Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Lima


__ADS_3

Koridor sekolah sepi dalam sekejap setelah bel tanda pelajaran berdering ke seluruh penjuru. Tak butuh waktu lama bangunan 3 lantai itu sepi oleh penghuninya. Hanya ada beberapa murid yang belum pulang karena mengikuti ekstrakurikuler.


Langkah sepatu terdengar lebih nyaring dari biasanya saat Caramel melangkah melewati koridor. Rambut Caramel yang dikuncir kuda bergoyang-goyang seiring langkah kakinya. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah kaku. Ia takut jika tiba-tiba ada hantu yang menyergapnya dari belakang atau suster ngesot dari bawah.


"Jane sama Kayla kemana sih?" Gerutunya karena tidak menemukan Jane dan Kayla disana padahal tadi mereka janji menemaninya mengambil buku catatan di loker.


"Mana kebelet pipis lagi." Caramel berjalan agak menunduk menahan kencing yang sepertinya sudah berada di ujung, ia tidak berani sendiri takut diserang suster keramas-nama judul film yang akan rilis tahun depan.


Buru-buru Caramel berlari menuju loker miliknya dari pada mati ketakutan disini sendirian.


"Kok udah kebuka?" Caramel mengerutkan kening, ia memutar kunci pintu loker tapi tidak bisa karena ternyata pintu dalam keadaan tidak terkunci. "Bisa-bisanya gue lupa ngunci pintu."


Caramel terkejut mendapati sebuah toples cantik dengan origami warna warni di dalamnya. Caramel terpana-dengan gerakan perlahan ia mengambil toples tersebut dan memandanginya sangat lama. Dalam hati Caramel bertanya-tanya dari mana datangnya toples itu, mengapa tiba-tiba ada di dalam lokernya.


Aroma mint bercampur dengan aroma laut dan buah-buahan segar menguar saat Caramel membuka tutup toples tersebut. Ia merasa seperti berada di pantai dengan hembusan angin sepoi-sepoi, sejuk dan panas dirasakan pada saat yang bersamaan. Caramel tak pernah mencium aroma seperti ini sebelumnya. Walaupun ia telah mencoba berbagai merek parfum high end tapi tak ada yang memiliki aroma seperti ini.


"Kenapa wangi banget sih." Mata Caramel terpejam menghirup aroma origami berbentuk bintang itu dengan rakus.


Setelah puas menghirup aroma segar itu Caramel akhirnya membuka mata, ia melihat sebuah kertas yang tertanam di bawah origami. Caramel menarik kertas tersebut dan membuka lipatannya.


Mata Caramel membulat saat tahu bahwa itu bukan kertas biasa melainkan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang begitu rapi.


"OMG ternyata gue punya secret admirer." Caramel menekan dadanya tidak percaya kalau ada yang mengiriminya surat ketika orang lain saling bertukar pesan melalui SMS.


"Cara!"


Caramel terkesiap mendengar suara seseorang di ujung koridor. Siapa lagi pemilik suara kencang seperti pemimpin upacara itu jika bukan Jane.


Jane dan Kayla berlari menghampiri Caramel, "gue cari lu kemana-mana tahu nggak." Omel Jane.


"Harusnya gue yang ngomel bukan elu, kalian kemana aja katanya mau nemenin gue ambil buku disini."


"Eh apaan tuh?" Jane salah fokus pada toples di tangan Caramel.


"Nggak tahu, ada yang ngasih gue ini."


"Lihat dong." Jane dan Kayla merebut toples tersebut.


"Nggak ada nama pengirimnya, cuma inisial R" Tukas Caramel.


"Eh kayaknya tadi gue lihat anak Pelita Nusa deh kesini." Ujar Jane seraya memutar-mutar toples origami di tangannya.


"Serius lu?" Tanya Caramel dan Kayla bersamaan.


"Serius, gue kenal banget seragamnya Pelita Nusa." Jane mengangguk mantap yakin dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Cowok kan?" Duga Kayla.


"Bener!" Pekik Jane membuat Caramel dan Kayla terkejut.


Jantung Caramel berdegup kencang mengetahui fakta bahwa seseorang yang mengiriminya surat dan origami itu adalah anak Pelita Nusa yang letaknya berseberangan dengan sekolahnya.


Bruk!


Caramel tersadar dari lamunannya setelah mendengar benda jatuh, ia mengerjapkan mata beberapa kali dan menelan ludah kasar. Ia menjatuhkan wadah deterjen hingga isinya berceceran ke lantai. Namun sekarang itu bukanlah hal penting. Jantung Caramel masih berdegup kencang mengingat kembali momen dimana ia mencium aroma laut itu untuk pertama kali.


Caramel masih memegang pakaian yang Rafka kenakan kemarin, entah sudah berapa lama ia berdiri di depan mesin cuci urung mencuci baju tersebut. Aktivitas itu tertunda karena Caramel belum puas mencium aroma parfum pada pakaian Rafka. Kemarin Rafka bilang itu adalah parfum yang biasa ia gunakan waktu SMA.


"Ternyata .... " Caramel tidak melanjutkan kalimatnya, ia meletakkan kemeja putih itu di atas mesin cuci tak jadi mencucinya. Ia harus memastikan satu fakta besar yang selama ini tidak diketahuinya.


Caramel membuka pintu meja rias mengambil toples origami dengan terburu-buru. Ia melihat tulisan tangan pada surat yang sudah usang itu dengan seksama. Lima detik kemudian Caramel bangkit menuju walk in closet, ia ingat pernah menyembunyikan buku catatan milik Rafka di salah satu laci lemarinya.


Caramel mencocokkan tulisan pada surat origami itu dengan buku catatan milik Rafka. Keduanya sama persis tidak ada perbedaan.


Apa ini?


"Ternyata selama ini gue salah orang." Caramel lemas, tubuhnya merosot ke lantai dengan tangan mencengkram surat tersebut. Bahunya bergoyang-goyang menangis tanpa suara merasakan perih dalam hati yang begitu menyesakkan dada.

__ADS_1


Caramel pikir Rafka hanya lah cowok yang dulu menyukainya diam-diam, memperhatikannya dari jauh. Caramel tidak menyangka bahwa seseorang yang memberikannya hadiah origami dihari ulang tahunnya adalah Rafka. Kenapa selama ini Caramel sama sekali tidak memikirkan hal itu?


Rafka telah beberapa kali bercerita tentang pertemuan mereka hingga betapa pentingnya hari ulang tahun Caramel bagi Rafka.


Kertas yang bisa nyala dijual di toko nggak?


Tidak aku membuatnya sendiri.


Bahkan saat Rafka memberitahu bahwa ada origami yang bisa menyala di kegelapan, Caramel tetap tidak menyadari itu. Caramel terlalu fokus pada Rama yang telah menjalani hubungan dengannya selama bertahun-tahun.


Dia punya foto gue waktu perpisahan SMA masa


Wah jangan-jangan dia secret admirer lu selama ini tapi terlalu takut buat nyamperin langsung


Caramel tiba-tiba teringat obrolannya dengan Jane dan Kayla usai bertemu Rafka untuk pertama kalinya sebelum menikah. Jane benar, secret admirer itu adalah Rafka yang kini menjadi suami Caramel.


Lu bodoh banget sumpah Car!


"Kenapa baru sekarang?" Caramel menggigit bibir bawahnya-sakit sekali saat ia baru menyadari itu semua setelah menghabiskan waktu 8 tahun dengan Rama. Caramel tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Rafka yang hanya bisa melihat kemesraannya dengan Rama dari jauh.


Selama ini Rafka mengetahui semuanya sedangkan Caramel dengan tak tahu diri melihat Rafka sebagai orang asing padahal dia si pemilik cinta tulus itu.


Mungkin ini sebabnya mengapa Caramel hanya menyimpan origami itu di antara sekian banyak hadiah yang Rama berikan. Takdir ingin memberi petunjuk kepada Caramel untuk menemukan siapa sebenernya si pemberi hadiah tersebut.


Untuk pertama kalinya Caramel bersyukur atas sakit yang selama ini ia rasakan sejak batal menikah dengan Rama. Ternyata di balik sakit itu Tuhan menyimpan hadiah spesial untuk Caramel.


******


"Sayang, aku pulang." Rafka menebar senyum ketika melangkah masuk keluar lift pribadi apartemennya. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja sirna saat sampai di rumah, bahkan ia belum melihat sang istri tapi kembali ke rumah membuatnya memiliki semangat baru.


Pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan mencari Caramel, terakhir melakukan ini ia justru mendapati Caramel pingsan di atas tempat tidur. Sebab itu Rafka jadi panik jika tidak segera melihat sosok Caramel.


"Caramel, ada apa?" Rafka sangat terkejut melihat Caramel duduk bersimpuh di depan pintu kamar dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Spontan Rafka menjatuhkan tas kerjanya dan berlari menghampiri Caramel, ia menangkup pipi Caramel dan melihatnya lekat setiap bagian wajah sang istri. Rafka memeriksa tubuh Caramel takut jika ada yang terluka.


Caramel bergeming ia memilih jatuh ke dada Rafka untuk memeluknya, ia tak tahu harus memulai dari mana. Caramel tidak tahu pertanyaan apa yang harus ia ajukan kepada Rafka karena telah merahasiakan hal sebesar ini kepadanya. Caramel merasa seperti telah dibodohi ketika Rafka tahu segalanya. Namun jika dipikir lagi ini pasti lebih berat bagi Rafka, Caramel tak pantas marah.


"Maafin aku, Ka." Suara Caramel serak karena terlalu lama menangis.


"Untuk apa? kenapa kamu minta maaf." Rafka melepas pelukan Caramel.


Caramel mengusap air matanya, menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan berusaha menenangkan diri.


"Rafka .... " Caramel menarik tangan Rafka, ia meletakkan secarik kertas di atas telapak tangan Rafka dengan gerakan pelan.


Rafka mengerutkan kening tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada Caramel hingga menangis seperti ini.


"Apa?" Rafka terkejut, jantungnya berdetak kencang melihat surat yang dulu ditulisnya untuk Caramel. Mengapa Caramel menunjukkan surat itu sekarang? Rafka tidak mau menduga-duga.


"Ini surat dari kamu kan?"


Bagai dihujam benda keras di bagian dada, Rafka terkejut. Dari mana Caramel mengetahui itu padahal selama ini Rafka menyembunyikannya karena tidak mau Caramel merasakan penyesalan dan sakit hati.


"Iya." Jawab Rafka akhirnya.


"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari aku, apa kamu nggak ada niat buat ngasih tahu aku setelah kita nikah?" Air mata Caramel kembali menggenang, ia tak tahu bagaimana menjelaskan perasannya saat ini. Terlalu sakit dan menyesakkan.


"Tidak." Rafka menggeleng samar.


"Kenapa?" Caramel menatap Rafka tajam.


"Untuk apa aku memberitahumu, itu hanya masa lalu, masa lalu biarlah berlalu yang terpenting sekarang kita bisa bersama."


"Kamu jahat!" Caramel memukul dada Rafka tidak terlalu kuat karena tenaganya telah terkuras habis untuk menangis.


"Cara, tenangkan dirimu." Rafka menyandarkan kepala Caramel di dadanya, "aku hanya tidak mau kamu menyesal jika mengetahui semua ini."

__ADS_1


"Terus kamu nanggung sakit itu sendirian?"


"Menikah denganmu sudah cukup untuk ku, lagi pula jika aku memberitahu kenyataan ini belum tentu kamu percaya."


"Jadi menurut kamu, aku begitu? kamu menarik kesimpulan sendiri seolah-olah kamu ngerti sifat ku." Caramel mengangkat kepalanya sedikit menjauh dari Rafka.


"Bukan begitu, kamu jangan salah paham."


Caramel sedikit mendongak mencoba menelan kembali air matanya yang menggenang. Caramel hendak beranjak tapi ia tak bisa berdiri karena kakinya mati rasa dan lemas seperti jeli. Dengan cekatan Rafka menangkap tubuh Caramel dan membimbingnya untuk duduk di tempat tidur. Caramel mengomel dalam hati, usia memang tidak bisa dibohongi. Kakinya mati rasa karena duduk melipat kaki terlalu lama di atas lantai.


"Tenangkan dirimu Caramel." Rafka kembali membawa Caramel ke dalam pelukannya yang hangat. Ia tahu Caramel berhak marah karena telah menyembunyikan ini darinya.


Caramel memejamkan mata merasakan ketenangan berada di pelukan Rafka. Ditambah aroma tubuh Rafka saat baru pulang kerja membuat Caramel begitu menikmatinya. Entah sejak kapan Caramel jadi sangat bucin Rafka sampai aroma keringatnya saja membuat Caramel tergila-gila.


"Jangan coba-coba sentuh kaki ku." Caramel mengingatkan Rafka agar tidak menyentuh kakinya yang kesemutan. "Kalau disentuh aku bakal bunuh kamu."


Rafka tertawa, "baik aku tidak akan mendekati kaki mu."


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau itu surat dariku bukan Rama?" Rafka bertanya setelah merasa Caramel sedikit lebih tenang.


"Dari aroma baju kamu kemarin, kamu bilang itu parfum kamu waktu SMA, pas nyium baunya aku langsung inget sama surat itu, kamu sengaja semprotin parfum ke dalam toplesnya?"


"Ya, Danu bilang itu aroma yang aneh tapi aku tetap ingin menyemprotnya agar kamu tahu karakter orang yang memberimu hadiah itu. Aku pernah bilang kalau aku sangat membenci Papa karena dia bertengkar dengan Mama disaat hari penting ku."


"Hari apa itu?" Caramel mendongak.


"Hari disaat aku memberimu hadiah itu adalah hari ulang tahunmu, itu juga hari dimana kamu bertemu Rama untuk pertama kali, ada inisial R pada surat itu."


"Waktu pertama kali ketemu sama Rama dan dia ngasih tahu namanya, aku langsung ngira kalau Rama yang ngasih origami itu."


"Tapi Caramel, kau melewatkan satu hal."


"Apa?"


"Di akhir surat aku menulis, R dari IPS."


Caramel tersenyum getir, mungkin dulu ia terlalu bersemangat sampai tidak sadar.


Kamu anak IPA?


Iya


Wah sama dong, aku juga IPA.


Dulu ia tertawa saat membicarakan itu dengan Rama tapi kini Caramel benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena mengabaikan hal sepenting itu. Caramel sama sekali tidak curiga saat Rama memberitahunya bahwa jurusan mereka sama. Setelah bertemu Rama untuk pertama kali, Caramel tidak terlalu mementingkan isi surat itu. Ia telah dibutakan cinta dan kalimat manis Rama.


"Maaf aku bikin kamu nunggu lama banget, makasih buat kesabaran kamu selama dua belas tahun nungguin aku yang bahkan udah hampir nikah sama orang lain."


"Tuhan itu baik, Dia tidak biarkan aku menunggumu dengan sia-sia."


Cinta tak akan pernah salah dalam menemukan pelabuhannya. Terkadang singgah pada hati yang lain tapi akhirnya ia tetap akan tinggal pada satu tempat yang memang disiapkan untuknya.


******


Selamat ulang tahun!


Aku harap kamu selalu bahagia karena kau lebih cantik saat tersenyum apalagi tertawa. Mungkin akan terasa canggung karena ini pertama kalinya aku mengirim surat. Namun semoga kau tidak terganggu.


Seperti halnya bintang kadang kita butuh saat gelap agar bisa menyaksikan sesuatu yang tak terlihat dikala terang. Bintang tak pernah hilang dari langit hanya saja matahari yang memiliki sinar lebih terang membuatnya tidak terlihat.


Aku memberikan origami ini agar mereka bisa menemani disaat kamu ketakutan di tengah gelap. Mereka bisa menjadi bintang milik mu dimalam hari.


Mari ku beritahu bahwa gelap tak selalu menakutkan dengan origami di dalam toples ini.


Temui aku di taman Pelita Nusa sepulang sekolah.


Salam, R dari IPS.

__ADS_1


__ADS_2