Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Caramel mencari-cari ponselnya yang semalam terlempar entah kemana. Ia berharap Jane tidak menguping percakapannya kemarin dengan Rafka. Jika iya, pasti Jane dan Kayla akan mengejek Caramel habis-habisan.


"Itu dia!" Caramel meraih benda tipis di kolong nakas, ia tak menyangka kalau ponsel itu akan terlempar sejauh ini. Ia memeriksa durasi percakapannya dengan Jane dan bernapas lega, tertulis 8:35 berati Jane segera memutuskan sambungan setelah Caramel tidak melanjutkan ceritanya.


Caramel membalikkan badan saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Tampak Rafka baru saja keluar dengan rambut basah dengan handuk melilit dari perut sebatas paha. Salah satu pemandangan paling indah yang amat Caramel sukai, bahkan ia rela meninggalkan masakannya di dapur demi melihat Rafka keluar dari kamar mandi. Kalian bisa menyebut Caramel aneh.


"Kamu pakai baju ini kan?" Caramel menyodorkan atasan putih berlengan pendek dengan logo BMKG dan name tag di bagian dada kanan. Caramel pernah melihat Rafka mengenakan pakaian ini saat lelaki itu menjemputnya bekerja untuk pertama kali.


"Iya," Rafka menerima baju tersebut dan segera mengenakannya. "kamu sudah selesai masak?" Ia melihat Caramel berdiri di hadapannya tidak berkutik justru asyik memperhatikannya bahkan seperti menunggu hingga ia selesai mengenakan pakaian. Rafka malu diperhatikan seperti itu, walaupun Caramel adalah istrinya.


"Belum, aku udah matiin kompornya, aku baru aja nemuin hp ku yang kemarin jatuh." Caramel menunjukkan ponselnya, padahal ia sekalian ingin melihat pemandangan indah di depan matanya.


"Kamu sudah mencoba mesin itu?" Akhirnya Rafka menemukan inisiatif agar Caramel keluar dari kamar.


"Belum." Caramel menggeleng.


"Kau boleh mencobanya."


"Aku nunggu kamu selesai ganti baju."


Rafka menyembunyikan keterkejutannya karena Caramel begitu terus terang mengatakan hal tersebut. Rafka tidak bisa melakukan apapun kecuali mengenakan pakaiannya dengan cepat, atasan putih dan celana bahan hitam.


"Pakai sedikit parfum," Caramel menyemprotkan parfum di leher Rafka. "Aku ke dapur dulu lanjut masak." Ia meletakkan parfum tersebut di samping deretan parfum lain miliknya, punya Rafka hanya satu.


Caramel melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda demi menyiapkan pakaian untuk Rafka. Ia memilih membuat makanan simpel untuk menu sarapan agar Rafka tidak telat sampai di kantor.


"Aroma telur goreng ini enak." Suara Rafka membuat Caramel mengangkat wajah.


"Aku goreng pakai margarin biar lebih gurih." Caramel meletakkan telur goreng di atas meja makan, ia juga sudah mengambil nasi untuk Rafka. "


"Makasih." Ucap Rafka karena Caramel sudah begitu rajin menyiapkan sarapan.


Caramel duduk di samping Rafka, "aku bawa beberapa barang ku dari rumah kesini boleh ya?"


Rafka mengangguk. Caramel akan membawa pajangan dingin di kamarnya untuk dipindahkan ke kamar mereka disini serta buku-buku penting yang tak sempat dibawanya beberapa hari yang lalu.


"Rafka, kenapa kamu pakai tanggal lahir ku untuk semua kata sandi dan pin, mulai dari password hp, pintu apartemen, kartu ATM, emangnya nggak takut?"


"Hanya rangkaian angka itu yang membuatku selalu bisa mengingatnya."


Dada Caramel terasa hangat saat Rafka mengucapkan hal tersebut. "Sejak kapan kamu tahu?"


"Sejak pertemuan pertama kita."


"Oh ya? kamu juga jatuh cinta sejak pertemuan pertama apa pertemuan pertama kita begitu berarti?"


"Sangat berarti." Rafka menatap Caramel, ia masih ingat betul bagaimana kejadian saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.


"Tapi waktu itu bukannya kamu justru ninggalin aku pulang duluan?"


"Hm?" Rafka melihat Caramel bingung, memang waktu itu ia memberikan lilin lalu meninggalkan wanita itu. Rupanya bayangan mereka tentang pertemuan pertama merupakan kejadian yang berbeda.


"Kamu lupa kejadian satu bulan yang lalu?"

__ADS_1


"Itu bukan pertemuan pertama kita." Rafka meletakkan sendok nya dan meneguk segelas air putih hingga habis.


"Lalu kapan?"


"Dua belas tahun yang lalu."


Caramel terdiam, awalnya ia ingin tertawa berpikir bahwa Rafka mengada-ada tapi melihat wajah suaminya yang begitu serius ia menelan tawanya dengan paksa. Sepertinya Rafka memang tidak pernah berbohong.


"Aku nggak ingat." Caramel menggeleng.


"Aku ingat persis pertemuan pertama kita, kamu menangis di bawah pohon di tengah kegelapan, kamu bilang tidak mau mati dimakan hantu sebab sebentar lagi ulang tahun mu yang enam belas, aku duga kamu terpisah dari rombongan karena setahuku kalian sedang mengadakan persami."


"Kamu?" Caramel tertegun, perlahan ia semakin ingat kejadian hari itu. "Kamu yang ngasih lilin waktu itu?"


Rafka mengangguk.


Air mata Caramel merebak, ia tak percaya melihat Rafka, ternyata orang baik yang malam itu menyelamatkannya dari kegelapan adalah seseorang yang kini menjadi suaminya. Takdir memang tak pernah terduga.


"Kamu masih ingat aku, ini nggak adil, malam itu aku nggak bisa lihat wajahmu." Caramel memukul dada Rafka beberapa kali.


"Bukankah kamu pernah bertanya sejak kapan aku jatuh cinta padamu, jawabannya adalah sejak hari itu."


Caramel menghambur ke pelukan Rafka, ia tak menyangka bahwa mereka telah bertemu sejak 12 tahun yang lalu. Andai malam itu ia bisa melihat wajah orang baik yang telah memberinya lilin, Caramel tak akan menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menjaga lelaki yang pada akhirnya menikah dengan wanita lain.


"Terimakasih, kamu menyelamatkan ku malam itu." Caramel mengecup bibir suaminya sekilas.


Rafka tersenyum, akhirnya ia bisa menceritakan hal ini kepada Caramel. Ia tak menyangka bahwa Caramel akan menangis dengan cerita ini, Rafka ingin jatuh cinta lagi dan lagi setiap hari.


Awalnya Caramel berpikir diantara Rafka dan dirinya, ia lah pihak yang lebih dulu jatuh cinta tapi ternyata Rafka sudah melakukan itu sejak 12 tahun yang lalu. Caramel bingung sekaligus tak percaya, mengapa Rafka sanggup menahan rasa cinta se-lama itu.


"Sudah, jangan menangis lagi." Rafka mengusap pipi Caramel yang basah oleh air mata tak lupa mengecup kening sang istri sebagai hadiah karena telah menyiapkan sarapan enak untuk mereka.


"Jangan lupa habisin makanannya ya." Caramel memasukkan kotak makanan ke dalam paper bag. Ia memanggang daging ayam khusus untuk bekal Rafka, dengan rebusan brokoli serta wortel.


"Aku tak pernah menyisakan sebutir pun." Sahut Rafka lalu menyesap teh hangat buatan Caramel hingga tak tersisa.


Caramel tersenyum senang karena Rafka selalu menghabiskan makanan yang ia buat walaupun rasanya tak bisa disebut enak.


Mereka baru saja menyantap telur goreng dan nasi serta sambal kecap buatan Caramel. Terakhir minum teh sedangkan Caramel menikmati kopi kesukaannya. Rafka membelikan mesin pembuat kopi khusus untuk Caramel karena wanita itu sangat menyukai kopi. Agar tidak terlalu repot, jadi Rafka membeli mesin tersebut. Betapa senangnya Caramel mendapatkan mesin itu, ia memimpikannya sangat lama tapi tak pernah bisa membelinya karena harganya tergolong mahal. Caramel lebih memilih membeli tas dari pada sebuah mesin pembuat kopi, lagi pula ia bisa membeli kopi enak setiap hari di minimarket dekat rumahnya. Ah, tapi ternyata Rafka tahu betul keinginan Caramel walaupun sang istri tak pernah mengatakannya.


"Cepet jemput aku setelah pulang kerja." Caramel mengecup pipi Rafka hingga meninggalkan bekas kopi disana, ia mendelik terkejut karena telah membuat wajah mulus suaminya kotor. "Sorry sorry!" Caramel buru-buru mengusap pipi Rafka dengan tangannya.


Rafka tersenyum tipis, "bersihkan yang ini dulu." Ia mengusap bibir Caramel dengan ibu jari. "Bukankah kamu membawa mobil, masih mau dijemput?"


"Iya," Caramel mengangguk, "kamu nggak takut aku digodain cowok?" Ia mengangkat alisnya sebelah.


"Siapa yang berani melakukan itu?" Rafka menatap lekat wajah Caramel, "aku akan memberinya pelajaran berharga."


"Seperti apa?"


"Membuat dia tidak bisa menggunakan kakinya untuk berjalan lagi misalnya."


Caramel mengerjap, ia tersentuh dengan ucapan Rafka, ia pikir selama ini Rafka hanya lelaki datar yang tak bisa melakukan apapun apalagi memukul orang.

__ADS_1


"Mari berangkat." Rafka beranjak membawa dua gelas bekas kopi dan teh ke dapur.


"Aku siap-siap dulu." Caramel pergi ke kamar sementara Rafka mencuci gelas bekas minuman mereka.


******


"Kamar ini nggak berubah!" Caramel menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan memandangi langit-langit kamarnya. Sepanjang jalan dari apartemen ke rumah, Caramel tak bisa berhenti memikirkan kejadian malam itu, saat ia menangis di bawah pohon karena takut gelap. Lalu Rafka menghampirinya membawa satu buah lilin, Caramel menendang-nendang kasurnya karena gemas.


"Cara, nanti bawa pulang sambal bawang ya, rencananya hari ini Mama mau ke apartemen kalian sama Papa eh nggak tahunya kamu kesini duluan." Mama Caramel membuka pintu kamar dan menghampiri anak semata wayangnya di atas kasur.


"Mama tahu aja kesukaanku." Caramel bergerak memeluk mamanya dari belakang, baru beberapa hari tidak bertemu ia sudah sangat merindukan wanita itu.


"Mama juga bikin sambal cumi, Rafka nggak ada alergi seafood kan?"


"Setahuku sih dia nggak ada alergi Ma."


"Bagus deh, Mama bikin banyak buat kalian, bisa buat seminggu lebih, jangan lupa ditaruh kulkas, kamu jangan males masak, makanan paling nikmat itu buatan istri."


"Aku setiap hari masak kok."


"Oh ya?" Mama menghadap kepada Caramel dan mengelus rambut nya lembut. Walaupun sudah dewasa tapi Mama tetap menganggap Caramel gadis kecil yang harus dimanja.


"Mama nggak nyangka kamu udah jadi istri seseorang."


"Sebentar lagi akan jadi ibu." Caramel tersenyum lebar.


"Oh ya? memangnya udah ada tanda-tanda?"


"Belum sih, sekarang aja aku masih datang bulan." Caramel beranjak duduk di samping mamanya.


"Kamu nggak KB apapun?"


"Enggak, aku udah terlalu tua untuk KB."


"Ih!" Mama Caramel menyentil telinga anaknya, "kalau kamu tua terus Mama ini apa?"


"Aku mau bikinin Mama dan Papa tiga." Mata Caramel berbinar-binar membayangkan keceriaan anak-anak di apartemennya. Maklum, selama ini Caramel kesepian karena tidak punya saudara kandung, itu sebabnya ia ingin punya anak tiga atau empat nanti.


"Serius kamu?" Mama melihat Caramel tidak percaya, ia tahu kalau anaknya itu suka sekali bercanda.


"Serius." Caramel melangkah mendekati meja riasnya yang kini kosong, semua alat make-up nya sudah pindah ke apartemen. Caramel berjongkok membuka salah satu pintu di bagian bawah meja riasnya dan mengambil toples berisi origami, ia akan membawanya ke apartemen. Caramel penasaran apakah origami tersebut juga bisa menyala di kegelapan, untung saja ia tak jadi membuangnya waktu itu.


Mulut Caramel terbuka lalu tertutup lagi, ia berniat memberitahu mamanya tentang pertemuannya dengan Rama tapi dari pada membuat mama khawatir lebih baik ia mengurungkan hal tersebut. Itu hanya akan membuat kemarahan orangtua Caramel kembali memuncak.


"Apapun itu yang penting kamu bahagia, walaupun pernikahan ini hasil perjodohan tapi Mama berharap kamu dan Rafka selalu bahagia."


"Rafka itu suami idaman Ma, dia baik banget."


"Syukurlah kalau gitu, Mama takut kamu menderita karena menikah dengan terpaksa."


"Mama dan Papa udah kasih aku laki-laki baik dari yang terbaik." Caramel kembali memeluk mamanya, kenapa jadi melow begini sih!


Caramel juga tidak pernah menduga bahwa ia bisa sangat cepat jatuh cinta secepat itu pada Rafka. Sebenarnya ia bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta, tapi Rafka menjadi pengecualian baginya.

__ADS_1


__ADS_2