Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Caramel membalurkan krim cukur pada dagu dan atas bibir Rafka sebelum ia mencukur kumis dan jenggot sang suami yang mulai lebat. Padahal Caramel baru mencukurnya beberapa hari yang lalu. Namun rambut di wajah Rafka tumbuh kembali dengan cepat.


Setelah menikah mencukur kumis Rafka adalah kesenangan Caramel yang tak bisa ia dapatkan saat masih sendiri. Caramel senang melakukannya meski Rafka selalu memasang ekspresi takut saat ia melakukannya. Rafka takut Caramel terlalu bersemangat hingga melukai kulitnya. Namun selama Caramel melakukannya, itu belum pernah terjadi. Belum.


"Aduh!" Rafka mengaduh merasakan perih pada dagunya.


"Eh maaf-maaf!" Caramel mendelik, ia salah menggerakkan pisau cukur itu ke samping sehingga menggores kulit Rafka. "Aduh maaf, Pa."


"Nggak apa-apa." Rafka menunduk membersihkan sisa krim cukur pada dagunya sekaligus melihat lukanya. "Sedikit aja kok." Katanya.


"Aku ambil plester dulu." Caramel keluar dari kamar mandi untuk mengambil plester, ia menengok Arnesh di atas tempat tidur memastikan sang buah hati masih tidur. Caramel menyesal karena telah menggores wajah suaminya yang tampan.


"Perih ya?" Caramel meniup luka goresan di dagu Rafka selagi memasang plester untuk membalut luka itu.


"Tidak."


Jawaban Rafka justru membuat Caramel semakin merasa bersalah. Pasti jawaban itu hanya untuk menenangkan Caramel, ia tahu goresan silet meski sedikit akan terasa sangat perih.


"Aku nggak bakal cukur kumis kamu lagi." Caramel selesai membalut luka Rafka dengan plester, jika melakukannya lagi mungkin ia tak hanya akan menggores wajah Rafka satu kali dan ia tak mau itu terjadi.


Rafka mengangguk, ia bisa tenang jika Caramel tak mencukur kumis nya lagi. Sebab ketakutan Rafka akhirnya terjadi juga, ia bukan tak percaya pada Caramel. Rafka bisa membiarkan Caramel melakukan apapun padanya tapi ia ngeri setiap kali sang istri mencukur kumis dan jenggotnya. Ternyata kejadian seperti ini memang akan terjadi, mungkin itu sebabnya Rafka merasa takut.


"Aku mandi dulu." Tukas Rafka agar Caramel keluar dari kamar mandi.


"Ya udah." Caramel mengangguk kaku.


"Mau mandi bersama?" Rafka maju selangkah hendak memegang tangan Caramel tapi wanita itu reflek mundur.


"Enggak-enggak." Caramel buru-buru membalikkan badan, keluar kamar mandi dan menutup pintunya kembali. Jika Caramel mengiyakan maka ia tak akan bisa keluar dari jeratan Rafka.


Begitu keluar perhatian Caramel langsung tertuju pada tempat tidur, tampak Arnesh membuka mata dengan kaki menendang-nendang aktif begitupun sepasang tangan mungilnya.


"Anak Mama udah bangun ya sayang." Caramel menganggukkan kepala memasang senyum lebar yang menular pada Arnesh. Tadinya Arnesh seperti hendak menangis tapi setelah melihat Caramel, ia langsung tertawa.


"Mau gendong ya, yuk." Caramel mengangkat tubuh Arnesh, membawanya menuju balkon kamar untuk merasakan udara segar dan sinar matahari pagi.


Arnesh mengerjap kala sinar matahari menerpa wajahnya, matanya belum siap menyesuaikan dari cahaya temaram kamar.


"Kayaknya Mama harus beliin kamu kacamata hitam ya, biar bisa kita pakai waktu berjemur." Caramel merogoh saku piyamanya mengambil ponsel. Ia membuka salah satu e-commerce untuk mencari kacamata hitam untuk anak-anak.


Sejak kembali ke Jakarta, Caramel jadi sering belanja kebutuhan Arnesh melalui e-commerce, mulai dari hal yang tidak penting seperti baby bather atau tempat duduk bayi saat mandi tapi ternyata Caramel bisa memandikannya sendiri tanpa alat itu, hingga saat ini baby bather itu tak pernah digunakan. Selain itu Caramel membeli banyak teether dengan berbagai bentuk untuk Arnesh nanti saat hendak tumbuh gigi.


Caramel tidak tahu apakah semua perempuan yang pertama menjadi ibu akan sepertinya, ia bahkan membeli alat pembuat makanan bayi. Beberapa kali Caramel belajar membuat MPASI meskipun Arnesh masih berusia 3 bulan. Caramel pikir ia akan terbiasa jika belajar dari sekarang.


"Papa, bajunya udah aku siapin di kursi ya." Caramel sedikit melongokkan kepala mendengar Rafka membuka pintu kamar mandi.


"Makasih Ma." Ucap Rafka melangkah masuk ke walk in closet untuk ganti baju.


Rafka telah siap mengenakan celana bahan hitam yang dipadukan dengan batik mega mendung pilihan Caramel. Meskipun sibuk Caramel selalu sempat menyiapkan pakaian untuk Rafka. Caramel sudah hafal hari-hari dimana Rafka harus mengenakan seragam atau batik dengan motif bebas.


Semakin berjalannya waktu Caramel makin baik menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu. Caramel tak lagi egois dan lebih memikirkan perasaan Rafka sehingga mereka saling mengalah. Apalagi sejak pertengkaran hebat mereka beberapa waktu yang lalu.


"Mama mau sarapan?" Rafka menyusul Caramel ke balkon.


"Enggak, kamu makan aja duluan." Caramel melihat Rafka sejenak sebelum kembali berkutat dengan benda pipih di tangannya. Setelah selesai memesan kacamata hitam untuk Arnesh, Caramel meletakkan ponsel di meja kecil di belakangnya.


Tanpa berkata apapun Rafka meninggalkan balkon, keluar kamar menuju ruang makan.


"Silau ya." Caramel melindungi wajah Arnesh dengan tangannya hingga anak itu bisa membuka mata sepenuhnya. "Anak Mama lucu sekali sih." Caramel menciumi wajah Arnesh gemas, apalagi melihat pipi tembam Arnesh yang memerah saat menangis atau terkena cahaya matahari.


"Makasih sayang karena kamu udah mirip Mama, tapi Mama yakin setelah besar nanti kamu akan tampan seperti Papa, semoga kamu juga setia ya, Papa itu dari dulu cintanya sama Mama aja."

__ADS_1


"Ayo makan bersama." Rafka muncul membawa sepiring nasi, ikan goreng dan semangkuk sayur asem buatan Caramel.


Caramel terperangah, meski ini bukan pertama kalinya Rafka membawakannya makanan tapi ia pikir Rafka akan makan sendiri kali ini karena harus pergi bekerja.


"Nanti telat lo kamu." Caramel duduk di kursi panjang saat Rafka meletakkan sayur asem di atas meja.


"Tidak akan telat." Ucap Rafka menenangkan Caramel, ia sudah memperhitungkan waktunya dengan tepat. "Arnesh, mau makan juga ya?" Rafka menyentuh pipi Arnesh dan mengecupnya, menghirup aroma bayi yang menyegarkan.


"Arnesh makan sayur asem nanti sama Papa ya." Caramel membuka mulut menyambut suapan Rafka. Kombinasi nasi, sayur asem dan ikan goreng begitu memanjakan lidah. Perpaduan labu siam, kacang panjang, daun melinjo dan jagung sangat nikmat dengan kuah asam, gurih dan pedas. Caramel jadi tertular Rafka yang tak pernah bosan dengan sayur asem. Betul kata Danu, di rumah maupun di restoran Rafka tetap makan sayur asem.


"Lihat Arnesh menjulurkan lidahnya." Rafka tertawa, Arnesh menjulurkan lidahnya saat melihatnya makan.


"Arnesh minum susu aja ya." Caramel menyusui Arnesh sebelum anak itu menangis.


"Cuaca hari ini akan cerah." Pandangan Rafka menerawang ke langit biru dengan sedikit awan.


"Beberapa hari ini hujan terus, akhirnya bisa bawa Arnesh keluar buat berjemur, aku udah pesen kacamata buat dia." Caramel tidak sabar memakaikan Arnesh kacamata hitam, nanti ia juga akan membawa Arnesh pergi ke pantai dengan kacamata itu.


"Oh iya bekal kamu belum aku siapin, atau kamu mau makan di luar aja?" Caramel melihat Rafka, ia tidak mau dianggap pelit dengan selalu membawakan Rafka bekal. Meski Rafka lebih suka masakan rumah tapi Caramel pikir mungkin sesekali sang suami perlu makan di luar agar tidak bosan.


"Tidak, kamu sudah masak, aku akan menyiapkan bekal." Rafka beranjak setelah piring mereka kosong licin, begitupun dengan mangkuk kecil yang tadi penuh oleh sayur asem. Sekarang ini Caramel semakin pandai memasak sehingga Rafka makin betah makan makanan rumah.


Caramel mengantar Rafka hingga depan pintu dengan Arnesh masih berada di gendongannya. Sekarang tak hanya Caramel yang mendapat ciuman dari Rafka, Arnesh pun dapat bahkan berkali-kali lipat lebih banyak. Siapa yang tahan untuk tidak mencium pipi gembul dan wangi milik Arnesh. Meski baru bangun tidur, aroma bedak masih menempel di kulit Arnesh bercampur dengan aroma alami bayi.


"Papa kerja dulu ya." Rafka mencium Arnesh sekali lagi—si kecil yang selalu menjadi alasan bagi Rafka untuk pulang cepat.


"Hati-hati Papa." Caramel berjinjit mencium bibir Rafka singkat.


"Kalau ada apa-apa telfon ya." Ucap Rafka sebelum melambaikan tangan keluar apartemen.


Caramel kembali menutup pintu setelah Rafka berbelok masuk ke dalam lift.


Pandangan Caramel menyapu seluruh ruangan yang cukup berantakan. Meski mereka hanya tinggal bertiga tapi ruangan itu selalu berantakan. Beberapa kali Rafka meminta pendapat Caramel untuk mencari orang yang bisa membantu membereskan rumah. Namun Caramel tidak nyaman jika ada orang asing yang berada di rumahnya.


Setelah mengisi bak mandi dengan air hangat, Caramel segera menceburkan tubuh gempal Arnesh ke dalamnya. Begitu menyentuh air, Arnesh tertawa senang, pandangannya berbinar-binar menatap Caramel. Dari bayi Arnesh memang tak pernah menangis saat mandi.


"Hmm wangi banget kan yang ini." Caramel menghirup dalam aroma sabun yang ia balurkan ke seluruh tubuh Arnesh.


Caramel memakaikan Arnesh jumper berwarna putih dan kaos kaki abu-abu bergambar kelinci. Wajah Arnesh sendu karena Caramel tidak segera menggendongnya, ia menendang-nendang melipat bibir bawahnya.


"Sabar, Mama sisir rambut Arnesh dulu ya sayang." Caramel mengambil sisir merapikan rambut Arnesh yang tumbuh lebat sejak bayi. Ia juga memakaikan minyak rambut khusus bayi untuk Arnesh.


"Yuk gendong." Caramel mengangkat tubuh Arnesh dan memberi kecupan berkali-kali bahkan menggigitnya pelan karena gemas. Ia menyusui Arnesh agar si kecil bisa segera tidur setelah mandi.


Tidak butuh waktu lama Arnesh sudah terlelap, Caramel meletakkan pelan-pelan sang buah hati di tas tempat tidur. Caramel ikut berbaring menyangga kepala dengan satu tangan menghadap pada Arnesh. Aktivitas yang tak pernah membosankan bagi Caramel adalah memandangi Arnesh saat terlelap. Wajah polos Arnesh membuat Caramel merasa tenang hanya dengan memandangnya.


"Kenapa kamu cepet banget sih gedenya?" Caramel membelai kepala Arnesh dan sesekali mengecupnya.


Tadinya Caramel hendak mencuci piring dan menggantung pakaian yang baru selesai dikeringkan di mesin cuci. Namun akhirnya ia menjatuhkan kepalanya ke atas bantal. Caramel juga mengantuk akibat begadang semalam karena Arnesh rewel. Untungnya pagi ini Arnesh sudah bisa lebih tenang.


******


Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 10 ketika terik matahari semakin menyengat. Ramalan cuaca yang Rafka katakan hampir tidak pernah meleset. Memanfaatkan teknologi canggih dan analisa mendalam ramalan cuaca yang sulit diprediksi akhir-akhir ini mulai bisa diatasi.


Caramel terbangun dari tidurnya yang amat pulas, ia kaget melihat jam dinding yang menunjukkan hampir tengah hari. Mengapa Arnesh tidak bangun dan menangis sama sekali? batin Caramel. Biasanya Arnesh akan bangun setelah satu atau dua jam tidur untuk minum ASI. Mungkin karena semalam Arnesh tidak tidur, pagi ini ia tidur sangat lama.


"Nyenyak banget tidurnya sayang." Caramel mencium pipi Arnesh untuk membangunkannya. "Bangun eh." Ujarnya.


Caramel bangun dari posisi tidur duduk bersila masih di atas ranjang. Ia mengerjapkan mata melihat wajah Arnesh yang pucat tidak seperti biasanya. Bibir Arnesh juga tertutup rapat padahal biasanya mulutnya sedikit terbuka saat tidur.


"Arnesh." Caramel sedikit mengguncang tubuh Arnesh. Wajah Caramel pias karena Arnesh tidak berkutik.

__ADS_1


Caramel mencondongkan tubuhnya untuk merasakan napas Arnesh. Tidak ada. Caramel membuang semua pikiran buruk yang tiba-tiba memenuhi otaknya.


Caramel membuka mulut Arnesh memberikan bantuan napas, "satu ... dua ... " Ia menghitung satu hingga lima belas kompresi pada dada Arnesh setelah memberikan bantuan napas. Dadanya berdebar dengan tubuh gemetar hebat, kenapa tidak ada respon?


"Arnesh!" Caramel berteriak, ia turun dari tempat tidur karena tindakan RJP yang dilakukannya tak menghasilkan apapun. Ia meraih kunci mobil dan ponsel membawa Arnesh keluar.


"Halo ... Pa." Suara Caramel gemetar hampir tidak keluar.


"Ada apa dengan suaramu?" Suara Rafka langsung menyahut di seberang sana.


"Arnesh ... nggak gerak." Caramel hampir menjatuhkan ponselnya ketika keluar menekan tombol pada lift, ia lemas memandang mata Arnesh tertutup rapat.


"Apa maksudmu?"


Caramel tak sanggup menjawab pertanyaan Rafka, ia berlari begitu pintu lift terbuka. Beberapa orang melihat Caramel berlarian keluar lobi, mereka bertanya-tanya apa yang membuat wanita itu begitu terburu-buru.


"Aku lagi di jalan menuju rumah sakit." Caramel menjatuhkan ponselnya entah kemana, ia menginjak gas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tujuan Caramel adalah RSIA Bunda yang hanya 2 kilometer dari apartemen nya.


Pandangan Caramel berkabut, ia berkedip satu kali meloloskan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya. Caramel menoleh ke belakang sesaat, melihat Arnesh di atas carseat berharap mendengar suara tangisan sang buah hati.


Caramel berlari keluar dari mobil, ia memeluk erat tubuh Arnesh. Caramel masih bisa merasakan sedikit kehangatan dari tubuh si kecil. Arnesh pasti hanya sedang tidur terlalu lama. Begitu pikir Caramel.


"Dokter tolong anak saya!" Caramel berteriak sesampainya di UGD, beberapa perawat yang sedang berada disana segera mengambil alih Arnesh memindahkannya ke tempat tidur.


Seorang dokter wanita memeriksa keadaan Arnesh, eskpresi wajahnya yang datar menyiratkan tak ada harapan lagi bagi Caramel. Dengan melihatnya saja ia tahu bahwa Arnesh sudah tidak ada. Ia melakukan pemeriksaan itu untuk membesarkan hati Caramel. Dokter memeriksa kedua mata Arnesh dengan senter kecil dan denyut nadi di bawah leher serta pergelangan tangan. Dokter melihat salah satu perawat dan menggeleng samar.


"Ma!"


Caramel menoleh ke sumber suara, tampak Rafka tengah berlari ke arahnya.


"Arnesh kenapa?" Napas Rafka terengah-engah, begitu mendapat telepon dari Caramel, ia langsung izin keluar kantor. Tanpa Caramel memberitahu, Rafka sudah bisa menduga bahwa rumah sakit ini yang Caramel tuju karena letaknya paling dekat dengan apartemen.


"Pa, tadi abis mandi Arnesh tidur, aku juga ketiduran di sampingnya, tapi begitu aku bangun, dia ... dia nggak .... " Caramel tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ini terjadi begitu saja tanpa Caramel duga sebelumnya. Jika bisa memutar waktu maka Caramel tak akan tidur, ia akan terus memperhatikan Arnesh.


"Sshhhh." Rafka memeluk Caramel berusaha menenangkannya meski ia juga panik dan takut tak karuan. Rafka yakin Arnesh akan baik-baik saja seperti saat ia berangkat kerja tadi pagi.


Mereka mengurai pelukan mendengar pintu UGD terbuka dan seorang dokter yang menangani Arnesh keluar dari sana.


"Dokter, gimana anak kami?" Rafka langsung menanyakan keadaan Arnesh.


Dokter wanita berambut pendek itu melangkah pelan menghampiri Caramel dan Rafka. Matanya memerah berkaca-kaca, ini adalah salah satu hal terberat bagi seorang dokter saat hendak mengatakan bahwa pasien nya tidak bisa diselamatkan. Ia melihat harapan yang begitu besar dari mata mereka. Sebelum mengeluarkan sepatah kata pun, hati seorang dokter sudah hancur apalagi melihat kesedihan keluarga pasien, itu sungguh menyakitkan.


Dokter menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan satu kalimat, "ketika sampai disini, bayi Bapak dan Ibu sudah tidak ada, meski kita bisa merasakan kulitnya sedikit hangat itu karena dia meninggal belum lama sekitar 15 menit yang lalu."


Mendengar itu tubuh Rafka seketika lemas seperti kehilangan tulang-tulang yang menopangnya.


"Dokter, dia cuma tidur, aku yakin sebentar lagi Arnesh pasti bangun dan minta susu." Caramel melepaskan tangan Rafka yang menggenggamnya. "Gimana dokter bisa bilang anak saya udah nggak ada, Arnesh nggak sakit, dia sehat, beberapa jam yang lalu saya masih nyusuin dia." Caramel menggeleng kuat menatap tajam pada dokter di hadapannya, air mata menghujani pipinya tanpa izin dihari yang sangat cerah.


"Anak Bapak dan Ibu mungkin mengalami sudden infant death syndrome yaitu kematian tiba-tiba pada bayi saat tidur, kasus SIDS memang jarang terjadi, penyebabnya juga tidak pasti.


"Rafka kamu tahu sendiri kan tadi Arnesh baik-baik aja, dia sehat!" Caramel mengguncang lengan Rafka yang berdiri kaku dengan pandangan kosong.


"Caramel—"


Sebelum Rafka menyelesaikan kalimatnya Caramel menerobos masuk melewati dokter, ia ingin memastikan sendiri bahwa Arnesh hanya tidur tidak seperti yang dokter katakan. Tangisan Caramel pecah seketika melihat wajah pucat sang buah hati, tak ada lagi pipi kemerahan dan tendangan aktif.


Tidak-tidak, ini tidak mungkin. Arnesh masih tertawa dan merespon ucapan Caramel saat mandi tadi.


Wajah Arnesh ikut basah oleh air mata Caramel yang kini sedang memeluknya bahkan menciumnya berkali-kali. Caramel berharap Arnesh bergerak, menangis atau apapun asal jangan seperti ini.


Kenapa Arnesh tidak memberi tanda-tanda apapun? kenapa dia tidak sakit, kenapa dia tidak mengizinkanku merawatnya lebih lama? ini terasa seperti mimpi, semuanya terjadi secara tiba-tiba bahkan Caramel tidak tahu apakah ini nyata atau mimpi buruk saat dirinya tidur pagi tadi.

__ADS_1


Mengapa Arnesh meninggalkan ku begitu cepat? kenapa harus Arnesh? kenapa harus aku? aku mengandung nya selama 7 bulan, melahirkannya dengan susah payah setelah terombang-ambing di lautan. Mengapa dunia begitu kejam padaku? kenapa semua kesialan menimpaku, kenapa Tuhan tidak membaginya dengan orang lain?



__ADS_2