
Samar-samar Rafka mendengar suara seseorang menangis, suara yang kian jelas membuatnya perlahan terbangun dari tidur. Suara tangisan itu mengingatkannya pada film horor yang sering ditontonnya bersama Caramel—terdengar seperti tangisan hantu.
Rafka membuka mata sepenuhnya, apakah ini hantu yang sedang sift pagi untuk membangunkan orang-orang agar tidak terlambat bekerja. Memangnya ada hantu seperti itu? lagi pula tidak mungkin apartemen ini berhantu.
"Cara, ada apa?" Rafka terkejut melihat Caramel menangis di sampingnya, bahkan selimut mereka sedikit basah akibat air mata wanita itu. Rafka mengutuk dirinya sendiri karena telah mengira bahwa suara barusan adalah suara hantu padahal itu tangisan istrinya sendiri. Rafka bingung karena belum pernah melihat Caramel menangis hebat sebelumnya.
Perlahan Caramel menurunkan selimut yang menutupi wajahnya, begitu terlihat mata sembab dan hidung merah menandakan bahwa ia tidak menangis dalam waktu singkat.
"Aku mimpi kamu selingkuh." Lirih Caramel, suaranya serak akibat menangis terlalu lama.
Rafka membelalak, ia jarang memasang ekspresi wajah seperti itu. Namun alasan Caramel menangis sungguh membuatnya terkejut. Bermimpi pun Rafka tidak pernah apalagi di dunia nyata, ia tak mungkin melakukan hal sebodoh itu.
"Itu tidak akan terjadi." Rafka mengelus rambut panjang Caramel, walaupun tak habis pikir dengan sikap wanita itu tapi ia tetap berusaha menenangkannya. Jika dibandingkan dengan tangisan setelah akad nikah, ini jauh lebih kuat. Caramel bukan lah wanita cengeng yang mudah menangis.
"Aku mimpi kamu selingkuh sama Elsa." Caramel memejamkan mata, itu hanya mimpi tapi sungguh membuatnya marah luar biasa. Caramel menangis hebat menyaksikan Rafka berduaan dengan Elsa dan tangisan itu terbawa hingga ke dunia nyata. Ini pasti gara-gara ia membahas tentang Elsa kemarin bersama Jane dan Kayla.
Bibir Rafka berkedut hendak tertawa tapi tertahan karena kasihan melihat Caramel masih menangis. Emosi wanita hamil memang berubah-ubah itu sebabnya Caramel menangis hanya karena mimpi tersebut. Rafka sudah banyak membaca artikel tentang kehamilan seminggu terakhir. Sebagai suami ia harus tanggap terhadap perubahan yang akan terjadi kepada sang istri setelah hamil.
"Pokoknya hari ini kamu nggak usah kerja, perasaanku nggak enak." Pinta Caramel, ia takut Elsa mendatangi Rafka ke tempat kerja.
"Hm?" Rafka mengerutkan kening, hari ini ada rapat penting di kantor. Bagaimana mungkin Rafka melewatkannya.
"Kamu nonton konser aja sama aku." Caramel meregangkan pelukan mendongak melihat Rafka yang masih tampak berpikir.
"Dimana?"
"Di laptop."
"Kita bisa menontonnya nanti."
"Mana bisa, itu live." Caramel menekuk wajahnya, ia sungguh tidak mau melepas Rafka pergi bekerja hari ini. Rasanya seperti hendak ditinggal suami merantau ke tempat yang jauh padahal kenyatannya jarak kantor Rafka hanya 20 menit dari apartemen jika tidak macet.
Rafka menarik napas dalam sebelum membalas ucapan Caramel, ia menangkup wajah wanita itu.
"Sebenernya aku ingin sekali menemanimu disini, tapi hari ini aku ada rapat penting di kantor." Suara Rafka lembut tidak mau membuat Caramel marah.
"Jadi maksud kamu, aku cuti sendiri hari ini?" Caramel sewot, ia menghapus air matanya kasar dan menjauh dari Rafka. Sekarang ia terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak dibelikan mainan padahal usianya hampir kepala tiga.
"Kau bisa mengajak Jane atau Kayla nonton disini, aku ada proyektor di kamar sebelah, kalian bisa menggunakannya." Rafka menggeser tubuhnya agar kembali dekat dengan Caramel, walaupun tidak pernah berpacaran tapi ia mulai sedikit tahu bagaimana cara merayu wanita. Kalau Caramel tetap ngambek itu berarti Rafka benar-benar tidak bisa bekerja hari ini.
Caramel berdecih melirik Rafka tajam, bisa-bisanya merayu Caramel dengan hal seperti itu.
"Memangnya konser apa yang akan kau tonton nanti, hm?" Rafka mengulurkan tangan memasang kancing baju teratas milik Caramel yang terlepas—siapa yang melepasnya? mungkin itu terlepas dengan sendirinya karena posisi tidur Caramel yang sedikit aneh.
"BTS, kamu nggak bakal tahu lah." Caramel mengibaskan tangan dan beranjak dari tempat tidur setelah menyingkap selimut terlebih dahulu.
"Aku tahu." Rafka ikut turun dari ranjang mengejar Caramel ke kamar mandi.
"Tahu dari mana cobak?"
Rafka tampak berpikir, ia sering mendengar istilah BTS sebelumnya. "Behind the scene kan?"
Caramel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rafka, lima menit yang lalu ia menangis tersedu-sedu tapi sekarang ia tertawa lebar karena kepolosan sang suami.
"Apa ada acara dibalik layar yang ditayangkan live?" Caramel memiringkan kepala setelah tawanya mereda, ia menikmati momen saat dimana Rafka kebingungan.
"Entah lah." Rafka mengedikkan bahu, "zaman sekarang tak ada yang tidak mungkin."
"BTS disini adalah Bangtan Sonyeondan, aku bakal nonton tujuh cogan, siapa tahu anak kita nanti mirip salah satu dari mereka." Caramel mengangkat bahu dengan santainya melenggang pergi ke bawah shower bersiap untuk mandi.
"Memangnya kau boleh melakukan itu?" Rafka masih tidak berhenti mengejar sang istri ke dalam ruangan sempit khusus shower yang memiliki dinding kaca.
"Melakukan apa?" Caramel kesal, bukannya tadi Rafka yang mengatakan ia boleh menonton konser dan menggunakan proyektor kenapa sekarang tidak boleh.
"Kamu tidak boleh membuat anak kita mirip orang lain, dia harus mirip aku atau dirimu, jika laki-laki maka ia harus mirip dengan Papanya." Rahang Rafka mengeras tapi bagi Caramel itu justru terlihat lucu. Hampir saja Caramel meledak jika Rafka tidak memperbolehkannya nonton konser.
"Kenapa, mereka ganteng kok." Caramel semakin bernafsu membuat Rafka cemburu.
__ADS_1
"Apa aku kurang tampan?"
Caramel menutup bibirnya rapat agar tidak tertawa, tentu saja suamiku sangat tampan buktinya berat banget lepas dia pergi kerja.
"Tenang aja, sesering apapun aku nonton mereka anak kita bakal tetep mirip aku atau kamu." Caramel menyentuh dada bidang Rafka lalu mengusapnya lembut untuk menenangkan sang suami. Sekarang si robot mulai bisa menunjukkan emosinya, Caramel berhasil mendidiknya dengan baik.
Rafka menelan ludah dan bergerak mundur hingga membentur dinding, sebenarnya ruangan itu hanya cukup untuk satu orang tapi ia memaksa masuk untuk mengikuti Caramel. Sekarang akal sehat Rafka mulai kembali, ia harus segera keluar dari situ dan membiarkan Caramel mandi dengan tenang.
"Mau mandi bareng nggak?"
Rafka mengehentikan langkah, menelan ludah dan berbalik.
"Kenapa muka mu merah?" Caramel mendekat, ia bersemangat menggoda suaminya pagi ini.
"Kamu pakai blush?"
"Tidak." Rafka menggeleng memegangi pipinya yang terasa panas. Ada apa ini? Ia tetap berusaha cool di depan Caramel.
"Aku keluar dulu." Rafka melangkah cepat keluar kamar mandi sebelum Caramel menggodanya lagi.
"Bikinin sarapan ya yang." Teriak Caramel, ia yakin Rafka bisa mendengar teriakannya yang menggelegar apalagi pintu kamar mandi tidak tertutup.
"Yang apa?" Kepala Rafka menyembul dari balik dinding.
"Yang itu panggilanku buat kamu, biar kayak orang-orang."
Rafka menggaruk tengkuknya berjalan ke tempat tidur untuk membereskannya.
"Kenapa orang-orang memanggil pasangannya dengan sebutan Yang?" Seberapa keras Rafka memikirkannya, ia tetap tidak tahu jawabannya. Apakah ia harus bertanya kepada Danu yang mengetahui segala hal seperti google.
Rafka pergi ke dapur setelah membuka gorden dan membereskan tempat tidur. Caramel adalah orang yang paling ahli untuk membuat tempat tidur jadi berantakan.
Memanfaatkan bahan yang ada di dapur, Rafka membuat omelet wortel dan nasi goreng sisa nasi dingin semalam yang tidak habis dimakan oleh mereka. Rafka membutuhkan waktu lebih lama jika harus menanak nasi lagi.
"Butuh bantuan nggak?"
"Sudah hampir selesai." Ucap Rafka.
"Duduk lah, aku sudah membuatkan susu untukmu."
Caramel menurut, ia melepaskan pelukannya dan melangkah menuju meja makan untuk minum susu. Walaupun Caramel lebih suka minum kopi dari pada susu tapi demi kesehatan janin di perutnya, ia terpaksa melewatkan kebiasannya minum kopi.
"Hari ini kamu nggak apa-apa makan siang di luar ya?" Caramel melongokkan kepala melihat Rafka setelah menyesap sedikit susu hangat buatan Rafka.
"Iya." Jawab Rafka, saat Caramel malas masak maka itu artinya ia harus makan makanan kantin yang menurutnya tidak terlalu enak.
"Sepertinya nanti kita harus belanja, aku tidak bisa menemukan sayur apapun di kulkas." Rafka datang membawa dua piring nasi goreng dengan omelet di atasnya.
"Vitamin ku juga abis." Caramel dengan senang hati menerima nasi goreng yang masih mengepulkan asap, ia sudah memegang sendok dan garpu di tangannya.
Mereka menikmati makanan itu dengan banyak diam, itu berarti Caramel menyukai nasi goreng buatan Rafka. Caramel mengakui bahwa masakan Rafka lebih enak dibandingkan dengan masakannya. Hanya saja sebagai seorang istri Caramel ingin belajar membuat makanan enak untuk suaminya.
******
"Saat ini kepercayaan masyarakat terhadap BMKG semakin besar tapi itu bukan berarti kita bisa bersuka ria, justru dengan hal tersebut tanggung jawab kita terhadap masyarakat semakin besar."
Rafka memperhatikan kepala BMKG yang sedang menjelaskan tentang peningkatan jumlah pengikut akun media sosial BMKG. Baru sekarang Rafka berpikir bahwa ia harus belajar menggunakan media sosial seperti Instagram dan sejenisnya karena penyampaian informasi kepada masyarakat harus tepat melalui media sosial.
"Saya himbau kepada semuanya agar terus menjaga data-data dan informasi kita agar tetap tepat dan akurat, karena hasil observasi dan analisis kita juga ikut menentukan nasib negara ini."
"Kita buktikan kepada masyarakat bahwa kita akan terus meningkatkan kinerja BMKG agar lebih baik lagi."
BMKG memiliki tanggungjawab besar terhadap negara sebab informasi mengenai kondisi alam bergantung pada mereka. Tak sesederhana mengatakan hari ini Jakarta turun hujan atau petir, mereka menganalisis kondisi alam secara mendalam.
Rafka melirik ponselnya yang menyala ketika kepala BMKG di depan sana menutup rapat koordinasi hari ini. Rafka bisa membaca pesan WhatsApp yang Caramel kirimkan kepadanya.
Aku nonton konser sendiri ☹️
__ADS_1
"Makan di depan yuk." Tiba-tiba Danu menepuk pundak Rafka.
"Hm?" Rafka menoleh sesaat pada Danu, baru saja rapat selesai sahabatnya itu sudah buru-buru mengajak makan.
"Makan apa?" Rafka membereskan barang-barang miliknya dan membalas pesan Caramel.
Kemana Jane dan Kayla?
"Makan soto lamongan mumpung cuacanya lagi mendung." Danu tidak segera beranjak menunggu atasan mereka keluar terlebih dahulu.
Pada sibuk mereka. Kamu udah makan siang belum?
Aku sedang menuju rumah makan soto lamongan bersama yang lain.
Rafka dan Danu serta beberapa teman lainnya sesama anggota BMKG melangkah santai keluar aula yang merupakan tempat berlangsungnya rapat koordinasi bersama kepala BMKG. Akhirnya setelah 2 jam berada disana, mereka bisa menghirup udara segar dan mengisi energi sebelum kembali bekerja.
"Si Elsa tuh." Danu menyikut lengan Rafka saat ia melihat Elsa melambaikan tangan ke arahnya. Wanita cantik itu duduk di salah satu kursi kosong warung makan yang terkenal dengan menu soto nya tersebut.
Aku makan roti.
Tanpa menanggapi ucapan Danu, Rafka justru sibuk membaca pesan dari Caramel. Ia melihat Caramel mengirimkan sebuah foto roti dengan isi selai kacang di atas piring.
Kenapa tidak makan nasi?
Warung tersebut sangat padat dijam makan siang sehingga hampir semua kursi telah terisi. Teman-teman Rafka menemukan satu meja kosong dan segera duduk mengelilinginya. Tidak ada lagi kursi kosong untuk Rafka, ia kalah cepat dengan temannya yang lain gara-gara terlalu fokus dengan ponsel.
"Sama Elsa gih, dari pada lu nggak makan." Ujar Danu.
Rafka melirik ke arah meja Elsa, menimbang-nimbang harus duduk bersama teman yang katanya satu SMA dengannya tapi sampai sekarang ia tidak bisa mengingatnya—atau tidak jadi makan.
"Aku sudah pesan." Ucap Rendi—salah satu teman Rafka, ia sudah memesan 7 porsi soto lamongan untuk mereka.
"Lu mau makan berdiri?" Cibir Danu, ia tak habis pikir dengan temannya yang polos itu, kenapa tidak lekas duduk saja lagi pula mereka hanya duduk dan makan bukannya selingkuh.
Elsa menegakkan posisi duduknya dan mengibaskan rambut saat Rafka berjalan ke arahnya, ia memberikan senyum paling manis kepada Rafka.
"Saya boleh duduk disini?" Tanya Rafka, jika tidak maka ia akan minta pelayan warung untuk membungkus soto miliknya yang sudah terlanjur dipesan.
"Boleh." Elsa manggut-manggut, "kenapa kamu formal banget sih ngomongnya sama temen sendiri." Ujarnya.
Rafka diam tidak membalas ucapan Elsa, bahkan kalimat itu sama sekali tidak ditangkap oleh daun telinganya.
Tahu nih, perutku nggak enak.
Kau mau ku bawakan soto?
Nggak usah.
Elsa tetap berusaha tersenyum walaupun Rafka mengabaikannya. Ia melirik ponsel di tangan Rafka, penasaran mengapa lelaki itu sangat serius dengan ponselnya.
"Mmm ... soal kejadian waktu itu, aku nggak berniat jelek-jelekin istri kamu, aku cuma nggak mau kamu nikah sama orang yang salah." Elsa menggigit bibir bawahnya, ia berharap bisa mendapatkan simpati Rafka.
"Terimakasih." Rafka berterimakasih kepada pelayan warung yang telah mengantarkan pesanannya, satu mangkok soto lamongan yang tampak menggiurkan dengan telur dan suwiran ayam di atasnya.
Elsa makin mati gaya karena Rafka konsisten mengabaikannya.
Rafka menyantap soto tersebut selagi hangat, kali ini daun telinga berhasil menangkap ucapan Elsa tapi sayangnya gendang telinganya tidak bisa mengubah suara tersebut menjadi getaran atau dalam kata lain, percuma.
"Aku denger-denger kalian nikah karena perjodohan, apa sebenernya kamu nggak cinta sama Caramel?"
Rafka membanting sendok sehingga menimbulkan suara cukup keras, tapi suasana warung yang ramai membuat orang-orang disana tidak menyadari itu kecuali Elsa yang terlonjak kaget.
"Saya lebih mencintai Caramel dari pada diri saya sendiri. Karena kita tidak saling mengenal maka saya mohon jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga saya." Rafka beranjak meninggalkan Elsa yang melongo, terkejut sekaligus marah dengan ucapan pedas Rafka.
"Lah, mau kemana lu?"
Rafka mengabaikan Danu yang terus memanggilnya, ia sudah kehilangan selera makan. Dari pada memaksakan diri menghabiskan makanan, Rafka lebih memilih melewatkan makan siang.
__ADS_1