
"Rafka .... " Caramel memanggil nama suaminya dengan mata masih terpejam, ia meraba-raba ruangan di sampingnya. Entah sudah berapa lama Caramel tidur sejak muntah-muntah. Tubuhnya sangat lemas akibat semua makanannya keluar begitu saja tanpa dicerna terlebih dahulu.
Rafka berjalan mendekati ranjang saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Caramel sudah bangun.
"Kamu sudah bangun?" Rafka duduk di pinggiran ranjang mengusap rambut sang istri.
Caramel mengangguk pelan, ia bergerak memeluk Rafka dari samping menyandarkan tubuhnya pada lelaki kekar tersebut.
"Kamu mau sarapan apa?"
Tidak ada jawaban dari Caramel, Rafka tersenyum dan memutar badan memposisikan diri lebih nyaman. Rafka jadi ingat pertemuan pertama mereka setelah rencana perjodohan itu, Caramel terlihat galak tapi sekarang sikapnya berubah sangat manja pada Rafka.
"Ini jam berapa?" Caramel menutup matanya dengan tangan, matanya menyesuaikan cahaya sekitar yang terlalu terang.
"Jam sepuluh." Jawab Rafka.
Caramel membelalak, itu artinya ia tidur hampir 20 jam. Wah parah nih kebo! Caramel memarahi dirinya sendiri. Padahal Caramel sudah membayangkan akan begadang saat di rumah sakit, menunggu hingga Rafka tidur. Namun kenyatannya Caramel justru tidur jauh lebih awal dari pada Rafka.
"Kamu udah nggak pakai ventilator?" Caramel turun dari ranjang mencari ponselnya.
"Tidak, aku sudah bisa bernapas dengan baik jadi dokter bilang tidak perlu memakai ventilator lagi."
"Jadi tadi dokter kesini?" Pekik Caramel terkejut, ia tidak bisa membayangkan bagaimana posisinya tadi saat tidur. Bukannya pasien yang tidur di atas ranjang justru Caramel yang berada disana, ah betapa malunya ia membayangkan itu semua.
Rafka mengangguk, "kamu tetap cantik walaupun tidur jadi tidak usah khawatir."
Caramel tersenyum, pipinya memerah saat Rafka mengatakan ia cantik. Ia membaca puluhan pesan dari Jane dan belasan panggilan tak terjawab. Caramel heran dengan dirinya sendiri karena tetap tidur walaupun mendapat telepon dan rentetan pesan yang masuk ke ponselnya.
"Syukurlah, Kayla sudah melahirkan." Senyum Caramel lebar, ia tidak sabar melihat keponakan barunya. Caramel meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan dari Jane.
"Kamu mau lihat?"
"Iya, aku bersih-bersih badan dulu terus kesana, sebentar aja kok nggak apa-apa ya?"
"Iya." Rafka kembali mengangguk.
Caramel bergegas masuk ke kamar mandi membawa peralatan mandi yang sudah ia persiapkan di dalam koper.
"Ternyata masih ada." Caramel melihat pantulan dirinya di depan cermin, bekas kemerahan itu masih ada. Caramel tidak tahu berapa lama bekas itu akan bertahan di leher jenjangnya, apa ini karena Rafka menciumnya terlalu kuat?
10 menit kemudian Caramel sudah keluar dari kamar mandi, Rafka heran melihatnya karena biasanya wanita itu menghabiskan waktu cukup lama disana.
"Aku nggak mandi." Tukas Caramel seolah tahu pada apa yang Rafka pikirkan.
"Ya, kau memang seharusnya tidak mandi, aku takut kamu masuk angin lagi."
Caramel lega karena ternyata Rafka tidak keberatan jika ia tidak mandi. Rafka memang robot idaman semua orang.
"Kamu tidak sarapan sebelum pergi?" Rafka memperhatikan Caramel yang sedang mengganti bathrobe dengan celana panjang hitam dan sweat shirt oversize. Sejak menikah Caramel tak lagi menggunakan bawahan di atas lutut kecuali di dalam rumah. Rafka tak pernah protes tentang masakan atau pekerjaan rumah lainnya, ia hanya sering protes terhadap pakaian yang Caramel kenakan.
__ADS_1
"Kamu udah?" Caramel menggulung rambutnya hingga berbentuk cepol tanpa menyisirnya, ia ingin segera melihat baby baru nya Kayla.
"Ya." Rafka mengangguk.
"Kalau gitu aku keluar sekalian cari makan deh." Caramel menggantung bathrobe di belakang pintu kamar mandi, ia benar-benar menganggap rumah sakit ini seperti hotel. Danu memang pandai memilih ruangan nyaman sekaligus mahal juga.
"Jangan jauh-jauh."
Caramel tertawa, kalimat itu terdengar seperti orangtua yang sedang memberi pesan pada anaknya untuk tidak bermain terlalu jauh.
"Maksudku—kamu masih belum sehat betul."
"Ya, kamu nggak usah khawatir." Caramel berjalan mendekati ranjang dimana Rafka duduk selonjor di atasnya.
"Aku keluar dulu ya." Ia bergerak mencium kening Rafka cukup lama.
"Kamu akan membiarkan ini terlihat?" Rafka menyentuh leher Caramel perlahan.
"Kenapa? kamu malu?" Caramel menatap Rafka.
"Bukankah kemarin kau yang malu, bukan aku."
"Udah lah, kenapa aku harus malu." Caramel mengibaskan tangannya dan melangkah membuka pintu.
Rafka memperhatikan punggung Caramel yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu.
Kenapa Caramel harus malu, beberapa pasangan ABG saja tidak ragu menampakkan bekas ciuman mereka lantas kenapa ia malu dengan hubungan yang sudah sah negara dan agama.
"Ya ampun, selamat untuk anak keduanya!" Caramel menghambur ke pelukan Kayla, setiap kali melihat orang baru melahirkan ia merasa terharu karena itu seperti keajaiban dimana seseorang bisa mengeluarkan kehidupan baru dari dalam tubuhnya.
"Kemarin kemana aja lu, ditelepon nggak diangkat, ini rumah sakit Car jangan macem-macem sama Rafka." Kayla mengomel, energinya setelah melahirkan normal telah kembali.
"Ketiduran gue abis muntah-muntah, masuk angin gara-gara AC disini dingin banget." Caramel menggerutu, ia bergerak menuju box bayi yang terletak tepat di samping ranjang Kayla. Matanya berbinar-binar melihat bayi perempuan yang sedang menjulurkan lidahnya dan berkedip mempesona seolah menggoda Caramel. Cewek lagi ya! ternyata takdir Kayla memang memiliki anak cewek.
"Mungkin kamu hamil." Sahut Mama Kayla.
"Aamiin Tante." Caramel tersenyum lebar, semoga ucapan itu benar.
"Aku boleh gendong nggak nih?"
"Boleh." Mama Kayla beranjak dari duduknya, ia tahu kalau Caramel tidak bisa mengangkat bayi itu dari box. Ia membantu cucu keduanya itu keluar dari box dan menyodorkannya pada Caramel.
"Nggak usah kaku tangannya." Ujar Kayla, ia gemas sendiri melihat cara Caramel menggendong bayi.
"Takut jatuh gue." Caramel berhasil memposisikan tangannya agar terasa nyaman bagi bayi mungil itu.
"Elu nggak bakal jatuh."
"Maksud gue bayinya!" Semprot Caramel dengan nada tinggi.
__ADS_1
Mama Kayla hanya geleng-geleng, perdebatan seperti itu memang sering terjadi antara Caramel, Kayla dan Jane.
Caramel duduk di sofa mengelus-elus pipi halus bayi di gendongan nya, tanpa skincare mahal kulit bayi sudah halus tanpa cela.
"Jane nggak kesini?" Tanya Caramel.
"Nanti agak siang mungkin."
Caramel menyentuh dagu si kecil dengan telunjuknya, bayi itu tersenyum yang menular padanya. Setiap hari Caramel selalu berharap agar Tuhan memberikannya amanah seorang janin di dalam perutnya.
******
"Jadi dokter bilang kamu bisa pulang besok?" Caramel sumringah saat mendengar jika Rafka boleh pulang besok.
Rafka mengangguk.
"Tapi kamu jangan kerja dulu."
"Kenapa? aku sudah sehat."
"Libur aja dulu satu dua hari, kamu nggak perlu kerja terlalu keras dan mengabaikan kesehatan mu." Caramel meletakkan Hot Dog dan Thai Tea yang sudah dibelinya baru saja tak jauh dari rumah sakit.
"Baiklah."
"Mau nggak?" Caramel mengacungkan roti isi sosis dan sayuran itu pada Rafka.
"Makanlah."
Caramel menyantap roti itu dengan lahap dan penuh semangat, ia senang jika bisa menghabiskan satu porsi hot dog ini tanpa membaginya dengan siapapun. Baik sebut saja Caramel pelit, ia memang seperti itu. Nanti jika memang tidak habis maka ia akan menyuruh Rafka menghabiskannya. Anehnya Rafka selalu menurut pada Caramel, walaupun tidak suka ia akan menghabiskannya.
"Rafka, ini enak." Gumam Caramel, ia sudah menghabiskan lebih dari separuh hot dog di tangannya. Sekarang ia mulai kenyang dan berniat memberikan sisanya pada Rafka. Lagi pula itu tidak mengandung kafein sama sekali jadi aman untuk Rafka.
"Kelihatannya begitu."
Caramel menghampiri Rafka yang duduk selonjor di atas ranjang dengan selimut yang menutupi kaki panjangnya. Caramel tidak pernah bertanya soal tinggi Rafka, tapi ia memperkirakan lelaki itu memiliki tinggi sekitar 185 centimeter.
"Buat kamu—ahh!" Caramel memekik karena kakinya tersandung kursi yang berada di dekat ranjang hingga membuatnya terjatuh dengan posisi tepat di atas tubuh Rafka. Hot dog yang Caramel bawa terpelanting entah kemana.
"Hati-hati, perhatikan langkahmu." Gumam Rafka.
"Aduh ternyata jatuh posisi begini nih nggak seenak di film-film." Gerutu Caramel, apapun itu yang namanya jatuh memang tidak pernah enak kecuali ... jatuh cinta.
"Ah maaf!"
Caramel mendongak mendengar suara seseorang, ia melihat ke arah pintu. Seorang perawat tampak tercengang di depan pintu melihat Caramel dan Rafka dengan posisi yang bisa membuat orang lain salah paham.
"Eh ngg ... nggak, nggak apa-apa." Caramel buru-buru bangkit dan merapikan pakaiannya. Wajahnya memerah karena malu seperti maling yang ketangkap basah sedangkan Rafka tetap konsisten dengan wajah datarnya.
"Saya cuma mau ganti infus, maaf." Perawat tersebut menunduk berjalan lebih dekat dengan ranjang Rafka.
__ADS_1
Caramel mencari hot dog nya yang terjatuh mengalihkan pikirannya dari rasa malu dan salah tingkah. Ia mendelik melihat hot dog itu berada di dekat itu. Caramel langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah sebelum ada yang melihat. Sungguh ini hanya gara-gara hot dog hingga Caramel harus menahan malu.
Rafka menahan senyumnya, ia bisa melihat ekspresi salah tingkah Caramel, itu sangat menggemaskan. Walaupun wajah Rafka terlihat begitu tenang tapi jauh di dalam sana, dadanya bergemuruh karena kejadian tersebut. Apakah mereka terlihat seperti remaja yang baru saja jatuh cinta?