
Jakarta, Agustus 2008
Satu per satu murid keluar dari tempat parkir Pelita Nusa sesaat setelah bel pulang sekolah berdering. Motor mereka bergerak perlahan keluar gerbang dengan tertib. Beberapa murid juga duduk di depan sekolah menunggu angkot atau jemputan.
Berbeda dengan murid lain, Rafka justru tidak bergerak masih duduk di bangkunya walaupun ruang kelas sudah kosong. Sesekali ia mengusap telapak tangannya dengan dasi karena berkeringat dingin. Ia tak tahu jika menunggu seseorang membuatnya tegang seperti ini. Jantungnya memacu dua kali lebih cepat hingga seperti hendak melompat dari peradaban.
"Lu yakin dia bakal dateng?" Danu menepuk bahu Rafka dari belakang membuatnya terperanjat.
"Kau mengagetkanku." Kata Rafka tanpa menoleh, ia pikir kelas ini benar-benar kosong tapi rupanya masih ada satu orang yang setia menunggunya, siapa lagi jika bukan Danu.
"Bisa aja cewek itu tuh anggap kamu aneh, nggak kenal tiba-tiba ngirim surat gitu."
"Bukan kah sekarang sudah hal lumrah jika bertukar pesan, kamu juga begitu, setiap saat kamu selalu memencet ponsel itu hingga huruf pada keypad nya luntur."
"Eh kagak usah ngeledek lu bulu hidung hulk." Danu berkacak pinggang kesal dengan ucapan Rafka.
"Aku pergi dulu." Rafka menyampirkan tas sekolah miliknya dan berlalu meninggalkan Danu.
Rafka sengaja mengajak bertemu dengan Caramel di taman sekolah karena itu dekat dengan studio musik yang hari ini tidak dipakai. Rafka akan menunjukkan bahwa origami itu bisa menyala di kegelapan.
Ponsel Rafka bergetar panjang dari dalam saku seragamnya saat ia menuruni tangga menuju lantai dasar. Rafka merogoh sakunya, tertulis nama Febi pada layar ponselnya.
"Kenapa?" Rafka mengawali, ia menduga ada hal yang mendesak karena Febi tak pernah meneleponnya kecuali jika ada hal yang benar-benar penting.
"Abang buruan pulang deh." Suara Febi terdengar panik membuat langkah Rafka terhenti di tangga terakhir. Ia melihat ke arah gerbang sekolah berjaga-jaga jika Caramel datang tapi konsentrasi nya terbagi oleh telepon dari Febi.
"Ada apa?" Rafka memejamkan mata sedikit menjauhkan ponsel dari telinga karena bukannya jawaban Febi yang ia dengar melainkan suara benda pecah dan teriakan seorang lelaki. "Febi kamu tenang dulu ya." Ucapnya agar Febi tidak takut walaupun ia bisa menduga apa yang telah terjadi di rumah.
Akhir-akhir ini keadaan rumah Rafka memang sedang memanas dan terjadi cekcok antara papa dan mamanya. Rafka yang biasanya suka berdiam diri di rumah sekarang lebih sering keluar karena tidak tahan dengan pertengkaran mereka. Diusianya yang menginjak 18 tahun ia mulai mengerti bahwa kehidupan rumah tangga tak selalu mulus seperti jalan tol, terkadang ada banyak lubang yang membuatnya rusak dan bisa membuat orang terluka.
"Bang, Papa berantem sama Mama!" Suara Febi gemetar karena takut.
"Sekarang ada siapa di rumah?" Rafka duduk di salah satu kursi taman menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia mendengar suara orang selain papa dan mamanya dari seberang sana.
Rafka beranjak saat melihat Caramel datang, jantungnya berpacu dengan kencang hingga tangannya yang sedang menggenggam ponsel basah oleh keringat. Caramel tidak melihat ke arah Rafka karena ia tak tahu sosok cowok yang mengiriminya surat. Pandangan Caramel menyapu seluruh taman, ia tampak bingung karena ada beberapa murid disana.
"Papa bawa pulang cewek Bang."
Mata Rafka membulat mendengar jawaban Febi, mulutnya terbuka hendak memanggil Caramel bahwa dirinya ada disini.
"Cewek itu bilang dia hamil anak Papa."
Tubuh Rafka lemas seketika mengetahui hal itu dari Febi. Ia tidak berpikir sejauh itu bahwa papanya akan selingkuh sampai menghamili wanita lain. Rafka menelan salivanya dengan susah payah, ia memutus sambungan dan berlalu dari sana.
Rafka setengah berlari melewati Caramel yang berjalan dari arah berlawanan. Ia tak sempat menyapa Caramel apalagi memberitahu bahwa dirinya lah yang mengirim surat itu. Kesempatan bertemu itu mungkin bisa datang kapan saja karena sekolah mereka bersebrangan. Berbeda dengan keadaan genting di rumahnya, Rafka tak bisa menundanya, ia harus pulang sekarang juga. Rafka tak bisa membiarkan Febi di rumah sendiri dan menyaksikan pertengkaran orangtua mereka. Febi masih terlalu kecil untuk mengalami semua ini.
Sementara itu Caramel celingukan mencari kemungkinan siapa yang mengiriminya surat. Caramel menduga cowok itu tampan dan kaya terlihat dari tulisan tangannya yang rapi dengan bolpoin mahal.
"Berani banget gue nyamperin cowok?" Caramel menahan senyum membayangkan pertemuannya dengan pangeran manis yang menulis surat di zaman modern ini.
__ADS_1
Caramel menoleh untuk melihat cowok yang barusan berpapasan dengannya, "kok hilang?" Tanyanya pada udara—tak ada orang lain disini, ia hanya bisa bertanya pada udara yang bisu. Caramel mengerutkan kening karena cowok barusan sudah tidak terlihat, seperti memiliki kekuatan super berlari cepat.
"Hai!"
Caramel terkejut saat berbalik ia melihat seorang cowok yang berdiri tepat di hadapannya. Untung saja ia bisa mengendalikan mulutnya yang biasanya seperti kaleng Kong Guan kosong—berisik.
"Caramel?" Cowok itu tersenyum lebar melihat name tag pada seragam Caramel, nama yang unik.
Alis Caramel terangkat, matanya langsung tertuju pada name tag cowok tersebut. Rama? jadi si R itu Rama! Pandangan Caramel turun ke bagian tangan murid laki-laki bernama Rama itu, ia membawa sebuah kaset film horor yang juga ditonton Caramel beberapa hari lalu.
"Kamu nonton film itu juga?" Tanya Caramel antusias, akhirnya ia menemukan seorang cowok yang juga suka film horor sepertinya.
"Hm?" Rama mengikuti arah pandang Caramel, "kamu udah nonton?" Tanyanya penasaran.
"Udah." Caramel manggut-manggut.
"Seru nggak?" Rama sama antusias nya dengan Caramel. Ketika dua orang yang memiliki hobi yang sama dipertemukan maka obrolan mereka tak akan ada habisnya.
"Seru banget."
"Kamu juga suka nonton film horor?"
"Suka pakai banget, wah film itu seru banget sih, endingnya—"
"Stop." Rama membungkam mulut Caramel dengan tangannya.
Caramel mendelik, terkejut karena Rama tiba-tiba menutup mulutnya, ah yang benar saja mereka baru bertemu tapi sudah seperti teman lama.
Caramel tertawa renyah, ia pikir Rama terganggu dengan dirinya yang banyak bicara dan sok asyik padahal mereka baru pertama kali bertemu. Namun Caramel tidak menyangka sebelumnya bahwa cowok yang mengiriminya surat itu ternyata memiliki hobi yang sama dengan dirinya. Caramel sudah membayangkan bagaimana keseruan mereka dipertemuan selanjutnya.
"Eh kebetulan aku ada dua tiket nonton Death Bell, kamu mau ikut nggak?"
"Hah?" Mulut Caramel sedikit menganga, kebetulan katanya? dasar modus. Bukankah mereka sudah membuat rencana bertemu? pasti Rama sengaja menyiapkan tiket nonton tersebut.
"Kamu belum nonton ini kan? ini hari pertama rilis."
"Belum."
"Jadi mau nonton sama aku nggak?"
"Boleh deh tapi aku izin dulu sama Mama ku ya." Caramel merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dengan menghubungi nomor mamanya.
Sementara Caramel menelepon mamanya, Rama pergi ke tempat parkir untuk membawa motornya bersiap pergi ke bioskop. Awalnya Rama membuat janji dengan salah satu teman sekelasnya tapi tiba-tiba ia membatalkannya. Namun Rama beruntung bertemu dengan murid sekolah tetangga bernama Caramel itu. Rama seperti tengah diselimuti kabut keberuntungan karena bisa mengajak gadis cantik itu menonton dengannya.
******
Brak!!
Rafka merobohkan sepeda nya begitu saja sesampainya di halaman rumah. Napasnya terengah-engah karena harus mengayuh sepedanya lebih cepat dari biasanya. Ia melihat ada satu mobil asing yang juga terparkir di depan rumah bersama mobil papanya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Rafka mendapati rumah yang biasanya rapi dan bersih saat ini penuh dengan barang-barang berserakan. Bahkan vas bunga berukuran cukup besar di dekat tangga terguling cukup jauh tapi tidak pecah.
Rafka mendelik melihat lelaki yang selama ini dipanggilnya papa menampar mama nya hingga membuat wanita setengah baya itu tersungkur. Rafka berlari menghampiri mereka dan mendorong papanya dengan sekuat tenaga.
"Berani sekali kamu!" Rafka melayangkan tinju di wajah papanya hingga membuat lelaki itu mundur beberapa langkah. Rafka melihat seorang perempuan berdiri tak jauh di belakang papanya dengan ekspresi wajah terkejut.
"Rafka!" Mama Rafka menarik anaknya itu agar tidak lagi menyerang papanya. Walaupun kini sudut bibirnya mengeluarkan darah tapi ia tetap harus melindungi kedua anaknya. "Mama yang salah, kamu jangan pukul Papa." Ucapnya dengan perasaan perih. Dibandingkan dengan luka di sudut bibir, hatinya jauh lebih sakit melihat sang suami membawa pulang seorang perempuan yang tengah hamil besar. Jika bukan karena Rafka dan Febi ia sudah menyerah—pergi dari bumi ini. Namun ia tetap harus berjuang demi kebahagiaan Rafka dan Febi.
Pukulan keras di pipinya ia dapat karena telah meneriaki wanita simpanan suaminya dengan sebutan jal*ng. Ia meluapkan emosinya dengan teriakan itu.
"Kalau kamu berani sentuh Mama saya lagi, kamu akan berurusan dengan saya!" Teriak Rafka dengan wajah memerah karena marah. Lelaki yang dulu selalu berhasil menghibur dan melindunginya kini berubah menjadi orang asing bagi Rafka.
"Rafka, kamu tidak tahu apa-apa, jangan ikut campur!" Tegas papa Rafka.
Rafka tersenyum miring, "bagaimana mungkin kamu membuat saya seperti orang asing?"
"Rafka, maksud Papa bukan begitu." Papa Rafka hendak meraih tangan putranya tapi dengan cepat ditepis oleh Rafka.
"Jangan sebut dirimu Papa!" Teriak Rafka lagi.
"Jaga sikap mu Rafka!" Balas papa Rafka.
Rafka berdecih, bagaimana mungkin seorang yang telah berkhianat bicara soal sikap.
"Pa, sekarang kamu pilih aku dan anak-anak atau wanita itu." Ujar mama Rafka putus asa, ia tak tahu lagi harus bagaimana, sekuat tenaga mempertahankan pernikahan ini tapi dengan rasa sakit atau membiarkan sosok pemimpin keluarga itu pergi bersama wanita lain.
"Aku harus bertanggungjawab terhadap anak yang dikandungnya." Papa Rafka menunduk, ia tak bisa membiarkan wanita yang telah dihamilinya merawat anak mereka sendiri. Ia sudah telanjur jatuh ke lubang itu dan tak ingin keluar dari sana.
Mama Rafka menyembunyikan rasa terkejutnya dengan menarik Rafka ke dalam pelukannya berusaha tetap tegar kala kehilangan laki-laki yang dulu pernah mengatakan begitu mencintainya tapi ternyata memiliki hubungan gelap dengan perempuan lain.
"Kalau gitu pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku." Ucap Rafka dingin, jika nada bicara bisa diukur dengan termometer maka ruangan ini pasti sudah beku oleh suara tersebut.
Febi berlari menghampiri mama dan abangnya setelah sekitar 30 menit bersembunyi di balik dinding kamarnya yang paling dekat dengan ruang tamu. Ia berani keluar setelah papa dan selingkuhannya pergi dari rumah itu.
Mereka berpelukan dengan derai air mata, saling menguatkan satu sama lain. Kehidupan di hari selanjutnya mungkin akan terasa lebih berat tanpa kehadiran seorang ayah. Namun Rafka bertekad akan menjadi sosok pengganti papanya dan sukses dimasa depan agar tetap bisa menjaga senyum di wajah sang mama. Rafka yakin mereka akan tetap bisa tertawa lepas meskipun tanpa papa.
******
"Eh sejak kapan cewek yang lu incer sekarang justru akrab sama tuh anak IPA?" Danu menyenggol Rafka yang sedang membaca buku di sampingnya. Ia menunjuk dengan dagu ke arah Caramel dan Rama di depan gerbang sekolah.
Rafka mengangkat wajah sedikit menurunkan bukunya demi melihat Caramel. Ia juga tidak tahu sejak kapan Caramel mengenal Rama hingga terlihat sangat akrab seperti sekarang.
Ini sudah seminggu berlalu sejak Rafka mengirimi surat kepada Caramel. Keyakinan Rafka soal pertemuan selanjutnya dengan Caramel salah besar, ia tak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan itu. Tak ada hari berikutnya, sekali gagal maka Rafka tak bisa meraihnya lagi.
Mungkin hari itu jika orangtuanya tidak bertengkar maka Rafka bisa menemui Caramel dan mengenal lebih dekat saat ini. Namun semua itu telah terjadi, ketika keluarganya hancur disaat yang bersamaan pertemuan impiannya dengan Caramel pupus sudah.
Pada siapa Rafka harus marah? tak ada. Ia hanya bisa memendam dan memeluk semua rasa sakitnya sendirian. Melihat Caramel tertawa sudah cukup membuat hati Rafka terasa sedikit hangat, walaupun alasan tawa itu bukan dirinya.
.
__ADS_1
Tolong jangan bilang Rafka lebay lagi karena dia larang Caramel untuk berurusan dengan ibu tirinya. Semoga kalian mengerti perasaan Rafka 🥺