
Walk in closet Caramel penuh dengan tumpukan pakaian yang baru dikeluarkan oleh si pemilik dari lemari. Caramel tak percaya pada dirinya sendiri karena memiliki pakaian sebanyak ini hingga 8 lemari miliknya sudah tidak cukup. Dan kagetnya lagi banyak dari baju tersebut yang tidak pernah Caramel pakai sejak membelinya terlihat dari tag pakaian itu yang belum dilepas. Banyak brand pakaian terkenal yang bahkan Caramel lupa kalau pernah membelinya jika ia tidak membongkar isi lemari itu.
Caramel berencana menjual pakaian yang belum pernah ia kenakan dengan harga yang jauh lebih murah dari harga belinya. Sebagian lagi akan ia berikan kepada teman-teman online nya di Instagram.
"Aduh sayang banget." Caramel memeluk crop top putih dengan motif bunga yang jika dipakai akan memperlihatkan perutnya yang cantik (dulu) tapi sayangnya ia lupa jika pernah membelinya. Namun setelah melihat kembali Caramel ingat ia membeli baju itu dengan hasil kerjanya sendiri, sayang kalau dijual.
Tadinya Caramel bersemangat untuk menjual mereka tapi setelah melihatnya satu per satu, ia jadi galau mengingat harus bekerja seharian untuk membeli baju itu. Namun jika ingin membuka toko offline Caramel harus menjual barang-barang yang tidak ia pakai karena harga sewa kios di Jakarta sangat mahal. Rafka memang siap membantu Caramel baik secara moral maupun materi tapi Caramel tidak boleh mengandalkan sang suami sepenuhnya.
Meskipun hasil penjualan Caramel Sleepwear melalui online shop juga sudah lebih dari perkiraan tapi Caramel ingin bisnisnya lebih berkembang lagi dengan membuka toko offline. Ia harus berani keluar dari zona nyaman dan menghadapi tantangan baru.
Caramel meregangkan tubuhnya setelah cukup lama duduk di lantai memilah pakaian berdasarkan merek dan jenisnya. Ia akan menjualnya di e-commerce agar lebih mudah ditemukan oleh calon pembelinya.
Ini adalah akhir pekan, satu hari yang selalu Caramel tunggu karena Rafka akan ada di rumah sehari penuh. Caramel ingin setiap hari adalah akhir pekan sehingga ia bisa ditemani Rafka. Tentu saja itu mustahil terjadi.
"Mama, sepertinya Arnesh haus." Suara Rafka datang dari luar kamar.
Caramel beranjak, ia memang merasa ini waktunya Arnesh menyusu karena dadanya mulai terasa penuh. Caramel berusaha menyusui Arnesh setiap dua jam sekali sesuai saran dokter.
"Aduh anak Mama haus ya." Caramel gemas melihat Arnesh menjulurkan lidahnya, ia mengambil alih sang buah hati dari gendongan Rafka.
"Sudah dapat baju yang akan dijual?" Rafka mengikuti Caramel duduk di pinggiran tempat tidur.
"Belum dipilah sih, tapi kayaknya bakal banyak banget." Caramel membuka dua kancing teratas piyamanya bersiap memberikan ASI kepada Arnesh.
"Lebih banyak lebih baik."
"Semoga ada yang mau." Caramel mengusap kepala Arnesh yang mulai anteng menyusu.
"Aku yakin semua pakaianmu akan terjual." Rafka optimis bahwa baju Caramel akan terjual karena meski ia tidak mengerti fashion tapi semua baju Caramel tak ada yang jelek. Hanya saja sejak menikah Rafka tidak memperbolehkan Caramel mengenakan pakaian yang terlalu terbuka saat di luar rumah. "Kita akan menyewa kios di Grand Indonesia?"
Caramel menggeleng kuat, "kita belum mampu sewa kios disana, harganya tiga kali lipat dari mobil aku."
"Harga sewa bangunan di Jakarta memang tidak ada yang murah, tapi itu akan sebanding dengan banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu."
"Tapi nggak di Grand Indonesia juga, tempatnya emang deket dari sini tapi Caramel Sleepwear belum bisa bersaing sama brand lain yang lebih dulu dikenal masyarakat."
"Kita bisa pelan-pelan perkenalkan brand kamu kepada masyarakat luas."
__ADS_1
"Makasih ya kamu udah dukung aku." Caramel menyentuh paha Rafka.
"Aku akan selalu mendukung mu." Rafka mendekatkan wajahnya, pandangannya turun ke bibir Caramel tanpa lipstik atau produk bibir apapun.
"Eh!" Caramel memekik pelan ketika Rafka tiba-tiba menyambar bibirnya, ia mendelik mencengkram paha Rafka. Sungguh tidak etis mereka melakukan ciuman panas ini di depan Arnesh. Awalnya Caramel hendak mendorong dada Rafka tapi tubuhnya tak bisa bohong, ia menikmati ciuman itu—pelan tapi intens.
Tangan Rafka meraba tengkuk Caramel dan menahannya, ia tidak mau mengganggu acara minum Arnesh.
"Ih kamu nggak malu dilihatin Arnesh!" Caramel memukul dada Rafka setelah mereka mengakhiri ciuman tiba-tiba itu. Rafka memang selalu memberi ciuman tak terduga seperti itu tapi tetap saja Caramel belum terbiasa.
"Justru bagus, Arnesh akan mengerti kalau Papa dan Mama nya begitu saling mencintai."
Caramel mencibir, ada saja alasan yang Rafka gunakan agar ia tidak kesal karena tingkah lelaki itu. Anehnya Caramel menganggap kalimat itu masuk akal juga.
"Pa, tolong bantu fotoin baju-baju yang aku gantung di luar lemari satu-satu, nanti aku posting di akun Tokopedia ku."
"Oke." Tanpa diminta dua kali Rafka beranjak dari sana bergegas mengambil kamera yang disimpan di dalam nakas.
"Yang bagus ya." Pesan Caramel sebelum Rafka masuk ke walk in closet dengan kamera di tangannya walaupun ia yakin hasil jepretan kamera Rafka selalu bagus—tak pernah gagal.
Setelah terlelap, Caramel memindahkan Arnesh ke dalam box karena ia hendak mandi. Salah satu alasan Caramel sangat menantikan akhir pekan adalah ia hanya bisa berendam di bathtub pada hari itu. Caramel harus merelakan momen berendam sejak melahirkan, tapi kebersamannya dengan Arnesh terasa sangat berharga. Caramel bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan lebih dari saat ia berendam di bathtub.
Caramel memberikan kecupan lama di kening Arnesh sebelum meninggalkannya.
"Aku mandi dulu ya, Pa." Tukas Caramel pada Rafka yang tampak serius memotret crop top motif bunga yang ia padukan dengan hot pant putih berbahan linen. Caramel membeli keduanya dengan harga hampir satu juta tapi ia akan menjualnya setengah harga.
"Arnesh tidur?" Rafka menoleh sesaat pada Caramel setelah ia menyelesaikan satu jepretan.
"Iya, tolong dilihat-lihat takutnya bangun."
Rafka mengangguk, "tapi kenapa baju ini dijual?"
"Kenapa?" Caramel bingung dengan pertanyaan Rafka, kenapa bagaimana? Bukankah ia sudah bilang alasannya menjual baju-baju itu.
"Kau tidak pernah memakai baju seperti ini di depanku."
"Katanya nggak boleh pakai baju begitu."
__ADS_1
"Boleh asal tidak dipakai keluar rumah." Rafka memeriksa hasil fotonya barusan.
"Aku punya banyak di lemari, tapi masalahnya perut aku sekarang udah nggak sebagus dulu jadi nggak PD mau pakai crop top."
Rafka memfoto sekali lagi sepasang pakaian berwarna dasar putih itu karena belum puas dengan hasil foto sebelumnya. Ia akan mengulang lagi dan lagi jika belum mendapatkan foto yang pas menurutnya.
"Aku dengar ada perawatan yang bisa membuat perut kembali kencang seperti saat sebelum hamil, kamu boleh mencobanya jika itu bisa menambah rasa percaya diri."
"Tahu dari siapa?" Caramel curiga karena Rafka yang serba kudet ini bisa tahu soal perawatan seperti itu.
"Danu memberitahuku." Tentu saja siapa lagi narasumber Rafka yang serba tahu tentang dunia luar jika bukan Danu. "Katanya Indi terus merengek ingin perawatan disana."
"Terus?"
"Lalu mereka akan pergi hari ini."
"Ya udah aku lihat hasilnya punya Indi dulu." Caramel berlalu dari sana, ia tidak boleh membuang waktu sementara Arnesh tidur.
******
Caramel selesai mengunggah foto pakaian, sepatu dan tas nya ke e-commerce setelah menghabiskan waktu seharian penuh memilah barang-barang tersebut. Caramel bersyukur karena ada Rafka yang membantunya mengambil foto. Awalnya Caramel hanya akan menjual bajunya tapi setelah melihat kembali rak tas dan sepatu, ia juga punya banyak yang masih bagus dan jarang dipakai. Caramel akan menjual sebagian dari barang miliknya dan mencoba mengurangi perilaku konsumtif tersebut.
Rafka melihat Caramel ketiduran dengan Arnesh berada di pangkuannya yang juga sudah terlelap. Jam menunjukkan pukul 8 malam saat mereka menyelesaikan pekerjaan hari ini dan makan malam. Caramel memasak cumi saus padang resep dari Kayla dan itu membuat makan malamnya dua kali lebih banyak dari biasanya begitupun dengan Rafka. Dan sekarang Caramel ketiduran sambil memangku Arnesh, selain kekenyangan ia juga lelah karena akhir pekan yang sangat sibuk.
Perlahan Rafka mengangkat Arnesh dari pangkuan Caramel dan memindahkannya ke ranjang, ia memasang kancing piyama Caramel yang terbuka setelah memberi ASI pada Arnesh.
"Sayang perbaiki posisi mu." Ucap Rafka pelan.
Caramel otomatis merosot menjatuhkan kepalanya tepat ke atas bantal dengan mata tertutup.
Rafka menyelimuti tubuh Caramel hingga sebatas pinggang, sekilas ia melihat luka bekas operasi di perut Caramel. Sungguh Rafka tak pernah salah menambatkan hatinya kepada Caramel, wanita kuat yang selalu membuat Rafka bersyukur. Mereka telah melalui banyak hal bersama, Rafka berjanji pada dirinya sendiri akan selalu membahagiakan Caramel dan Arnesh. Ia belajar dari perceraian mama dan papanya karena adanya perselingkuhan. Rafka tak ingin seperti papanya yang gagal menjadi suami untuk mamanya. Rafka ingat betapa dirinya dan Febi sangat menderita dulu saat tahu papa mereka selingkuh dan lebih memilih wanita yang baru dikenalnya dibandingkan mama mereka.
Rafka ikut berbaring di atas ranjang di samping Arnesh yang terdengar mendengkur halus. Ia mengecup pipi Arnesh yang halus dan berwarna kemerahan. Ia ingin sekali menggigit pipi itu karena gemas tapi takut ketahuan Caramel, ia bisa diomeli jika ketahuan melakukan hal tersebut.
__ADS_1