanya karena dirinya menyukai salah satu jenis pakaian tersebut.
"Pantesan Rafka betah disini, kursinya enak." Caramel menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan mata, ini baru awal, ia tidak boleh senang terlebih dahulu.
Tiba-tiba Caramel membuka mata saat merasakan gerakan cukup besar dari dalam perutnya, ia membelalak beranjak dari duduknya mencari Rafka. Sejak usia kandungan 4 bulan Rafka selalu penasaran pada gerakan bayi di dalam perut tapi tentu saja di usia itu gerakannya masih sangat kecil sehingga mereka tidak bisa merasakannya.
"Ada apa lari-lari begitu?" Rafka yang sedang mengaduk sawi di atas wajan melihat Caramel menghampirinya dengan terburu-buru.
"Aku barusan ngerasain gerakan bayinya."
"Oh ya?" Rafka langsung meletakkan spatula di tangannya dan memegang perut Caramel. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Udah enggak ya?" Caramel nyengir, sepertinya bayi mereka suka mager seperti mamanya.
__ADS_1
Rafka menggeleng samar, ia kembali berdiri melanjutkan aktivitas masaknya yang sempat tertunda.
"Mungkin setelah makan, ia akan lebih aktif." Ucap Rafka.
Caramel tertawa, dari mana pikiran seperti itu berasal. Caramel dan Rafka terlalu bersemangat merasakan setiap perkembangan baru dari calon bayi mereka.
"Kamu bikin apa?" Caramel mengintip ke penggorengan, ia melihat sawi dan wortel yang ditumis menggunakan margarin. Caramel tidak tahu dari mana Rafka tahu berbagai resep masakan. Rafka bilang kadang ia mengkombinasikan sendiri bahan makanan yang ada di kulkas, tapi anehnya itu tetap terasa enak bagi Caramel. Apa karena ia bucin Rafka? tidak-tidak, masakan Rafka memang enak. Kalau tidak percaya cobalah sendiri.
"Salmon dengan saus lemon." Rafka menyodorkan sepiring salmon saus lemon yang tentu saja berpenampilan menggiurkan. Rafka punya bakat khusus di bidang plating, ia membuat makanan memiliki tampilan cantik ala restoran.
"Kok cepet?" Caramel heran, sepertinya Rafka baru mulai memasak 10 menit yang lalu tapi satu masakan sudah selesai dihidangkan.
"Tidak perlu dimasak terlalu lama agar nutrisinya tetap terjaga."
"Aku bawa ke meja ya." Caramel melangkah menuju ruang makan untuk meletakkan salmon saus lemon buatan Rafka.
Sementara itu Rafka menuangkan tumis sayur yang sudah matang ke dalam mangkok. Ia benar-benar memperhatikan makanan yang baik untuk Caramel. Jika ada tingkatan suami siaga dari 1 sampai 10 maka Rafka adalah suami siaga level 11. Sejak Caramel hamil, ia melakukan sebagian besar pekerjaan rumah yang biasa Caramel lakukan mulai dari mencuci baju hingga memasak.
"Makan buah dulu." Caramel menyuapkan sebutir anggur kepada Rafka. "Manis nggak?" Tanyanya.
"Manis." Jawab Rafka tidak terlalu jelas.
"Lebih manis mana?" Caramel mengedip-ngedipkan matanya menggoda Rafka.
Rafka menatap sang istri polos bingung mengapa Caramel memasang wajah seperti itu. Lebih manis mana? Caramel melirik buah anggur di tangannya lalu menatap Rafka. Sedangkan Rafka masih mengatup bibir, tidak mengerti maksud pertanyaan Rafka.
"Lebih manis anggur yang besar dari pada yang ukurannya kecil." Tukas Rafka dengan percaya diri padahal bukan itu maksud Caramel.
Caramel sontak tertawa mendengar jawaban lolos Rafka. Mungkin Rafka memang dilahirkan hanya untuk menganalisis cuaca, ia sama sekali tidak memiliki bakat menggombal.
"Ini anggur super, semuanya manis kok." Caramel mengambil nasi untuk Rafka.
"Lalu kenapa kau bertanya mana yang lebih manis?"
"Makasih ya udah masakin." Caramel kini memasang senyum lebar, dari pada memperdebatkan hal yang tidak penting lebih baik mereka mulai makan.
"Semoga kamu suka."
"Pasti suka."
__ADS_1