
Di dunia kedokteran kasus seperti ini belum bisa diketahui penyebabnya secara pasti, dugaan sementara kemungkinan karena bayi anda lahir prematur. Namun itu juga bukan penyebab utamanya, sekali lagi kasus SIDS tidak bisa dijelaskan secara pasti. Bapak harap bersabar.
Ucapan dokter yang menangani Arnesh tadi terus terngiang di telinga Rafka bersama dengan tangisan dan amukan Caramel di UGD rumah sakit. Rafka tidak tahu apa itu sudden infant death syndrome, ini pertama kalinya ia mendengar istilah rumit tersebut, yang ia tahu adalah Arnesh mengalami hal mengerikan itu.
Caramel menangis meraung-raung kala melihat wajah Arnesh semakin pucat, tak ada lagi kehangatan dari tubuh si kecil. Saat itu Caramel menggendong mencium Arnesh berkali-kali berharap ada keajaiban yang membuat sang buah hati kembali bergerak. Rafka hanya bisa melihat, ia tidak berani mencegah Caramel melakukan hal tersebut. Hati Rafka perih seperti disayat silet berkali-kali tepat di dadanya. Sungguh sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan luka goresan di dagu Rafka yang ia dapatkan tadi pagi.
Kehidupan itu seperti halnya cuaca, ia tak melulu cerah terkadang ada hujan, petir, angin kencang dan badai. Kadang kita mendambakan cuaca cerah sepanjang tahun tapi bumi juga butuh turunnya hujan. Begitupun dengan hidup, kita selalu menginginkan kebahagiaan tapi Tuhan anugerah kan juga kesedihan dan kesusahan yang di dalamnya tersimpan pelajaran berharga.
Rafka masih mengenakan kemeja batik mega mendung memandang kosong di depan pusara penuh bunga bertuliskan Arnesh Pradipta Aditama dengan tanggal lahir dan tanggal hari ini. Jarak keduanya begitu dekat.
"Ayo pulang." Danu menepuk bahu Rafka, ia juga terpukul mendengar kabar ini.
Seperti kemeja yang Rafka kenakan, suasana hatinya juga mendung. Rafka bergeming meski papa mertuanya juga membujuknya untuk segera pulang. Aroma bunga mawar menusuk-nusuk hidung, tiba-tiba Rafka tidak suka aroma seperti ini. Harusnya aroma bunga menenangkan seseorang. Namun Rafka tiba-tiba mual mencium aroma bunga yang menyelimuti gundukan tanah merah tersebut.
"Ayo pulang, Caramel pasti membutuhkan mu." Bujuk papa Caramel lagi, jejak air mata begitu terlihat di wajahnya. Namun ia seperti Rafka yang enggan menangis di depan banyak orang.
Langit mulai gelap, matahari yang hari itu bersinar cerah mulai tenggelam digantikan sang malam. Tentu saja. Bumi itu berputar, ada siang dan malam, begitupun dengan kehidupan manusia.
"Rafka, kamu harus sabar menghadapi cobaan ini." Papa Rafka ikut membujuk Rafka, ia juga datang bersama istrinya sesaat setelah mendengar kabar duka tersebut.
Beberapa orang memang pandai bicara karena mereka tidak mengalaminya. Batin Rafka.
"Rafka, untuk sementara sebaiknya kamu tinggal di rumah Papa dan Mama dulu." Gumam papa Caramel.
Rafka mengangguk, "saya ambil beberapa barang Caramel dulu di apartemen, Pa." Ucapnya seraya berbalik.
Saat ini Caramel berada di rumah orangtuanya tidak ikut mengantar Arnesh ke peristirahatan terakhirnya. Rafka tidak tahu bagaimana ia akan menghibur Caramel setelah ini. Caramel adalah tipe orang yang sulit sembuh dari traumanya, meski terlihat tegar di luar tapi untuk sembuh dari rasa sakit itu tidak mudah baginya.
Rafka tidak percaya ini bisa terjadi kepadanya, ia bertanya-tanya mengapa dari jutaan bayi di dunia ini harus Arnesh yang hidup sesingkat itu. Rafka bahkan belum sempat mendengar Arnesh memanggilnya papa. Setelah perjuangan Caramel melahirkan Arnesh, ia harus kehilangan bayi itu padahal baru merawatnya 3 bulan. Mereka ingin marah tapi pada siapa? boleh kah mereka marah terhadap alam yang tak adil ini atau pada Tuhan yang menciptakan takdir. Bolehkah?
"Kamu bisa nyetir sendiri?" Papa Caramel mengetuk kaca jendela mobil Rafka.
__ADS_1
"Iya Pa." Rafka mengangguk tanpa eskpresi.
Rafka menginjak gas meninggalkan kawasan pemakaman umum dengan perasaan perih yang teramat sangat. Ia memandang kosong pada jalanan di depannya.
******
Rafka melangkah gontai melewati koridor panjang yang sepi—kosong—seperti hatinya saat ini. Rafka ingat ini adalah kali kedua ia merasakan kekosongan hati. Pertama adalah saat mendengar bahwa Caramel akan menikah dengan Rama lalu sekarang, sekarang jauh lebih menyakitkan dari itu. Rafka bahkan menyetir dalam keadaan setengah sadar, jiwanya melayang jauh ke atas langit. Ia ingin berlari jauh dari segala kesedihan ini.
Sebuah bungkusan yang tergeletak di samping pintu menarik perhatian Rafka, ia membungkuk untuk mengambilnya. Rafka membaca deskripsi barang yang tertulis pada kertas di atasnya bersama dengan nama Caramel.
Rafka tersenyum pedih, itu adalah kacamata hitam untuk Arnesh yang Caramel pesan tadi pagi. Caramel bilang mereka akan membawa Arnesh pergi ke pantai setelah membeli kacamata itu.
Rafka mendorong pintu apartemen, ia menunduk dalam, rasanya tak sanggup lagi berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Ia terduduk di atas lantai menekan dadanya yang teramat sakit. Bahunya naik turun dengan cepat, Rafka menangis dalam diam di tengah keheningan apartemen nya malam itu.
Mengapa Tuhan turunkan hujan tangis di tengah cerahnya cuaca hari ini?
"Rafka." Suara perempuan membuat Rafka spontan mengangkat wajahnya.
"Mama." Rafka segera mengusap air matanya kasar melihat mama nya masuk.
"Meski Arnesh lahir prematur tapi dia tumbuh sehat dan normal seperti anak-anak lainnya." Rafka tidak bisa menahan tangisannya lagi, ia memeluk mama nya dan menumpahkan semua rasa sakitnya melalui air mata. Rafka menangis tersedu-sedu di pelukan mama nya.
"Mama tahu." Suara mama Rafka gemetar menahan tangis meski itu sia-sia, ia mengusap punggung Rafka mencoba memberi kekuatan. Sejak kecil Rafka telah menderita karena harus jadi korban broken home. Sejak kecil Rafka terbiasa menahan sakit seorang diri. Lalu sekarang Rafka harus kehilangan Arnesh untuk selamanya. Kenapa harus Rafka yang mengalami penderitaan seberat ini?
"Mama tahu ini berat buat kamu Rafka." Mama Rafka mengeratkan pelukannya, ia ingin mengambil semua kesedihan Rafka. Ia tak kuasa melihat Rafka sedih seperti ini. "Kamu harus kuat demi Caramel."
Rafka mengangguk samar, bahkan saat ini ia tidak siap menemui Caramel. Rafka merasa hancur ketika melihat Caramel menangis.
"Mama akan tinggalkan kamu sendiri disini, kamu pasti butuh waktu sendiri kan?" Ia mengurai pelukan beranjak dari duduknya.
"Iya Ma." Rafka ikut beranjak, ia melihat mama nya keluar apartemen.
__ADS_1
Rafka hendak mengemasi beberapa barang dan pakaian miliknya untuk dibawa ke rumah orangtua Caramel. Untuk sementara mereka akan tinggal disana agar Caramel tidak berlarut-larut dalam kesedihan meski tentu saja itu sangat sulit.
Setiap sudut apartemen mengingatkan Rafka pada Arnesh dimana mereka menghabiskan waktu bersama dengan Caramel juga. Mulai dari memandikan Arnesh di kamar mandi, mengganti pakaiannya hingga menidurkannya. Atau ketika Caramel memberikan ASI untuk Arnesh di kursi khusus menyusui.
Aroma wangi tubuh Arnesh masih tercium kuat oleh Rafka. Wangi itu menguar hingga ke seluruh kamar membuat perasaan rindu Rafka kian merayap.
Rafka melangkah menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dan balkon. Itu adalah tempat terakhir Rafka menyaksikan Arnesh di gendongan Caramel. Rafka masih ingat bagaimana mata Arnesh berbinar-binar saat melihatnya.
Kelap-kelip lampu kota dari gedung-gedung pencakar langit menemani perjalanan Rafka malam itu. Suara klakson bersahut-sahutan tiada henti seolah ingin menembus hati Rafka yang kesepian.
******
"Caramel ada di kamar." Mama Caramel menyambut kedatangan Rafka di depan pintu.
"Biar Papa yang bawa." Papa Caramel hendak mengambil tas yang Rafka bawa.
"Nggak apa-apa, Pa." Rafka tetap melangkah menenteng tas berisi pakaian dan barang-barang milik Caramel.
Jane dan Kayla juga berada disana bermaksud menghibur Caramel. Namun mereka tahu bahwa Caramel tak semudah itu untuk kembali ceria jika telah mengalami kesedihan. Apalagi sekarang Caramel kehilangan Arnesh untuk selamanya.
Ketika Rafka masuk kamar, Jane dan Kayla keluar dari sana membiarkan Rafka dan Caramel berdua.
Rafka menutup pintu melihat Caramel yang memunggunginya. Sepanjang jalan tadi Rafka mengumpulkan mental untuk bicara kepada Caramel. Namun setelah melihat sosok sang istri, rangkaian kata yang ingin Rafka ucapkan hilang seketika. Kalimat apakah yang bisa membuat Caramel tabah atas kehilangan ini. Rafka tidak bisa menghibur Caramel karena ia sendiri juga merasakan hal yang sama.
"Mama." Panggil Rafka dengan suara pelan. "Kamu sudah makan?"
Caramel bergeming, ia bahkan tidak bergerak sedikitpun. Hanya helaan napas yang sesekali terdengar.
Rafka melangkah semakin mendekat hingga ia melihat wajah pucat Caramel dengan rambut sedikit berantakan. Jejak air mata begitu kentara di pipi Caramel yang mulus.
Tanpa berkata apapun lagi Rafka mencondongkan tubuhnya untuk menarik Caramel ke dalam pelukannya. Rafka hancur melihat Caramel seperti itu, ia hanya bisa memeluknya.
__ADS_1
Caramel tidak menolak pelukan Rafka tapi ia juga tidak membalasnya. Ia hanya memejamkan mata membenamkan wajah di dada bidang Rafka. Air matanya sudah mengering karena dari tadi tidak berhenti menangis.
"Maafkan aku." Rafka mengurai pelukan mengecup kening Caramel sangat lama.