
"Coba lu test pack deh, bukannya lu udah mau dua Minggu telat datang bulan?"
Caramel terus memikirkan ucapan Jane saat memilih warna kain untuk digunakan pada piyama spesial kemerdekaan Caramel Sleepwear. Ia tidak berkonsentrasi saat menyetir gara-gara memikirkan perkataan sahabatnya itu. Jika dipikir Caramel memang sudah telah dua Minggu tapi ia trauma untuk menggunakan test pack karena hasilnya tak sesuai harapan.
Namun apa salahnya mencoba, jika itu satu garis tak apa, dari pada penasaran dan tidak bisa tidur.
Akhirnya Caramel memutuskan memutar balik mobilnya menuju apotek untuk membeli test pack baru. Caramel sudah membuang semua persediaan test pack di rumahnya karena emosi saat terakhir kali menggunakannya, itu memang tindakan yang bodoh karena ia harus membeli test pack lagi kali ini.
Caramel membeli satu test pack digital agar bisa menggunakannya berulang-ulang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kecewa jika hasilnya negatif. Sebenarnya setiap kali hendak menggunakan test pack, Caramel selalu bertekad untuk tidak kecewa dan menerima hasilnya dengan lapang dada. Namun tetap saja melihat tanda negatif pada test pack membuat Caramel kecewa, menangis dan akhirnya stres. Bahkan yang lebih parah adalah Caramel membuang semua test pack miliknya karena itu adalah benda yang paling membuatnya kecewa.
"Ini saja Bu?" Penjaga apotek menanyakan kembali saat Caramel hendak membayar barang yang dibelinya.
Caramel mengangguk dan menyodorkan tiga lembar seratus ribuan dan satu lembar sepuluh ribu.
"Terimakasih, uangnya pas." Penjaga apotek itu menyodorkan test pack yang sudah dibungkus plastik kepada Caramel.
Pas? tentu saja Caramel sudah hafal dengan harga test pack jenis tersebut. Ia sudah hampir menyaingi penjaga apotek karena hafal dengan harga setiap jenis test pack disini.
Caramel sengaja memperlambat langkahnya padahal sebenarnya ia ingin terbang agar segera sampai ke apartemen. Namun Caramel berusaha menahan diri dan tidak menggebu-gebu belajar dari pengalamannya selama ini.
"Sore Caramel, sudah pulang?" Seorang wanita berusia 40 tahunan menyapa Caramel ketika berpapasan di koridor apartemen.
"Iya Tante Erni, eh mau kemana?" Caramel membalas sapaan wanita yang menjadi tetangga sebelah apartemennya itu. Wanita yang dipanggilnya Tante Erni itu merupakan tetangga sebelah Caramel sejak beberapa bulan terakhir.
Saat Joni dan Anna ketahuan tinggal disitu karena suruhan Rama untuk memantau Caramel, polisi meminta mereka keluar dari apartemen tersebut dan dikenai sanksi. Kini apartemen itu sudah ditinggali Erni, suami dan dua anaknya yang sama sekali tidak mengenal Rama. Sebab sejak kejadian pelecehan seksual tersebut diketahui oleh hampir semua penghuni apartemen, mereka meminta pihak apartemen lebih selektif saat menerima penyewa ataupun pembeli yang hendak tinggal disana.
"Mau liburan dulu, hitung-hitung bulan madu siapa tahu pulangnya dapat anak ketiga." Erni terkikik malu-malu saat menyebutkan anak ketiga tersebut. Ia terlihat membawa koper berukuran cukup besar.
"Emangnya mau liburan kemana Tante?"
"Ke Malaysia."
"Wah jauh juga Tante, lama dong."
"Iya udah lama nggak liburan, suami kalau nggak ditodong setiap hari mana mau pergi liburan jauh, kita sebagai istri harus lebih cerewet."
Mereka tertawa terbahak-bahak lalu segera menutup mulut setelah sadar suara mereka memenuhi koridor.
"Kalau gitu Tante berangkat dulu, anak-anak sama Papa nya udah nungguin di bawah."
"Iya Tante, hati-hati."
__ADS_1
"Nanti Tante bawain oleh-oleh ya." Erni melambaikan tangan pada Caramel lalu berbelok masuk ke dalam lift.
"Cek sekarang nggak ya?" Caramel melihat jam dinding saat masuk ke apartemen. "Ya udah deh, mumpung Rafka belum pulang."
Caramel meletakkan tas kerjanya di atas tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Caramel merasa lebih baik menggunakan test pack saat ia sendirian di rumah karena jika ada yang mengetahui selain dirinya, Caramel merasa bebannya bertambah.
"Jangan tegang, biasa aja." Caramel berusaha menenangkan dirinya sendiri meski itu tak berguna, ia menunggu beberapa saat setelah meneteskan urine di atas test pack.
"Mama!"
"Rafka." Caramel terperanjat mendengar Rafka datang. Namun yang lebih membuat Caramel terkejut adalah tanda + pada test pack di tangannya, mata Caramel membulat dan mengerjap beberapa kali.
Apakah ini nyata atau aku berhalusinasi.
"Papa!" Caramel berteriak melihat tanda + itu benar-benar nyata.
Mendengar itu Rafka langsung berlari ke kamar dengan panik, ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Caramel.
"Ada apa?" Rafka masuk ke kamar mandi.
"Pa, aku hamil lagi!" Caramel beranjak dari closet yang ia duduki selama beberapa menit barusan.
Rafka terpaku melihat test pack di tangan Caramel, ia melihat tanda positif disana.
Caramel ikut menangis saat melihat wajah Rafka telah basah oleh air mata. Ia jarang melihat Rafka menangis hebat seperti itu. Salah satunya adalah saat Rafka mendampingi Caramel di ruang operasi. Rafka lebih sering menangis saat bahagia.
"Kita akan menjaganya bersama-sama." Rafka memejamkan mata mengecup bibir Caramel. Air matanya menetes mengenai bibir Caramel, itu adalah tangisan haru yang tak bisa Rafka ungkapkan dengan kata-kata.
"Selamat datang di perut Mama, jangan nakal ya, jadi anak baik, jangan menyakiti Mama." Rafka berjongkok mencium perut Caramel yang masih rata dan mengusapnya lembut. "Kita harus memeriksakannya ke dokter." Rafka mendongak.
Caramel mengangguk, memeriksakan kandungan lebih awal memang dianjurkan untuk mendeteksi apakah ada kelainan pada janin. Caramel berharap bayinya baik-baik saja hingga melahirkan nanti lalu tumbuh besar dan sehat.
Kesabaran Caramel membuahkan hasil, rasanya seperti mimpi bisa memiliki janin lagi di dalam perutnya. Caramel tidak sabar melihat perkembangan sang janin dan bertemu dengannya.
******
Berita gembira bahwa Caramel hamil sampai ke telinga orangtua Caramel dan Rafka. Keesokan harinya setelah Caramel selesai memeriksakan kehamilannya di rumah sakit, orangtua Caramel dan mama Rafka datang mengunjungi apartemen. Mereka ingin berada di dekat Caramel memberinya semangat dan melupakan kesedihannya di masa lalu. Meski demikian mereka tidak bermaksud melupakan Arnesh justru mereka akan selalu menempatkan Arnesh di hati mereka masing-masing agar Caramel tetap bisa melanjutkan kehidupannya seperti dulu lagi.
"Gimana kata dokter?" Mama Caramel bertanya lebih dulu, ia tak sabar mendengar berita Caramel selama melakukan pemeriksaan tadi.
Caramel tersenyum lebar melihat ke arah Rafka sebelum menjawab pertanyaan mama nya.
__ADS_1
"Dokter bilang janinnya sehat." Jawab Caramel akhirnya.
"Dokter juga bilang Caramel tidak boleh bekerja terlalu keras dan mengangkat beban yang terlalu berat karena jarak kehamilannya dari operasi sesar hanya 7 bulan untuk menghindari luka tersebut kembali terbuka." Tambah Rafka.
Itu adalah dua jawaban yang membuat mereka tersenyum dan khawatir dalam satu waktu.
"Kalian tenang aja, Rafka itu suami paling siaga, dia nggak akan biarin aku kerja berat." Caramel bisa membayangkan bagaimana Rafka akan memperlakukannya setelah ini.
"Caramel, selama beberapa bulan ini lebih baik kamu jangan pergi ke Mall, kerjain semuanya dari rumah aja." Tukas mama Rafka.
Bagaimana mungkin Caramel hanya berdiam diri di rumah, jangan beberapa bulan, satu hari saja ia tidak mampu. Caramel lebih suka melakukan kegiatan di luar. Namun demi kehamilannya, Caramel akan mengurangi kegiatannya di luar rumah.
"Umm Caramel mau bilang terimakasih, mungkin ini udah terlambat banget tapi aku perlu mengatakan ini sama Papa dan Mama." Caramel melihat orangtuanya dan mama Rafka yang duduk di hadapannya.
Mereka tegang menunggu kalimat Caramel selanjutnya karena wajah Caramel sangat serius.
Caramel meraih tangan Rafka dan menggenggamnya, "terimakasih sudah menjodohkan kami."
Rafka terkejut dengan ucapan Caramel.
"Makasih Mama dan Papa udah ngenalin aku sama laki-laki paling sabar sedunia." Caramel melihat orangtua nya. Lalu mama Rafka, "makasih Mama udah melahirkan dan membesarkan Rafka hingga menjadi laki-laki baik yang mencintai aku dengan luar biasa." Caramel amat bersyukur karena bertemu pria sebaik Rafka. Dulu ia selalu mengumpat dalam hati bahkan memanggil Rafka dengan sebutan robot saking kakunya seorang Rafka. Namun seiring berjalannya waktu Rafka telah menjadi suami romantis yang membuat Caramel jatuh cinta berkali-kali lagi dan lagi dengan semua perlakuan Rafka terhadapnya.
"Mungkin kalau sampai sekarang aku nggak kenal Rafka, aku akan tetap jadi Caramel yang tak tahu apa tujuan hidupnya, Rafka telah menyelamatkan hidupku."
Caramel tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya saat ini jika tidak bertemu dengan si pria kaku dan lugu ini. Mereka dipersatukan dengan sekian banyak sifat yang berlawanan untuk saling melengkapi. Latar belakang kehidupan mereka pun berbeda. Caramel berasal dari keluarga yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Sedangkan Rafka harus berjuang keras sejak kecil mengalahkan ego demi keluarganya. Ia hidup di keluarga yang setiap harinya penuh dengan pertengkaran dan papa nya yang selingkuh serta memilih wanita selingkuhannya. Semua itu membuat Rafka menjadi pribadi yang kaku. Rafka belajar banyak dari kisah orangtuanya bahwa ia akan selalu memperlakukan Caramel sebaik mungkin. Rafka akan mencintai Caramel dengan sepenuh hati, jiwa dan raganya.
Rafka mengusap punggung tangan Caramel terharu dengan ucapan sang istri.
"Mama nggak nyangka kalau Rafka yang dulu kaku bisa romantis sama kamu." Sahut mama Rafka.
"Rafka memang kaku Ma, setelah menikah aku dulu yang mengungkapkan cinta sama dia."
"Benarkah?" Mama Rafka membelalak begitupun dengan orangtua Caramel.
"Itu tidak benar Ma." Rafka menggeleng, ia mencubit punggung Caramel pelan karena telah membocorkan hal seperti itu pada orangtua mereka. "Aku bahkan mengirim surat cinta pada Caramel sejak dia baru masuk SMA."
Mama Rafka dan mama Caramel tertawa karena telah mengetahui kisah mereka di masa lalu. Kesalahpahaman yang terjadi bertahun-tahun lamanya dan baru terungkap setelah Caramel dan Rafka menikah.
"Papa ketinggalan apa ini?" Papa Caramel mengerutkan kening tidak mengerti maksud tawa mereka.
"Papa nanti Mama ceritain ya di rumah." Tukas mama Caramel pada suaminya.
__ADS_1
"Ah nggak adil." Protes papa Caramel membuat yang lain tertawa.