
Pernikahan Irene dan calon suaminya yang bernama Derick diadakan di ruang terbuka. Mereka memilih Pantai Karnaval Ancol, Segarra sebagai tempat mereka melakukan akad nikah. Kursi-kursi berwarna putih ditata sedemikian rupa berjajar untuk tempat duduk para tamu. Irene tidak mengundang banyak orang karena ia ingin acara pernikahannya berlangsung hikmat. Maka dari itu ia bisa memberikan seragam untuk semua tamunya berupa kebaya berwarna abu-abu bagi tamu wanita dan kemeja batik yang juga berwarna abu-abu.
Caramel berdecak kagum melihat dekorasi pernikahan di pinggir pantai yang menurutnya sangat indah. Ia datang dengan mendorong stroller begitupun dengan Rafka. Mereka membawa Narel dan Binar ikut dalam acara pernikahan Irene. Ini pertama kalinya bagi si kembar menyaksikan pernikahan setelah 3 bulan dilahirkan. Caramel juga menggunakan kesempatan ini untuk membawa mereka ke pantai. Karena selama ini si kembar hanya berada di apartemen atau rumah orangtua Caramel dan Rafka.
Caramel telah mengurangi aktivitasnya di luar karena ia harus fokus mengurus Narel dan Binar. Sesekali ia datang ke toko bersama mama nya untuk melihat suasana disana. Caramel juga membeli sebuah bangunan di dekat rumah orangtuanya untuk menjadi tempat melayani pembelian secara online. Bisnis Caramel berkembang melebihi ekspektasinya.
"Aduh lucu banget, anak kalian kembar?" Salah satu tamu undangan menghampiri Caramel dan Rafka, ia sempat mencolek pipi Narel yang kemerahan terkena cahaya matahari pagi. Caramel iri pada Narel dan Binar karena pipi mereka bisa merah alami tanpa menggunakan blush.
"Iya." Jawab Caramel, ia menduga wanita yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya itu adalah salah satu teman Rafka.
"Kenapa aku nggak dengar kabar kelahiran istri Rafka, orang-orang di kantor juga nggak banyak yang dengar." Ujarnya, kali ini ia mencolek pipi Binar dua kali, sepertinya Binar terlihat lebih menggemaskan karena Caramel menyematkan pita berwarna putih pada rambut Binar yang lebat.
"Mungkin Rafka mau ngasih tahu tapi nggak pernah punya kesempatan." Balas Caramel dengan senyum manis sementara Rafka masih dengan wajah datarnya, ia memang terlihat sombong di luar padahal ya memang sombong. "Kenalin saya Caramel, istri Rafka." Ia mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh wanita itu.
Beberapa tamu lain juga salah fokus pada si kembar, mereka mencolek-colek pipi Narel dan Binar dengan gemas sampai dua bayi itu terbangun dari tidur pulas nya. Mereka menggoda si kembar dengan penuh nafsu.
Ketika pengantin datang mereka baru berhenti menggoda Narel dan Binar, sekarang giliran Caramel yang kesusahan menenangkan si kembar.
Irene terlihat menawan dengan kebaya putih dan siger sunda, ia makin cantik dengan riasan yang terlihat tipis. Namun Caramel yakin seorang pengantin tak mungkin menggunakan riasan tipis.
"Jadi pengen nikah lagi." Lirih Caramel melihat Irene dan Derick melangkah mendekati meja yang akan digunakan untuk akad.
"Apa?" Rafka bukannya tidak mendengar ucapan Caramel tapi karena ia pikir mungkin sang istri salah ucap.
"Eh bukan nikah lagi maksudnya dandan cantik gitu terus foto-foto." Caramel melirik ke arah Irene dan Derick, ia segera meralat kalimat sebelumnya yang bisa membuat Rafka salah paham.
"Tapi kita sudah melakukan sesi foto bersama dengan Narel dan Binar."
Caramel terdiam, benar juga. Seminggu setelah melahirkan Caramel melakukan photoshoot keluarga untuk pertama kalinya karena saat Arnesh dulu mereka tidak melakukannya dengan serius sehingga tak banyak kenangan yang bisa mereka lihat saat ini.
Sebelumnya mereka menggunakan tema baju tidur karena itu tujuan Caramel membuat piyama anak. Sekarang Caramel tiba-tiba ingin melakukannya lagi dengan tema lain.
"Aku lebih cantik dandan atau enggak?"
Rafka terdiam mendengar pertanyaan Caramel, setelah menikah Rafka tahu bahwa pertanyaan semacam itu hanya lah jebakan bagi para suami. Rafka memikirkan jawaban apa yang tidak akan berakhir dengan perdebatan, bagai buah simalakama apapun jawabannya pasti itu akan merugikan Rafka.
Rafka mencari jawaban yang paling aman. "Tentu saja sama-sama cantik."
"Kan aku kasih dua pilihan."
__ADS_1
Tuh kan, wanita memang gemar mencari masalah dan memulai perdebatan padahal mereka sedang bersiap menyaksikan prosesi akad nikah Irene dan Derick.
"Menurutku dua-duanya cantik tapi aku lebih suka kamu tanpa riasan—karena itulah wajah yang lebih sering aku lihat."
Caramel mengerucutkan bibirnya, "bilang aja kamu nggak mau beliin aku make-up kan."
"Apa aku pernah begitu?"
Caramel terdiam tidak bisa memenangkan debat kali ini karena kenyataannya Rafka tak pernah melarangnya membeli apapun termasuk make-up yang sekarang hampir memenuhi meja rias. Meski Caramel telah membuang make-up yang sudah habis masa PAO nya tapi meja riasnya kembali penuh lagi dan lagi.
"Kamu cuma ngasih kartu mu ke aku tapi nggak pernah yang bener-bener beliin." Caramel berbisik.
Rafka menoleh pada Caramel, ia pikir perdebatan mereka akan berakhir sampai disitu tapi Caramel masih punya kalimat untuk membalasnya. Apakah sekarang Caramel ingin Rafka membelikan sekaligus memilih make-up untuknya. Rafka memang tahu merek sunscreen atau shampo yang biasa Caramel gunakan karena itu belum pernah berubah dari dulu tapi percayalah Rafka tidak bisa menghafal merek make-up Caramel yang jumlahnya tidak terhingga seperti pasir di laut.
Kadang saat menginginkan sesuatu, Caramel sengaja melihatnya di e-commerce dan mendekat pada Rafka agar suaminya itu ikut melihat. Caramel harap Rafka akan membelikan barang tersebut tanpa sepengetahuannya. Namun itu tidak pernah terjadi karena Rafka memberikan semua kartu ATM nya dan berkata bahwa Caramel bisa membeli apapun yang ia inginkan.
Rafka tidak lagi menjawab karena penghulu mulai membacakan kalimat ijab. Ia tidak mau mengganggu acara sakral tersebut dengan berdebat.
Sepertinya setelah pulang dari sini Rafka harus benar-benar memikirkan make-up apa yang akan ia berikan pada Caramel. Pada siapa ia akan bertanya untuk memenuhi keinginan sang istri, ah Indi pasti bisa membantunya dalam hal ini.
Usai melakukan akad nikah dan doa bersama, para tamu menyalami Irene dan Derick untuk memberi mereka ucapan selamat. Begitupun dan Caramel dan Rafka sambil menggendong Narel dan Binar yang hari itu mencuri perhatian tamu lain.
Laut selalu mengingatkan Caramel terhadap Arnesh karena Rafka memberinya nama itu karena memiliki arti penguasa lautan. Arnesh meninggal saat usianya seperti si kembar sekarang, Caramel tak mau berpikir macam-macam meski tiap malam ia lebih sering terjaga karena takut terjadi sesuatu pada si kembar jika ia tidur terlalu nyenyak.
"Narel lihatin kamu terus nih." Suara Rafka tidak terlalu jelas teredam oleh angin dan deburan ombak.
"Mama cantik ya hari ini?" Caramel memasang wajah manis pada Narel yang berada di gendongan Rafka.
"Mama setiap hari cantik kok tapi Mama nggak percaya."
Caramel tergelak, tangannya terulur untuk mengusap kepala Narel lalu Rafka meski ia harus sedikit berjinjit. Tentu saja papanya juga harus dapat jatah karena setelah punya anak bukannya mengalah, Rafka justru sering merasa iri karena Caramel lebih perhatian pada Narel dan Binar.
******
"Mau kopi nggak?" Tawar Rafka ketika mereka sampai di apartemen dan berhasil menidurkan si kembar. Caramel sedang sibuk membuka suvenir yang mereka dapat dari pernikahan Irene. Karena terasa berat jadi Caramel penasaran pada isinya sebab dulu ia hanya menyiapkan sebuah parfum sebagai suvenir pernikahan.
"Boleh sayang." Jawab Caramel tanpa melihat Rafka. Ia membelalak melihat sepasang mug cantik berwarna putih dengan ukiran emas bergambar planet Saturnus. Memang dasar pegawai BMKG tak akan jauh-jauh dari alam seperti halnya Rafka yang memberi nama Arnesh karena terinspirasi dari lautan.
Sepertinya mulai sekarang Caramel akan selalu menggunakan mug cantik ini untuk minum kopi.
__ADS_1
"Papa, suvenirnya bagus banget." Caramel menunjukkan mug tersebut saat Rafka berjalan mendekatinya dengan membawa secangkir kopi dan air mineral.
Rafka meletakkan keduanya di atas meja dan duduk bergabung Caramel, ia membuka tutup botol tersebut dan meneguknya hingga setengah bagian.
"Ini mug couple, lucu banget ya." Caramel tidak sabar ingin menggunakan mug tersebut bersama Rafka, tapi apa yang bisa Rafka minum dengan mug itu? jus buah mungkin.
Rafka menawarkan untuk memindahkan kopi yang sudah ia buat ke dalam mug baru tersebut. Namun Caramel menolak karena tidak mau merepotkan Rafka lagi. Meskipun hidupnya akan selalu membuat Rafka repot.
"Aku cek Narel dan Binar dulu di kamarnya." Caramel beranjak setelah menyesap sedikit kopi buatan Rafka, ini siang bolong yang panas tapi itu tidak membuat Caramel tak mengimpikan kopi karena hidupnya akan terasa hambar tanpa kopi.
"Aduh anak Mama kok udah bangun sayang." Caramel mengulas senyum lebar mendapati Binar sudah membuka mata dengan kedua kaki yang menendang-nendang dengan aktif. Saat melihat Caramel, Binar tertawa tidak sabar untuk digendong sang mama. "Kakak belum bangun lo sayang, kamu bangun duluan ya?"
Mendengar Caramel berbicara Rafka ikut beranjak dari ruang tv menuju kamar si kembar.
"Binar udah bangun lo Pa, anak baik nggak nangis ya."
Rafka mencubit pipi gembul Binar dengan gemas, "Binar nggak mau ganggu acara minum kopi Mama."
"Terakhir timbang berapa berapa Binar?" Caramel merasa tubuh Binar semakin berat begitupun dengan Narel.
"5,6 kilogram mungkin, apa terasa lebih berat?"
Caramel mengangguk, "nggak masalah kan? atau kita cek ke dokter?"
"Dokter bilang nggak masalah lagi pula mereka selalu bergerak aktif." Rafka mengambil alih Binar di gendongan Caramel karena ia juga ingin merasakan apakah berat Binar banyak bertambah.
Meskipun setiap hari melihat perkembangan si kembar tapi Caramel dan Rafka selalu terkejut dan tidak percaya jika menemukan sesuatu yang baru. Seperti saat Narel sudah bisa meraih tangan Rafka atau ketika Binar sering mengoceh seolah-olah mengajak mereka ngobrol.
"Kamu nggak sabar mereka besar atau justru merasa mereka terlalu cepat besar?" Caramel melirik Narel sebelum melihat Rafka untuk mendengar jawaban dari pertanyannya.
"Kamu juga merasa begitu?"
"Hm?" Alis Caramel terangkat.
"Kadang aku nggak sabar mereka cepat tumbuh besar tapi pada saat yang bersamaan aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Narel dan Binar kecil."
"Kita jadi sering melow nggak sih sejak punya mereka?" Suara Caramel terdengar gemetar menahan tangis.
"Apapun itu yang penting kita melakukan yang terbaik untuk mereka." Rafka mengulurkan tangan untuk menarik Caramel ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Caramel membalas pelukan Rafka erat yang membuat Binar bingung melihat orangtuanya berpelukan.