Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

"Dari mana?" Rafka melihat Caramel masuk dengan senyum merekah membawa setangkai bunga berwarna putih yang memiliki daun-daun berukuran kecil pada batangnya. Caramel memasukkan bunga tersebut ke dalam toples bening yang telah diisi air, itu akan membuat bunga segar lebih lama.


"Semalem kamu gelisah tidurnya jadi aku pesen bunga ini, katanya bikin tidur lebih nyenyak." Caramel melihat sesaat bunga yang telah dipesannya memastikan bahwa bunga tersebut tertata dengan indah. Ia tak tahu apakah itu banyak membantu tapi paling tidak bunga bisa membuat ruangan terlihat lebih indah.


"Kamu lagi mikirin apa, nggak biasanya tidur kamu gelisah." Caramel menghampiri Rafka memeluk tubuh kekar sang suami yang selalu membuatnya nyaman. Percayalah sejak menikah Caramel jadi tak pernah insomnia lagi, karena ada guling hidup yang membuatnya tidur nyenyak. Hanya saja ia terbangun beberapa kali karena lapar. Caramel merasa bayinya rakus di dalam sana karena membuat waktu makannya tidak terkontrol.


"Entah lah, kadang memikirkan hal yang tidak pasti justru membuat kita susah tidur." Rafka menunduk menatap wajah Caramel yang terlihat lebih cantik saat baru bangun tidur dan belum mandi.


"Apa itu?" Caramel mengerutkan kening.


"Karena belum pasti aku tidak bisa memberitahumu." Rafka mengacak rambut Caramel lalu melangkah keluar kamar.


"Ih!" Caramel hendak protes tapi Rafka sudah tidak terlihat. Ia menerka-nerka apakah sebenarnya yang mengganggu pikiran Rafka. Apa karena Caramel tiba-tiba mengubah tempat acara baby shower mereka ke apartemen yang semula di hotel.


"Caramel, apa yang kau goreng di atas wajan? mereka gosong!"


Caramel terperanjat berlari menuju dapur menyusul Rafka. Caramel tadi sedang menggoreng tempe saat ada kurir pengantar bunga, ia jadi lupa saking terpesonanya dengan bunga itu atau pada ... Rafka yang baru selesai mandi.


"Ahh itu tempe kita satu-satunya!" Caramel menjerit melihat semua tempe di penggorengan berwarna hitam.


Rafka menahan senyum melihat tempe gosong yang sudah tak berbentuk itu. Saat menyadari ada bau gosong tadi ia langsung pergi ke dapur untuk mematikan kompor. Karena ini bukan pertama kalinya jadi Rafka tidak kaget, Caramel juga sering memanggang daging dan gosong.


"Untung aku udah bikin tumis kembang kol sama tauge, nggak apa-apa ya kita makan sama sayur aja?"


"Iya." Rafka mengangguk, apapun itu asal mereka tidak melewatkan sarapan.


"Aku pindahin nasinya dulu." Caramel bergerak membuka tutup magic com untuk memindahkan nasi ke dalam wadah yang lebih kecil agar mudah membawanya ke meja makan. "Ya ampun, Rafka!" Caramel menoleh pada Rafka dengan dramatis.


"Kenapa?" Rafka menghampiri Caramel karena penasaran apa yang membuat Caramel begitu terkejut. Apakah sesuatu yang lebih menakjubkan dibanding tempe gosong? mungkin nasi gosong.


"Kok beras?" Caramel hampir menangis melihat kekacauan di dapur pagi ini akibat dirinya.


"Kamu lupa menekan tombolnya?"


Ternyata ada yang lebih buruk dari sekedar tempe gosong yaitu beras yang tak kunjung berubah jadi nasi karena Caramel lupa menekan tombol menanak pada magic com.


"Kalau harus masak lagi kamu pasti telat ke kantornya." Caramel menggaruk-garuk kepalanya frustrasi, ia berkacak pinggang melihat wajannya yang gosong.


"Tidak apa-apa, kita makan roti saja." Rafka mengusap bahu Caramel masih dengan senyum yang terlukis di wajah tampannya. Ia punya stok sabar sangat banyak sehingga tetap bisa tersenyum di tengah kekacauan ini.


Caramel mengekori Rafka menuju meja makan. Mereka punya roti tawar dan selai berbagai macam rasa, biasanya dimakan saat mereka buru-buru ke kantor tidak sempat masak. Namun karena sekarang Caramel memiliki waktu kerja yang fleksibel, ia bisa memasak dipagi hari.


Rafka mengambil empat keping roti untuk dirinya dan Caramel.


"Maaf ya, gara-gara aku kita jadi cuma makan roti." Caramel menekuk bibir membuka tutup Nutella kesukaannya. Selai coklat yang harus selalu ada di meja makan karena Caramel suka memakannya bahkan walaupun tanpa roti. No endorse ya.


"Kenapa kamu minta maaf? ini di luar kesengajaan kamu." Lagi-lagi Rafka bisa mengerti pada keadaan Caramel. Itu membuat Caramel semakin merasa bersalah. "Tapi lain kali kamu tidak boleh ceroboh lagi, itu berbahaya." Pesannya.


Kini Caramel menyadari bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak mudah, ia harus membagi waktu sebaik mungkin agar semua pekerjaan rumah bisa teratasi. Caramel orang yang teliti saat bekerja tapi ketika di rumah apalagi di dapur, ia tidak bisa menghandle semuanya dengan baik.


"Aku ambil jus buah dulu, roti nggak cukup buat kamu." Caramel beranjak sementara Rafka tengah menikmati roti dengan selai kacang.


"Kamu juga jangan lupa minum susu." Kata Rafka mengingatkan karena Caramel jarang minum susu kehamilan nya dan lebih sering minum kopi.


"Aku udah minum tadi pas baru bangun tidur." Caramel menutup kulkas, menuang jus buah jeruk ke dalam gelas dan memberikannya pada Rafka. Ia lanjut memasukkan kapsul kopi ke dalam mesin kopi, itu adalah aktivitas yang tidak boleh dilewatkan dipagi hari.


Aroma kopi yang menusuk-nusuk membuat Caramel lebih semangat memulai hari. Caramel menghirup dalam kopi yang masih mengepulkan asap lalu menyesapnya perlahan, membiarkan kehangatan kopi mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Dokter bilang bayi kita berkembang dengan baik." Caramel kembali duduk di samping Rafka. "Jadi kamu nggak usah khawatir." Katanya.


"Dia memang harus berkembang." Rafka mengusap perut Caramel sesaat. "Mamanya juga tidak boleh sakit, nurut apa kata dokter."


Caramel mengangguk, mendengar suara lembut Rafka membuatnya terhipnotis dan menurut begitu saja.


"Mama minta cium." Caramel mengetuk-ngetuk pipinya menggoda Rafka.


Rafka menyentuh lengan Caramel, dari pada mencium pipi, ia lebih memilih mengecup bibir Caramel.


Caramel mencengkram paha Rafka karena terkejut, ia sedang makan dan Rafka melakukan itu secara tiba-tiba.


"Kamu suka gitu ya sekarang." Ujar Caramel setelah Rafka menghentikan ciumannya, ia lanjut mengunyah roti yang belum selesai.


"Aku berangkat dulu." Rafka beranjak setelah menghabiskan roti dan jus jeruk.


"Dianterin ke bawah nggak?" Caramel ikut beranjak.


"Tidak usah, selesaikan makan mu."


Caramel tetap mengekori Rafka ke depan pintu, setidaknya ia harus melihat suaminya keluar dari apartemen.


"Jaga diri di rumah." Rafka mengusap pipi Caramel singkat lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut. Tidak lupa berjongkok memberi hadiah kecupan untuk sang calon bayi. Rafka ingin anak mereka selalu merasakan kehangatan orangtuanya sejak masih di dalam perut.


"Iya, hati-hati di jalan." Caramel melambaikan tangan ketika Rafka keluar, melangkah menjauh hingga tak terlihat masuk ke dalam lift umum.


Caramel kembali menutup pintu, pandangannya menyapu seluruh ruangan, ia tidak suka kesendirian. Caramel melangkah malas ke meja makan melanjutkan aktivitas sarapannya yang sungguh berjalan di luar rencana.


"Kayak jomblo kalau gini nih." Caramel membawa piring bekas makan Rafka dan dirinya ke dapur dan mencucinya. Ia juga mencuci wajan yang gosong tadi dengan susah payah karena tempe itu menyatu dengan wajan.


Caramel membawa kopi yang dibuatnya tadi menuju balkon, itu adalah tempat paling nyaman di apartemen ini setelah kamar. Udara pagi yang menyegarkan dengan kopi hangat adalah kombinasi yang pas untuk menemaninya merenung. Bukan merenung yang tak berarti, terkadang Caramel harus melakukan itu, meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Ia bisa merencanakan masa depan dan hal-hal yang harus dilakukannya dalam waktu dekat. Biasanya ide juga muncul saat seperti ini, apalagi saat ini ia memiliki bisnis sendiri yang membutuhkan inovasi.


Tiba-tiba Caramel kepikiran untuk membuat makan siang dan mengantarnya ke kantor Rafka nanti. Karena Caramel sudah mengacaukan waktu sarapan, maka ia harus memberi kejutan untuk Rafka dengan mengantar makan siang ke kantor.


"Tapi dia kerja di gedung mana ya?" Caramel berpikir, biasanya mereka bertemu di tempat parkir atau di depan gedung utama. Caramel tidak pernah tahu bagian dalam kantor Rafka.

__ADS_1


"Gue harus cari tahu sendiri." Ucap Caramel mantap.


******


"Mama, aku kangen banget." Caramel memeluk mamanya yang baru datang, ia sengaja meminta mamanya kesini untuk mengajarinya masak.


"Gimana keadaan kamu?" Mama Caramel melihat anaknya dari bawah hingga atas, terakhir bertemu saat Caramel baru pulang dari rumah sakit. Setelah itu Caramel disibukkan oleh pekerjannya sehingga mereka tidak bertemu lagi.


"Aku udah jauh lebih baik." Caramel tersenyum, "yuk, mau masak apa kita?" Ia mengambil tas mamanya dan meletakkannya di kursi ruang tamu.


"Kamu punya apa aja di kulkas?" Mama Caramel membuka kulkas memeriksa bahan-bahan yang bisa dimasak.


"Ada ayam sama beberapa sayur, karena Rafka suka sayur jadi aku stok sayur agak banyak di kulkas."


"Apa menu kesukaannya?" Mama melihat Caramel sejenak sebelum kembali melihat kulkas.


"Sayur asem." Itu memang makanan favorit Rafka yang menjadi menu makan mereka hingga tiga kali dalam seminggu. Bahkan jika Caramel memasak sayur asem setiap hari pun Rafka tidak akan protes.


"Ya udah kita bikin itu aja."


Mereka bersiap menyiapkan bahan untuk membuat sayur asem. Mama Caramel juga memiliki ide untuk membuat ayam goreng tepung dengan sambal matah yang sebelumnya belum pernah dibuat oleh Caramel. Namun soal membuat sambal, mama Caramel jagonya.


Kali ini Caramel tidak lupa menekan tombol pada magic com. Ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama apalagi dihari yang sama. Karena ada mamanya, Caramel juga tidak khawatir jika masakannya gosong karena keteledorannya.


"Kamu dan Rafka pilih tema apa untuk baby shower nanti?" Tanya mama Caramel ditengah kegiatan masak mereka.


"Aku mau tema tanaman dengan warna hijau dan putih, biar kelihatan seger juga, karena warna biru untuk baby boy itu udah mainstream Ma jadi kami pakai yang lagi ngetrend akhir-akhir ini yaitu tanaman."


"Udah tentuin event organizer nya?"


"Udah, event organizer yang sama dengan baby shower nya Jane dan Kayla, mereka udah terbukti bagus."


"Kamu juga mau pakai salad buahnya Kayla untuk hidangan penutup?"


"Iya, sekalian bantu promosi juga Ma."


Mama Caramel tidak lagi menjawab, ia serius memotong jagung yang sudah dicuci. Itu hanya masakan sederhana tapi ia harus melakukannya dengan baik untuk sang menantu.


"Kamu potong ayamnya gih." Pinta Mama Caramel.


Caramel mengeluarkan ayam utuh dari dalam plastik dan bersiap memotongnya. Kini peralatan dapurnya lebih lengkap dibandingkan saat pertama kali sampai di apartemen. Ia seperti ibu rumah tangga lain yang suka mengoleksi peralatan dapur walaupun tidak mahir memasak.


"Ya ampun, kenapa gini cara motong mu." Mama Caramel mengambil alih pisau di tangan Caramel, "jadi hancur kan ayamnya, kamu harus ngikutin bagian-bagian tulang ayamnya."


"Aku biasanya juga gitu." Cibir Caramel, memang sedikit hancur dan lebih banyak bagian yang terbuang tapi tetap bisa dimakan.


"Kamu udah nikah hampir setahun tapi belum bisa motong ayam yang bener." Mama geregetan pada Caramel.


"Ya udah sih Ma, kan yang penting aku bisa masak dikit-dikit."


"Kalau ini sih gampang banget." Caramel memotong labu siam menjadi bentuk kotak-kotak dengan lihai.


Selanjutnya mama Caramel yang melanjutkan masakan mereka sedangkan Caramel mendapat bagian paling gampang seperti memotong bawang dan cabai untuk sambel.


Usai masak Caramel segera mandi sementara mamanya masih di dapur mencuci peralatan yang mereka pakai tadi. Tidak seperti Caramel yang suka menumpuk piring kotor, mama Caramel paling tidak tahan melihat dapur berantakan.


Caramel melewatkan berendam di bathtub karena takut terlambat ke kantor Rafka. Tidak lupa menyemprotkan parfum beraroma buah yang disukai Rafka di beberapa bagian. Selain masakan enak, suami juga perlu dimanjakan dengan penampilan istri.


Caramel memakai kemeja merah kotak-kotak dengan celana longgar dan sandal selop datar. Jari kakinya memang sudah tidak diperban lagi tapi ia masih trauma mengenakan sepatu. Caramel mengoleskan liptint berwarna merah untuk memberikan tampilan segar, ia juga membuat wing eyeliner yang akan membuat matanya lebih tajam. Percayalah hanya dengan liptint dan eyeliner, tampilan wajah mu akan lebih menarik.


"Ma, aku berangkat!" Caramel setengah berteriak kepada mamanya di dapur, ia mengangkat paper bag berisi kotak makanan yang akan dibawanya.


"Iya, sebentar lagi Mama juga pulang."


"Nggak nunggu aku balik?"


"Enggak, lusa juga Mama kesini lagi bantuin kamu."


Caramel melangkah ke dapur, "makasih udah masakin makan siang buat Rafka dan aku." Ia mencium pipi mamanya singkat sebelum pergi.


"Hati-hati!" Teriak mama Caramel.


Tak ada jawaban dari Caramel karena anak itu sudah menghilang masuk ke dalam lift pribadi.


******


Mobil Caramel berhenti perlahan di antaran barisan mobil lain yang sedang parkir. Sebelum turun, Caramel tidak lupa bercermin memastikan make-upnya masih bagus. Ia sudah seperti seorang cewek yang hendak pergi kencan pertama kalinya.


"Tapi kantornya sebelah mana?" Pandangan Caramel menyapu seluruh penjuru kawasan kantor pusat BMKG yang memiliki beberapa gedung. Tidak mungkin Caramel menghubungi Rafka karena ia kesini berniat untuk memberi kejutan.


Caramel melangkah masuk ke gedung A yang berada paling dekat dengan mobilnya. Jika pergi ke kawasan kantor ini, pasti gedung A terlihat paling menarik dari segi bentuknya yang untuk dibandingkan gedung lain.


"Permisi, Pak." Caramel menebar senyum tipis kepada pegawai yang berada di belakang resepsionis.


"Iya ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau tanya kantor sistem peringatan dini iklim ada di gedung mana ya pak?" Untung Caramel sudah menghafal nama pekerjaan Rafka sehingga ia bisa langsung menanyakannya pada petugas kantor tersebut.


"Kalau boleh tahu, Mbak nya cari siapa?"


"Rafka, Rafka Kalandra Pradipta dari bagian sistem perubahan iklim." Jelas Caramel, bisa saja nama Rafka ada banyak disini.


"Oh Bapak Rafka ada di gedung F, Mbak silahkan masuk dan naik ke lantai tiga melalui lift paling kanan, disitu tertulis CEWS yang merupakan kantor Bapak Rafka."

__ADS_1


"Terimakasih Pak, saya permisi." Caramel undur diri, ia akan jalan kaki menuju gedung F sekalian olahraga. Beberapa hari ini ia tidak sempat berjalan-jalan keliling apartemen karena sibuk.


Sesuai arahan pegawai tadi Caramel masuk ke gedung F yang termasuk bangunan baru di kawasan kantor ini, Caramel melangkah menuju lift paling kanan untuk sampai ke ruangan Rafka. Caramel berharap Rafka belum keluar untuk makan siang.


Pegawai disini cantik-cantik juga. Batin Caramel saat melihat beberapa pegawai yang juga hendak naik lift.


"Lift nya udah penuh ya?" Tukas salah satu pegawai berambut pendek sebahu.


"Mbak mau naik?" Tanya pegawai satunya yang mengenakan jilbab pada Caramel.


"Iya, nggak apa-apa saya nunggu giliran berikutnya." Caramel tersenyum, sepertinya lift penuh karena bertepatan dengan jam makan siang.


"Nggak apa-apa naik aja duluan, Mbaknya kan lagi hamil kasian kalau berdiri lama-lama." Si rambut pendek mempersilahkan Caramel masuk terlebih dahulu.


"Beneran nggak apa-apa?" Caramel jadi tidak enak karena ia bukan pegawai disini.


"Nggak apa-apa duluan aja, masih muat kok untuk satu orang."


"Ya sudah, terimakasih mbak." Caramel menunduk sopan sebelum masuk ke dalam lift bersama pegawai lain.


Caramel paling mencolok di antara pegawai lain yang mengenakan kemeja putih dan bawahan biru tua. Ia salah memilih warna merah karena terlihat kontras dengan yang lain.


Itu dia! Begitu keluar Caramel langsung menemukan kantor Rafka sesuai apa yang dikatakan oleh pegawai tadi.


Caramel mengetuk pintu dan membukanya, hanya ada beberapa pegawai yang masih berada di dalam kantor. Dan ... itu dia Rafka di salah satu meja tampak serius berkutat dengan komputer dengan salah satu pegawai wanita.


"Permisi." Ujar Caramel.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya Rafka langsung mendongak, awalnya terkejut karena kedatangan Caramel yang tiba-tiba tapi detik kemudian ia tersenyum dan beranjak menghampiri Caramel.


"Kenapa tidak mengabariku, aku bisa menjemputmu di depan." Rafka sumringah melihat Caramel, terkadang disaat letih dengan pekerjaannya ia berharap sang istri datang ke kantor untuk mengobatinya. Biasanya Rafka hanya bisa melihat foto Caramel untuk mengobati kerinduannya.


"Aku pengen tahu ruang kerja kamu, ternyata disini." Caramel mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang penuh dengan gambar peta dan komputer mulai dari yang kecil hingga besar. "Aku bawa makanan." Caramel sedikit mengangkat paper bag yang dibawanya.


"Kalau gitu kita makan sama-sama di kantin supaya lebih nyaman." Rafka menggandeng tangan Caramel keluar ruangan.


"Kok kamu nggak keluar, yang lain udah pada keluar makan."


"Rencananya aku mau menyelesaikan pekerjaanku sebelum ke kantin."


Caramel manggut-manggut sambil sesekali melihat ke sekeliling karena ini pertama kalinya ia masuk ke kantor Rafka.


"Pak Rafka." Beberapa pegawai menyapa Rafka ketika mereka kebetulan berpapasan di koridor.


Rafka membalasnya dengan senyuman sambil mengangguk sopan. Caramel tidak tahu apa jabatan Rafka disini tapi hampir semua pegawai yang lewat menyapa Rafka. Mungkin itu karena Rafka sudah cukup lama bekerja disini.


"Kamu kenal sama semua pegawai disini?" Tanya Caramel saat mereka masuk ke dalam lift.


"Tentu tidak semua." Rafka mengenal sebagian besar pegawai lama karena mereka sering berinteraksi membahas pekerjaan. "Baru-baru ini ada pelantikan pegawai baru dan aku belum berkenalan dengan mereka."


Kantin tampak ramai ketika Caramel dan Rafka sampai disana. Sebagian makanan juga sudah habis tapi itu tidak masalah karena mereka membawa makanan sendiri.


"Wah kamu bikin sayur asem?" Mata Rafka berkilat-kilat melihat Caramel mengeluarkan salah satu kotak berisi sayur asem.


"Aku juga bawa ayam goreng sama sambel matah, cobain dong." Caramel memberikan sendok dan garpu kepada Rafka.


Rafka menyendok nasi dengan sayur asem dan sambal matah, "enak banget, kamu cobain juga." Ia juga menyuapkan kombinasi nasi dan sayur untuk Caramel.


"Aku mau sama ayam."


"Sama ayam? baiklah tuan putri." Rafka menambahkan sesuwir ayam dan menyuapkannya pada Caramel.


"Enak." Caramel manggut-manggut, masakan mamanya memang tidak pernah gagal. "Ini masakan Mama bukan aku."


"Oh ya? tidak jauh beda." Ucap Rafka jujur, menurutnya masakan Caramel juga enak.


"Kamu biasanya makan disini kalau nggak bawa bekal?"


Rafka mengangguk, ia tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Aku senang bisa makan siang sama kamu." Rafka menatap lurus Caramel, kebahagiaan begitu terpancar di wajah tampannya.


"Kamu mau aku dateng setiap hari?"


"Tidak, itu membuatku khawatir karena kamu harus menyetir sendiri."


"Tapi kamu lebih suka makanan rumahan."


"Aku bisa bawa bekal dari rumah seperti biasa."


"Maka aku harus bangun pagi."


"Aku akan membantumu sayang." Tangan Rafka terulur mengusap puncak kepala Caramel. "Kenapa kau cantik sekali, hm?"


"Karena mau ketemu kamu."


"Bukan kah pegawai lain akan terpikat?"


"Tapi pegawai disini juga cantik-cantik, aku lihat tadi temen kamu juga cantik."


"Tak ada yang lebih cantik dari kamu."


Caramel menutup mulutnya menahan tawa, ia tidak mau nasi di dalam mulutnya menyembur begitu saja karena tertawa. Itu adalah kalimat gombalan yang biasa diucapkan buaya darat kepada para wanita. Namun Rafka tidak mengucapkannya kepada siapapun kecuali Caramel.

__ADS_1



__ADS_2