Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Tiga


__ADS_3

"Ngapain lu hari Minggu gini malah ngajak gue kesini." Danu melirik tajam pada Rafka yang duduk tenang menyaksikan pemandangan kota Jakarta pagi hari dari ketinggian.


"Kamu sendiri kenapa mau aku ajak kesini, pasti Indi menginap di rumah orangtuanya tanpa mengajak mu." Rafka meneguk air mineral yang dipesannya saat baru sampai di restoran yang terletak di area rooftop sebuah Mall.


Danu mendesah kesal, ia menghisap rokoknya begitu dalam dan mengembuskan nya ke udara dengan kasar sebelum memulai kalimat.


"Parah ya si Indi, masa dia bikin acara hari liburan tanpa Papa jadi dia sama anak-anak sekarang lagi pergi ke Ancol tanpa ngajak gue, kebangetan kan." Danu memukul-mukul meja saking kesalnya tidak diajak berenang di Ancol oleh Indi dan anak-anak.


"Kalau gitu kamu juga harus membuat hari libur tanpa Mama."


"Ah mana bisa gue pergi sama anak-anak tanpa Mama nya, ribet Ka." Danu kembali memukul meja belum selesai menumpahkan kekesalannya. Ia melempar puntung rokok nya ke tempat sampah tak jauh dari meja mereka.


Mereka terdiam menikmati angin yang berhembus tenang. Sesaat kemudian seorang waiter mengantarkan pesanan Rafka sayur asem dan tempe goreng sedangkan Danu memesan nasi goreng rempah yang terkenal enak di restoran tersebut.


"Sayur asem lagi?" Danu melirik pesanan Rafka.


Rafka tidak menjawab, jujur saja ia rindu sayur asem buatan Caramel. Itu alasan Rafka makan menu tersebut hampir setiap hari. Rafka pasti mencari warung makan atau restoran yang menjual sayur asem untuk mengobati rasa rindunya.


"Eh Caramel gimana?" Danu menarik kursinya lebih dekat dengan Rafka seolah mereka hendak membicarakan rahasia negara.


"Entah lah, mungkin dia makin marah karena kemarin aku membentaknya habis-habisan." Rafka menuang kuah sayur asem pada sepiring nasi dan memakannya sedikit.


"Lu bentak dia, wah berani juga lu." Danu geleng-geleng, jika Rafka sudah marah itu berarti ia telah mencapai batas kesabarannya. "Emang berapa lama dia nggak ngasih jatah?"


"Jatah apa?" Rafka pura-pura tidak mengerti pada arah pembicaraan Danu.


"Alah nggak usah pura-pura nggak tahu, model laki kayak elu itu nggak bisa bohong kalau soal begituan, mending jawab jujur deh."


"Dua bul ... an mungkin." Rafka ragu menyebutkan angka tersebut karena sebenarnya ia tidak mau orang lain tahu.


Danu menyemburkan nasi goreng yang belum ia kunyah di mulutnya terkejut bukan main mendengar jawaban Rafka.


Rafka mundur takut jika semburan Danu mengenainya.


"Wah gila ya si Caramel, dosa tahu nggak dia gituin elu, itu kan tugas utama dia sebagai istri, kalau gue sih udah kabur dari rumah nyari cewek lain di pinggir jalan." Danu nyerocos tidak terima pada perlakukan Caramel terhadap Rafka.

__ADS_1


Rafka tidak membalas ucapan Danu karena mulutnya penuh nasi.


"Gue kasih penghargaan buat Caramel, manusia ter egois sedunia, masa dia nggak mikirin perasaan lu sebagai suaminya, terus tadi gimana setelah lu bentak dia semalem?"


Rafka menggeleng, "waktu aku bangun Caramel udah nggak ada." Rafka menduga Caramel pergi ke rumah Jane atau Kayla.


"Sekarang gue nggak heran kalau lu bisa bentak Caramel." Danu kembali menikmati nasi goreng yang masih mengepulkan asap tapi ia melahapnya begitu saja seolah lidahnya tahan panas.


Usai makan Rafka segera kembali ke apartemen karena ia memanggil jasa bersih-bersih. Rafka menduga Caramel tak akan ada di apartemen seharian ini seperti hari-hari sebelumnya. Akhir pekan tak lagi menjadi hari yang Rafka tunggu-tunggu karena setiap hari terasa sama baginya.


"Caramel." Rafka terkejut melihat Caramel berdiri di depan lift saat ia sampai di unit apartemen nya. Caramel menatap Rafka intens tanpa berkedip dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Maaf aku—" belum selesai Rafka melanjutkan kalimatnya, Caramel menghambur memeluknya sangat erat sambil berbisik memohon maaf.


Caramel melingkarkan kakinya pada tubuh Rafka, ia sangat merindukan aroma sang suami. Ucapan Rafka semalam membuat Caramel sadar bahwa ia telah mengabaikan Rafka terlalu lama padahal dalam hal ini mereka sama-sama kehilangan. Kalimat Rafka membuat ego Caramel yang sebesar gunung runtuh seketika. Caramel jadi ingat janjinya pada Rafka dulu saat mereka baru kembali dari Bali. Caramel pernah berjanji bahwa ia akan lebih memikirkan perasaan Rafka dari pada dirinya sendiri. Namun Caramel mengingkari janji tersebut dan membangun tembok tinggi membuat pembatas antara dirinya dan Rafka. Padahal mereka pasangan suami istri yang seharusnya tak ada batas seperti itu di antara keduanya.


"Maafin aku Rafka." Caramel mengurai pelukan menatap wajah Rafka yang redup kehilangan cahayanya. "Aku mengabaikan kamu terlalu lama."


Rafka menatap teduh ke dalam mata Caramel, ia membawa Caramel ke kamar. Mata Rafka berkaca-kaca, ia pikir Caramel akan semakin marah padanya setelah kejadian semalam.


"Aku rindu." Lirih Rafka dengan suara gemetar menahan tangis, inilah Caramel yang ia rindukan.


Bukannya menjawab Rafka justru menghempaskan tubuh Caramel ke ranjang hingga menimbulkan pekikan kecil dari mulut Caramel. Sebenarnya Rafka tidak berniat mengabaikan pertanyaan Caramel, ia hanya lupa apa itu ngedate. Rafka berusaha mengingat arti dari kata itu tapi ia tidak bisa fokus karena Caramel mulai melucuti pakaiannya.


"Kamu habis minum jus kiwi?" Caramel mengecup bibir Rafka dan mencium aroma buah dari mulut sang suami.


"Kita lihat apa yang kamu makan tadi." Rafka membalas ciuman Caramel lebih dalam dan intens.


Caramel hanya makan salad buah Kayla tadi pagi, ia sengaja pergi ke rumah Kayla sebelum Rafka bangun untuk mengambil parfum yang sudah Kayla janjikan padanya. Caramel akhirnya menyadari bahwa selama ini 2 bulan ini ia tidak bersentuhan dengan wewangian apapun termasuk lotion yang biasanya menjadi perawatan wajib setiap hari.


Caramel menyemprotkan pewangi ke seluruh tubuhnya menanti kepulangan Rafka tadi. Ia juga membereskan meja riasnya yang lumayan berantakan dan membuang produk yang sudah lewat masa PAO nya. Ia mencuci rambut dengan sampo yang banyak dan langsung mengeringkannya. Caramel sudah seperti pengantin baru yang hendak menghadapi malam pertama.


"Kamu wangi sekali." Rafka menciumi dagu Caramel hingga leher—bagian yang ia sukai—ralat Rafka menyukai semua bagian tubuh Caramel.


Caramel tersenyum melepas kancing terakhir kemeja Rafka dan meraba dada bidang sang suami hingga perut.


Rafka melepas kemeja nya tidak sabar dan melemparnya sembarangan. Rafka memejamkan mata menarik Caramel ke dalam pelukannya, tak terasa mata Rafka basah oleh air mata. Rafka sangat merindukan Caramel. Meski akhir-akhir cuaca cerah tapi bumi terasa gelap bagi Rafka.

__ADS_1


"Dada mu sudah tidak sakit lagi?" Rafka bertanya memastikan ia tidak menyakiti Caramel sedikit pun.


Caramel menggeleng, ia sudah tidak merasakan sakit lagi pada dada nya sekitar seminggu setelah berhenti menyusui. Caramel merubah posisi hingga berada di atas tubuh Rafka.


Rafka menggeram ketika Caramel membelainya, "berhenti, tunggu dulu." Lirih Rafka saat ia tiba-tiba teringat sesuatu.


"Kenapa?"


Rafka dengan hasrat yang sudah menguasainya ia berusaha meraih ponsel di atas nakas, ia lupa telah memanggil jasa pembersih hari ini. Rafka harus membatalkannya, ia akan membersihkan apartemen sendiri.


Dengan pandangan berkabut Rafka mencari nomor telepon jasa pembersih tersebut dan menekan ikon telepon berwarna hijau.


"Halo, ada yang bisa kami bantu?"


"Halo, saya Rafka." Suara Rafka tertahan.


Caramel tertawa melihat ekspresi Rafka, ia menjatuhkan dirinya pada tubuh Rafka dan menciumi pangkal lehernya. Rafka menahan kepala Caramel agar berhenti melakukan itu sementara ia bicara dengan jasa pembersih.


"Bapak Rafka, kami akan segera mengirim tim kami ke apartemen Bapak ya."


"Jangan." Pekik Rafka pada Caramel yang hendak mengecup telinganya.


"Ya?"


"Maksud saya, saya mendadak ada urusan hari ini, bisa ditunda hingga Minggu depan.


"Tentu saja bisa kami mengerti."


"Terimakasih." Rafka segera memutus sambungan dan menjatuhkan ponsel tersebut ke lantai, ia tak sanggup lagi memegang benda tipis itu.


"Aku pengen hamil." Tukas Caramel tiba-tiba.


"Hamil?" Rafka terkejut, mengapa begitu tiba-tiba.


Caramel tak menjawab, ia melanjutkan aksinya menggoda Rafka hingga sang suami lupa pada apa yang ia ucapkan barusan.

__ADS_1


__ADS_2