Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Satu


__ADS_3

Matahari bersinar cerah menyilaukan mata, ramalan cuaca mengatakan sepanjang hari ini akan cerah dengan sedikit awan di sebagian besar wilayah kota Jakarta. Manusia memulai harinya dengan semangat baru ditemani senyuman lebar mentari. Ketika mereka telah terbiasa dengan mendung, Tuhan berikan kehangatan melalui sang surya. Bukankah Tuhan selalu memberikan sesuatu lebih dari yang kita minta.


Sudah kah kita bersyukur untuk hari yang luar biasa?


Wajah Caramel terlihat memerah seperti tomat dari pantulan cermin di kamar mandi. Bibirnya pucat kebiruan setelah muntah-muntah sejak 30 menit yang lalu. Makanan yang belum sepenuhnya dicerna terkuras habis. Tubuh Caramel lemas, ia tak pernah muntah-muntah separah ini sejak hamil. Seingatnya hanya saat Rafka berada di rumah sakit. Namun kali ini lebih parah dari itu. Kakinya gemetar tidak mampu berdiri lebih lama lagi.


"Jadi gini rasanya morning sickness, telat banget, gue udah bunting lima bulan." Caramel mengomel dengan suara serak, ia duduk di atas kloset karena tidak kuat berdiri lagi.


"Minum." Rafka menghampiri Caramel membawa segelas air hangat.


"Maaf ya." Caramel meneguk air hangat tersebut sedikit karena mulutnya terasa pahit. Ia minta maaf karena telah mengotori pakaian kerja Rafka dengan muntahannya padahal sebentar lagi sang suami harus berangkat kerja.


Rafka mengangkat tubuh Caramel membawanya ke tempat tidur dengan mudah. Ia sudah mengganti pakaiannya segera setelah Caramel muntah tadi.


"Kamu berangkat aja sana nanti telat, hari ini ada upacara kan?"


"Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu dengan keadaan seperti ini." Rafka meletakkan gelas di atas nakas dan menyelimuti Caramel.


"Kamu bakal dihukum kalau telat."


"Tapi nanti kalau ada apa-apa segera telepon aku."


Caramel mengangguk pelan, "hati-hati di jalan."


"Di kulkas ada oatmeal, kau bisa memakannya jika lapar, aku juga sudah mengupas melon dan alpukat, itu bisa mengembalikan tenaga mu." Rafka mengusap rambut Caramel, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Caramel sendirian di rumah tapi hari ini ada rapat penting di kantor. Rafka juga bertanggung-jawab melaporkan prakiraan cuaca hari ini kepada masyarakat. Ia dilema sebagai suami sekaligus BMKG.


"Kamu nggak usah khawatir, aku udah enakan kok."


"Pastikan ponsel selalu ada di dekat mu." Rafka memindahkan ponsel Caramel dari meja rias ke atas nakas agar Caramel bisa langsung menghubunginya saat terjadi sesuatu.


"Makasih ya." Caramel tersenyum samar.


Rafka menatap wajah Caramel lekat, tatapan penuh cinta sekaligus khawatir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Caramel hendak melahirkan, Rafka tidak tega melihat sang istri kesakitan.


"Aku berangkat dulu." Rafka mengecup kening Caramel cukup lama sebelum ia meraih tas kerjanya.


"Nyalain tv nya ya biar nggak sepi, aku nggak suka."


Sebelum pergi Rafka menyalakan televisi untuk menemani Caramel yang tidak suka sepi. Caramel tidak bisa bertahan dalam ruangan yang lengang, mungkin karena ia terbiasa dengan antrean panjang nasabah di bank tempatnya bekerja.


Tinggallah Caramel seorang diri yang memaksakan tubuhnya untuk tidur walaupun tidak ngantuk. Ini masih pagi, seharusnya Caramel keluar untuk menikmati hangatnya mentari pagi. Namun ia masih lemas untuk sekedar turun dari tempat tidur.


Ponsel Caramel berdering nyaring membuat si pemilik yang baru saja memejamkan mata terpaksa bangun. Tangan Caramel terulur meraba-raba nakas dan meraih ponselnya. Siapa yang sudah meneleponnya pagi-pagi begini. Tanpa membaca nama si penelepon, Caramel menekan ikon telepon berwarna hijau dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya.


"Cara, lu pasang kuping baik-baik ya."


Caramel mengerutkan kening mendengar suara penuh semangat Jane di seberang sana. Bukannya bersiap-siap mendengarkan kalimat Jane selanjutnya, Caramel jutsru menjauhkan ponsel dari telinganya. Dalam hitungan ketiga pasti Jane akan berteriak. Satu ... Dua ....


"Gue udah buka pre order Caramel Sleepwear dan lu mau tahu nggak, dalam waktu kurang dari satu jam udah dapet lima ratus orderan!" Tidak sampai hitungan ketiga suara cempreng Jane sudah menerobos.


Apa?


"Serius lu?" Caramel yang tadinya ogah-ogahan mendengarkan Jane kini berubah jadi penuh semangat.


Satu minggu yang lalu Jane bersedia menjadi admin akun Instagram brand piyama Caramel yang diberi nama Caramel Sleepwear. Kemarin Caramel memutuskan untuk membuka sistem pre order setelah semua persiapan matang mulai dari tenaga penjahit, packing hingga jasa pengiriman yang siap mengirimkannya ke seluruh wilayah di Indonesia.


Caramel tidak berharap banyak karena ini pertama kalinya ia memperkenalkan brand miliknya. Namun di luar dugaan ternyata pesanan langsung membludak.

__ADS_1


"Nggak salah lihat kan lu?" Caramel masih tidak percaya.


"Serius, gue kirimin datanya sama lu ya sekarang juga." Jane langsung memutus sambungan.


Dengan seluruh tenaga yang masih tersisa Caramel turun dari tempat tidur berjalan tertatih menuju meja rias tempatnya meletakkan laptop.


"Aduh kok jadi tremor gini tangan gue?" Caramel bergumam sendirian, tangannya gemetar bukan karena tiba-tiba mendapat orderan seribu pakaian tapi karena makanan dalam perutnya terkuras habis.


Caramel menyipitkan matanya saat membaca email dari Jane yang berisi data pesanan kemarin. Jumlahnya lebih dari lima ratus pesanan, itu di luar perkiraan Caramel. Berarti brand piyama itu diterima dengan baik oleh masyarakat.


Mata Caramel berkaca-kaca, ia tak percaya ini terjadi sebab rasanya seperti mimpi. Jangan-jangan ini mimpi karena Caramel tidur terlalu pagi.


Caramel mengedip-ngedipkan matanya lagi takut jika ia salah lihat tapi angka itu tidak berubah. Caramel menyentuh dadanya sendiri yang berdebar kencang, ia berteriak dalam hati mengucapkan rasa syukur yang tidak terhingga. Tuhan memberikan lebih dari yang Caramel minta. Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil.


"Pak Rafka benarkah awal tahun 2021 nanti Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem?"


Perhatian Caramel beralih pada layar televisi yang sedang menayangkan berita pagi. Tadinya televisi itu diabaikan begitu saja karena Caramel tidak pernah tertarik pada acara apapun disana. Namun mendengar suara reporter yang menyebutkan nama Rafka membuat Caramel penasaran, memang nama itu tidak hanya satu di dunia ini, tapi ....


"Menurut analisa kami di awal tahun akan banyak terjadi hujan dan badai petir di sebagian besar wilayah Indonesia, kami mengimbau kepada masyarakat agar mempersiapkan diri untuk menghadapi awal tahun dan tetap berhati-hati." Suara Rafka terdengar datar tapi tegas.


Caramel melongo bahkan ia berpindah duduk ke ujung ranjang demi melihat televisi lebih dekat.


"Kok Rafka nggak bilang kalau mau masuk tv!" Tidak salah lagi, itu memang Rafka. "Ya ampun, mana ganteng banget lagi."


Seharusnya Rafka mengenakan pakaian yang sama tapi karena muntah Caramel mengenainya, ia terpaksa mengganti pakaian.


Kini kamera berubah menyorot barisan pejabat BMKG yang mengenakan batik seragam. Di antara mereka sosok Rafka memang paling mencolok, selain karena batik yang dikenakannya tidak sama dengan lainnya, ia juga memiliki tubuh paling tinggi dan tegap. Wajah tampan Rafka juga membuat para wartawan salah fokus.


"Kenapa dishoot terus suami gue woy!" Caramel mengacak rambutnya frustrasi melihat kamera terus terarah pada Rafka.


"Car, jabatan Rafka apa di BMKG?" Kayla heboh.


"Kagak tau gue." Caramel menggaruk kepalanya bingung, ia tidak pernah bertanya soal jabatan Rafka.


"Gue baru aja lihat di tv, ya ampun kok bisa suami sahabat gue masuk tv!"


"Dih lebay lu." Caramel pura-pura mencibir padahal ia sendiri juga terkejut saat melihat Rafka muncul di layar televisi.


"Di antara banyak orang kenapa dia yang di wawancara sama wartawan, pasti Rafka orang penting."


"Karena dia paling ganteng kali ya." Caramel mulai mengarang cerita sebab ia sendiri tidak tahu.


"Emang gajinya berapa?"


Itu juga Caramel tidak tahu. Walaupun mereka sudah menikah tapi Caramel tidak pernah bertanya soal gaji Rafka. Yang terpenting adalah Rafka bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dulu Caramel sempat berpikir, berapa kah gaji seorang PNS hingga bisa membeli apartemen Kempinski dan mobil BMW.


"Jangan bilang lu nggak tahu, kalau dia selingkuh nggak bakal ketahuan kalau lu sendiri aja nggak tahu gaji suami lu berapa."


"Ih jangan nakut-nakutin gue ya lu." Caramel sewot, ia telah meletakkan semua kepercayaannya pada Rafka. Tidak mungkin Rafka selingkuh karena Caramel tahu semua pin kartu ATM milik Rafka. Soal keuangan Rafka tak pernah membuat Caramel kecewa. Bahkan Rafka selalu memberikan lebih dari yang Caramel butuhkan.


"Nah sekarang mulai muncul nih di FYP gue, pejabat BMKG ganteng, mateng dah lu."


Caramel mengernyit tidak mengerti ucapan Kayla yang terdengar seperti orang melantur. Apa yang mateng?


"Siapa yang muncul emang?"


"Suami lu lah, buka tik tok deh sekarang." Kayla memutus sambungan.

__ADS_1


Sesuai perintah Kayla, Caramel membuka aplikasi tik tok miliknya dan memeriksa apakah Rafka benar-benar muncul disana.


"Lee Minho nya Indonesia?" Kening Caramel berkerut membaca salah satu video tik tok yang menampilkan sosok Rafka di televisi. "Apaan muka Indonesia gitu dibilang Lee Minho." Ia mengerucutkan mulutnya. "Netizen nggak bisa banget lihat yang bening dikit langsung pada heboh."


Anjr*t baru tahu ada pejabat BMKG seganteng ini.


Salfok sama mas yang batik biru


Nikahi aku mas!


Bismillah dapet Mas nya.


Begitu rata-rata isi komentar netizen pada video yang menampilkan sosok Rafka. Caramel melempar ponselnya ke sembarang arah dan menutup kepalanya dengan bantal. Baru saja ia mendapat kabar gembira dari Jane dan sekarang ia harus galau karena Rafka. Caramel sudah menjaga Rafka dari anak-anak ABG hingga rela melewatkan malam minggu dengan berdiam diri di rumah. Sekarang Rafka justru muncul di tv dan dilihat seluruh penduduk Indonesia. Jiwa bucin Caramel semakin meluap-luap tak rela jika suaminya dilihat wanita lain.


"Coba gue bisa karungin dia." Caramel menendang-nendang selimut karena kesal.


******


Perlahan Rafka membuka pintu, pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan yang gelap. Tumben Caramel tidak menyalakan lampu, pikir Rafka. Ia menyalakan lampu dan melepas sepatu, tempat pertama yang ditujunya adalah meja makan.


Rafka tersenyum melihat meja makan kosong, itu artinya Caramel tidak memasak. Rafka selalu tersenyum walaupun tak ada makanan saat ia pulang bekerja, jika ada makanan maka senyumnya akan lebih lebar. Ia bisa memaklumi itu karena saat berangkat kerja tadi pagi, Caramel memang sedang dalam kondisi tidak fit.


"Sayang, aku pulang." Rafka setengah berteriak, ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa dan membuka pintu kamar. Ia melihat Caramel tidur dengan selimut terlempar ke lantai.


"Cara .... " Rafka duduk di pinggir ranjang memeriksa keadaan Caramel. "Kamu udah makan?" Tanyanya.


Mata Caramel begitu berat untuk dibuka, ia tak tahu sudah berapa lama tertidur setelah lelah melihat video tik tok Rafka yang saat ini sedang viral. Caramel menggeleng pelan, ia tidur seperti orang pingsan hingga tak merasakan lapar. Atau ia memang pingsan, Caramel tidak tahu.


"Wajahmu pucat sekali, kamu belum makan apapun sejak aku berangkat?" Rafka mulai panik.


Tak ada jawaban dari Caramel. Rafka menggenggam tangan Caramel yang juga berubah pucat dan dingin seperti es.


"Kita harus ke rumah sakit." Tanpa menunggu lama Rafka mengangkat tubuh Caramel membawanya keluar. Jantung Rafka berdegup kencang melihat tubuh Caramel begitu lemah. Sejak hamil Caramel memang jarang sekali muntah tapi saat itu terjadi, Caramel langsung tak berdaya.


Beberapa orang melihat ke arah Rafka di koridor hingga lobi, pandangan mereka penuh tanya ada apa dengan wanita yang sedang berada di gendongan Rafka. Namun Rafka tidak mempedulikan itu semua, yang terpenting adalah mereka segera sampai di rumah sakit.


"Cara, kamu denger suaraku kan?" Rafka memasang seat belt Caramel sesampainya di mobil, ia memastikan Caramel masih sadar dan bisa mendengar suaranya dengan baik.


Kok gelap sih? jangan-jangan gue mau meninggal!


Caramel membatin ketika ia membuka mata tapi tidak dapat melihat apapun. Caramel takut karena tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia bisa mendengar suara Rafka tapi tidak bisa melihat apapun.


Mobil BMW series coupe putih milik Rafka melaju kencang membelah jalanan kota Jakarta. Ia tak pernah ngebut saat berkendara tapi keadaaan Caramel membuatnya berprilaku tidak biasa.


Caramel ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya terasa kelu, ia ingin minta maaf karena telah banyak menyusahkan Rafka. Caramel ingin berterimakasih karena Rafka telah merawatnya sepenuh hati tanpa mengeluh bahkan ketika ia banyak mengomel, Rafka tetap diam dan sabar.


Mata Caramel tertutup rapat saat Rafka mengangkat tubuhnya disambut oleh dua orang perawat di depan ruang UGD yang terletak paling dekat dengan halaman rumah sakit.


Harusnya aku tidak meninggalkannya sendirian di rumah hari ini.


Rafka menghempaskan tubuhnya ke atas kursi ruang tunggu UGD. Caramel sudah ditangani oleh dokter di dalam sana. Tak ada yang bisa Rafka lakukan selain pasrah dan berdoa agar Caramel bisa diselamatkan.


Rafka menunduk dalam, ia menutup wajahnya dengan dua tangan. Bajunya bergerak naik turun karena menangis, bayangan buruk tentang Caramel terus menghampiri pikirannya. Apalagi mengingat seluruh tubuh Caramel berubah putih pucat dan dingin seperti tak ada darah yang mengalirinya.



Bumil cakep ya 😍

__ADS_1


__ADS_2