
Caramel mematut diri di depan cermin, ia telah siap dengan pakaian kerjanya berupa rok span selutut dan kemeja batik dan jas. Terakhir ia menyematkan nametag di dada kanan. Caramel memperhatikan bagian perutnya, itu masih rata tidak seperti orang hamil. Kapan Caramel bisa melihat perutnya membuncit?
Jika dulu Caramel susah payah menjaga makan demi mendapatkan pinggang ramping dan perut rata, maka sekarang ia menantikan janin di dalam sana berkembang dan membuat perutnya terdorong hingga buncit.
"Kenapa perutku masih rata?"
Rafka menghentikan langkah mendengar ucapan Caramel, ia berbalik melihat pantulan istrinya pada cermin. Rafka masih mengenakan bathrobe sedangkan Caramel sudah selesai mengenakan pakaian kerja dan merias wajah.
"Ayo nanti kita ke dokter." Rafka bergerak memeluk Caramel dari belakang, tangannya meraba perut Caramel perlahan.
"Kita belum ke dokter sama sekali."
Caramel mengangguk, ia meraba rahang Rafka yang terasa halus di tangannya. Pasti Rafka baru selesai mencukur rambut-rambut halus disana.
"Jangan lakukan itu." Rafka menurunkan tangan Caramel.
"Kenapa?" Caramel berbalik.
"Kau tahu dipagi hari, pria berusia tiga puluhan itu—"
"Stop!" Caramel menutup mulut Rafka dengan tangannya.
"Udah buruan ganti baju, aku tungguin di luar."
Caramel tahu apa yang Rafka pikirkan, mengapa setiap sentuhan yang ia lakukan bisa memancing nafsu lelaki itu. Caramel jadi merinding jika sampai ia diacak-acak oleh Rafka hingga akhirnya mereka terlambat pergi kerja. Ahh, Caramel ngeri membayangkannya. Di balik wajah kalem itu Rafka menyembunyikan sifat ganasnya.
Wajah Rafka datar menuruti ucapan Caramel mengganti pakaian. Caramel sudah menyiapkan kemeja batik dan celana bahan hitam di atas tempat tidur untuk Rafka.
Sembari menunggu Rafka, Caramel memasukkan kotak bekal ke dalam paper bag. Kadang Caramel bertanya jika Rafka ingin makan siang di luar maka ia tidak akan membuat bekal tapi sejauh ini Rafka selalu minta dibuatkan bekal.
"Ayo."
Caramel berbalik, ia seketika terpana melihat Rafka mengenakan batik yang sama dengan saat pertama kali mereka bertemu. Tadi Caramel memilih kemeja batiknya secara acak, ia baru ingat kalau itu adalah pakaian yang sama saat ia pertama bertemu dengan Rafka.
"Kamu ganteng banget sih." Ketus Caramel, ia tidak suka Rafka terlihat terlalu tampan saat berada di kantor. Harusnya ketampanan itu hanya untuknya, begitu pikir Caramel.
Rafka tertegun disebut ganteng, apakah itu pertama kalinya Caramel mengucapkan hal tersebut? Tapi kenapa wajah Caramel justru terlihat kesal, Rafka jadi bingung.
"Kenapa kamu kesal?" Tanya Rafka seraya mengambil paper bag di tangan Caramel.
"Perutmu sakit?" Ia meraba perut Caramel.
"Enggak," Caramel menyingkirkan tangan Rafka, "ayo berangkat."
"Apa ada yang salah dengan penampilanku hingga membuatmu marah?" Rafka mengekori Caramel masuk ke lift pribadi.
"Nanti beliin aku seblak di samping kantormu." Ujar Caramel seraya menekan tombol lantai paling bawah.
"Aku tidak tahu dimana penjual seblak." Rafka menatap Caramel polos.
Caramel melotot, setelah sekian lama bekerja kenapa Rafka tidak tahu padahal seblak tersebut sangat terkenal khususnya kalangan remaja. Walaupun Caramel bukan remaja lagi, tapi ia juga suka makan makanan kekinian.
"Tanya Danu, dia pasti tahu, bilang aja seblak Bu Rudi."
"Kenapa namanya tidak asing?"
"Bu Rudi juga nama sambal."
Rafka manggut-manggut. Istrinya itu sudah seperti google yang hampir tahu segalanya. Caramel menjadi pelengkap bagi Rafka yang tidak tahu apa-apa tentang perkembangan dunia masa kini. Rafka memandang dunia dari sudut pandangnya sendiri dengan cara menganalisa cuaca. Mungkin Rafka tidak tahu ada Oreo x Supreme yang diburu oleh banyak orang walaupun harganya mahal, atau ada donat yang terbuat dari mie instan tapi ia tahu bagaimana keadaan iklim satu tahun ke depan. Itu alasan Caramel bangga menikah dengan Rafka.
Saat keluar dari lift mereka berpapasan dengan Rama yang hendak masuk ke lift pribadinya. Beruntung Caramel tengah fokus pada ponselnya, ia tidak tahu jika Rama berada di lorong yang sama.
Rama terperangah melihat penampilan Caramel dengan rambut rapi digulung ke atas. Walaupun dulu hampir setiap hari Rama melihat Caramel mengenakan pakaian seperti itu, tapi sekarang semuanya tampak berbeda. Betapa penyesalan terus menghantui Rama setiap harinya apalagi ketika melihat Caramel bersama Rafka seperti sekarang.
__ADS_1
Rafka menutupi Caramel dengan punggung lebarnya setelah sadar Rama terus memperhatikan istrinya. Bahkan Rafka merangkul bahu Caramel dan mempercepat langkah.
Kenapa tiba-tiba ngerangkul coba? Caramel bertanya-tanya dalam hati, Rafka memang aneh.
"Kok kamu bau parfum cewek sih?" Caramel mengendus aroma tubuh Rafka. Tanda-tanda perselingkuhan, ah tidak mungkin!
"Oh ya? aku memakai parfum di botol merah muda."
Oh ternyata bukan parfum perempuan lain, itu parfumku sendiri kenapa aku bisa lupa.
"Kenapa kamu pakai parfum ku?" Kesal Caramel, ia sudah membelikan satu parfum baru khusus pria tapi kenapa Rafka masih sering memakai parfum miliknya.
"Karena aku suka aroma Caramel."
Caramel terdiam sejenak mendengar jawaban Rafka yang berhasil membuatnya membeku. Kalimat sederhana itu membuat Caramel melayang hingga menembus atmosfer. Tolooong! balikin aku ke bumi.
"Kamu nggak suka parfum yang aku beliin?"
"Aku suka." Rafka membukakan pintu mobil untuk Caramel.
"Kenapa nggak dipake?"
"Aku memakainya saat mau tidur." Rafka duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil.
"Itu berarti cuma aku yang cium aroma parfumnya."
"Itu tujuanku." Rafka menginjak gas dan mulai menjalankan mobilnya keluar basemen apartemen.
Caramel terdiam, hanya dua kata yang Rafka ucapkan tapi berhasil membuatnya diam seketika lalu salah tingkah dan tak tahu harus menjawab apa. Ia sudah seperti cewek yang baru pertama kali diajak kencan.
Caramel memilih untuk menghubungi Kayla melalui video call, cukup lama sejak ia mengunjungi Kayla di rumah sakit pasca melahirkan. Caramel merindukan hebohnya Kayla dan Jane.
"Apaan, gue baru bangun belum mandi." Kayla tampak masih mengenakan piyama dengan rambut acak-acakan di atas tempat tidur.
"Gue punya berita gembira." Caramel meletakkan ponsel pada phone holder di depannya.
"Gue hamil."
"Huh dihamilin siapa lu?" Kayla melotot tak percaya.
Rafka melirik kepada Caramel, jawaban macam apa yang Kayla berikan tentu saja Caramel hamil dengannya—siapa lagi kalau bukan suaminya.
"Apaan sih Kay, nyawa lu belum kumpul ya." Caramel memutar bola mata kesal.
Kayla terdiam cukup lama memandangi layar ponselnya.
"Astaga gue lupa lu udah nikah."
Caramel berdecak, "emangnya habis ngelahirin orang bisa hilang ingatan ya?"
"Kagak sih, udah ah gue matiin dulu." Kayla mematikan sambungan.
Caramel menggeleng heran, ia meletakkan ponsel ke dalam tasnya. Mereka hampir sampai di tempat kerja Caramel.
"Rafka, jangan lupa seblak ya nanti sore."
Rafka mengangguk, ia melihat spion memastikan keadaan jalan aman untuk mobilnya bergerak ke seberang jalan dimana bank tempat Caramel bekerja berada.
"Kamu harus inget kalau cewek itu suka seblak."
"Oh ya?"
"Iya, Jessica Jane yang bilang."
__ADS_1
"Siapa itu?"
"Itu yang kisahnya viral di Instagram, yang diselingkuhin sama cowoknya, kamu nggak pernah buka Instagram? kan udah aku bikinin akunnya."
"Aku tidak tahu cara menggunakannya."
Caramel mendengus menyadari betapa polosnya Rafka. Lelaki itu memang langka dan patut dilestarikan, zaman sekarang hampir semua manusia di muka bumi familiar dengan media sosial tapi Rafka justru tidak tahu cara menggunakannya. Sepertinya Caramel harus melakukan les privat cara menggunakan media sosial dengan Rafka.
"Itu sama aja kayak Facebook." Tukas Caramel.
"Aku juga tidak punya Facebook."
"Terus buat apa iPhone mahal kamu kalau nggak dipake buat mainan medsos?"
"Aku butuh itu untuk bekerja." Nada Rafka masih datar tidak menyadari kalau raut wajah Caramel berubah kesal.
"Iya deh iya!" Semprot Caramel seraya turun dari mobil padahal Rafka baru saja hendak membukakan pintu untuknya.
"Aku berangkat, jangan lupa seblak yang paling pedes." Pesan Caramel sebelum melangkah meninggalkan Rafka.
Mobil Rafka tidak segera meninggalkan area bank menunggu hingga Caramel masuk dan tak terjangkau oleh penglihatannya.
******
"Udah baikan lu?" Danu langsung menyambut kedatangan Rafka dengan pertanyaan tersebut.
"Sudah." Rafka duduk di kursinya setelah meletakkan tas kerja dan kotak bekal miliknya.
"Si santan instan nggak ngeracunin lu lagi kan?"
"Dia tidak pernah meracuniku." Balas Rafka tanpa melihat Danu, ia fokus pada layar komputer di depannya. Rafka harus segera menyelesaikan laporan tentang perkiraan cuaca diawal tahun 2021. Pekerjaan menumpuk selalu menghantui siapapun usai cuti walaupun hanya beberapa hari.
"Lu inget nggak waktu kita di Starbucks, lu minum kopi karena siapa? ya karena si Cara, sekarang elu ngelakuin hal yang sama." Danu mulai bawel seperti emak-emak yang memarahi suaminya karena pulang telat.
Rafka tidak menanggapi omelan Danu, dari pada mendengarkan rentetan kalimat itu lebih baik ia menyelesaikan laporan yang diminta oleh atasannya.
"Elu selalu aja ngalah, dulu ngalah sama Rama sekarang sama istri juga ngalah mulu, gemes gue." Danu mengacak rambutnya frustrasi.
"Apakah di sekitar sini ada penjual seblak?" Rafka akhirnya menoleh pada Danu.
"Banyak." Jawab Danu cepat.
"Seblak Bu Rudi."
"Pas banget si samping kita, lu mau makan dan traktir gue? wah kebetulan banget si Indi minta dibawain seblak pas pulang nanti."
"Tidak."
"Tidak apaan?"
"Caramel yang menginginkannya, dia bilang semua cewek suka seblak, dia mewanti-wanti bahwa aku tidak boleh lupa membawakannya seblak Bu Rudi saat pulang nanti."
"Kenapa segitunya, emang Cara hamil?" Ekspresi Danu berubah hambar karena gagal mendapat traktiran dari Rafka.
"Iya."
"Hah? Cara hamil?"
Rafka mengangguk, "aku akan jadi Papa." Sudut bibir Rafka terangkat, hatinya terasa hangat mengingat saat pertama kali mereka tahu kalau Caramel hamil.
"Gelombang tinggi akan terjadi di sebagian besar wilayah perairan Jawa." Tio, salah satu rekan kerja Rafka menunjuk layar komputer Rafka.
"Ya." Rafka mengangguk, ia sudah menganalisis hal tersebut sejak satu bulan yang lalu.
__ADS_1
"Segera kirimkan laporannya." Ucap Tio sebelum melangkah dan duduk di kursinya sendiri.
"Wah hebat banget lu, sebulan jadi." Bisik Danu di telinga Rafka, masih belum selesai membahas tentang kehamilan Caramel.