
Caramel tersenyum melihat hasil karyanya di atas meja makan, ia bangun pagi-pagi sekali demi memasak sayur asem, sambal terasi dan ikan goreng yang merupakan makanan kesukaan Rafka. Caramel juga membuat nasi goreng udang untuk Narel dan Binar. Ini adalah hari pertama si kembar masuk sekolah sehingga Caramel ingin membuat makanan yang enak untuk mereka agar lebih semangat bersekolah.
Suara ketukan sepatu mengalihkan perhatian Caramel, ia melihat Narel dan Binar turun melewati anak tangga dan menghampirinya.
"Pelan-pelan sayang." Caramel tak henti-hentinya mengucapkan itu karena Narel dan Binar tak pernah berjalan tapi berlari.
"Wah Mama masak apa?" Rafka menyusul ke ruang makan. Air liur memenuhi rongga mulutnya melihat sayur asem dan sambal terasi di atas meja. Rafka tidak sabar menyantap semuanya.
"Sayur asem kesukaan Papa dan nasi goreng spesial untuk Narel dan Binar supaya semangat hari pertama sekolahnya, Mama kasih telur mata sapi juga nih."
"Makasih Mama untuk makanannya." Ucap Rafka, Narel dan Binar serempak seperti paduan suara.
Caramel tersenyum, ucapan terimakasih dari mereka selalu membuat hatinya hangat. Meski terdengar sepele tapi mereka membiasakan Narel dan Binar untuk menghargai usaha orang lain contohnya dengan mengucapkan terimakasih seperti barusan.
"Sama-sama." Caramel duduk di samping Rafka setelah menuangkan susu untuk Narel dan Binar serta air putih untuk Rafka.
"Karena Mama udah bangun pagi demi masak ini semua, Papa harus suapi Mama ya." Rafka memberi suapan pertama untuk Caramel.
"Narel juga mau suapi Mama." Ujar Narel.
"Binar juga." Timpal Binar.
"Oke, sebentar ya Mama habisin ini dulu." Caramel mengunyah nasi dan potongan labu siam serta ikan goreng di mulutnya.
Narel dan Binar menyuapi Caramel bergantian. Pelajaran pertama untuk anak-anak didapatkan di rumah contohnya seperti apa yang terjadi di ruang makan. Secara tidak langsung mereka belajar menghargai usaha orang lain dan berbagi.
"Mama, nanti kalau di sekolah nggak ada temen gimana?" Binar melihat Caramel, ia khawatir bertemu orang-orang baru akan membuatnya tidak nyaman. Ia takut teman sekolahnya tidak ramah dan tak mau bermain dengannya.
"Nggak mungkin dong, di sekolah kalian pasti akan punya teman banyak, Mama yakin mereka semua anak baik yang bisa berteman dengan Narel dan Binar juga."
"Binar, kamu tenang aja aku akan temenin kamu terus." Narel menepuk-nepuk punggung tangan kembarannya.
Caramel dan Rafka saling pandang setelah melihat interaksi Narel dan Binar yang begitu membuatnya bangga. Meski usia mereka hanya berbeda beberapa menit tapi Narel selalu bertindak seperti seorang kakak bagi Binar. Narel lebih lepas dan pemberani sedangkan Binar sering mengkhawatirkan sesuatu seperti yang baru saja ia katakan.
"Oh iya Mama bawain kalian cookies, nanti jangan lupa dibagi ke temen-temen ya." Caramel telah memasukkan cookies coklat ke dalam tas mereka untuk dimakan saat jam istirahat.
"Mama nanti nggak temenin kami?" Tanya Binar.
"Mama pulang dong sayang, di sekolah kan udah ada Bu guru."
Memasukkan anak-anak ke sekolah juga merupakan cara untuk mengajarkan kemandirian dan keberanian karena tak selalu didampingi orangtua.
Usai makan mereka bersiap-siap berangkat ke kantor dan sekolah. Hari pertama Caramel akan mengantar si kembar ke sekolah mereka. Rencananya jika sudah lebih berani maka Rafka yang akan mengantar anak-anak karena sekolah dan kantornya satu arah. Meskipun tak satu arah pun Rafka tetap akan mengantar mereka.
"Mbak, meja makannya belum aku beresin ya." Kata Caramel pada Naya yang sedang menyiram bunga di depan rumah. Naya senang berkebun itu sebabnya ia menanam berbagai macam bunga depan rumah dan sayur di samping rumah. Saat berada di apartemen dulu Naya tidak bisa melakukan hobinya itu karena tak ada lahan untuk bercocok tanam. Caramel juga tidak melarang Naya menanam apapun karena ia juga suka melihat tumbuhan di sekitar rumah.
"Iya Bu sebentar lagi saya bereskan." Balas Naya sopan.
Narel dan Binar mencium tangan Rafka sebelum mereka naik mobil Caramel.
"Semoga kalian betah ya sama sekolahnya." Rafka mengusap puncak kepala Narel dan Binar serta mencium pipi mereka yang menggemaskan.
__ADS_1
Narel dan Binar bergegas masuk ke mobil mamanya setelah membalas ciuman sang papa.
"Hati-hati di jalan." Ujar Caramel.
"Kamu juga." Rafka mencium kening Caramel, ia sudah melakukannya saat di dalam rumah tadi tapi ia ingin mencium sang istri sekali lagi. Berapa kali pun Rafka mencium Caramel rasanya tak akan pernah cukup.
Naya diam-diam tersenyum melihat kemesraan dua majikannya. Mereka tak pernah mengumbar kata romantis tapi love language keduanya adalah physical touch dan act of service.
Kadang Naya mendapati Rafka mengisi persediaan kapsul kopi kesukaan Caramel di laci dapur tanpa sepengetahuan Caramel. Meski itu terlihat sepele tapi kopi adalah sesuatu yang berarti bagi Caramel dan ia pasti bahagia jika melihat kapsul kopi di laci penuh. Justru perhatian kecil yang mereka berikan pada pasangan itu yang membuat Naya ikut tersentuh.
"Papa Minggu depan ke Dufan yuk." Seru Narel dari dalam mobil.
"Dufan?" Alis Rafka terangkat, anak-anak itu sekarang sudah bisa memilih tempat liburan mereka sendiri. "Tanya Mama dulu boleh nggak?"
"Ma, boleh nggak ke Dufan?" Tanya Narel dan Binar.
"Boleh." Caramel mengangguk yang sontak membuat si kembar bersorak gembira karena mereka bisa ke Dufan naik berbagai macam wahana permainan disana.
"Kalau gitu Minggu depan kita ke Dufan sama anak-anak." Rafka menyentuh lengan Caramel dan mengusapnya.
"Dan adiknya." Caramel menatap ke bawah lebih tepatnya ke arah perutnya.
"Adiknya?" Rafka mengerutkan kening.
Caramel mengangguk menahan senyum, ia sudah menahannya dari kemarin menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu kehamilannya.
"Kamu hamil?" Rafka membelalak.
"Serius?" Rafka terperangah tak percaya.
"Iya."
"Kamu hamil lagi sayang." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya bahkan ia mengangkat tubuh sang istri dan berputar-putar.
Caramel memekik menepuk-nepuk bahu Rafka agar menurunkannya karena malu jika sampai ada orang lain yang melihat.
"Apa Mama hamil?" Narel dan Binar ikut heboh melihat papanya bersorak seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah.
"Iya." Rafka menurunkan Caramel.
"Kalau gitu kami akan punya adik dong Pa?" Binar dengan sepasang matanya yang berbinar-binar seperti namanya melihat Rafka dan Caramel bergantian. Ia berpikir jika memiliki adik adalah sesuatu yang menyenangkan.
"Terimakasih sayang." Rafka mencium kening dan pipi Caramel berkali-kali.
"Terimakasih atas kerja samanya." Caramel tertawa di ujung kalimatnya, ia mengusap mata Rafka yang basah karena tangis kebahagiaan pagi itu. "Ayo berangkat nanti kamu telat."
"Kita harus buat janji dengan dokter supaya nanti sore bisa periksa ya."
"Oke." Caramel mengangguk.
Rafka masuk ke dalam mobil BMW Seri 8 Coupe miliknya sedangkan Caramel masuk ke mobilnya untuk mengantar anak-anak ke TK yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
__ADS_1
******
Caramel lupa kapan terakhir kali menginjakkan kaki di depan ruang praktek dokter kandungan ini. Tiba-tiba saja ia tegang padahal ini bukan kehamilan pertama tapi setelah sekian lama tidak melakukan pemeriksaan, perasaan Caramel kembali seperti dulu lagi. Antara tegang dan tidak sabar ingin melihat janin dalam perutnya melalui monitor. Meski sekarang janin itu hanya akan terlihat seperti biji kecil tapi Caramel ingin segera melihatnya.
"Its okay ini anak ketiga kita sayang." Rafka menggenggam tangan Caramel ketika memasuki ruangan dokter kandungan yang dulu juga menangani Arnesh dan si kembar.
"Selamat sore, nggak nyangka pasien terakhir hari ini adalah Pak Rafka dan Bu Caramel." Dokter menyapa Rafka dan Caramel. "Gimana si kembar?"
"Mereka lagi aktif-aktifnya dok, nggak pernah mau jalan pasti lari terus."
Dokter tertawa, anak-anak memang seperti itu. Selama menangani banyak pasien, pasangan Rafka dan Caramel cukup berkesan di hatinya karena mereka kehilangan anak pertama ketika usianya masih 3 bulan lalu Tuhan berikan dua anak sekaligus. Sungguh Tuhan adalah sebaik-baik penulis skenario.
"Anak-anak memang begitu, sebagai orangtua kita jangan terlalu banyak melarang mereka, asal tidak melakukan hal yang berbahaya biarkan saja, awasi dari jauh."
"Iya dok, kami masih belajar jadi orangtua yang baik." Balas Caramel.
Kemudian obrolan berlanjut pada keadaan Caramel sekarang, ia menceritakan bahwa sudah telat datang bulan dan ia telah mengeceknya menggunakan test pack.
Caramel diminta berbaring sebelum dokter mengoleskan cairan dingin pada perutnya.
Rafka menggenggam mengusap-usap punggung tangan Caramel untuk mengurangi ketegangan sang istri. Ia fokus melihat layar monitor yang akan menunjukkan janin di dalam perut Caramel.
"Memang benar ada janin, usianya masuk 7 Minggu lo hari ini, Bu Caramel tidak menyadarinya?"
"Sebenarnya akhir-akhir ini kami sibuk mengurus pindahan rumah tapi saya sudah menggunakan test pack sejak dua Minggu lalu dan baru berani memastikan hari ini." Jelas Caramel. Rafka membelalak dan meremass tangan Caramel karena ia merasa dicurangi, harusnya Caramel menceritakannya dari awal.
"Selamat Bu, Pak, kalian akan mendapatkan anak ketiga sekaligus keempat."
Caramel dan Rafka saling berpandangan, jadi Caramel hamil anak kembar lagi? ini benar-benar tidak dapat dipercaya.
"Kembar lagi dok?" Tanya Caramel memastikan bahwa ia tidak salah dengar, rasanya seperti sedang bermimpi mendapatkan bayi kembar untuk kedua kalinya.
"Benar Bu, saya akan resepkan vitamin untuk menjaga kesehatan Ibu ya, semuanya baik-baik saja dan sehat. Sekali lagi selamat."
Rafka membantu Caramel bangun dari posisi berbaring dan langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya. Air mata telah meleleh membasahi pipi Rafka, ini adalah hadiah yang tak terduga untuk mereka.
"Terimakasih untuk hadiahnya." Bisik Rafka seraya mengecup kening Caramel. "Bagaimana ini, aku akan khawatir sepanjang hari meninggalkanmu di rumah."
Caramel tertawa, ini bukan pertama kalinya ia hamil tapi sikap Rafka seolah-olah mereka baru akan memiliki anak pertama.
Rafka menggenggam tangan Caramel ketika mereka melewati koridor rumah sakit setelah bertemu dokter kandungan. Memiliki istri yang sedang hamil membuat Rafka merasakan senang dan khawatir pada saat yang bersamaan.
"Terimakasih untuk 7 tahun luar biasa ini." Gumam Rafka dengan mata berkaca-kaca, jika ini bukan tempat umum pasti ia telah menangis sambil memeluk Caramel. Namun ia harus menahannya sekuat tenaga agar tidak menangis. Sungguh Rafka bukan laki-laki cengeng tapi sekarang air matanya seolah tak bisa dibendung dan mengalir dengan sendirinya.
"Kita akan melewati tahun ke delapan sembilan sepuluh dan belasan tahun lagi kayak gini." Caramel menatap tangan mereka yang sedang saling menggenggam. "Sama anak-anak yang walaupun kadang capek tapi mereka yang bikin kita kuat."
Rafka mengangguk, ia merangkul Caramel dari samping tidak peduli jika orang-orang melihatnya.
"Apa nama panggilan yang cocok untuk mereka?" Rafka mengusap perut rata Caramel.
"Tutty Fruity?" Nama salah satu makanan penutup itu tiba-tiba terlintas di pikiran Caramel.
__ADS_1
"Nama yang manis, Tutty Fruity." Rafka sedikit merendahkan tubuhnya untuk mencium perut Caramel. Mulai sekarang dan beberapa bukan ke depan mereka akan memanggil calon bayi mereka dengan nama Tutty Fruity seperti mereka memanggil Narel dan Binar dengan Pineapple.