
"Pa, kok Mama lama ke toiletnya?" Narel menepuk-nepuk paha Rafka.
"Apa kalian mau jemput Mama di toilet?" Rafka melihat dua anaknya yang sudah selesai makan dan minum segelas susu hangat. Tadinya mereka ingin langsung main ayunan setelah makan tapi karena Caramel tidak juga datang, Narel dan Binar harus menjemput mama mereka di toilet.
"Hati-hati ya sayang jangan lari." Rafka memperingatkan si kembar yang gemar berlari untuk hati-hati karena jalanan disini licin.
Narel dan Binar melihat Caramel berdiri di depan toilet tapi tidak sendiri, ada seorang lelaki yang berdiri di hadapan Caramel.
"Mama!" Binar berteriak memanggil mamanya, ia menarik tangan Narel agar berlari bersamanya menghampiri Caramel.
"Udah nggak ada yang dibicarain kan, aku pergi dulu, aku harap kita nggak pernah ketemu lagi kalaupun kita nggak sengaja ketemu aku mohon bersikaplah seolah-olah kita nggak saling kenal."
Narel dan Binar menghambur memeluk paha Caramel. Mereka melihat Caramel lalu seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Dia siapa Ma?" Binar bertanya pada Caramel, ia tak pernah melihat wajah lelaki itu sebelumnya.
"Bukan siapa-siapa." Caramel menggeleng samar sama sekali tak ingin mengenalkan Rama pada anak-anaknya, ia tak ingin berurusan lagi dengan Rama.
"Anak kamu kembar, bukannya waktu itu anak kamu laki-laki atau ini anak kamu yang kedua?" Rama tidak mempedulikan ucapan Caramel, ia hanya penasaran pada kehidupan Caramel selama ia berada di dalam penjara.
"Tolong jangan tanya apapun lagi." Tukas Caramel dengan penuh penekanan pada setiap kata. Ia menarik Narel dan Binar agar segera pergi dari sana.
Narel dan Binar terdiam padahal mereka masih penasaran siapa sosok lelaki yang baru saja berbicara dengan mamanya. Namun melihat wajah marah Caramel mereka tak berani bertanya lagi.
******
Sepanjang perjalanan pulang Caramel terus diam sambil memejamkan mata padahal Rafka yakin sang istri tidak tidur. Rafka merasa Caramel sedikit aneh sejak kembali dari toilet. Tadi Caramel bilang ingin segera pulang karena tidak enak badan. Namun Rafka merasa Caramel tak hanya tidak enak badan biasa. Mood Caramel juga sedang bermasalah. Meskipun Rafka tak bisa sepenuhnya menyelami hati Caramel tapi pada saat seperti ini ia tidak mau mengusik wanita itu. Nanti pasti Caramel akan menceritakan apa yang terjadi mengapa tiba-tiba ia ingin pulang dan terus diam sepanjang perjalanan.
"Narel dan Binar sudah janji kan sama Oma dan Opa untuk menginap di rumah mereka setelah pulang dari Bandung." Rafka melihat si kembar di jok belakang yang baru bangun tidurnya.
"Kami nggak lupa kok Pa." Jawab Narel, mereka diajari untuk selalu menepati janji dan tidak berbohong.
"Tapi kita harus pulang ke apartemen dulu, nanti Papa anterin ke rumah Oma Opa."
"Oke pa." Seru Narel dan Binar kompak lalu mereka lekas menutup mulut setelah ingat bahwa Caramel sedang tidur. Rafka tertawa melihat tingkah anak-anaknya dari spion atas.
Caramel membuka mata setelah mobil berhenti di tempat parkir apartemen, ia melihat Rafka mengelilingi mobil dan membukakan pintu untuknya lalu pintu belakang. Caramel turun disusul anak-anak yang terlihat lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari Bandung.
"Mama harus pegang tangan Narel dan aku." Binar meraih tangan kanan Caramel sedangkan Narel menggandeng tangan lainnnya ketika mereka keluar dari area parkiran sedangkan Rafka membawa barang-barang mereka yang digunakan selama kemping kemarin.
__ADS_1
"Kenapa?" Caramel tersenyum samar melihat perhatian Narel dan Binar kepadanya, mereka memiliki perasaan yang sensitif sehingga tanpa Caramel katakan pun mereka akan tahu bahwa keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Nanti Mama pingsan." Narel mendongak melihat Caramel.
"Terus kalau Mama beneran pingsan gimana?"
"Aku dan Narel akan menahan Mama supaya nggak jatuh."
Caramel tertawa, ingin sekali menggigit pipi mereka yang tampak kemerahan karena cuaca pagi ini cukup cerah. Walaupun Caramel telah melakukan itu berulang kali tapi ia tak akan pernah puas menggigit pipi Narel dan Binar karena setiap hari ada saja kelakuan mereka yang membuatnya gemas.
"Narel dan Binar bersih-bersih dulu terus ganti baju ya." Titah Rafka sesampainya di unit apartemen mereka. Rafka meletakkan barang-barang yang dibawanya.
"Iya Pa." Si kembar berlari masuk ke kamar mereka untuk membersihkan diri dan ganti baju sesuai arahan Rafka.
"Kamu mau minum sesuatu biar aku buatkan." Rafka menyentuh punggung Caramel.
"Aku pengen tidur."
"Oke." Rafka membimbing Caramel masuk kamar, ia bisa melihat wajah lelah dan pucat Caramel setelah sarapan tadi. "Kamu pasti masuk angin." Rafka membenarkan posisi bantal sebelum Caramel meletakkan kepalanya disana. Ia menyentuh kening Caramel yang terasa hangat dan menaikkan selimut hingga sebatas pinggang.
"Sebenernya tadi aku ketemu Rama."
Tangan Rafka yang hendak mengambil remote AC berhenti seketika mendengar nama itu. Pantas saja tingkah Caramel tak biasa sejak kembali dari toilet. Mengapa Caramel tidak bilang sejak mereka ada disana. Kalau tidak pasti Rafka sudah menghajar Rama karena masih berani memperlihatkan diri di depan Caramel. Benar juga, lebih dari 5 tahun sejak Rama ditahan.
"Dia cuma bilang asal aku maafin maka dia nggak bakal gangguin aku lagi, aku langsung iyain karena nggak mau lagi berurusan sama orang itu."
Rafka mengusap rambut Caramel, "sepertinya kita harus pindah dari sini, aku nggak mau Rama tiba-tiba datang kesini walaupun dia bilang nggak akan gangguin kamu." Rafka tidak mau menanggung resiko jika tiba-tiba Rama kesini untuk mengganggu Caramel. Mengapa 5 tahun terasa begitu cepat, rasanya baru kemarin Rafka menghajar Rama habis-habisan setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika pria itu melakukan pelecehan terhadap Caramel.
Caramel memejamkan mata mengangguk samar, ia kehilangan tenaganya setelah muntah-muntah jadi sekarang Caramel hanya ingin tidur.
"Hal seperti itu nggak akan terjadi lagi, aku janji." Rafka mengecup kening Caramel, ia tahu perasaan Caramel sekarang setelah bertemu dengan Rama yang merupakan trauma terbesarnya selama ini. "Kamu istirahat dulu aku siapkan makanan lalu minum obat ya."
"Makasih sayang." Suara Caramel serak, ia hampir saja berpindah ke dunia mimpi jika Rafka tidak bicara.
Rafka melangkah masuk ke kamar Narel dan Binar untuk memastikan jika mereka sudah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian. Caramel menyusun pakaian mereka di lemari masing-masing selama seminggu ke depan sehingga memudahkan mereka untuk ganti baju sendiri.
"Narel Binar." Rafka memanggil si kembar seraya melangkah ke kamar mandi, ia mendelik melihat mereka bermain gelembung sabun menggunakan shampo bukannya mandi. "Papa kan bilang mandi bukan main." Rafka geleng-geleng melihat tingkah mereka. "Papa mandikan ya."
Rafka mengangkat Narel dan Binar ke bawah shower untuk memandikan mereka. Kalau tidak pasti mereka hanya akan bermain-main di kamar mandi sampai nanti.
__ADS_1
"Sebentar lagi kalian udah mau sekolah loh, kalau Papa atau Mama bilang mandi kalian harus mandi jangan main-main ya apalagi main air, bisa masuk angin kayak Mama."
Mereka hanya tertawa mendengar omelan Rafka. Menghadapi anak-anak memang harus ekstra sabar karena mereka tak akan langsung menuruti perintah orangtuanya. Namun jika tidak diberi arahan mereka akan semakin salah jalan. Sudah menjadi tugas orangtua untuk selalu mengarahkan anak.
Setelah mandi mereka mengganti pakaian sendiri. Namun Rafka membantu menyisir rambut mereka. Rafka menguncir rambut panjang Binar seperti ekor kuda. Itu adalah jenis kunciran yang paling gampang bagi Rafka.
*******
Mata Caramel berat untuk dibuka tapi punggungnya terasa pegal mungkin karena terlalu lama tidur. Caramel melihat ke arah gorden coklat yang telah tertutup. Itu artinya ini sudah malam, Caramel memang kebo ia bisa tidur seharian penuh tanpa terbangun sedikitpun.
"Papa." Caramel melirik ke sekitarnya mencari sosok Rafka. Ia beringsut turun dari tempat tidur melangkah menuju kamar mandi tapi Rafka tidak ada disana. Ia mencium aroma margarin dan telur goreng, sepertinya Rafka sedang membuat telur ceplok.
"Anak-anak kemana?" Caramel memeluk punggung dan mencium leher Rafka tak peduli jika Rafka akan mencium bau tidak sedap karena ia belum mandi seharian ini.
"Udah dijemput Mama dan Papa tadi." Rafka membalik telur di atas penggorengan dan memindahkannya ke piring sebelum gosong.
"Kok kamu nggak bangunin?"
"Narel dan Binar sudah pamitan tadi tapi kamu nggak bangun, mereka bisa mengerti kalau mamanya sedang tidak enak badan."
"Mereka baik kayak kamu." Caramel membenamkan wajahnya pada punggung Rafka, ia menempel seperti gelatin hingga membuat Rafka sulit bergerak.
"Ayo makan sayang, kamu belum makan apapun sejak tadi." Rafka berbalik melihat istrinya yang tiba-tiba bersikap manja saat tidak ada anak-anak.
Caramel mengerucutkan mulutnya, "aku bau ya?"
"Enggak."
"Kok kamu nggak mau dipeluk?"
Rafka menahan senyum, lihatlah wanita memang selalu menarik kesimpulan tak masuk akal seperti itu. Seperti ketika Caramel minta izin untuk membeli sepatu baru, Rafka akan bilang bahwa sepatu Caramel masih banyak yang tidak dipakai lebih baik beli barang lain saja. Lalu Caramel akan bilang bahwa Rafka tidak sayang lagi padanya. Dari mana Caramel menyimpulkan bahwa tidak boleh beli sepatu dengan tidak sayang lagi. Meski memikirkannya Rafka tetap tidak akan mengerti.
"Mau kok." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya mengusap punggung sang istri untuk membuatnya tenang dan tidak marah-marah lagi. "Kamu datang bulan ya?" Tanyanya, karena perempuan akan marah-marah tidak jelas saat sedang datang bulan.
"Ayo makan." Caramel melepaskan diri dari pelukan Rafka bukannya menjawab pertanyaan sang suami.
Selain telur masa sapi Caramel juga melihat ada sup daging dan sambal kecap di meja makan. Rafka memang begitu terampil memasak.
"Setelah ini kamu harus minum obat."
__ADS_1
"Nggak usah, aku udah enakan kok." Tidur seharian membuat tubuh Caramel jauh lebih baik sehingga ia tidak memerlukan obat. "Makasih ya udah masak sebanyak ini."
Usai makan Caramel segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket akibat belum mandi dari kemarin. Caramel menyalakan lilin aromaterapi sebelum berendam di dalam bathtub yang telah diisi air hangat dan sabun.