Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Lima


__ADS_3

Sepanjang malam Caramel gelisah tidak sabar ingin pagi segera tiba. Langit masih gelap ketika Caramel membuka mata setelah terlelap sebentar, ia meraba-raba nakas dan menyalakan ponselnya, pukul 4:30 pagi. Caramel melirik Rafka yang masih terlelap, ia tak tahan lagi ingin segera ke kamar mandi.


Semalam Caramel telah menyiapkan beberapa tes pack di kamar mandi yang akan ia gunakan pagi ini. Caramel telat datang bulan 6 hari, tadinya ia hendak menunggu hingga 1 Minggu tapi ia tidak bisa menahan diri lagi ingin segera mengetes apakah ia positif hamil. Seingatnya dulu Caramel baru telat seminggu saat menggunakan test pack dan melihat ada 2 garis disana, itu ketika ia hamil Arnesh.


Tangan Caramel gemetar saat mencelupkan tes pack ke dalam urine nya. Ia memejamkan mata menunggu beberapa detik untuk melihat hasilnya. Hanya beberapa detik tapi itu jadi terasa sangat lama karena Caramel tengah menunggu. Caramel berharap hasilnya sesuai dengan bayangannya, ia ingin segera hamil meski Rafka tidak menyetujuinya.


"Tunggu bentar lagi aja." Caramel mondar-mandir di kamar mandinya yang luas, dua kali lebih luas dari kamar mandi di rumah orangtuanya dulu. Caramel mencuci tangan untuk mengulur waktu dan bercermin merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Mata Caramel membulat setelah mengangkat test pack tersebut dari wadah kecil khusus urine. Hanya ada satu garis pada benda tipis tersebut. Caramel mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengucek nya berharap garis pada test pack itu bertambah menjadi dua.


"Enggak-enggak ini pasti salah." Caramel membuka bungkus test pack dari merek lain. Caramel meneteskan urine nya pada test pack yang menghasilkan tanda - atau +.


Mata Caramel memanas seperti ditusuk-tusuk jarum bersiap mengeluarkan airnya saat melihat tanda negatif pada test pack kedua. Mereka sama-sama menunjukkan bahwa Caramel tidak hamil.


"Arrgh!" Caramel menjerit membanting wadah urine dan test pack ke lantai penuh emosi, ia terduduk memeluk lututnya dengan menyedihkan. Caramel memang tak seharusnya menaruh harapan terlalu tinggi tapi ia amat menantikan kehadiran janin di rahimnya lagi.


Rafka terbangun mendengar suara benda jatuh dari kamar mandi, ia meraba kasur di sampingnya—kosong—ia beranjak turun dari tempat tidur melihat lampu kamar mandi menyala, itu artinya Caramel ada disana.


"Ada apa?" Rafka terkejut melihat test pack berserakan, ia menghampiri Caramel yang tertunduk memeluk lutut. "Kenapa Caramel?" Rafka bertanya dengan lembut.


"Rafka." Caramel mendongak hingga terlihat wajahnya yang basah oleh air mata. Rafka tak kuasa melihat Caramel menangis lagi, ia menarik Caramel agar berdiri. "Sudahlah sayang .... " Ia memeluk Caramel untuk menenangkannya. Rafka tahu apa yang terjadi, pasti test pack itu tidak menunjukkan hasil yang Caramel harapkan. Dari awal Rafka memang ingin menunda kehamilan Caramel tapi sang istri tetap bersikeras ingin segera hamil. Namun melihat Caramel seperti ini Rafka amat terpukul. Rafka ingin mengambil penderitaan dan kesedihan Caramel hanya untuk dirinya.


"Aku udah telat enam hari, aku pikir itu tanda kalau aku hamil tapi ternyata—"


"Ssshhh aku yakin kita pasti berhasil tapi mungkin nggak sekarang, kita punya banyak waktu sayang." Rafka mengusap punggung Caramel.


"Bagaimana kalau kita pergi liburan."


"Hm?" Caramel melepas pelukan mendongak menatap Rafka, "liburan kemana?"


"Kamu mau ke gunung atau pantai?" Rafka mengusap air mata Caramel dan menciumnya.


"Gunung." Jawab Caramel asal, sebenarnya ia memang suka traveling jadi apapun tempat wisatanya ia akan suka. Namun setelah menikah dan memiliki bisnis sendiri Caramel jadi tidak memiliki kesempatan untuk pergi traveling. Selain itu Kayla dan Jane juga punya kesibukan masing-masing.


"Ayo kita ke Bandung." Rafka pernah mendengar soal Tebing Keraton di Bandung yang katanya memiliki pemandangan sangat indah, Danu pernah bercerita soal tempat tersebut pada Rafka.


"Kapan?"


"Hari ini."


"Hari ini?" Ulang Caramel, "emangnya kamu bisa pergi mendadak?"


"Aku akan mengaturnya." Rafka mengulas senyum teduh, "pergilah bersiap."

__ADS_1


Kemanapun Caramel ingin pergi Rafka akan menurutinya asal wanita itu bahagia. Beberapa waktu yang lalu saat mereka menemui dokter untuk berkonsultasi apakah aman bagi Caramel untuk hamil lagi, dokter bilang tak ada masalah asal Caramel menjaga kondisinya dan tidak bekerja terlalu berat.


Caramel membereskan test pack yang berserakan di atas lantai dan membersihkan urine nya. Caramel mengalami hal terberat dalam hidupnya saat ini, tapi Rafka selalu berhasil menghibur dan menenangkannya. Caramel tak tahu bagaimana nasibnya jika tak ada Rafka disini.


Ini adalah ketiga kalinya Caramel mendapat satu garis dari test pack yang ia gunakan. Perasaannya selalu sama, sedih, kecewa dan marah. Biasanya satu atau dua hari setelah Caramel menggunakan test pack, ia akan datang bulan yang membuat emosinya semakin tidak menentu.


Disaat seperti ini Rafka selalu punya cara untuk mengalihkan pikiran Caramel dari kesedihannya. Rafka tak seperti orang lain yang hanya bisa mengatakan, 'jangan stres, jangan terlalu banyak pikiran supaya berhasil' pada Caramel. Alih-alih mengucapkan itu, Rafka memilih untuk memperlakukan Caramel sebaik mungkin dan menghiburnya. Sebab Rafka mengerti perkataan itu tak ada artinya bagi Caramel.


******


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam akhirnya Caramel dan Rafka sampai di kawasan Pine Hill, Cibodas. Tempat yang sama dengan berlangsungnya pernikahan mereka dulu. Barisan hutan pinus menyambut kedatangan mereka bersama dengan hamparan rumput hijau di bawahnya. Sinar matahari tidak dapat menembus permukaan rumput tersebut karena terhalang pohon pinus.


Sebelumnya Caramel juga mampir ke tempat konveksi yang menjahit semua produk Caramel Sleepwear untuk melihat kondisi disana setelah lama tidak mengunjunginya. Namun mereka bilang Jane atau Rafka sesekali datang. Caramel bahkan tidak menyadari bahwa Rafka pergi ke Bandung karena ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan kesedihannya.


"Wah udara pegunungan emang enak banget." Caramel merentangkan tangan memejamkan mata menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya. Ia melepas alas kakinya merasakan empuk nya rumput yang sedikit basah bekas embun pagi tadi. Beruntung tempat tersebut sepi sehingga mereka bisa leluasa mendirikan tenda disana nanti.


"Kamu suka?" Rafka tersenyum dengan sendirinya melihat Caramel.


"Suka banget, nggak pengen pulang." Caramel mengalihkan pandangan pada Rafka dengan senyum lebar.


"Mau tinggal disini?" Rafka merangkul Caramel dari samping.


"Tinggal?" Caramel menoleh hingga jaraknya sangat dekat dengan wajah Rafka. "Ini bukan rumah kita." Ia menggeleng gugup karena berada sedekat ini dengan Rafka. Mereka memang telah menikah lebih dari satu tahun tapi Caramel masih saja gugup ditatap seperti itu oleh Rafka.


"Hm?" Caramel mengerjap dan mengangkat alisnya, ia asyik menamati lekuk wajah sang suami hingga tidak segera sadar akan ucapan tersebut. "Iya."


Mereka membawa satu tenda yang tidak terlalu besar cukup untuk berdua. Karena dulu Rafka pernah menjadi anggota OSIS dan sempat beberapa kali berkemah, ia bisa mendirikan tenda dengan mudah tanpa kebingungan.


"Mendung ya, semoga nggak hujan." Pandangan Caramel menengadah ke atas langit yang mendung.


"Kita alasi lagi ya jaga-jaga kalau nanti hujan." Rafka menggelar alas lagi berjaga-jaga jika nanti hujan. Namun kalaupun hujan suasana pasti akan lebih romantis.


"Udah laper belum?" Caramel mengeluarkan alat pemanggang dari mobil, ia membawa daging dan sosis untuk dipanggang nanti. Sebenarnya tujuan utamanya kesini adalah untuk makan, kapan lagi ia bisa makan di atas rumput dengan pemandangan hutan pinus.


"Lumayan."


Rafka juga menggelar alas di depan tenda dan meletakkan kompor serta alat pemanggang di atasnya.


"Aku mau ayam." Caramel membuka bungkus daging ayam dan sapi dengan penuh semangat tidak sabar ingin menyantap mereka.


Rafka menusuk sosis sebelum meletakkannya di atas panggangan agar lebih mudah saat hendak memakannya. Ia mengoleskan bumbu di atas sosis serta daging hingga mengeluarkan aroma asap yang membuat mulut mereka penuh air liur.


"Kita nggak usah makan nasi soalnya aku bawa daging banyak."

__ADS_1


"Kamu membawa semua daging di kulkas?"


"Iya, aku sengaja ngosongin perut biar bisa makan banyak." Caramel menepuk-nepuk perutnya yang rata hasil dari perawatan klinik beberapa bulan lalu. Anehnya Caramel ingin perutnya segera kembali buncit meski itu mengganggu penampilannya.


Langit mulai gelap setelah mereka selesai memanggang daging dan memakannya. Mereka telah menghabiskan beberapa bungkus daging ayam, sapi dan sosis menyisakan beberapa lembar selada.


Dingin semakin menusuk kulit ketika matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Bunyi tonggeret dan jangkrik bersahut-sahutan enggan membiarkan suasana sepi. Suara musik alami yang jarang ditemukan di tengah kota berpadu dengan desiran angin dan rintik hujan.


"Pakai selimut." Rafka datang membawa selimut kecil dan menyampirkan nya pada punggung Caramel yang sedang duduk di atas rumput menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam menghilang tanpa pelampung.


"Ternyata setiap detik yang kita lewati itu sangat berharga, kita nggak boleh menyia-nyiakannya." Caramel merapatkan selimut hingga membalut badannya yang sudah terbungkus jaket.


"Aku selalu melalui setiap detik yang berharga itu bersama mu, aku tidak pernah membiarkan sedetikpun lewat begitu saja." Rafka menyiapkan anak rambut Caramel ke belakang telinga agar menutupi wajah cantik wanita itu.


"Lihat matahari pelan-pelan tenggelam sampai bener-bener bikin langit gelap aku jadi tahu kalau waktu cepat berlalu."


"Dulu ini adalah tempat pernikahan kita, waktu memang begitu cepat berlalu."


Caramel tersenyum getir, "nikah, hamil, punya anak terus sekarang tiba-tiba kita cuma berdua lagi."


"Ini kopi mu." Rafka memberikan segelas kopi yang dari tadi dipegangnya pada Caramel menunggu hingga kopi tersebut tidak terlalu panas untuk Caramel.


"Makasih ya." Caramel menghirup aroma nikmat kopi yang baru diseduh. Bagi Caramel kopi itu ajaib karena hanya dengan menghirup aromanya saja membuat pikirannya menjadi tenang. Caramel meneguknya sedikit hingga merasakan kehangatan dari kopi menyebar ke seluruh tubuhnya.


"Nanti kita kesini lagi, entah itu satu atau dua tahun ke depan setelah kita bertiga atau berempat."


Caramel mengangguk berkali-kali, ia menekan lehernya yang terasa sakit karena menahan tangis. Ia tak ingin menangis lagi dan membuat Rafka khawatir. Rafka sudah menyetir berjam-jam demi membawa Caramel ke tempat indah ini dan Caramel tidak mau mengacaukan acara mereka dengan menangis.


"Sebaiknya kita masuk tenda, hujan semakin deras." Rafka beranjak menarik tangan Caramel agar segera masuk ke tenda. Tadinya rintikan hujan tidak segera mengenai permukaan tanah karena harus melewati daun-daun pinus yang rimbun. Namun saat hujan semakin beras menghujam bumi, mereka tak lagi berada di luar tanpa kebasahan.


"Kalau airnya merembes dari bawah, kita nggak bisa tidur disini." Caramel segera masuk ke dalam tenda duduk bersila di atas matras.


"Semoga nggak tembus." Rafka menarik resleting tenda agar tertutup sepenuhnya. "Kamu suka berkemah?" Ia duduk menghadap Caramel.


Caramel menggeleng, "gelap." Katanya. "Apalagi dulu biasanya kakak-kakak kelas suka nakutin pakai cerita horor, aku nggak punya kesan yang indah waktu kemah, kecuali satu hal."


"Apa itu?"


"Waktu persami kelas sepuluh ada cowok nyamperin aku dan ngasih aku lilin, dia bener-bener berjasa untuk kelangsungan hidup ku."


Rafka tersenyum, itu adalah dirinya.


"Dan ajaibnya dia yang akan paling berjasa untuk sisa kehidupan aku setelah ini." Caramel menarik tangan Rafka dan menggenggamnya.

__ADS_1


Dengan sinar temaram dari lampu portable di sudut tenda Caramel masih bisa melihat wajah tampan Rafka yang selalu terlihat tulus dan penuh kasih sayang.


__ADS_2