Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Tujuh


__ADS_3

Sore itu sepulang kerja Rafka tidak segera kembali ke apartemen karena ia harus menyelesaikan misi khusus yakni membelikan make-up untuk Caramel. Rafka pikir ia telah memahami Caramel setelah menjadi pengagum rahasia selama belasan tahun. Namun ia salah karena sejatinya wanita itu lebih rumit dari rumus trigonometri atau integral apalagi Rafka ada di jurusan IPS dulu.


Dari kejauhan Rafka melihat Indi berdiri di depan Sephora, ia mempercepat langkah bahkan setengah berlari menghampiri Indi. Rafka ingin segera menyelesaikan ini karena tidak mau membuat Caramel curiga jika ia pulang telat.


"Danu nggak ikut?" Tanya Rafka pada Indi.


"Lagi di toilet, ayo masuk dulu Mas." Ajak Indi lagi pula tak ada gunanya juga menunggu Danu karena suaminya itu tak akan banyak membantu kecuali jika ia menginginkan make-up maka Danu adalah sumber mata uangnya. "Mau beliin Mbak Caramel apa, eh meja riasnya udah difoto kan?" Kemarin Indi telah meminta Rafka untuk memfoto koleksi make-up Caramel agar ia bisa mengira-ngira merek make-up yang Caramel suka.


"Sudah, nih." Rafka menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto deretan make-up Caramel di meja riasnya.


"Ada beberapa produk high end tapi kebanyakan lokal, produk lokal sekarang juga bagus-bagus sih."


"Kemarin Caramel sempat menyinggung kalau dia ingin mempunyai lipstik yang katanya bisa tahan seharian, dia menunjukkan gambarnya padaku."


"Nah kalau gitu lebih gampang." Indi mengembalikan ponsel Rafka karena ia sudah cukup mengerti produk make-up yang Caramel suka.


"Tapi aku nggak ingat merek nya apa." Dahi Rafka berkerut, meski sudah berusaha mengingat merek lipstik yang Caramel sebutkan kemarin tapi ia tetap lupa. Namanya cukup sulit diucapkan dengan lidah.


"Mbak Caramel bilang lipstik?" Alis Indi terangkat memastikan kalau itu memang lipstik bukan lip cream, liptint, lip tatto atau lip lip yang lain.


Rafka menggeleng ragu, "lip tint?"


Indi melangkah dengan percaya diri, ia yakin Caramel membicarakan produk lip tint yang baru keluar bulan ini, itu adalah merek lokal Make Over yang memang sudah terkenal karena formulanya bagus.


"Ini bukan?" Indi mengambil satu liptint dengan berwarna hitam bertuliskan Make Over.


"Benar." Rafka manggut-manggut, tidak salah ia mengajak Indi kesini karena tak perlu bingung mencari kesana kemari mereka langsung bisa menemukan produk yang ia maksud. Sebenarnya Rafka juga bisa mengajak Jane atau Kayla yang lebih tahu produk kesukaan Caramel. Namun Rafka tahu jika dua sahabat Caramel itu cerewetnya minta ampun apalagi bakat mereka soal menjejak sangat luar biasa. Rafka tidak mau mendengar ejekan mereka karena membelikan Caramel make-up.


"Gue cariin kalian kemana-mana tahunya disini." Danu datang dengan omelan khas emak-emak di akhir bulan yang sudah kehabisan uang belanja.


"Mas Danu gimana sih kan aku sama Mas Rafka emang mau kesini." Indi tak mau kalah ikut mengomel. "Mau beli apalagi?"


"Pewarna mata." Rafka selalu melihat Caramel menggunakan pewarna untuk kelopak matanya.

__ADS_1


"Aku tahu Mbak Caramel suka apa, Urban Decay." Lagi-lagi Indi melangkah lebih dulu meninggalkan dua pria di belakangnya, ia sudah hafal seluk-beluk Sephora karena ini adalah salah satu tempat favoritnya selain food court tentu saja.


Mereka lanjut membeli perlengkapan make-up yang lain bahkan setelah pulang dari sini Rafka bisa membuka salon sendiri saking banyaknya yang ia beli. Indi juga ikut ngiler melihat deretan make-up sehingga ia tidak bisa pulang dengan tangan kosong. Indi menggunakan jurus maut untuk merayu Danu agar mau membelikan liptint yang sama dengan Caramel.


"Makasih ya kalian sudah mau membantuku membeli ini semua." Rafka sedikit mengangkat dua paper bag berwarna hitam putih di tangannya.


"Semoga Mbak Cara suka ya sama semua make-up nya tapi aku yakin sih dia bakal suka."


Mereka berpisah di kasir saat itu juga karena Indi dan Danu masih ingin berkeliling sedangkan Rafka harus segera pulang. Caramel telah meneleponnya tapi Rafka sengaja tidak menjawabnya untuk memberi kejutan pada sang istri.


******


Caramel melempar ponselnya ke atas tempat tidur setelah Rafka tidak menjawab teleponnya untuk kesekian kalinya. Jam dinding menunjukkan pukul setengah 5 harusnya Rafka sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Caramel melirik Narel dan Binar yang terlelap di dalam box.


Bel apartemen berdenting membuat Caramel segera berlari ke arah pintu untuk membukanya. Raut wajah Caramel berubah ketika melihat tante Erni di depan pintu, ia pikir itu adalah Rafka tapi tidak mungkin Rafka memencet bel padahal ia bisa menekan sandinya.


"Eh Tante kapan dateng?" Caramel langsung mengubah ekspresinya dengan senyum Pepsodent bukan Close-Up apalagi kodomo. "Aku pikir Tante nggak balik lagi kesini." Mereka berpelukan sebentar lalu cipika cipiki.


"Tadi malam Tante sampai sini, di Malaysia kami kan juga punya rumah, suami Tante ada urusan pekerjaan jadi harus nunggu setahun baru bisa pulang." Tante Erni menyodorkan bingkisan pada Caramel.


"Eh nggak usah Caramel, Tante mau bagiin oleh-oleh ke tetangga yang lain dulu, next time deh kita ngobrol sambil ngopi-ngopi cantik." Tante Erni mengibaskan tangannya lalu pamit pergi karena masih banyak bingkisan yang belum ia bagikan ke tetangga lainnya.


Caramel kembali menutup pintu setelah tante Erni tidak terlihat. Caramel terkejut ketika berbalik tiba-tiba Rafka muncul dari lift, ia hampir saja memekik jika Rafka tidak segera menutup mulutnya—bukan dengan telapak tangan tapi bibir. Caramel mendelik, apa-apaan ini harusnya ia mengomel karena Rafka pulang telat dan tidak mengangkat teleponnya. Namun emosi Caramel seketika mereda saat Rafka mengecup bibirnya.


Gila robot gue sekarang pinter banget ngerayu!


"Kok kamu nggak angkat telepon aku sih, bilang kek kalau mau pulang telat." Tentu saja Caramel tetap mengomel meskipun dengan suara rendah karena takut membuat si kembar bangun.


Rafka tidak menyahut justru menarik Caramel membawanya ke ruang tengah. Rafka tidak sabar menunjukkan make-up yang dibelinya dengan susah payah—meskipun ada Indi tapi menurutnya memilih make-up adalah sesuatu yang melelahkan.


"Apaan nih?" Caramel baru sadar kalau dari tadi Rafka membawa paper bag berukuran besar bertuliskan Sephora, jangan bilang Rafka pulang telat karena pergi ke Sephora lebih dulu.


"Aku beli ini untukmu, tapi jangan berpikir kalau aku tidak suka kamu tanpa riasan, aku suka apapun keadaanmu"

__ADS_1


Mata Caramel berkaca-kaca ketika Rafka mengeluarkan satu per satu make-up tersebut.


"Kamu baik banget sih." Caramel menghambur ke pelukan Rafka dan menciumi leher sang suami yang beraroma mobil bercampur aroma mall—kau tahu seperti apa aroma mall?


"Apapun yang membuatmu bahagia sayang."


Caramel mengurai pelukan. Rafka mengusap air matanya dengan ibu jari.


"Makasih Papa." Ucap Caramel ikut mengusap air matanya, itu adalah air mata haru karena Rafka amat baik kepadanya. Memang sejak pertama bertemu Rafka terlalu baik untuk Caramel. "Aku nggak bakal beli make-up satu tahun." Katanya. "Peluk lagi." Caramel kembali memeluk Rafka begitu erat.


Rafka tersenyum, tentu saja itu tidak mungkin karena Caramel pernah mengatakannya dulu dan seminggu kemudian Caramel tetap membeli make-up baru.


"Kamu mandi gih, aku udah siapin makanan buat kamu."


"Oke." Rafka langsung beranjak tanpa diminta dia kali, perutnya memang lapar sejak berada di mall tadi tapi ia menolak ajakan Danu untuk makan disana karena ia tahu Caramel akan memasak untuknya.


Caramel memasak ayam pedas manis dan tumis pakcoy yang dicampur dengan tauge. Caramel tidak tahu apakah pakcoy dan tauge akan cocok jika dimasak bersama, ia hanya membuat kombinasi masakan dengan bahan yang ada di kulkas.


Usai Rafka mandi mereka makan bersama di meja makan, Narel dan Binar yang sudah bangun berada di stroller mereka di dekat kursi Caramel.


"Kamu masak tauge tiga hari berturut-turut, Ma." Rafka menyantap makanannya dengan lahap sambil sesekali melihat Narel dan Binar yang aktif menendang-nendang di atas stroller mereka.


"Takut keburu jelek kalau nggak buruan dimasak, lagi pula katanya tauge bagus loh untuk kesuburan."


Rafka hampir saja tersedak mendengar ucapan Caramel, ia baru tahu kalau ada makanan yang berpengaruh untuk kesuburan.


"Tapi kita sudah subur." Wajah Rafka polos yang sontak membuat Caramel tertawa. Rafka bingung, mengapa ucapannya selalu dianggap candaan.


"Ya nggak apa-apa biar makin subur."


"Anak-anak masih kecil."


"Bercanda-bercanda." Caramel berusaha menghentikan tawanya, Rafka memang paling tidak bisa diajak bercanda soal ini. "Tapi kapan kita bakal punya anak keempat?"

__ADS_1


"Lima tahun lagi mungkin." Rafka belum berpikir soal itu karena anak-anak masih berusia 3 bulan. Rafka juga belum siap melihat Caramel kesusahan dengan perut yang membesar.


__ADS_2