Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Lima


__ADS_3

Pagi itu matahari bersinar cerah sesuai ramalan BMKG, meskipun awal tahun dikabarkan akan terjadi hujan sepanjang hari. Namun pagi ini belum ada tanda-tanda hujan akan turun.


Senyum Kayla mengembang secerah matahari, ia tak salah bertanya soal cuaca pada ahlinya. Ia tak perlu membayar jasa pawang hujan karena Rafka telah menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis cuaca dan mengatakan bahwa pagi ini tidak akan turun hujan.


"Akhirnya hari ini terjadi juga." Gumam Kayla, pandangannya tertuju pada bangunan tidak terlalu besar di samping rumahnya bertuliskan Kayla's Cake.


Kayla telah mengundang sahabat dan teman-temannya untuk menghadiri acara grand opening Kayla's Cake hari ini. Setelah merencanakan untuk membuka toko sejak satu tahun yang lalu akhirnya hari ini Kayla bisa mewujudkannya meskipun penuh dengan drama.


"Wah gila tiba-tiba aja ada bangunan cantik ini di samping rumah lu."


Kayla berbalik mendengar suara Caramel, orang pertama yang datang ke acara grand opening tersebut. Kayla melihat Rafka menyusul turun dari mobil BMW Coupe putih mengkilap seperti baru keluar dari salon melebihi wajah cewek-cewek yang rutin pakai skincare mahal.


Di belakang mobil Rafka terdapat mobil Jane yang tidak dapat jatah parkir karena halaman rumah Kayla tidak terlalu luas.


"Jadi ini alasan kenapa lu nanya soal cuaca ke Rafka." Caramel merangkul bahu Kayla dari samping, ia ikut bangga karena sahabatnya itu bisa mewujudkan mimpinya membuka toko kue sendiri.


"Tinggal gue nih yang belum buka toko, buka toko apaan yak?" Jane ikut menimpali.


"Eh jangan kalau lu buka toko siapa dong yang bantuin gue?" Caramel sewot, selama ini Jane telah banyak membantu Caramel mengurus Caramel Sleepwear.


"Gajinya kurang kali." Sahut Kayla seraya mengerlingkan mata pada Jane.


"Tahu nih." Jane menyenggol lengan Caramel.


"Ya udah nanti kalau soal gaji bisa diomongin." Caramel menurunkan tangannya dari bahu Kayla.


Jane terkekeh, ia hanya bercanda soal itu karena Caramel memberinya gaji yang sangat pantas, cukup untuk mengisi dompetnya hingga bengkak.


Beberapa saat kemudian teman-teman dan saudara Kayla berdatangan. Kayla mengajak mereka masuk untuk segera mencicipi kue yang telah dibuatnya bersama dua orang karyawan. Selain itu salad buah Kayla yang sudah terkenal juga disediakan di toko itu. Kulkas dua pintu disana terisi penuh oleh salad buah dengan berbagai ukuran.


"Gue bikin menu khusus Caramel dan Rafka." Kayla menunjukkan sekotak kue berwarna kuning dengan gradasi putih, lapisan paling atas berwarna coklat yang terbuat dari lelehan gula atau karamel. "Namanya Karamel Sweet Pineapple, karamel nya pakai K bukan C, jadi kalau lihat kue ini pasti bakal langsung inget Rafka, Caramel dan si kembar Pineapple."


Caramel takjub melihat kue cantik itu, tangan Kayla tak perlu diragukan lagi soal membuat kue, selain rasanya yang enak penampilannya juga menarik. Caramel tak mengira bahwa Kayla benar-benar membuatkannya menu khusus dengan nama yang cantik.


"Rasa apa nih?" Tanya Caramel.


"Sesuai namanya kue ini rasa nanas banget tapi gue kombinasikan dengan krim lembut dan yang paling atas ini karamelnya, jadi manis asem seger."


Caramel mengambil sendok untuk mencicipi kue itu.


"Yang lain juga boleh makan." Ujar Kayla pada mereka.


Mereka menikmati berbagai menu yang akan resmi dijual mulai hari ini. Kayla juga tetap melayani pembelian secara online seperti saat dirinya pertama kali menjual salad buah satu tahun lalu.


"Enak banget, thanks ya." Caramel memeluk Kayla ikut bangga karena sahabatnya itu bisa mengembangkan bisnisnya hingga menjadi seperti sekarang.


Jane ikut bergabung dengan Caramel dan Kayla, mereka saling berpelukan seperti Teletubbies yang hendak berpisah.


"Makasih karena kalian selalu ada waktu gue susah apalagi seneng." Caramel menatap dua sahabatnya dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa biasanya ia yang jarang menangis sekarang justru gampang tersentuh. Mungkin Caramel tertular kelembutan Rafka. Saat Caramel melihat Narel dan Binar saja ia sering menangis karena rasanya belum percaya jika dirinya dan Rafka dikaruniai dua anak sekaligus.


Masalah yang Tuhan turunkan dari langit untuk makhluk di bumi tak pernah sia-sia. Seperti hal nya rumah tangga Caramel yang sempat diterpa masalah besar setelah meninggalnya Arnesh, mereka banyak belajar untuk bersabar dan memaafkan pasangan. Di balik itu ternyata Tuhan menyiapkan dua anak untuk mereka.


Rafka merogoh saku celana ketika mendengar ponselnya berdering panjang, ia melihat nama Danu terpampang pada layar datar ponselnya.


"Kenapa Nu?" Rafka sedikit menjauh dari kerumunan orang-orang di dalam toko Kayla agar ia bisa mendengar suara Danu lebih jelas.


"Ka gawat, gue butuh bantuan lu." Suara Danu terdengar panik.


Rafka mengerutkan kening karena Danu tidak bicara dengan jelas keadaannya. Rafka merapatkan giginya, bukan Danu namanya jika tidak membuatnya geram.


"Ada apa?"


"Pokoknya lu kesini deh sekarang, gue di kantor."

__ADS_1


"Kenapa kamu ke kantor, ini hari libur, aku sedang ada acara bersama Caramel."


"Ya ampun masa lu nggak mau nolongin sahabat lu sendiri sih, ajak Caramel juga, gue butuh bantuan kalian."


"Iya, aku akan sampai dalam 20 menit."


"Okay, thanks ya." Danu segera memutus sambungan.


Walaupun Rafka tidak tahu apa yang membuat Danu panik tapi ia harus segera pergi ke kantor sesuai permintaan Danu. Rafka takut terjadi sesuatu yang buruk disana karena Danu menyuruhnya cepat.


Rafka memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dan menghampiri Caramel untuk memberitahu bahwa Danu sedang membutuhkan bantuan.


"Ma, baru saja Danu menelepon, dia terdengar panik dan memintaku ke kantor, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya."


Caramel mengerutkan kening, "tapi ini kan hari libur."


"Aku juga tidak tahu kenapa dia ke kantor dihari libur, dia hanya memintaku untuk segera ke kantor."


"Ya udah." Caramel melihat dua sahabatnya untuk izin pulang lebih dulu.


"Ih masa mau pulang duluan?" Kayla mengerucutkan bibirnya karena acara tersebut belum selesai.


"Nanti gue balik lagi kalau masih sempet ya." Caramel menepuk-nepuk bahu Kayla, "gue pergi dulu ya." Ia mencium pipi Kayla dan Jane agar mereka tidak marah.


Rafka menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan yang padat karena ini adalah hari libur tahun baru sehingga semua orang berlomba-lomba menghabiskan libur panjang dengan memadati tempat wisata.


Rafka mencengkram kemudi, awas saja kalau ini bukan masalah penting maka ia akan memberi Danu pelajaran seperti menjambak rambutnya hingga botak atau merobek kemejanya. Persahabatan di antara pria memang berbeda.


"Danu nggak bilang ada apa disana?" Caramel tak kalah penasaran mengapa Danu tiba-tiba meminta Rafka menemuinya. Seharusnya ini adalah masalah yang mendesak karena Danu tidak pernah begini sebelumnya.


"Tidak, hanya saja suaranya terdengar panik." Rafka fokus pada jalanan di depannya.


"Semoga dia nggak apa-apa." Caramel menggigit bibir bawahnya, ia menyangga kepala dengan satu tangan frustrasi karena perjalanan terasa semakin lama saat terburu-buru seperti ini.


"Lift tidak bisa beroperasi saat hari libur." Ujar Rafka ketika Caramel hendak melangkah ke depan lift.


Caramel mendelik, jangan bilang mereka harus menggunakan tangga menuju lantai atas. Caramel tidak ingin berolahraga dengan cara seperti ini apalagi berat badannya sudah turun drastis setelah melahirkan dan menyusui dua bayinya.


Rafka mengangguk mengerti arti tatapan Caramel, ia melirik ke arah tangga darurat yang berarti itu adalah jalan satu-satunya menuju lantai atas.


"Apa aku harus bangga karena ikut berpartisipasi dalam penghematan listrik?" Caramel merapatkan giginya dan tersenyum yang justru terlihat menyeramkan bagi Rafka. Senyum itu lebih menyeramkan dari pada omelan Caramel saat marah.


"Tentu saja sayang, apa jadinya bumi tanpa orang sepertimu." Rafka menggenggam tangan Caramel saat mereka menaiki anak tangga yang berjumlah puluhan.


"Sejak kapan kamu pinter nyindir?" Caramel melirik tajam pada Rafka.


"Aku tidak." Rafka menggeleng, ia sama sekali tidak bermaksud menyindir Caramel.


"Aduh, berapa kalori yang bakal hilang kalau kita naik sampai atas?" Caramel mendongak melihat deretan anak tangga yang terbentang di depannya.


Rafka tidak menjawab justru tetap menarik Caramel kembali menaiki anak tangga tersebut agar segera sampai.


Kantor sangat lengang dan gelap karena banyak lampu yang dimatikan. Mereka telah sampai di lantai dimana kantor Danu berada. Rafka mengintip melalui jendela kaca yang tidak terlalu jelas.


"Nu!" Rafka mendorong pintu dan mendapati Danu sedang berjongkok di lantai seperti mencari sesuatu.


"Ada apa sih?" Caramel mengerutkan kening melihat Danu.


"Guys tolongin gue." Danu beranjak menghampiri Rafka dan Caramel.


"Ya ada apaan!" Caramel geregetan karena Danu tidak segera menjelaskan apa yang terjadi.


"Tempat makan Tupperware gue ketinggalan terus sekarang nggak ada disini!" Danu menjelaskan dengan dramatis.

__ADS_1


Caramel mendelik, apakah tidak ada yang lebih tak penting dari ini? Mereka bergegas kesini dari rumah Kayla hanya untuk membantu Danu mencari kotak makan? Ahhh rasanya Caramel ingin melayangkan tinju di wajah Danu.


Caramel memutar bola mata hendak keluar dari ruangan itu karena ia tidak mau membuang waktunya yang berharga hanya untuk membantu Danu mencari kotak makan itu, lebih baik ia pergi ke rumah mertuanya menjemput Narel dan Binar.


"Car, tolong ini menyangkut hidup dan mati gue!" Danu menahan tangan Caramel yang langsung disingkirkan oleh Rafka.


"Apaan sih lebay lu."


"Gue bisa tidur di ruang tamu karena Indi bilang itu kotak makan limited edition yang udah discontinue, tolongin gue please!"


"Mending di ruang tamu dari pada di luar, Indi masih baik sama lu."


"Kenapa wadah itu bisa hilang?" Tanya Rafka.


"Sebelum libur panjang kan gue bawa makan siang dari rumah tapi gue lupa bawa balik tempat makannya terus tadi pagi Indi nanyain dan gue baru inget kalau tempat makan itu gue tinggal di kantor, sekarang gue cari nggak ada." Jelas Danu panjang kali lebar sama dengan luas pergi panjang.


"Lu ada fotonya nggak, siapa tahu masih ada kalau lu mau beli lagi." Kini giliran Caramel bertanya, ia mengerti jika Indi marah-marah karena bagi ibu rumah tangga, Tupperware itu sangat berharga.


"Nggak ada, gue mana pernah foto-foto."


"Ck gimana sih lu lain kali difoto biar kalau ada kejadian kayak gini lebih gampang."


"Sepertinya aku ada." Rafka merogoh sakunya mengeluarkan ponsel, "waktu itu kamu memintaku memotret suasana kantor, semoga tempat makan Danu ikut kefoto."


Danu menatap ponsel Rafka penuh harap, mulutnya merapalkan berbagai macam doa mulai dari doa mau makan hingga masuk WC karena hanya doa itu yang ia hafal.


"Ini bukan?" Rafka memperbesar foto hingga layar ponselnya menampilkan sebuah tas berwarna ungu yang di dalamnya terdapat tempat makanan milik Rafka.


"Nggak kelihatan ya tempatnya?" Danu mengacak rambutnya frustrasi.


"Oh gue tahu, ini lunch set keluaran terbaru." Tukas Caramel, meski tidak terlihat tapi ia bisa menebak jenis kotak makan itu dari tas nya. "Warna ungu juga kan tempatnya?"


"Bener-bener." Sahut Danu cepat.


"Ya ada gue tahu tempat belinya."


"Dimana?"


"Gue kirim lewat WA aja ya alamatnya." Caramel mengeluarkan ponselnya untuk membagikan lokasi penjual tupperware pada Danu.


"Thanks ya, Car gue nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada lu."


Rafka mengajak Caramel segera pulang karena mereka telah meninggalkan Narel dan Binar terlalu lama. Meski Caramel telah membawa persediaan susu untuk Narel dan Binar tapi tetap saja sebagai orangtua mereka khawatir jika meninggalkan si kembar terlalu lama.


Ketika hendak keluar kantor mereka berpapasan dengan Irene yang sedang menenteng paper bag.


"Loh kalian kenapa disini?" Irene melihat Caramel dan Rafka bergantian.


Caramel tersenyum menyapa Irene yang bukan member Red Velvet tersebut tapi mereka sama-sama cantik. Ah sudahlah kenapa Caramel jadi memikirkan soal Irene yang lain.


"Tadi Danu ada sedikit masalah jadi kami datang untuk membantunya." Jawab Rafka.


"Rencananya aku mau ke rumah kalian tapi karena udah ketemu disini jadi sekalian aja aku kasih sekarang."


"Emangnya ada apa?" Caramel penasaran.


"Dateng ya, acaranya Minggu depan." Irene menyodorkan salah satu paper bag pada Caramel.


"Hah, kamu mau nikah? selamat ya, aku sama Rafka pasti dateng." Caramel menyalami Irene setelah sedikit mengintip ke dalam paper bag tersebut, terdapat kain dan kartu undangan. Caramel menduga itu adalah seragam untuk para tamu.


"Kalau nggak dateng aku samperin kalian ke apartemen." Irene menunjuk Caramel dan Rafka pura-pura mengancam mereka.


"Beres deh pokoknya." Caramel mengibaskan tangan.

__ADS_1


Mereka berpisah disana setelah mengobrol sebentar tentang acara pernikahan Irene yang akan dilangsungkan Minggu depan.


__ADS_2