Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Puluh


__ADS_3

Rafka melihat Caramel berdiri di depan jendela kaca dengan gorden putih yang sedikit transparan sedang menimang tubuh mungil bayi mereka. Itu adalah pemandangan paling indah yang pernah Rafka lihat selama ini dengan latar belakang hamparan pantai dengan ombak tenang serta matahari yang mengintip tepat di hadapan mereka.


Mereka menemukan sebuah villa yang menghadap langsung ke laut. Selain itu villa tersebut juga cukup jauh dari hiruk pikuk kota sehingga mereka merasa lebih tenang tinggal disana untuk beberapa saat sebelum pulang ke Jakarta.


Akhirnya setelah seminggu bayi Caramel dan Rafka bisa dibawa pulang. Ini adalah momen yang Caramel nantikan, menimang dan memeluk Arnesh dalam dekapannya. Keberadaan Arnesh membuat Caramel merasa ia telah menjadi wanita seutuhnya, menjadi istri dan seorang ibu.


Caramel tampak cantik dengan home dress berwarna putih berbahan sutra. Tubuhnya memang belum kembali seperti dulu saat sebelum hamil tapi ia tetap menawan.


Rafka meletakkan makanan di atas meja dan menghampiri Caramel, "Arnesh sudah tidur?" Ia menyentuh pipi kemerahan Arnesh dengan telunjuknya, ia sangat gemas ingin menggigit pipinya tapi menahan diri jika tidak ingin Caramel mengamuk.


"Udah." Caramel berpaling melihat Rafka.


"Ayo sarapan dulu, menu hari ini enak lho." Rafka membuka kotak makanan yang telah ia bawa. Mereka menggunakan jasa katering yang cukup terkenal untuk memenuhi asupan nutrisi Caramel yang sedang menyusui.


"Apa?" Caramel berbalik melangkah meletakkan Arnesh di atas tempat tidur dengan hati-hati.


"Tim salmon, kentang, sama sayur." Rafka menyebutkan menu sarapan Caramel, ia tidak tahu persis apa nama makanan tersebut tapi mereka tampak lezat.


"Punya kamu apa?" Caramel menyusul duduk di salah satu kursi di samping Rafka. Karena menu yang dikirim berbeda setiap harinya maka Caramel selalu penasaran setiap kali makanan itu datang. Caramel mengintip makanan Rafka, terdapat ayam goreng mentega, nasi dan tumis pakcoy.


"Kau juga dapat jus buah bit." Rafka meletakkan sebotol jus dekat kotak makanan Caramel.


"Wah mereka hebat bisa ngirim menu yang beda-beda setiap hari, coba aja aku jago masak pasti aku buka bisnis katering kayak gini." Caramel bersemangat mengambil sendok dan mengaduk mashed potato sebelum menyantapnya.


"Kamu punya Caramel Sleepwear dan itu sudah cukup membuatmu sibuk." Rafka ikut menyantap makanan miliknya.


Caramel nyengir, "iya sih." Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya pemilik katering tersebut setiap hari apalagi memikirkan menu yang akan dimasak, itu sangat menguras pikiran dan membuat stress. "Aku udah buka PO untuk variasi baru Caramel Sleepwear, aku juga udah bilang sama penjahit untuk mengubah ukuran kancing baju sama yang lebih kecil."


"Kamu benar-benar berpikir konsumen juga merasakan kesulitan saat hendak memasang kancing baju itu?" Rafka ingat saat itu mereka sedang terburu-buru mengenakan pakaian sehingga kancing piyamanya sulit dipasang.


"Ya." Caramel mengangguk yakin, "eh btw salmon nya enak banget." Tukasnya


"Aku pikir itu tim salmon." Balas Rafka.


"Hm?" Caramel mengerutkan kening. kok nggak nyambung gini?


"Ternyata btw salmon."


Caramel meletakkan sendok menoleh sepenuhnya pada Rafka, ia melemparkan tatapan tajam sambil merapatkan giginya. Caramel tidak tahu harus tertawa atau mengomel karena keluguan Rafka. Kadang Caramel heran mengapa lelaki lugu dan polos seperti Rafka bisa punya jabatan tinggi di BMKG.


"Emang ada makanan namanya btw salmon?" Caramel memiringkan kepalanya, tangannya mengepal gemas ingin menggigit kepala Rafka.


"Bukankah kamu yang bilang?" Rafka ikut menoleh melihat Caramel polos tapi takut juga saat mulai menyadari dirinya salah. "Aku salah?"


"Btw itu by the way yang artinya omong-omong singkatan itu udah dipakai sejak berabad-abad yang lalu."


"Oh ya?" Mata Rafka melebar, ia tidak tahu kalau btw sudah ada sejak berabad-abad lalu.


"Kamu percaya?"

__ADS_1


"Tentu saja." Rafka mengangguk.


"Itu cuma perumpamaan, maksudku itu udah lama banget dipakai, bukan berarti bener-bener ada berabad-abad yang lalu."


"Oh." Rafka ber-Oh panjang sambil manggut-manggut.


"Ketahuan kalau jarang main." Caramel menepuk-nepuk bahu Rafka.


Sepertinya kesalahpahaman seperti ini akan sering terjadi sampai nanti, sampai mereka punya banyak anak atau bahkan cucu. Caramel jadi harus selektif memilik kata saat bicara dengan Rafka agar tidak menimbulkan pengertian lain.


"Itu artinya aku memang dilahirkan untukmu, kita memiliki sifat yang jauh berbeda."


Caramel tersenyum, walaupun lugu tapi Rafka jago membuatnya tersipu dengan kalimat dan perlakuan manis.


"Aku sudah meletakkan vitamin mu di atas nakas, jangan lupa untuk meminumnya."


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan menjemput Papa dan Mama kita di bandara, mereka bilang akan sampai pukul sembilan."


"Febi ikut nggak?"


"Tidak, suaminya sedang libur, kamu tahu sendiri kalau mereka jarang bertemu."


"Aku kalau jadi Febi bisa galau berbulan-bulan karena ditinggal suami."


"Habiskan makan mu, aku pergi dulu." Rafka mengusap kepala Caramel lalu membereskan bekas makannya.


Caramel membereskan kotak makan miliknya yang sudah kosong, ia menghabiskan makannya dengan cepat karena enak. Ia juga meminum jus buah bit yang katanya bagus untuk ibu menyusui. Sebelum memesan katering itu, Caramel sudah lebih dulu memberitahu bahwa ia sedang menyusui sehingga makanan yang dikirimkan memang khusus dibuat untuk memenuhi nutrisi ibu menyusui.


"Nyenyak banget tidurnya nak." Caramel naik ke tempat tidur, ia hendak minum vitamin tapi tak tahan jika tidak menyentuh dan mencium Arnesh lebih dulu. "Mama minum vitamin dulu biar kamu bisa minum susu yang banyak." Ia mencium pipi Arnesh sekali lagi sebelum mengambil 3 vitamin berbeda yang harus diminumnya setiap hari.


Caramel menoleh mendengar suara pintu terbuka, "loh kok udah balik?" Ia heran melihat Rafka sudah kembali padahal belum 10 menit suaminya itu pergi untuk menjemput orangtua mereka.


"Coba tebak kenapa?"


Caramel mengerutkan kening tidak tahu mengapa Rafka kembali secepat itu, apa karena mereka tidak jadi datang?


"Caramel!"


Caramel membelalak mendengar suara itu, "Mama?" Ia melihat Rafka menunggu jawaban dari lelaki itu.


Rafka mengangguk. Caramel langsung turun dari tempat tidur melangkah keluar kamar.


"Mama!" Caramel berjalan cepat menuruni 5 buah anak tangga dan langsung memeluk mamanya.


"Pelan-pelan dong, Car." Omel mama Caramel sambil mengusap punggung anaknya, ia mencium pipi Caramel dan keningnya. "Maaf Mama nggak bisa langsung kesini." Tidak terasa air matanya merebak melihat Caramel, "kamu baik-baik aja kan?"


"Caramel baik, Ma." Caramel kembali memeluk mamanya.

__ADS_1


Mama Caramel lupa sudah berapa kali ia menangis sejak mendengar bahwa kapal yang Caramel tumpangi tenggelam. Walaupun Rafka sudah menenangkan mertuanya bahwa keadaan Caramel baik-baik saja tapi tetap saja ia khawatir.


Caramel ganti memeluk papanya yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Caramel tahu walaupun terlihat cuek papanya tetap lah lelaki yang paling mengkhawatirkannya.


"Kamu sudah pulih?" Kini giliran mama Rafka memeluk Caramel, ia tak kalah terkejut mendengar kabar buruk yang menimpa Caramel. Namun sekarang ia bersyukur karena Caramel dan bayinya dalam keadaan yang baik.


"Mama sehat?" Caramel menanyakan kabar mertuanya.


"Tentu saja."


Mereka bergegas pergi ke kamar Caramel untuk melihat Arnesh, cucu pertama di keluarga Caramel.


"Aku kaget banget kalian tiba-tiba dateng." Caramel masih tidak percaya melihat orangtua dan mertuanya ada disini.


"Papa sengaja minta jemput jam sembilan, buat kasih kalian kejutan."


"Papa belajar dari mana kayak gitu sih?" Caramel pura-pura kesal melihat papanya.


"Dari kamu." Jawab papa Caramel santai.


"Ya ampun mirip banget waktu kamu kecil." Mama Caramel mengangkat tubuh Arnesh dan menimangnya, matanya masih basah menangis tanda bahagia.


"Oh ya? Rafka sampai iri tuh Ma karena Arnesh mirip aku banget mukanya." Caramel melirik Rafka yang duduk tenang di atas sofa.


"Aku tidak iri." Rafka menggeleng, sungguh ia tidak iri akan hal itu.


Caramel tertawa sambil memegangi perut bawahnya karena sedikit sakit setiap kali ia tertawa, Rafka selalu saja serius padahal Caramel hanya bercanda.


"Udah jangan godain suami mu terus." Ujar mama Caramel membela Rafka.


Mereka bergantian menggendong Arnesh sambil menggodanya agar bangun. Padahal Caramel baru saja menidurkan Arnesh dengan susah payah setelah menyusuinya. Namun Caramel hanya bisa pasrah, toh mereka baru saja sampai dan sangat ingin berinteraksi dengan Arnesh.


Baik Caramel maupun Rafka belum memberitahu soal pelecehan seksual yang dilakukan Rama kepadanya. Walaupun cepat atau lambat orangtua Caramel harus tahu tentang hal itu tapi untuk saat ini Caramel tidak mau merusak kebahagiaan mereka atas kelahiran Arnesh.


"Jadi kapan kalian bisa balik ke Jakarta?" Tanya mama Rafka.


"Caramel baru saja kontrol, dokter bilang sebaiknya kami menunggu hingga Caramel benar-benar pulih sekitar satu bulan lagi, kami juga mempertimbangkan kondisi Arnesh." Jelas Rafka.


"Mama akan tinggal disini dan kembali bersama kalian." Sahut mama Caramel, ia tidak mungkin membiarkan Caramel mengurus Arnesh hanya berdua dengan Rafka. Apalagi Caramel baru pertama kali menjadi seorang ibu, ia juga harus fokus pada pemulihannya pasca operasi.


"Mama juga." Timpal mama Rafka.


"Bagaimana pekerjaan mu Rafka?" Papa Caramel melihat Rafka.


"Saya bisa bekerja dari sini, Pa." Rafka mengembangkan senyum tipis.


Sementara mama Caramel menggendong Arnesh, mama Rafka mengajak Caramel ke depan untuk melihat beberapa makanan yang dibawanya khusus untuk Caramel.


"Ya ampun Mama banyak banget bawa makanannya." Caramel terkejut melihat koper mertuanya penuh dengan makanan. "Kenapa Mama repot-repot bawa ini dari Jakarta, disini kan juga bisa beli bahan makanan kayak gitu." Caramel jadi sungkan karena harus membuat mertuanya membawa banyak bahan makanan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kalau gini kan nggak usah beli lagi, sekarang kamu nggak perlu pesen katering, Mama akan masak setiap hari."


"Makasih ya Ma." Caramel tersenyum lebar, ia bersyukur karena memiliki mertua sebaik mama Rafka. Caramel banyak mendengar cerita dari teman-temannya yang memiliki mertua jahat seperti nenek Tapasya. Namun Caramel beruntung karena mertuanya baik dan memperlakukannya seperti anak kandung.


__ADS_2