
Bundaran Hotel Indonesia akan menjadi pemandangan indah setiap kali aku bangun tidur. Aku tidak percaya ini nyata, jangan-jangan ini mimpi. Lihatlah mobil itu terlihat seperti semut dari atas sini. Rafka! Aku mencintai apartemen mu. Apa? kalian akan menyebutku cewek matre? aku hanya materialis. Sungguh aku tidak tahu akan dijodohkan dengan pria yang punya Kempinski Residence!
Kelap-kelip lampu berwarna-warni membuatku terpesona, aku seperti berada di atas langit di tengah kilau bintang malam hari. Aku suka bintang, karena mereka menghiasi langit yang hitam legam saat malam. Lampu-lampu itu juga seperti bintang.
Mataku masih terasa berat akibat menangis apalagi saat mama melepas ku pindah kesini. Bukan hanya mama yang melow, papa juga demikian. Katanya belum rela melepas putri kecilnya yang unyu ini.
Dari dulu kami memang tak pernah berpisah, aku selalu tinggal bersama mereka. Maklum kalau papa yang selalu terlihat tegar itu ikut galau saat aku pergi.
"Kamu harus kesini setiap hari."
"Ya ampun Pa, Caramel kan masih kerja dan sekarang udah ada suami yang harus dilayani, kita nggak boleh nuntut dia datang setiap hari."
Aku tersenyum geli mengingat perdebatan papa dan mama tadi. Setelah jauh seperti ini, kebersamaan dengan keluarga jadi begitu berarti.
"Cara mau makan apa?"
Aku membalikkan badan mendengar suara Rafka seketika membuyarkan lamunanku.
"Lihat sini." Aku melompat ke sofa depan televisi, membuka salah satu koper ku.
"Ada apa?" Rafka duduk di sampingku.
Mataku berbinar melihat mie instan berbagai rasa satu koper penuh, ah aku seperti berada di surga. "Pilih satu, kita makan mie instan aja siang ini."
"Boleh."
"Samyang mala ya?" Aku mengambil dua bungkus samyang mala favorit ku karena memiliki rasa pedas yang membuat ketagihan.
"Terserah, saya belum pernah makan ini." Rafka beranjak setelah mengambil samyang di tanganku.
Si robot masih formal aja sama istrinya, harus disetting ulang nih biar lebih santuy.
Aku mengejar Rafka ke dapur, siapa tahu dia juga belum pernah menyalakan kompor kan.
"Jadi kamu udah pernah makan varian samyang yang mana?" Aku mengisi panci dengan air dan meletakkannya di atas kompor.
"Saya belum pernah dengar merek itu sebelumnya."
Aku melotot, dia hidup dimana sih selama ini? tengah hutan? aku tidak percaya seorang Rafka yang punya mobil BMW justru belum pernah dengar merek mie instan terkenal bernama samyang.
"Kenapa baunya pedas?" Rafka mundur selangkah saat menuang bumbu ke piring, keningnya berkerut.
"Memangnya kenapa?"
Ia tak menjawab lebih memilih melanjutkan aktivitasnya menuang bumbu ke piring kami.
10 menit kemudian mie siap disajikan dengan tambahan toping sosis dan telur mata sapi cantik hasil karya si robot optimus. Pinggiran telur mata sapi itu begitu mulus tanpa gosong sedikitpun. Ia membuatku minder soal telur goreng.
Aku menuang susu ke dalam 2 gelas untuk meredam rasa pedas, tanpanya aku tak akan bisa menghabiskan satu porsi samyang paling pedas tersebut.
__ADS_1
"Selamat makan." Aku menggulung mie dengan sumpit dan memakannya. Aku memejamkan mata menikmati sensasi rasa samyang mala saat pertama kali menyentuh lidah ku. Baru kemarin aku makan ini, tapi aku selalu kangen makan lagi dan lagi. Jika ditanya mie instan apa yang aku sukai, maka jawabannya adalah semua. Aku tak pernah menolak mie instan jenis apapun.
Rafka juga makan dengan tenang tanpa suara, oh ternyata dia lebih tahan pedas dari pada aku.
"Enak nggak?" Tanyaku penasaran, aku meneguk susu dingin hingga tersisa setengah bagian. Ia tidak menjawab, justru ikut-ikutan minum susu.
Rafka tampak menyeka hidung nya yang berair beberapa kali lalu makan mie lagi dan minum susu. Rafka makan sangat cepat bahkan jika ku perhatikan ia tidak mengunyah mie tersebut.
"Pelan-pelan aja kita nggak lagi lomba kok." Aku sudah heboh karena kepedasan, mataku merah dan berair bersama keringat yang membasahi badanku. Walaupun sudah berkali-kali makan samyang ini, tetap saja lidahku selalu terbakar.
"Ini untuk mu," Rafka memindahkan telur goreng miliknya ke piringku setelah menghabiskan mie. "itu akan sedikit meredakan pedas nya."
Rafka beranjak menuju dapur, piringnya sudah kosong dalam 5 menit. Aku sampai melongo dibuatnya, dia benar-benar tidak tahu cara menikmati makanan.
Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menyantap telur mata sapi tersebut dengan sekali suapan.
Aku mengintip ponsel yang dari tadi tak ada hentinya berdenting bersahut-sahutan, maklum lah ada sekitar 20 grub chat di WhatsApp yang semuanya aktif. Aku lihat ada satu pesan dari mamer, mama mertua.
Cara, kalian makan apa malam ini? Mama saranin kamu masak hal simpel seperti sayur asem atau telur goreng dengan nasi. Sebenernya dia nggak pernah rewel soal makan, yang penting jangan mie instan dan makanan pedes.
Aku mendelik membaca pesan tersebut, kenapa baru sekarang? benar juga kami tak pernah membahas tentang hal tersebut sebelumnya. Tapi kenapa terlambat sih ngasih taunya mamer!
Lalu bagaimana sekarang keadaan Rafka?
Aku menyusul Rafka ke dapur membawa segelas satu cup es krim di kulkas, untuk orang yang anti makan pedas pasti sangat menyakitkan jika harus makan varian samyang paling pedas tersebut.
"Ini." Aku menyodorkan es krim tersebut pada Rafka.
Kenapa dadaku nyeri melihat wajah Rafka memerah, bibir dan matanya juga. Awh kenapa aku menyiksanya seperti ini.
"Aku peluk kamu sebentar ya." Aku maju selangkah dan memeluk Rafka, menyandarkan kepala di dada bidang nya. Sesaat tubuh Rafka menegang karena gerakan ku yang tiba-tiba, tapi perlahan tangan kekar nya membalas pelukanku.
Rafka memang seperti robot yang disetting untuk selalu berbuat baik. Beraninya tadi Rafka memberiku telur goreng miliknya, padahal ia sendiri sedang kepedasan.
"Kamu suka makan pedes nggak?" Tanyaku.
"Tidak."
Seharusnya tadi aku menanyainya dulu sebelum makan, "kenapa mie nya dimakan?"
"Karena itu makanan."
Baiklah mulai sekarang aku akan lebih memahami nya, Rafka hanya menjawab pertanyaan dan enggan mengungkapkan perasaan.
"Makan ini, aku nggak peduli kamu pengen atau enggak." Aku melepas pelukan, menarik tangan Rafka agar mau mengambil es krim yang sudah ku bawakan untuknya. Es krim akan meredakan pedas sama seperti susu.
Aku meninggalkannya di dapur untuk menghabiskan mie yang masih tersisa.
******
__ADS_1
Akhirnya aku bisa berbaring di kasur berukuran king size ini, ah aku lega setelah lelah seharian mengurus kepindahan ku kesini. Suara Rafka saat mengucapkan akad nikah tadi masih terngiang di telingaku. Suara nya begitu tegas dan lantang, langsung berhasil dalam satu kali tarikan napas, aku kagum padanya.
Aku sudah melakukan semua saran Jane dan Kayla demi sesuatu yang disebut malam pertama. Mulai dari memakai sabun khusus, menyisir rambut hingga rapi dan memakai parfum paling mahal milikku. Semua ku lakukan kecuali lingerie merah, aku benci itu.
Dia datang!
Rafka baru saja keluar dari kamar mandi, ia mengenakan piyama yang sama denganku, tentu saja itu ide ku. Aku akan mendidiknya menjadi pecinta piyama juga sepertiku, ia begitu menawan mengenakannya.
"Perut kamu nggak sakit kan?" Tanyaku pada Rafka, ia sudah berbaring di samping ku. Pandangannya lurus ke langit-langit kamar, hei ada aku disini yang jauh lebih menawan dari pada sekedar atap.
"Tidak, berkat es krim dari kamu."
"Lain kali aku nggak akan masak pedes lagi." Kataku seraya menebar senyum pada robot yang masih enggan melihatku.
"Iya."
Singkat sekali udah kayak cinta bertepuk sebelah tangan nih.
"Kita mau ngapain malam ini?" Aku menggeser tubuh lebih dekat dengannya.
"Mau ngapain?"
Akhirnya ia menoleh, aku tersenyum, yang benar saja aku harus menggodanya lebih dulu.
"Apa kita nggak bakal ngelakuin sesuatu kayak orang baru nikah?" Aku mengangkat kedua alis, menatapnya polos tapi ia tak kalah polos melihatku.
"Seperti apa itu?"
Apa aku harus menjelaskannya lebih detail? hello dia udah 30 tahun masa kayak gini aja harus dijelasin lagi.
"Seperti melestarikan keturunan." Aku tersenyum lebar yang dibuat-buat, berkedip-kedip seperti boneka barbie ke arahnya.
"Tapi aku belum pernah melakukannya."
Aku mendelik, "kamu pikir aku pernah?"
Aku membalikkan badan memunggunginya, sepertinya malam ini aku harus menyerah dengan tidur saja sampai besok pagi. Tidak ada adegan dewasa seperti kata Jane dan Kayla, ah malam pertama macam apa ini.
"Aku mohon jangan marah." Perlahan tangan Rafka menelusup di bawa selimut, ia memeluk ku.
Sekarang giliran ku yang tegang karena Rafka berada sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya mengenai leherku. Semoga Rafka tidak mendengar detak jantungku yang begitu kencang, perasaan apa ini.
"Aku gerah." Gumam ku seraya berusaha melepaskan tangannya di tubuhku tapi ia konsisten dengan posisinya sekarang. Aku tidak bisa berkutik karena tangan kekar nya.
"Aku sudah mengatur AC nya."
Sepertinya aku tidak akan bisa lolos dari robot ini. Rafka sudah terpesona bahkan aku tak perlu mengenakan lingerie merah menyala untuk menggodanya.
"Mari melestarikan keturunan." Katanya.
__ADS_1
Rasanya ada sesuatu dalam perutku yang mendesak hingga ke dada dan membuatku panas. Kalimat macam apa itu? dari mana ia belajar? ah tentu dari ku. Beberapa menit yang lalu aku mengatakan hak tersebut dan sekarang Rafka menirunya, dasar plagiat.