
Rafka memeluk Caramel dari belakang melihat tubuh sang istri melalui pantulan cermin di hadapan mereka. Caramel mengusap punggung tangan Rafka, ia sedang memilih pakaian untuk pergi meeting dengan Leo yang merupakan profesional designer Caramel Sleepwear sejak satu bulan terakhir.
Awalnya Caramel memang menggambar sendiri desain untuk produk Caramel Sleepwear tapi setelah bisnisnya tersebut berkembang pesat, ia mencari profesional designer agar produknya bisa menyentuh pasar yang lebih luas. Jadi mereka yang tak satu selera dengan Caramel pun bisa mengenakan piyama dari Caramel Sleepwear.
"Sepertinya Pineapple senang disentuh seperti ini." Rafka mengusap perut buncit Caramel. Rafka bisa merasakan gerakan Pineapple pada perut Caramel saat ia mengusap-usap nya.
"Pineapple bilang selamat pagi sama Papa nya."
"Pagi juga Pineapple." Rafka mengecup perut Caramel.
Usia kandungan Caramel memasuki 20 Minggu tapi karena ada dua janin di dalam sana, perutnya terlihat lebih besar dibandingkan dengan kehamilan pertamanya.
"Papa bantu aku pilih baju ya." Caramel membalikkan badan melihat Rafka.
"Hari ini meeting dimana dengan Leo?" Rafka merapikan rambut Caramel yang sedikit berantakan karena ia menempelkan wajahnya disana barusan.
"Pigeonhole, Jane yang pilih tempatnya setelah itu aku, Jane dan Kayla mau pergi ke salon, udah lama kami nggak ke salon bareng."
"Kalau gitu pakai terusan longgar supaya kamu nyaman bergerak."
Caramel mengurai pelukan di antara mereka dan membuka salah satu pintu lemari dimana ia menyimpan semua baju terusan miliknya.
"Yang mana?"
Rafka melihat koleksi pakaian Caramel dengan serius, seperti Caramel yang selalu memilih pakaian untuknya setiap hari maka Rafka juga harus bisa melakukannya sesekali.
"Hari ini cuaca cerah sampai sore, warna putih tidak akan membuatmu kepanasan."
Diam-diam Caramel tersenyum memilih satu dress berwarna putih dengan sedikit pola bunga di bagian lengannya. Pendapat Rafka akan selalu berhubungan dengan cuaca hari itu. Seperti saat Caramel bertanya ingin makan apa besok maka Rafka akan menjawab 'besok hujan, masak sup ayam saja' dan pertanyaan sederhana lain.
"Itu bagus." Rafka memberi pendapat pada dress A line berwarna putih yang Caramel pilih.
"Oke kalau gitu aku pakai ini." Caramel menarik tali bathrobe yang dikenakannya untuk mengganti pakaian.
"Nanti dokter akan merobek bagian ini lagi?" Rafka menyentuh bekas luka operasi Caramel pada perut bagian bawah.
"Iya." Caramel mengangguk menurunkan bathrobe ke lantai. "Oh iya, abis meeting sama Leo aku ke salon ya sama Jane dan Kayla."
Rafka mengangguk mengizinkan Caramel pergi ke salon, "hati-hati ya." Ia maju selangkah untuk menarik resleting dress Caramel.
__ADS_1
"Makasih sayang." Caramel menatap Rafka intens dan memberi kecupan pada dagu sang suami. Tangan Caramel terulur untuk mengelus punggung Rafka dengan gerakan sensual.
"Jangan." Rafka menahan tangan Caramel.
"Kenapa?" Caramel cemberut, kenapa ia tidak boleh melakukan itu kepada suami sendiri.
"Jangan atau kita tidak jadi pergi."
Caramel tertawa, "emangnya kamu boleh absen, ini hari Senin lo."
"Tidak boleh." Rafka segera keluar dari walk in closet sebelum Caramel kembali menggodanya. Ia paling tidak bisa digoda pagi hari seperti ini atau mereka tak jadi pergi bekerja. Apalagi sejak Caramel hamil, Rafka merasa wanita itu lebih mempesona.
Caramel ikut keluar dari walk in closet setelah selesai berpakaian, ia menemukan sosok Rafka tengah memasukkan kotak bekal pada paper bag.
Melihat Caramel, Rafka segera menyampirkan tas kerjanya menuju pintu. Ia mengambil satu sneaker putih milik Caramel.
"Ayo duduk." Rafka sedikit mendorong bahu Caramel duduk di kursi samping rak sepatu, ia jongkok di lantai dan memasangkan sepatu untuk Caramel. Tanpa diminta Rafka tahu kalau Caramel tidak bisa menunduk karena perutnya mulai mengganjal.
Mereka keluar apartemen dengan membawa mobil masing-masing karena Caramel memiliki urusan lain di luar.
******
Dekorasi Pigeonhole sedikit mengalami perubahan dibanding saat Caramel kesini terakhir kali. Tempat nongkrong sekaligus ngopi tersebut adalah tempat yang bersejarah bagi Caramel dan Rafka karena mereka pertama kali bertemu disini. Jika mengingat hal itu sekarang Caramel bisa senyum-senyum sendiri karena tingkah kaku Rafka sekaligus manis di akhir karena meninggalkan payung untuknya sebelum pulang. Rasanya Caramel ingin bercerita kepada seluruh dunia bahwa sangat asyik memiliki suami yang bekerja di BMKG. Caramel merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan dirinya saat mendapat perlakukan manis dari Rama dulu. Jika Caramel bisa mengumpamakan sikap Rafka itu seperti Stevia—manis tapi tidak membuatnya jadi diabetes.
Caramel tersadar dari lamunannya saat ada seseorang yang memanggilnya di depan pintu. Caramel melihat Leo datang bersama Jane di belakangnya.
"Kok kalian datang bareng?" Caramel menjabat tangan Leo—pria seusia Rafka yang selalu membuatnya takjub terhadap desain-desain piyama nya.
"Enggak kok, emang kebetulan aja nyampe nya bareng." Jane menarik kursi duduk bergabung dengan Caramel disusul Leo.
"Gue belum pesen, sekalian nunggu kalian." Caramel mempersilahkan Leo memesan minuman dan makanan ringan yang ada disana.
Mereka memesan Sonic Boom dan Almond Croissant untuk menemani meeting hari ini. Caramel akan membuat piyama untuk anak-anak karena banyaknya permintaan konsumen. Caramel pikir sepertinya lucu juga jika ia, Rafka dan anak-anaknya nanti mengenakan piyama yang sama untuk photoshoot nanti.
"Ini desain yang aku gambar kemarin, Caramel pengen motif nya nggak terlalu rame meskipun ini untuk anak-anak." Leo menunjukkan tablet nya yang menampilkan sebuah desain piyama.
"Aku suka." Caramel mengangguk, Leo memang selalu membuat desain yang pas dengan keinginannya sehingga satu kali gambar maka Caramel akan langsung menyetujuinya. "Apa bahan yang bagus untuk piyama ini?"
"Kamu bilang ingin bahannya lebih bagus dari piyama dewasa."
__ADS_1
Caramel mengangguk, ia ingin bahan yang nyaman dipakai untuk anak kecil.
"Kita gunakan linen dengan kualitas tinggi."
"Gimana Jane?" Caramel menoleh pada Jane meminta pendapat.
"Boleh." Jane mengangguk.
Mereka membahas hal lain terkait dengan piyama anak yang akan Caramel rilis dalam beberapa bulan ke depan. Caramel ingin menyelesaikannya sebelum ia melahirkan.
******
Sesuai dengan rencana usai meeting dengan Leo di Pigeonhole, Caramel dan Jane pergi ke salon dengan Kayla yang sudah menunggu mereka disana. Caramel ingin creambath dan mengecat kuku nya.
"Eh si Projen tuh, kenapa harus ketemu disini sih?" Jane berbisik pada Caramel ketika ia melihat Elsa di salah satu kursi salon tersebut.
"Projen apaan, lu suka banget ganti-ganti nama orang." Caramel membalas kalimat Jane juga dengan bisikan.
"Tahu nggak orang-orang yang nyari masalah dalam hidup lu itu selalu tokoh-tokoh Projen, nah itu Elsa terus yang kemarin Anna, udah lengkap."
"Udah diem." Caramel membekap mulut Jane agar berhenti bicara.
Mereka bertiga duduk di kursi yang telah disediakan. Tiga karyawan salon masing-masing memotong kuku kaki mereka setelah memberikan pelembap dan merendamnya dalam air hangat selama 15 menit.
"Kaki Ibu bengkak?" Karyawan salon yang tengah memotong kuku Caramel mendongak melihat Caramel.
Caramel melihat kakinya, ia juga tidak sadar kalau mereka bengkak. Saat hamil Arnesh pun kaki Caramel bengkak sejak usia kandungan 20 Minggu.
"Iya nggak apa-apa, lanjutin aja motong kukunya."
"Kalian disini juga?" Elsa beranjak menghampiri Caramel, Jane dan Kayla, ia mengibaskan rambut yang sepertinya baru selesai diwarnai.
"Kenapa? nggak boleh, emang ini salon punya Tante lu?" Jane nyolot, ia tidak suka berurusan dengan wanita bernama Elsa itu lagi. Meski Elsa tidak menggoda suami Jane, tapi sebagai sahabat Jane ikut marah ketika Elsa menganggu kehidupan rumah tangga Caramel dan Rafka.
"Biasa aja kali, kok ngegas." Elsa memutar bola matanya.
Mereka melihat kedatangan pria dengan setelan jas yang langsung disambut oleh Elsa.
"Makasih sayang, udah jemput." Elsa merangkul pria itu dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
Caramel, Jane dan Kayla yang melihatnya sontak membelalak karena Elsa melakukan adegan kiss itu di depan umum. Mereka memang pasangan tapi sungguh tidak etis jika mengumbar kemesraan di depan umum.
Mereka segera mengalihkan pandangan ke arah lain saat Elsa menyudahi ciumannya. Caramel berpikir mungkin Elsa sengaja menunjukkan pasangannya pada mereka untuk membuat Caramel lega. Namun sebenarnya Caramel tak begitu terusik dengan keberadaan Elsa yang mencoba menarik perhatian Rafka karena ia percaya Rafka tak akan terpengaruh.