Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Enam


__ADS_3

Kabut masih menyelimuti Pine Hill, sesekali tetesan air terdengar jatuh mengenai daun pinus sisa hujan semalam seperti irama musik yang tidak beraturan tapi membuat pendengarnya merasa tenang. Musik alam tak pernah gagal menghibur manusia dari gundah gulana seperti kicauan burung dan tiupan angin.


Asap masih mengepul dari mie dalam cup yang mengeluarkan aroma soto. Ditambah irisan cabai rawit di atasnya semakin membuat mie cup tersebut terlihat menggiurkan. Namun tidak dengan Rafka, ia hanya senang menyeduh mie instan itu sebelum diberikan pada Caramel.


"Hati-hati panas." Rafka memberikan satu cup mie pada Caramel. Mereka harus sarapan sebelum kembali ke Jakarta. Meski sebenarnya Caramel ingin berada disini beberapa hari lagi tapi ia tahu Rafka tak mungkin meninggalkan kantor begitu lama hanya karena menemaninya liburan.


Sementara Caramel makan mie, Rafka lebih memilih makan bubur ayam yang dijual di dekat sini untuk mengisi perutnya. Rafka tetap tidak terbiasa mengkonsumsi makanan instan.


"Itu bukannya Adena ya?" Caramel menyipitkan matanya melihat sosok wanita tengah mengantar kopi kepada pengunjung di salah satu gazebo. Rafka mengikuti arah pandang Caramel, itu memang Adena. "Ngapain dia disini?"


"Bukankah dia memakai celemek seperti pelayan warung makan?"


"Nggak mungkin Adena kerja disini." Caramel menggeleng, yang ia tahu adalah Adena tetap tinggal di Jakarta bersama Ara. Namun sejak terakhir bertemu di pengadilan waktu itu Caramel tak pernah melihat Adena lagi.


Rafka tidak membalas ucapan Caramel lagi karena sedang asyik menikmati bubur ayam dengan topping ayam suwir yang melimpah. Lagi pula Rafka tak peduli pada kehidupan Adena.


"Aku pesan teh hangat untukmu."


"Makasih sayangku." Caramel tersenyum lebar meletakkan cup mie nya untuk mencium pipi Rafka. Entah kenapa ia sangat gemas melihat pipi Rafka menggembung penuh makanan.


Rafka spontan berhenti mengunyah saat Caramel tiba-tiba menciumnya, ia melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihat mereka. Untung saja Rafka tidak tersedak, bubur lembut itu bisa dengan mudah melewati kerongkongannya.


"Dingin." Caramel menelusup kan tangan ke sela lengan Rafka dan meletakkan kepalanya.


"Kamu tidur nyenyak kan semalam?" Rafka mengelus pipi Caramel.


"Nyenyak banget berkat suara hujan yang mengenai tenda, itu adalah musik yang nggak akan kita dapat setiap hari."


"Permisi, ini pesanan teh nya." Suara seorang wanita membuat Caramel spontan mengangkat kepala dari lengan Rafka.


"Adena, ini beneran kamu?" Caramel terkejut melihat seseorang yang mengantar teh untuknya, itu adalah Adena.


Rafka meletakkan mangkok buburnya yang sudah kosong dan mengambil segelas teh yang masih mengepulkan asap pada nampan di tangan Adena. Berbeda dengan Caramel yang terkejut melihat Adena, Rafka masih konsisten dengan wajah datarnya.


"Caramel, ternyata aku nggak salah lihat." Adena mengulas senyum tipis.


"Kamu kerja disini?" Caramel melihat penampilan Adena sedikit berubah. Kantong mata jelas terlihat di wajah Adena seperti seorang yang kelelahan dan kurang tidur.


"Iya—" Nada bicara Adena menggantung seperti hendak melanjutkan kalimatnya lebih panjang.


"Aku kembalikan mangkok dulu." Rafka beranjak seolah mengerti bahwa Adena hendak membicarakan sesuatu dengan Caramel jadi ia harus meninggalkan mereka berdua.


"Kamu pindah ke Bandung?" Caramel sedikit menggeser posisinya agar Adena duduk di sampingnya.


Adena menarik napas memeluk nampan yang sudah kosong sebelum duduk. Ia seperti menahan beban yang begitu berat di pundaknya. Tak ada seorang pun yang bisa ia jadikan tempat berkeluh kesah karena sang suami tak lagi bersamanya. Adena tetap menantikan Rama kembali meski pria itu telah menyakitinya begitu dalam.


"Iya, aku harus kerja karena Ara udah mulai masuk sekolah, disini aku bisa titipin dia ke Oma nya."


"Terus apartemen di Jakarta gimana?" Caramel mengambil cup mie nya melanjutkan makan setelah meneguk sedikit teh hangat yang Adena bawa.


"Aku sewakan, sejak Mas Rama di penjara mau nggak mau aku harus kerja sendiri, orangtua Mas Rama juga nggak mau tahu tentang kami, kamu tahu sendiri mereka nggak setuju Mas Rama nikah sama aku."


"Tapi Ara tetep cucu mereka." Caramel tak terima, Ara tidak tahu apa-apa tentang orangtuanya. Mama dan papa Rama tak seharusnya mengabaikan keberadaan Ara.


Adena tersenyum kecut, "aku pernah berkunjung ke rumah orangtua Mas Rama tapi mereka nggak mau nemuin padahal aku cuma berniat mendekatkan Ara dengan Opa dan Oma nya."


Caramel tak mengira jika orangtua Rama yang dulu sangat baik terhadap dirinya bisa mengabaikan cucu mereka sendiri hanya karena tidak setuju dengan pernikahan Adena dan Rama. Mereka boleh kecewa terhadap Rama karena telah menghamili wanita lain tapi tetap saja ada Ara yang harus mereka beri kasih sayang.


"Kamu yang sabar, setiap anak yang lahir ke Bumi pasti punya rezekinya masing-masing." Caramel mengusap bahu Adena untuk memberi kekuatan.


Adena tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ketika tak ada satu orang pun yang mau mendengarkan ceritanya, Caramel justru siap menjadi pendengar sekaligus memberinya ketabahan tanpa peduli pada apa yang telah terjadi di antara mereka dulu. Adena sangat bersyukur bertemu Caramel disini.


"Ngomong-ngomong kamu berdua aja sama Rafka disini?" Tanya Adena.

__ADS_1


"Iya." Caramel mengangguk, "lama nggak main ke hutan jadi kesini deh sekaligus nostalgia ke tempat kami nikah dulu."


"Anak kamu udah bisa ngapain sekarang?" Terakhir bertemu di pengadilan, Adena tahu Caramel baru saja kembali dari Bali setelah melahirkan.


Deg!


Air mata Caramel merebak meski ia berusaha menahannya sekuat tenaga, meski bibirnya tersenyum ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Dia—udah tenang di surga." Jawab Caramel dengan suara gemetar.


Adena membelalak tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Tak mungkin Caramel bercanda, hubungan mereka tak sedekat itu hingga Caramel bisa melontarkan candaan seperti ini. Adena bisa melihat kesedihan di wajah Caramel, ia meletakkan nampan dan menarik kepala Caramel untuk memeluknya.


Adena tidak mau bertanya mengapa anak Caramel bisa meninggal karena itu akan membuat luka Caramel kembali terbuka. Sebab Adena juga merasakannya ketika orang-orang bertanya mengapa Rama tidak ada bersamanya, mengapa Rama bisa masuk penjara atau menyapa Rama tega melakukan pelecehan seksual terhadap tetangga apartemennya. Adena muak dengan pertanyaan semacam itu karena mereka bertanya bukan karena tidak tahu, mereka hanya ingin melihat ekspresi kesal Adena lalu menertawakannya.


"Tuhan lebih menyayanginya." Ucap Adena lembut.


Caramel memejamkan mata berusaha menelan kembali air matanya, ia tak mau menangis lagi. Caramel hanya ingin berbahagia di tempat yang indah ini dan cukup menyimpan nama Arnesh di hati tanpa membuatnya sedih lagi.


Dari kejauhan Rafka melihat Caramel sedang berpelukan dengan Adena. Rafka mengerutkan kening sejak kapan mereka jadi akrab bahkan sampai berpelukan seperti itu.


"Aku balik kerja lagi ya." Adena beranjak melihat Rafka kembali.


"Iya, lain kali kalau ke Bandung aku bakal kesini lagi sekalian pengen ketemu Ara." Tukas Caramel.


"Iya datang aja, aku pergi ya." Adena melambaikan tangan sebelum melangkah pergi meninggalkan Caramel.


"Aku lihat kalian berpelukan, sedang membicarakan apa?"


"Ada deh, urusan cewek mau tahu aja." Caramel meneguk kuah mie hingga habis. Ia langsung mengubah ekspresi nya menjadi ceria agar Rafka tidak bertanya apapun lagi.


******


Setelah pulang ke Jakarta, Caramel dan Rafka kembali menjalani rutinitas mereka sehari-hari. Caramel sibuk membuat desain piyama untuk diluncurkan bulan depan bertepatan dengan hari kemerdekaan RI ke-76. Ia akan menggunakan warna dominan merah dan putih untuk produk baru Caramel Sleepwear.


"Enak banget baunya." Caramel memejamkan mata menghirup aroma ayam goreng tepung yang ia buat sendiri. Berbekal ilmu dari YouTube Caramel membuat ayam goreng tepung yang penampilannya mirip KFC kesukaannya, tapi ia tak yakin apakah rasanya juga akan mirip.


"Semoga Rafka suka." Gumamnya seraya meletakkan dua potong dada ayam pada kotak makanan, ia akan mengantar makan siang untuk Rafka. Selain mengantar makanan, Caramel juga ingin bertemu dengan teman-teman Rafka di kantor karena sudah lama tidak bertemu mereka.


Jalanan kota Jakarta cukup padat disiang hari yang terik, suara klakson bersahut-sahutan tiada henti seolah semakin kencang suaranya maka kemacetan akan segera terurai padahal itu tak ada gunanya sama sekali.


Jarak dari apartemen ke kantor BMKG tidak terlalu jauh hanya saja kemacetan membuat perjalanan Caramel lebih lama. Caramel mengambil ponselnya mencari nama Rafka pada kontak lalu menekan ikon telepon berwarna hijau pada layar.


"Kenapa Ma?" Suara Rafka langsung terdengar.


"Aku lagi di jalan mau ke kantor kamu, sebentar lagi jam makan siang kan?"


"Kamu masak?"


"Iya, sekalian pengen ketemu Irene dan temen-temen kamu yang lain."


"Baiklah, tetap hati-hati sayang, aku tunggu kamu di depan."


"Oke." Caramel memutus sambungan.


Caramel tidak sabar ingin segera sampai di kantor Rafka karena ia juga telah mengenal banyak teman-teman Rafka. Beberapa dari mereka juga sering berkunjung ke toko Caramel Sleepwear saat akhir pekan dan menjadi pelanggan tetap.


Dari kejauhan Caramel melihat sosok Rafka berdiri di depan gedung F. Caramel tersenyum meski Rafka tidak bisa melihatnya dari luar mobil.


Sebelum turun Caramel meraih paper bag berisi kotak makanan untuk Rafka di jok samping. Dengan penuh semangat Caramel melangkah menghampiri Rafka.


"Nunggu lama nggak?" Caramel melingkarkan tangannya pada punggung Rafka.


"Tidak." Rafka menggeleng mengusap puncak kepala Caramel. "Terimakasih sudah masak makan siang." Rafka mengambil alih paper bag di tangan Caramel.

__ADS_1


Caramel mengangguk, Rafka tak pernah lupa berterimakasih untuk hal kecil seperti memasak atau menyiapkan pakaian kerjanya.


"Aku bawa salad buah buat temen-temen kamu." Caramel menggandeng tangan Rafka ketika mereka berjalan menuju kantin untuk makan siang.


"Pasti mereka suka." Rafka tak perlu meragukan salad buah buatan Kayla, mereka tak pernah membiarkan kulkas di apartemen kosong tanpa salad buah tersebut.


Mereka menemukan satu meja kosong di sudut kantin yang mulai ramai dipenuhi oleh pegawai lainnya. Caramel mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas dan membukanya.


"Aku bikin ayam KFC ku sendiri." Caramel tidak sabar ingin mencoba ayam yang sangat sulit dibuat tersebut. Meski terlihat mudah nyatanya Caramel harus gagal beberapa kali untuk membuat ayam goreng berlapis tepung krispi itu. Selain itu Caramel juga membuat sambal teri resep dari mama nya dan juga tumis bayam.


"Aduh deg-degan." Caramel menunggu Rafka mencoba ayam goreng buatannya.


Rafka menggigit dada ayam berbalut tepung lalu mengunyah nya perlahan, "enak." Pujinya jujur.


Caramel melepas napas lega setelah mendengar pendapat Rafka tentang masakannya. Sebenarnya meski gagal Rafka tetap akan memuji masakan Caramel.


"Aku suka sayur bayam." Rafka mengambil tumis bayam dan mengunyahnya dengan tenang.


"Kamu suka semua sayur sayang." Sahut Caramel.


Usai makan mereka menuju kantor Rafka setelah meletakkan wadah bekas makan dan mengambil salad buah untuk teman-teman Rafka. Selain enak, Caramel membawa salad buah Kayla agar lebih banyak orang yang mengenal salad buah buatan sahabatnya itu. Mereka selalu saling mendukung bisnis sahabatnya masing-masing. Seperti Jane yang selalu siap sedia membantu Caramel mengurus Caramel Sleepwear.


"Ingat bunga monstera itu?" Rafka menunjuk tanaman monstera berukuran cukup besar di depan gedung F.


"Kenapa?" Caramel melihat tanaman hias tersebut.


"Kamu menyebutnya instagramable, apa itu artinya?"


Caramel membelalak spontan melihat ke arah lain, itu sudah cukup lama kenapa Rafka masih mengingatnya.


"Kenapa mau tahu bukannya kamu nggak suka main Instagram?" Cara terbaik untuk mengindari pertanyaan adalah bertanya balik.


"Tapi aku—" Belum sempat Rafka menyelesaikan kalimatnya Caramel sudah lebih dulu menariknya masuk lift sebelum antrean menjadi panjang.


"Lisa!" Caramel melambaikan tangan melihat Lisa keluar dari ruangan bertuliskan CEWS di bagian pintunya. Itu adalah ruang kerja yang sama dengan Rafka. Lisa adalah teman Rafka yang bekerja di satu divisi.


"Caramel, gimana kabar kamu lama nggak ketemu." Lisa memeluk Caramel tidak lupa disertai cipika-cipiki.


Sebelum Caramel datang tadi Rafka sudah memberitahu teman-temannya dan memohon agar mereka tidak mengungkit tentang meninggalnya Arnesh. Rafka tak ingin kedatangan Caramel kesini membuatnya kembali mengingat masa kelam mereka.


"Baik-baik, kamu hamil ya, udah berapa bulan?" Caramel salah fokus pada perut Lisa yang sedikit buncit.


"Udah masuk lima bulan, kamu bawa apa?" Lisa segera mengalihkan perhatian Caramel karena ia tahu Caramel ingin segera hamil setelah kehilangan Arnesh.


"Salad buah nih, kamu harus makan ya."


"Yah, aku buru-buru mau siaran, sisain buat aku ya." Lisa segera masuk ke dalam lift melambaikan tangan Caramel.


"Oke!" Caramel membalas lambaian tangan Lisa. "Lisa siaran juga?"


"Iya, dari CEWS biasanya aku dan Lisa gantian."


Caramel manggut-manggut, mereka yang biasanya melaporkan cuaca di televisi adalah yang memiliki penampilan menarik atau sekarang lebih populer disebut good looking.


Mereka masuk ke kantor Rafka, beberapa orang belum kembali setelah makan siang jadi ruangan tersebut cukup sepi.


"Wah makasih ya, lu dateng nggak pernah dengan tangan kosong." Danu nyengir mendapat sekotak salad buah, lumayan untuk cuci mulut setelah makan siang. Danu mengira Caramel sudah berhasil keluar dari masa-masa depresinya setelah kehilangan Arnesh. Danu bisa merasakannya karena Rafka tak lagi cemberut dan galau setiap datang ke kantor. Dulu wajah Rafka selalu kusut dan muram, bukan hanya karena Caramel mengalami depresi tapi juga karena Rafka tidak dapat jatah, eh. Meski Rafka mengelak tapi Danu tahu masalah utama kegalauan Rafka adalah hal tersebut.


"Gue nggak kayak elu, pelit." Caramel mencibir.


"Enak aja, kalau pelit nggak mungkin tuh gaji gue semuanya gue kasih buat Indi." Sahut Danu tak terima.


"Kalau itu udah kewajiban elu sebagai suami."

__ADS_1


"Sudah-sudah, kalian kalau ketemu selalu seperti kucing dan tikus." Rafka berusaha menengahi sebelum perdebatan antara Caramel dan Danu semakin menjadi.


__ADS_2