
Jadiin Rafka modelnya dong
Kalau Rafka yang jadi modelnya, aku mau beli 10 lusin piyamanya!
Tolong keluarin piyama cowok versi Rafka Min
Coba Rafka yang jadi model pasti lebih bagus.
Caramel mengerucutkan mulutnya membaca komentar di akun Instagram Caramel Sleepwear, itu adalah komentar pada foto piyama yang baru launching kemarin. Mereka harus menunda peluncuran produk baru Caramel Sleepwear karena Caramel tidak bisa langsung pulang ke Jakarta saat itu. Namun akhirnya produk kedua Caramel Sleepwear bisa segera dikirim ke costumer yang sudah melakukan pre order.
"Susah-susah gue milih model eh mereka pada minta Rafka." Caramel menggerutu kesal, ia telah menggunakan model profesional untuk photoshoot produk Caramel Sleepwear tapi mereka justru meminta Rafka yang melakukannya.
Caramel curiga mereka hanya berkomentar tapi tidak membeli satu potong piyama pun. Mereka hanya modus ingin melihat foto Rafka. Pada akun Instagram nya, Caramel jarang memposting foto Rafka karena sang suami memang tidak mau fotonya ada di media sosial. Begitupun di Instagram Rafka, ia tak pernah memposting foto apapun kecuali Caramel yang melakukannya. Lagi pula sejak awal Rafka memang tidak ingin belajar soal media sosial yang saat ini banyak digunakan. Hidup Rafka hanya untuk Caramel, Arnesh dan klimatologi.
Caramel menoleh ke arah pintu saat mendengar bel apartemennya berdenting dua kali. Ia meletakkan laptop yang dari tadi ada di pangkuannya dan beranjak untuk membuka pintu. Sebelum membuka pintu, Caramel mengintip keluar melalui lubang kecil pada pintu. Sejak kejadian itu Caramel jadi lebih waspada apalagi saat ini tidak ada orang lain di apartemen, hanya dirinya dan Arnesh. Caramel tidak mau hal buruk terjadi lagi seperti dulu. Walaupun Rama telah berada di penjara tapi Caramel tetap tidak bisa tenang sepenuhnya. Caramel takut jika hal yang tak diinginkan terjadi pada keluarga mereka bersangkutan dengan Rama.
"Mama bukan ya?" Caramel menutup satu mata agar pandangannya lebih fokus pada seseorang di luar sana. Setelah meyakinkan diri akhirnya Caramel membuka pintu. "Mama!" Ia menebarkan senyum melihat Sandra—mama tiri Rafka berada di depan pintu bersama papa Rafka.
"Apa kabar Caramel?" Bayu menyapa Caramel lebih dulu.
"Baik, Pa kalian gimana?" Caramel mencium tangan keduanya dengan sopan, meskipun Rafka tidak juga berdamai dengan mereka tapi Caramel tetap menghormati Sandra dan papa mertuanya.
"Kami baik, semoga kedatangan kami nggak ganggu waktu kamu." Sandra memeluk Caramel singkat.
"Sama sekali enggak Ma, ayo masuk." Ajak Caramel. "Aduh kalian bawa apa?" Ia terkejut melihat kotak besar yang berada di belakang mereka.
"Harusnya kami datang lebih awal." Bayu mendorong masuk kotak besar yang terbungkus kertas kado, ia dan Sandra mencoba memilih kado terbaik untuk cucu mereka Arnesh. "Kami harap barang ini berguna untuk Arnesh dan kamu." Ucapnya.
"Makasih Pa, Ma, apapun itu pasti berguna buat Arnesh."
"Arnesh dimana?" Sandra melihat Caramel, ia tidak sabar ingin segera bertemu Arnesh.
"Ini nih anaknya dari tadi tidur." Caramel melangkah mendekat ke box Arnesh yang berukuran lebih kecil dari pada box di kamar. Rafka sengaja meletakkan box itu di ruang tengah agar saat Caramel ingin bekerja di luar kamar, Arnesh tetap berada dalam pengawasannya.
__ADS_1
Sandra langsung mengangkat tubuh Arnesh dan menggendongnya, ia ingin pergi kesini sejak beberapa hari yang lalu tapi karena bingung memilih hadiah, mereka harus menundanya hingga hari ini.
"Mirip Mamanya banget ya." Sandra duduk di sofa di samping Bayu setelah memberikan kecupan di pipi kemerahan Arnesh beberapa kali karena gemas.
"Orang-orang juga bilang gitu, Ma." Caramel membereskan laptop dan buku catatannya yang berserakan di atas meja. "Maaf Pa, Ma berantakan banget aku belum sempet beresin." Ia nyengir malu karena keadaan apartemennya cukup berantakan saat mereka datang.
"Aduh, udah Caramel kami ngerti kok kamu pasti sibuk karena harus ngurus Arnesh, kalau ada pendapat yang bilang perempuan harus bisa semuanya itu menurut Mama salah besar."
"Jadi maksud Mama, kita nggak harus kerjain semuanya gitu?" Caramel mengangkat alisnya.
"Ya, kita udah cukup capek ngurus anak dan suami, harus masakin mereka bahkan sampai kita sendiri lupa makan apalagi kamu juga kerja, that's fine kalau kamu nggak sempet bersih-bersih rumah." Sandra tersenyum.
Caramel ikut mengulas senyum, walaupun usia Sandra hanya beberapa tahun di atas Caramel tapi pemikirannya sangat dewasa. Caramel bersyukur karena baik Mama Rafka maupun Sandra tak ada yang menurutnya untuk menjadi menantu sempurna dalam pandangan kebanyakan orang. Caramel merasa beruntung karena Rafka pun demikian—tak pernah menuntutnya menjadi istri yang sempurna menurut kebanyakan orang, Rafka memandang Caramel berdasarkan sudut pandangnya sendiri tanpa terpengaruh oleh pendapat orang di luar sana. Caramel tetaplah istri sempurna di mata Rafka.
Kini Caramel mengerti semua pertanyaannya di masa lalu akhirnya terjawab juga. Dulu Caramel merajuk pada Tuhan, ia bertanya mengapa harus dirinya yang gagal nikah bukan orang lain, mengapa Rama menghilang disaat hari pernikahan sudah di depan mata, saat mereka sudah menyiapkan baju pernikahan bahkan menyebar undangan, mengapa harus dirinya yang menanggung rasa malu dan sedih itu sendirian. Sekarang semua mengapa nya telah terjawab oleh kedatangan Rafka yang seolah menjadi air bagi Caramel yang telah layu dan hampir mengering. Kini Caramel bersemi kembali.
"Arnesh minum susu formula nggak?" Tanya Sandra.
"Enggak Ma, alhamdulillah ASI aku lancar jadi Arnesh nggak perlu minum susu formula." Caramel meletakkan laptop dan bukunya pada rak di bawah tv agar tidak berserakan di meja.
"Papa tenang aja aku juga pakai botol kok, karena kalau aku harus keluar Arnesh minum susunya dari botol jadi sterilizer itu berguna banget buat aku, makasih Papa udah inisiatif."
"Tuh kan barang yang aku pilih pasti nggak ada yang sia-sia." Bayu tersenyum bangga karena telah memilih kado yang tepat untuk Arnesh dan Caramel.
"Papa minum kopi nggak?" Caramel beranjak hendak membuat minuman untuk mertuanya.
"Minum kok, bikin dua sekalian." Sahut Sandra.
"Mama juga suka kopi?"
"Cinta banget sama kopi."
"Wah kita sama, Ma cuma aku lagi ngurangin minum kopi sih sekarang."
__ADS_1
"Ya, kamu harus banyak minum air putih."
"Ya udah aku bikin kopi dulu." Caramel pergi meninggalkan mereka menuju ruang makan dimana mesin kopinya berada. Caramel punya banyak stok kopi kapsul karena saat ini ia jarang minum kopi. Mesin kopi itu sangat memudahkan pekerjaan Caramel, karena meskipun pecinta kopi ia tidak bisa meracik kopinya sendiri.
Caramel menoleh ke arah pintu mendengar bel berdenting, "Rafka udah dateng?" Tanyanya pada diri sendiri, tapi ini bukan jam pulang Rafka.
Saat hendak membuka pintu ia melihat papa mertuanya lebih dulu melakukannya. Caramel membiarkan Bayu membuka pintu sementara ia melanjutkan aktivitasnya membuat kopi.
Caramel mengeluarkan dua toples kue kering dari lemari dapur, ia sudah membeli banyak kue untuk para tamu yang datang. Caramel memilih cookies dengan rasa gula palem dan almond crasis untuk mertuanya. Caramel meletakkannya pada nampan bersama dengan dua gelas kopi yang mengepulkan asap.
Mata Caramel membelalak kala melihat pemandangan di hadapannya saat ini, hampir saja ia menjatuhkan nampan yang dipegangnya karena terkejut.
"Mama?!" Caramel tertegun melihat mama Rafka datang.
Bayu dan mantan istrinya sama-sama terpaku di depan pintu, tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Mereka tak tahu cara mengusir kecanggungan itu setelah bertahun-tahun tidak pernah bicara lagi. Mereka bercerai karena perselingkuhan sehingga sampai sekarang hubungan keduanya memang tidak baik.
"Mama bawa apa?" Caramel berusaha menyudahi ketegangan di antara mereka, ia berjalan ke ruang tamu untuk meletakkan nampan terlebih dahulu.
"Mama cuma mau nganterin makan malam buat kamu sama Rafka." Mama Rafka melangkah menuju ruang makan meninggalkan Bayu yang masih berdiri kaku di depan pintu. "Takutnya kamu nggak sempet masak."
"Mama Rafka dateng?" Sandra berbisik pada Caramel.
"Iya." Caramel mengangguk. Ia jadi ikutan canggung berada dalam situasi seperti ini. Setelah meletakkan kopi, Caramel menyusul mama Rafka ke ruang makan.
"Biar aku aja yang pindahin, Ma." Caramel mengambil piring di rak untuk wadah dendeng balado yang mama Rafka bawa.
"Kalau gitu Mama langsung pulang ya."
"Loh, Mama sama siapa kesini?" Caramel memutar badan mengikuti arah langkah mama mertuanya.
"Naik grab." Mama Rafka mencuci tangannya di wastafel dan mengeringkannya dengan buru-buru.
"Mama nggak lihat Arnesh dulu?"
__ADS_1
Itu tujuan Mama kesini, "Besok Mama kesini lagi kok."
Caramel keluar hendak mengantar mama Rafka tapi wanita itu sudah tidak terlihat saat ia sampai di depan pintu. Caramel mengerti perasaan mama Rafka saat bertemu dengan seseorang yang dulu pernah menjalin bahtera rumah tangga bersamanya. Apalagi Bayu tidak sendiri, ada Sandra bersamanya. Mau tidak mau mama Rafka harus mengalah dan pergi dari pada memaksakan diri berada di tengah-tengah mereka.