
Akhirnya setelah tiga hari dirawat di rumah sakit Rafka bisa kembali ke apartemen. Walaupun begitu Caramel meminta Rafka untuk cuti beberapa hari untuk masa pemulihan. Caramel tidak mau Rafka bekerja dalam keadaan yang tidak sehat betul.
Caramel membuka gorden agar cahaya matahari bisa masuk menyinari ruang keluarga sekaligus ruang tamu yang menjadi satu di apartemen tersebut. Caramel keluar melalui pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dengan balkon, ia menyaksikan pemandangan kota Jakarta disiang hari yang cerah ini. Caramel menghirup udara begitu dalam seolah-olah ia sedang berada di atas bukit dengan suasana sejuk padahal kenyataannya ... kalian tahu kan, suasana tengah kota—jauh dari kata sejuk. Kamu bisa mendapatkan kesejukan dari AC / pendingin ruangan.
"Aku ingin makan mie."
Caramel seketika menoleh mendengar suara robot kesayangannya, ia melihat Rafka berdiri di depan pintu.
"Mie apa?" Ciyus mie apa!
"Mie yang ada di laci dapur."
Alis Caramel terangkat, apa ia tidak salah dengar? mungkin angin di balkon ini terlalu kencang hingga Caramel sedikit tuli.
Caramel melangkah melewati Rafka, "kamu bilang apa?"
"Aku ingin makan mie yang ada di laci dapur, kalau Caramel lelah maka aku sendiri yang akan memasaknya."
"Nggak salah? bukannya kamu nggak bisa makan mie instan?"
"Entah lah," Rafka mengedikkan bahu, "tiba-tiba aku ingin memakannya, air liur ku sampai penuh membayangkan mie itu."
Caramel melihat Rafka curiga karena merasa lelaki itu sangat aneh tiba-tiba ingin makan mie instan padahal mertuanya bilang Rafka tidak bisa makan mie instan. Apakah Rafka menjadi aneh karena baru saja keluar dari rumah sakit? Caramel bertanya-tanya.
"Ya udah kamu tunggu disini, biar aku aja yang masak mie nya." Caramel beranjak melangkah menuju dapur. Ia memilih satu mie instan goreng karena rasanya tidak terlalu pedas jadi aman untuk Rafka.
Caramel menyalakan kompor setelah mengisi panci dengan air. Sembari menunggu air mendidih, Caramel membuka bungkus bumbu dan menuangkannya ke piring.
"Rafka, pakai telur nggak?" Caramel setengah berteriak dari dapur.
Caramel mengerucutkan mulutnya karena tidak terdengar jawaban dari Rafka. Jika Caramel ditanya begitu tentu saja ia tidak akan menolak, telur dan mie instan adalah kombinasi yang baik.
"Tidak usah."
Caramel terperanjat mendengar suara Rafka tepat berada di belakangnya. Caramel mengelus dadanya dan berbalik. Sepertinya Rafka tidak bisa berteriak sehingga ia lebih memilih menghampiri Caramel. Selama menikah Caramel memang belum pernah mendengar Rafka berteriak, sungguh pria yang sopan.
Tiba-tiba Caramel merasa mual saat aroma mie instan tercium oleh hidung dan masuk ke tenggorokannya. Caramel menutup hidung dan berlari menuju toilet.
Rafka mematikan kompor dan mengejar Caramel. Tidak mungkin Caramel masuk angin lagi, setelah tidur sangat lama kemarin Caramel sudah membaik bahkan bisa menghabiskan dua— ah satu setengah hotdog sekaligus—jangan lupakan kejadian hotdog kemarin.
"Tidak mungkin kamu masuk angin lagi." Rafka memijat tengkuk Caramel pelan.
Caramel membasuh mulutnya dan beranjak, ia melihat Rafka di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu kan punya banyak test pack kenapa tidak menggunakannya satu saja."
Encer juga nih otaknya si robot, udah se-encer adonan pisang goreng.
"Kamu masak sendiri mie nya ya."
"Aku makan mie di luar saja nanti, aku tidak mau kamu muntah-muntah lagi karena mencium aroma mie instan."
Caramel tersenyum tipis, lagi-lagi ia tersentuh dengan perlakukan Rafka—walaupun itu hal sepele tapi entah kenapa justru membuat Caramel tersentuh.
Jantung Caramel berdegup kencang saat membuka bungkus salah satu test pack yang ia simpan di dalam laci meja rias. Rasanya seperti hendak berkencan dengan cowok paling keren se-kampus, tegang dan nervous tapi juga senang. Harap-harap cemas akan hasilnya nanti.
Harusnya Caramel mengingat kapan terakhir kali menstruasi tapi saking antusias nya dengan kegiatannya sebagai seorang istri ia jadi lupa. Lagi pula dulu sebelum menikah, tanggal terakhir menstruasi tidak lah penting.
Mulut Caramel menganga, tangannya gemetar melihat tanda plus pada test pack yang ia celupkan ke dalam urine pada cup. Tangan Caramel gemetar, apakah ini mimpi? rasanya ia ingin melompat dan terbang ke angkasa saking bahagianya.
"Rafka!" Caramel membawa test pack tersebut keluar kamar mandi, ia mendapati Rafka duduk di pinggiran tempat tidur menunggu hasilnya.
"Bagaimana?" Rafka beranjak melihat Caramel.
"Positif!" Seru Caramel.
Rafka tidak bisa berkata-kata, antara terkejut, bahagia dan terharu jadi satu. Kebahagiaan yang tak bisa digambarkan dengan ucapan, rasanya lebih bahagia dari pada saat Rafka diterima di STMKG, lebih dari itu.
Caramel memejamkan mata, ternyata seperti ini rasanya saat seorang wanita pertama kali tahu dirinya hamil. Bahagia dan tidak percaya serta sedikit rasa belum siap—tapi ini lah yang ia inginkan sejak pertama kali memutuskan untuk menikah. Membayangkan ada sesuatu di dalam perutnya, selain makanan dan organ pencernaan membuat Caramel seperti berada dalam mimpi.
Rafka menangkup wajah Caramel dan mendaratkan kecupan mesra di kening.
"Terimakasih, kita akan menjaganya bersama."
Caramel mengangguk, ia selalu berdoa jika wajah tampan Rafka menurun pada anak mereka nanti. Kemana saja Caramel setelah bertahun-tahun lamanya, mengabaikan ketampanan Rafka karena telah dibutakan oleh Rama.
******
Setelah mendengar kabar Caramel hamil, mertuanya langsung mengunjungi apartemen mereka membawa berbagai makanan dan buah-buahan. Sebenarnya orangtua Caramel juga ingin segera menemui anaknya tapi Caramel meminta mereka menundanya.
Walaupun apartemen mereka cukup luas tapi Caramel tidak mau bertemu dengan orangtua dan mertuanya sekaligus, itu akan menimbulkan suasana canggung.
Mama Caramel datang bersama Febi dan juga Zico yang baru pertama kali berkunjung ke apartemen mewah tersebut.
"Mama bawa sayur asem kesukaan kamu, dan satu paket ayam KFC kesukaan Caramel." Mama Rafka meletakkan bungkusan cukup besar di atas meja makan.
"Sekalian makan siang bareng yuk."
__ADS_1
"Aku sudah makan siang." Ucap Rafka, sekitar 30 menit yang lalu ia pergi makan mie di salah satu penjual pinggir jalan.
"Kapan? kok cepet, biasanya kamu belum makan jam segini." Mama melihat anaknya tidak percaya.
"Ya, setelah pulang dari rumah sakit aku tiba-tiba ingin segera makan."
"Rumah sakit?" Ulang mama.
Caramel mendelik pada Rafka karena sudah keceplosan padahal dia sendiri yang minta untuk tidak memberitahu mamanya.
"Ngapain kamu ke rumah sakit, siapa yang sakit?"
"Umm ... tadi kami ke rumah sakit untuk memastikan kehamilanku Ma." Timpal Caramel, untung saja ide itu muncul tepat pada waktunya, ternyata otaknya sangat encer lebih dari adonan pisang goreng.
"Oh." Mama Rafka terdiam sesaat seolah tak percaya tapi tak ada alasan baginya untuk tidak percaya, lagi pula untuk apa mereka berdua bohong—tak ada gunanya bukan.
"Kalau gitu Mama taruh disini dulu ya nanti kalau mau makan tinggal dipanasin, ada rendang daging juga nih."
"Iya makasih Ma." Caramel mengulas senyum lebar dan melenggang menghampiri Zico dan Febi yang sedang melihat pemandangan di balkon.
"Kak, kenapa disini nggak ada kursinya?" Febi berbalik ketika tahu Caramel menghampirinya.
"Kursi?" Alis Caramel terangkat, ia merendahkan tubuhnya untuk menggendong Zico.
"Aku saranin masih kursi kecil di sebelah sini sama meja, pasti Kak Caramel dan Abang betah disitu." Febi menunjuk salah satu sisi balkon yang kosong.
"Boleh juga." Caramel manggut-manggut.
Febi tersenyum, wanita dengan rambut ikal blonde itu memang mudah akrab dengan orang baru termasuk Caramel—yang sangat jarang bertemu dengannya. Sifat Febi dan Rafka memang berbanding terbalik, mungkin itu sebabnya ia menikah lebih dulu dari pada Rafka.
"Caramel, sini deh Mama bawa salad buah!"
Caramel mendengar teriakan mertuanya dari dalam. Caramel dan Febi saling berpandangan lalu tertawa singkat sebelum masuk bergabung dengan mama dan Rafka.
"Karena sekarang kamu makan untuk dua orang, jadi makannya harus lebih banyak." Tukas mama saat Caramel duduk di sampingnya.
Caramel tersenyum, ia sering mendengar ungkapan tersebut.
"Walaupun hamil tapi kita tetap makan untuk satu orang kok Ma." Balas Caramel sambil mengunyah potongan semangka berbalut saus mayones dan keju serta sedikit asam dari yogurt.
"Ih kamu dibilangin yang udah berpengalaman nggak percaya." Mama memukul lengan Caramel pelan sontak membuat wanita itu tertawa disela kunyahannya.
"Iya in aja Kak." Timpal Febi.
__ADS_1
Caramel mengerlingkan mata pada Febi sambil menahan tawa. Sejak menikah selain hobi melihat-lihat pakaian bayi di online shop, Caramel juga sering membaca fakta-fakta seputar kehamilan jadi cukup banyak yang ia tahu walaupun pada kenyataannya nanti tak semudah tulisan di internet.