
"Cie pengantin baru, wajahnya seger amat sih!" Meli mentowel pipi Caramel sambil tersenyum genit.
"Aura nya makin keluar!" Timpal Sani.
Caramel hanya geleng-geleng melihat dua temannya sesama Teller yang sangat gemar menggodanya. Dulu saat Caramel belum menikah mereka selalu menggodanya dengan kalimat seperti buruan nikah dong, keburu kiamat! ya ampun Caramel betah banget jomblo nya. Move on dong Car, cowok bukan cuma satu di dunia ini.
"Kantung mata kalian kelihatan banget sih, jangan-jangan semalem begadang ya." Caramel balas menggoda mereka, "bahkan concealer itu nggak bisa nutupin mata panda nya."
"Iya mau bikinin Shila Adek nih." Meli tertawa, Shila adalah nama anak pertamanya.
"Car, suami lu belum cabut tuh, emang semalem kurang ya kok masih lihatin mulu." Sani menunjuk ke arah halaman dengan dagunya.
Caramel menoleh, Rafka tampak tersenyum kepadanya. Caramel mendelik dan mengedipkan mata, kepalanya sedikit miring memberi kode agar Rafka segera pergi dari sana. Jika tidak pasti Meli dan Sani akan melancarkan aksi menggoda Caramel lagi.
Rafka akhirnya masuk ke mobil dan melesat dari halaman bank tempat Caramel bekerja. Bukan karena ia peka pada kode Caramel, tapi karena sudah lelah akibat terlalu lama berdiri memperhatikan istrinya.
"Nanti sore kasih lagi." Bisik Meli.
"Kasih apaan?" Caramel melirik Meli, seingatnya ia telah melakukan kewajibannya sebagai istri tentu saja sebelumnya sudah lebih dulu bersuci setelah datang bulan.
Caramel berharap usaha mereka berhasil menghasilkan zigot yang membelah menjadi embrio dan akhirnya menjadi janin. Itu istilah-istilah yang sering Caramel dengar saat SMP dulu pada mata pelajaran IPA.
"Kasih makan yang banyak biar nggak kurus kayak elu." Sani melenggang meninggalkan dua temannya, ia bersiap berdiri di belakang resepsionis.
Caramel berdecih membalas ucapan Sani, ia ikut berdiri di samping Sani disusul Meli.
Akhirnya setelah seminggu libur, Caramel kembali melakukan aktivitasnya bergelut dengan ratusan juta uang yang sayangnya bukan miliknya. Berdiam diri di apartemen membuat Caramel bosan karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan tanpa Rafka. Apalagi Jane dan Kayla tidak bisa berkunjung setiap hari. Keluar apartemen pun Caramel takut karena khawatir tiba-tiba bertemu dengan Rama. Caramel senang ia kembali bekerja, mencium aroma uang yang tak terlalu enak tapi anehnya ia menyukai itu, mungkin karena ini adalah pekerjannya.
"Silahkan nomor satu." Caramel berseru melihat kepada mereka yang sedang duduk menunggu nomor antrean nya disebutkan.
"Caramel ku yang manis akhirnya kembali." Seorang lelaki berusia 60 tahunan menghampiri meja, ia menyodorkan buku tabungan kepada Caramel.
"Halo Kakek, gimana kabarnya, sudah sarapan belum?" Caramel menebar senyum ramah kepada kakek bernama Sudin tersebut, mereka kenal baik karena kakek rutin datang untuk menabung atau tarik tunai. Walaupun Caramel sudah mengajarkan si kakek untuk melakukan tarik tunai melalui mesin ATM tapi kakek tetap datang kesini.
__ADS_1
"Kakek kesayangan lu, dari dua hari yang lalu kesini mau nabung karena nggak ada elu, dia balik lagi." Lirih Meli dekat telinga Caramel.
Caramel menahan senyum mendengar ucapan Meli, sejak pertama kali bekerja disini kakak Sudin memang lebih suka dilayani olehnya.
"Tentu saja Kakek sudah sarapan, Nenek masak enak pagi ini." Kakek nyengir memperlihatkan deretan giginya yang masih rapi walaupun sudah cukup tua.
"Oh ya? Nenek memang ahlinya." Caramel jadi ingat kalau pagi ini hanya membuat telur goreng untuk sarapan, apa itu bisa dikatakan memasak. Padahal Caramel sudah meniatkan diri memasak makanan sehat untuk Rafka tapi ... salah dia bikin aku kecapekan.
"Kakek dengar kamu sudah menikah, selamat ya."
"Makasih Kek, aku berharap bisa langgeng seperti Kakek dan Nenek." Caramel segera memproses uang kakek yang sudah lebih dulu dihitungnya sebelum masuk ke nomor rekening.
Diusia senjanya kakek masih rajin bekerja di toko ramuan herbal yang telah dirintisnya sejak belum menikah. Kini 3 anaknya masih-masing sudah menikah dan memiliki anak tapi tak ada yang tinggal bersama kakek, hanya sesekali pulang ke Jakarta menengok keadaan orangtuanya.
"Makasih ya, lain kali Kakek kesini bawakan masakan untuk kamu." Kakek menerima kembali buku tabungannya.
"Nggak usah repot-repot Kek." Tak jarang kakek pergi kesini dengan istrinya membawa berbagai makanan untuk Caramel dan dua temannya itu.
"Nggak repot, ya sudah Kakek pergi dulu." Kakek melangkah pelan meninggalkan meja, tubuhnya terlihat sedikit bungkuk karena usia.
******
Caramel membeli banyak test pack di apotek tepat di samping bank tempatnya bekerja, ia sengaja membeli banyak agar bisa sering melakukan tes kehamilan. Ia tidak tahu apakah ini bisa disebut lebay atau berlebihan, tapi bukankah hal wajar jika seseorang yang baru saja akan menjadi ibu terlalu bersemangat mempersiapkan segalanya.
"Hujan? perasaan barusan masih terang." Caramel melihat keluar dinding kaca saat hendak membayar semua test pack yang ia beli, ada sekitar 10 buah dengan jenis berbeda. "Hm? Rafka!" Caramel segera mengambil kembalian dan keluar apotek melihat Rafka turun dari mobil membawa payung.
"Rafka!" Teriak Caramel seraya melambaikan tangan pada suaminya, Rafka urung melangkah ke teras bank saat melihat Caramel justru berada di apotek. Ia menatap sosok Rafka yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan wajah datar, ia menyunggingkan senyum paling manis kepada suaminya. "Basah nggak?" Ia melihat seluruh tubuh Rafka dari atas hingga ke bawah.
"Tidak." Jawab Rafka.
"Lihat deh, aku beli banyak test pack!" Caramel memperlihatkan bungkusan plastik yang dibawanya penuh semangat.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Ya buat persiapan, siapa tahu aku tiba-tiba telat datang bulan bisa langsung tes deh."
"Ayo segera masuk ke mobil." Rafka merangkul bahu Caramel agar payung yang tak terlalu besar itu cukup untuk mereka berdua.
"Besok hujan nggak?" Tanya Caramel saat mereka sampai di mobil.
"Kemungkinan besar iya." Rafka mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.
Caramel manggut-manggut melihat keluar jendela, memperhatikan tetesan air yang mengenai kaca tersebut. Bukankah hujan terasa menyenangkan bagi pasangan yang baru menikah, tapi Caramel tidak merasakannya apalagi wajah Rafka masih konsisten datar seperti permukaan kaca.
Rafka menggenggam tangan Caramel ketika mereka sampai di lobi apartemen yang lengang.
"Eh!" Caramel memekik saat ada bola kecil menggelinding mengenai kakinya, ia mengambil bola tersebut dan melihat Ara berlari ke arahnya.
"Maaf Tante, Ara nggak sengaja." Kata si kecil Ara, ia menatap Caramel dengan mata sayu.
Caramel mengerjap, mata itu memang mirip sekali dengan milik Rama. Ia mengembangkan senyum dan menyodorkan bola tersebut pada Ara. Walaupun marah pada Rama, Caramel tidak mungkin ikut-ikutan marah pada Ara yang tidak tahu apa-apa. Caramel tetap menyukai anak kecil manapun termasuk anak Rama dan Adena.
"Ini bola kamu, lain kali hati-hati ya." Pesan Caramel pada Ara, ia mengusap puncak kepala Ara sesaat.
"Ara, Mama kan udah bilang tungguin Mama jangan lari duluan." Di belakang Ara, Adena menyusul, ia melihat Caramel dengan sorot mata tajam.
Caramel tersenyum miring, ia jadi bertanya-tanya ada apa di balik tatapan tersebut? apakah Adena membencinya? bukankah seharusnya ia yang membenci Adena karena telah menjadi orang ketiga pada hubungannya dengan Rama. Namun Caramel tidak mau menyimpan rasa benci menguasai hatinya, itu hanya akan menjadi penyakit untuk dirinya sendiri toh kejadiannya sudah sangat lama.
"Ayo." Rafka menarik tangan Caramel agar segera pergi dari sana sebelum Rama muncul di hadapannya dan membuatnya kembali emosi.
"Kenapa dia lihatin aku begitu?" Gerutu Caramel saat mereka masuk ke dalam lift, ia kesal Adena memandangnya seperti itu. Sudah untung Caramel tidak menjambak rambut Adena karena telah merebut Rama dulu.
"Karena lipstik kamu belepotan." Jawab Rafka.
"Hah? serius! kok kamu baru bilang sih." Caramel langsung mengambil ponselnya untuk bercermin. Ia memang memoles lipstik tanpa cermin tadi sebelum keluar dari tempat kerjanya. "Mana, bersihin dong." Pintanya pada Rafka.
"Bohong." Rafka menahan senyum melihat Caramel panik hanya karena lipstik, kini ia tahu apa arti penampilan bagi seorang perempuan.
__ADS_1
"Rafka!" Geram Caramel, ia memasukkan ponsel dan memukul lengan suaminya cukup keras tapi bukannya kesakitan, Rafka justru tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Caramel. "Udah belajar jahil ya kamu sekarang."
Rafka hanya mengedikkan bahu, setidaknya itu bisa membuat Caramel lupa akan rasa kesalnya pada Adena.