Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Enam Puluh


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebelum pulang?"  Rafka membereskan kotak makan yang sudah kosong tak tersisa. Sayur asem dan ayam goreng buatan mama Caramel memang sangat enak sehingga tak perlu waktu lama untuk mereka menghabiskan makanan tersebut.


Mereka menikmati makan siang di kantin kantor BMKG walaupun suasana sedang ramai. Keberadaan Caramel juga mencuri perhatian mereka, bertanya-tanya siapa yang sedang makan satu meja dengan Rafka. Hanya beberapa dari mereka yang tahu bahwa Rafka telah menikah sedangkan yang lain berpikir Rafka masih belum berpasangan. Sehingga keberadaan Caramel menimbulkan pertanyaan terutama kaum wanita yang dulu pernah tertarik kepada Rafka. Namun sifat Rafka yang sangat tertutup dan enggan kenal akrab dengan wanita membuat mereka perlahan mundur dan menyerah.


"Emang masih ada waktu?" Caramel memang ingin berkeliling. Ia ingin menikmati pemandangan indah di sekitar kantor yang terlihat asri dengan banyak pepohonan di sekitarnya. Namun ia takut mengganggu waktu kerja Rafka.


Rafka sedikit mengangkat lengan melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Masih, yuk." Rafka beranjak lebih dulu, tangannya terulur menarik tangan Caramel, ia juga membawa paper bag yang sudah tidak berat lagi. Makan siang bersama istri adalah sesuatu yang langka membuat Rafka tidak ingin berpisah dengan Caramel terlalu cepat.


"Tidak apa-apa kalau berjalan sedikit lama, kaki mu sudah tidak sakit?" Tanya Rafka saat mereka telah keluar dari kantin, ia membuka perban pada jari kaki Caramel kemarin karena lukanya sudah kering.


"Nggak apa-apa, justru aku emang butuh jalan karena beberapa hari ini kita nggak jalan-jalan di sekitar apartemen."


"Itu karena kaki mu sakit."


"Dan banyak kerjaan juga."


"Kaki mu bengkak karena kurang jalan?"


"Umm." Caramel mengangguk, "tapi kamu sadar nggak sebenernya bukan kaki ku aja yang bengkak, semuanya membengkak jadi jelek."


Rafka menoleh melihat Caramel, ia merasa ucapan Caramel tidak benar karena menurutnya tak ada perubahan yang berarti pada tubuh istrinya. Rafka bukannya tidak memperhatikan tubuh sang istri, tapi menurutnya satu-satunya bagian tubuh yang berubah adalah perut Caramel.


"Tidak." Rafka kembali menatap lurus ke depan, "itu tidak berpengaruh terhadap penampilanmu."


Caramel mencibir tak percaya, walaupun sama sekali tak ada tanda-tanda kebohongan di wajah Rafka tapi tetap saja Caramel tidak percaya itu.


"Kau lihat tanaman itu?" Rafka menunjuk pot besar di depan gedung F yang ditanami salah satu jenis monstera dengan daun lebar seperti jari.


"Kenapa?"


"Bukankah bagus jika itu diletakkan di antara balon-balon untuk acara baby shower kita nanti? tentu saja kita harus gunakan tanaman artificial."


Caramel manggut-manggut setuju dengan pendapat Rafka tentang dekorasi acara baby shower mereka yang sudah dekat. Event organizer akan menghias apartemen mereka dengan balon mulai besok. Acara itu akan dilakukan tepat saat kandungan Caramel memasuki usia 28 Minggu.


"Nanti aku minta sama EO nya ya." Ujar Caramel.


"Kamu suka?"


"Iya, itu salah satu tanaman yang instagramable jadi aku suka."


"Apa itu?" Rafka mengerutkan kening, setelah hampir satu tahun menikah, ada saja istilah baru yang Caramel ucapkan sehingga membuat Rafka kebingungan.


"Duh gimana ya jelasinnya." Caramel mengibaskan rambutnya yang terurai membiarkan angin menerpanya. Caramel bingung sendiri hendak menjelaskan arti dari kata instagramable kepada Rafka. Caramel menyesal telah melontarkan kata yang tidak Rafka mengerti karena itu berarti ia harus menjelaskannya.


"Rafka!" Suara berat seseorang mengalihkan perhatian Rafka dan Caramel. Seorang lelaki paruh baya menebar senyum kepada mereka, rambutnya yang sedikit memutih tak membuatnya kehilangan kharisma.


"Selamat siang, Pak." Rafka menundukkan kepala sopan menyapa lelaki tersebut.


Caramel bernapas lega karena ia bisa selamat dari pertanyaan Rafka tentang arti instagramable. Ia berharap Rafka melupakan soal pertanyaan itu.


"Cuacanya sedang bersahabat, pas untuk jalan-jalan." Ujarnya. "Ini istri kamu?" Ia melihat Rafka yang sedang menggandeng tangan seorang perempuan.


"Betul Pak, Caramel ini Pak Yohan atasan aku beliau banyak membimbing ku selama ini." Ucap Rafka kepada Caramel.


"Senang bertemu Pak Yohan, saya Caramel istri Rafka." Caramel menjabat tangan Yohan seraya menebar senyum ramah.


"Harusnya Rafka mengenalkan kamu lebih awal." Yohan menepuk bahu Rafka, ia tahu sifat tertutup yang dimiliki Rafka sehingga tak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya.


"Maaf seharusnya saya datang kesini lebih awal." Balas Caramel.


"Pantas saja dia tidak mempedulikan para wanita yang memperebutkannya selama ini, ternyata istrinya secantik kamu." Yohan tertawa membuat Rafka dan Caramel salah tingkah.


"Tidak ada hal seperti itu, jangan salah sangka." Rafka mengibaskan tangan pada Caramel.


"Dia hanya terlalu fokus bekerja sehingga tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya." Lanjut Yohan, belum selesai membocorkan perilaku Rafka saat di kantor pada Caramel.

__ADS_1


"Saya mengerti maksud Pak Yohan, dia memang seperti itu." Caramel menggandeng lengan Rafka dan merapatkan tubuhnya.


"Tapi hal baiknya adalah dia lelaki yang setia." Puji Yohan.


"Kalau itu tidak diragukan lagi." Caramel mengerlingkan mata kepada Rafka.


"Saya doakan kalian selalu bahagia, silahkan lanjutkan jalan-jalannya, nikmati waktu kalian." Kata Yohan sebelum kembali melangkah pergi meninggalkan Caramel dan Rafka.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" Rafka heran melihat Caramel senyum-senyum sendiri setelah kepergian Yohan.


"Emang kenapa?" Caramel mengatup bibir berusaha menghentikan senyumnya padahal sebenarnya ia ingin melompat ke pelukan Rafka mendengar ucapan Yohan tadi. Rafka memang suami idaman yang tidak macam-macam, sungguh lelaki biasa yang populasinya mulai langka.


"Jangan terlalu percaya ucapan Pak Yohan, dia memang suka bercanda."


"Jadi maksudmu Pak Yohan bohong soal kamu lelaki yang setia?"


"Kecuali bagian itu." Rafka tersenyum lebar.


Caramel mencebik melepaskan pegangannya pada tangan Rafka tapi dengan cepat ditarik lagi oleh lelaki itu. Rafka tak rela melepaskan tautan di antara mereka apalagi banyak teman sekantornya yang single. Sebenarnya Caramel juga takut saat melihat banyak wanita cantik disini, ia takut mereka akan mengalihkan perhatian Rafka. Namun Caramel gengsi untuk memberitahu Rafka.


"Jangan senyum!" Tukas Caramel.


"Kenapa?"


Karena senyum kamu manis. "Aku nggak suka."


"Kenapa? kamu bilang aku ganteng kalau senyum."


"Kapan aku bilang gitu?"


"Setiap hari."


Pipi Caramel memerah salah tingkah, ia bahkan tidak sadar jika setiap hari dirinya memuji Rafka tampan. Padahal Caramel melakukan itu setiap kali baru bangun tidur, kalimat pertama yang diucapkannya adalah kamu ganteng banget sih.


"Eh ada kang es krim." Caramel menunjuk penjual es krim keliling melewati jalan di depan kawasan kantor BMKG. "Ya ampun udah lama nggak makan es krim, mau beli."


Rafka melihat tangannya yang dari tadi berada di genggaman Caramel tapi baru saja dilepas gara-gara penjual es krim. Apa ia sedang cemburu pada Abang penjual es krim? tidak-tidak.


Caramel setengah berlari menyetop penjual yang mendorong gerobak es krimnya. Apapun es krim yang Caramel makan, ia tetap akan merindukan es krim dengan logo berbentuk hati itu.


"Kita beli banyak sekalian buat temen-temen kamu." Ujar Caramel saat Rafka menyusulnya.


"Boleh." Rafka mengangguk.


"Saya mau yang rasa Oreo, Bang." Kata Caramel pada penjual tersebut.


"Apa lagi?"


"Kamu mau apa?" Caramel kembali melihat Rafka.


"Aku tidak." Rafka menggeleng, ia sudah cukup kenyang saat makan siang tadi dan perutnya tidak cukup menampung makanan lagi walaupun itu hanya satu bungkus es krim.


"Temen kamu ada berapa di ruangan itu?"


"Sepuluh atau sebelas, aku tidak ingat."


Caramel mendelik sesaat, bekerja di kantor yang sama setiap hari tapi Rafka tidak tahu pasti berapa jumlah temannya sendiri.


"Ini rasa coklat?" Caramel mengangkat salah satu cup es krim berukuran sedang dari gerobak.


"Betul Mbak." Penjual mengangguk.


"Ya udah deh, ini sebelas."


Sebelum kembali ke kantor Rafka, mereka lebih dulu meletakkan paper bag bekas wadah makanan ke mobil Caramel karena kebetulan mereka berada dekat dengan mobil Caramel yang diparkir.


"Pegawai disini banyak tapi kenapa cuma pakai dua lift?" Caramel akhirnya menyadari itu, dari tadi ia melihat pegawai hanya menggunakan dua lift paling kanan sehingga itu menyebabkan antrean cukup panjang.

__ADS_1


"Bukan hanya itu, pada jam tertentu lift tidak boleh digunakan dalam rangka penghematan listrik." Rafka menarik tangan Caramel masuk lift sebelum didahului oleh pegawai lain.


Caramel geleng-geleng kagum karena kantor sebesar ini masih bisa memperhatikan tentang penghematan listrik. Berbeda dengan dirinya saat di bekerja dulu yang bisa menggunakan lift kapan pun.


"Eh ada si manis." Suara Danu menggema di koridor, ia sumringah melihat Caramel keluar dari lift bersama Rafka, itu adalah pemandangan langka dimana Rafka bergandengan tangan dengan perempuan di kantor.


"Si manis apaan, kayak nama hantu aja." Caramel memutar bola mata kesal.


"Kok nama hantu sih?" Danu mengernyit, niat ingin memuji Caramel justru mengartikannya sebagai ejekan.


"Si manis jembatan Ancol."


Danu nyengir lebar, ditahun 2020 mengapa Caramel masih saja ingat soal cerita horor tersebut.


"Bawa apa lu?" Kini Danu penasaran pada kantong plastik yang Rafka bawa, sepertinya ia melihat bau-bau traktiran dari dalam sana. Indra Danu sangat peka terhadap sesuatu yang berbau gratisan.


"Lu nggak dapet bagian." Caramel menggandeng tangan Rafka masuk ke ruang kerja Rafka yang juga merupakan ruangan Danu.


Caramel sedikit terkejut karena suasana ruang kerja Rafka tidak seperti tadi saat dirinya baru sampai. Kantor itu tak lagi sepi, beberapa kursi kosong kini terisi.


Pandangan mereka penuh tanya kepada Caramel, walaupun telah lama bekerja dalam bidang yang sama tapi mereka tidak tahu sosok istri seorang Rafka.


"Teman-teman mungkin ini terlambat tapi saya ingin mengenalkan istri saya kepada kalian, namanya Caramel."


"Senang bertemu kalian, sebagai salam perkenalan saya membeli es krim semoga bisa dinikmati oleh semua orang." Caramel meminta Rafka untuk meletakkan es krim yang telah mereka beli di atas meja. Ia menebar senyum kepada teman-teman Rafka sambil menghitung jumlah mereka dalam hati, hanya 8 orang. Itu berarti ada teman Rafka yang lain di luar. Caramel berharap es krim itu cukup untuk semuanya disini.


"Saya mengerti kenapa kamu baru memperkenalkannya kepada kami." Salah seorang teman laki-laki Rafka menjabat tangan Caramel.


"Kenapa?" Tanya yang lain.


"Karena takut kami meliriknya." Candanya.


"Melirik boleh asal jangan jatuh hati." Rafka menanggapi candaan teman-temannya.


"Mbak tadi yang di lift, ternyata satu kantor dengan Rafka." Caramel menjabat tangan pegawai perempuan berambut pendek yang tadi membiarkannya naik lift lebih dulu. Tak hanya wajahnya yang cantik tapi hatinya juga demikian.


"Panggil aja Irene." Katanya memperkenalkan diri. "Sepertinya kita seumuran."


"Irene?" Alis Caramel terangkat, bukan Irene Red Velvet kan?


"Udah-udah, perkenalannya nanti lagi ayo sekarang makan es krim nya dulu." Danu menyelip di antara gerombolan teman-temannya, ia mencomot satu cup es krim dan membawanya pergi.


"Kan elu nggak dapet bagian Nu." Kata Caramel.


Danu tidak mempedulikan ucapan Caramel, ia duduk di kursinya dan buru-buru membuka es krim itu.


"Kalian nggak mau kan es nya meleleh, udah buruan makan." Pekik Danu pada semuanya.


"Iya bener juga, kalau gitu silahkan makan es krimnya, saya balik dulu." Caramel sedikit mundur membiarkan teman-teman Rafka mengambil es krim mereka.


"Terimakasih Caramel, kita harus bertemu lagi di luar kantor." Irene menepuk bahu Caramel.


"Terimakasih Caramel." Ucap yang lain.


"Aku anter Caramel dulu." Ujar Rafka.


"Nggak usah, masa kamu harus turun lagi biar aku sendiri." Tolak Caramel, lagi pula waktu istirahat Rafka juga hampir habis.


"Tidak, aku akan mengantarmu." Rafka menarik Caramel keluar kantor.


"Sampai jumpa semuanya." Caramel sempat melambaikan tangan kepada semuanya sebelum Rafka benar-benar membawanya keluar. "Udah-udah sampe sini aja, aku kan cuma jalan ke parkiran doang." Ia menahan tangan Rafka sesampainya di depan lift.


"Kalau begitu biarkan aku mencium mu." Rafka mendekatkan wajahnya pada Caramel.


"Eh tunggu dulu, ada CCTV tuh." Caramel melihat ke arah kamera di sudut koridor.


"Tidak apa-apa, aku membelakangi kamera." Rafka mengecup kening Caramel cukup lama. Padahal mereka akan bertemu lagi nanti di apartemen tapi Rafka bersikap seolah-olah akan berpisah dalam waktu yang lama. Mungkin karena ini pertama kalinya Caramel mengunjungi Rafka ke kantor.

__ADS_1


"Aku pulang dulu." Ucap Caramel setelah Rafka melepas kecupannya.


"Hati-hati di jalan." Rafka mengusap kepala Caramel sesaat sebelum sang istri masuk ke dalam lift. Membiarkan Caramel menyetir seorang diri membuat Rafka khawatir karena sang istri sedang hamil. Apalagi jalanan sangat padat disiang hari seperti ini—Jakarta memang tak pernah sepi oleh pengendara.


__ADS_2