Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

"Pak Rafka, kami telah minta tolong kepada pihak TNI AL untuk segera menemukan Ibu Caramel."


Mereka telah mendapat kabar bahwa kapal yang Caramel tumpangi tenggelam di perairan selat Bali. Saat mendengar kabar itu Rafka dan beberapa rekannya di kantor metereologi berusaha mencari informasi mengenai penumpang disana.


Rafka semakin kalut saat mendengar bahwa ada beberapa penumpang dan awak kapal yang tidak kebagian pelampung. Rafka tidak bisa berdiam di kantor lebih lama, untungnya Yohan atasannya


Saat ini Rafka tengah berada di dalam pesawat yang akan membawanya menuju Bali. Ia tidak bisa duduk tenang walaupun salah satu rekan kerjanya tadi memberitahu bahwa mereka telah menghubungi pihak TNI AL untuk segera menemukan Caramel.


Rafka memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Caramel menghadapi ombak tinggi hanya dengan pelampung. Rafka membasahi bibir bawahnya menyandarkan kepala pada kursi dan memejamkan mata, air mata tak terasa meleleh membasahi pipinya. Rafka tak akan bisa hidup normal jika kehilangan Caramel. Selama ini Rafka telah menjadi manusia paling tabah bahkan saat melihat Caramel bersama dengan lelaki lain selama bertahun-tahun. Namun sekarang bagaimana jika ia tidak bisa melihat sosok Caramel lagi?


Rafka mengembuskan napas berat, dadanya terasa amat sesak memikirkan sang istri. Pantas saja perasaannya tidak enak saat Caramel memutuskan untuk pergi ke Bali. Rafka ingin melarangnya tapi ia tidak mau egois dan mengganggu pekerjaan Caramel. Lain kali Rafka harus memiliki keberanian untuk melarang Caramel berbuat sesuatu.


Pesawat landing di bandara I Gusti Ngurah Rai setelah 1 jam mengudara dari bandara Soekarno Hatta tanpa transit. Ini menjadi kali pertama bagi Rafka menginjakkan kaki di pulau Dewata, ia langsung mengaktifkan kembali ponselnya sambil melangkah keluar bandara.


Satu telepon masuk ke ponsel Rafka, dengan satu gerakan cepat ia menjawab telepon tersebut.


"Halo." Rafka mengawali dengan tidak sabar.


"Halo, kami dari pihak SAR, benar ini dengan Bapak Rafka?" Suara seorang lelaki terdengar di seberang sana.


"Ya."


"Kami telah menemukan Ibu Caramel."


Mata Rafka membulat mendengar kabar tersebut, mulutnya terbuka karena terkejut tidak sabar melihat kondisi Caramel. Ada perasaan lega yang sedikit menelusup ke dalam dadanya, ia akan jauh lebih tenang jika Caramel baik-baik saja.


"Bagaimana keadaannya?"


"Ibu Caramel mengalami hipotermia, pihak medis sedang berusaha mengembalikan suhu normalnya dan sekarang kami dalam perjalanan menuju Bali Royal Hospital."


"Saya akan segera kesana, tolong jaga istri saya dia sedang hamil." Rafka melambaikan tangan saat melihat taksi.


"Tentu saja, Pak."


Rafka buru-buru masuk ke dalam taksi tersebut sambil memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja setelah memutus sambungan.


"Bali Royal Hospital, Pak." Rafka menyebutkan tempat tujuannya kepada supir taksi. "Tolong cepat ya Pak." Katanya lagi.


Tanpa menjawab supir taksi tersebut menambah kecepatan menyalip beberapa kendaraan lain di depannya. Jalanan tidak terlalu padat siang itu, cuaca cerah juga sangat mendukung untuk mobil melaju kencang tanpa khawatir dengan jalan yang licin.


Pemandangan indah di kiri dan kanan jalan tidak membuat Rafka tertarik, ia menunduk menyangga dahinya dengan kedua tangan yang saling bertaut. Rafka memanjatkan doa dalam hati agar Caramel dan calon anaknya bisa selamat.


"Kamu kenapa sih?" Caramel tertawa memegang pipi tirus Rafka.


"Ini pertama kalinya kita berpisah selama menikah jadi—"


"Ini bukan berpisah."


Rafka mengatup bibirnya rapat menahan tangis saat mengingat percakapannya dengan Caramel malam itu ketika mereka membuka kado bersama. Percakapan itu terlintas begitu saja di benaknya padahal ia tak mau.


Rafka mendongak ketika laju mobil melambat, "ada apa?" Tanyanya.


"Sedang ada operasi zebra pak." Jawab supir taksi sembari melihat Rafka melalui spion atas.


"Kenapa harus hari ini?" Gerutu Rafka, ia menyandarkan kepalanya pada kursi.


"Ya?" Supir taksi tersebut menoleh pada Rafka.


Tanpa menjawab Rafka justru memejamkan mata mengabaikan pertanyaan supir taksi. Ia terlalu malas untuk mengulang kalimat yang ditujukan kepada dirinya sendiri tersebut. Apakah tak ada hari lain untuk melakukan operasi zebra, mengapa harus hari ini dimana Rafka sedang terburu-buru untuk sampai ke rumah sakit.


"Apa rumah sakit itu masih jauh?" Tanya Rafka.


"Sekitar lima belas menit dari sini, Pak."


Seharusnya lima belas menit itu tak akan lama tapi dalam situasi seperti ini, lima belas menit itu terasa sangat lama bagi Rafka. Ini akan menjadi lima belas menit terlama dalam hidupnya.


Suara klakson mobil terdengar bersahut-sahutan memekakkan telinga. Rafka melihat keluar jendela, rupanya semua orang sedang terburu-buru hari ini.


"Selamat siang Pak." Seorang polisi menghampiri mobil taksi yang Rafka tumpangi.


Supir menunjukkan surat mobil dan SIM miliknya kepada polisi. Untuk beberapa saat polisi memeriksa kelengkapan surat taksi tersebut.

__ADS_1


"Selamat jalan kembali, Pak." Ucap polisi setelah selesai memeriksa kelengkapan surat milik supir taksi.


Bertepatan dengan libur panjang natal dan tahun baru polisi melakukan pemeriksaan lebih ketat terutama kepada wisatawan.


"Terimakasih." Rafka turun dari mobil setelah membayar tagihannya, ia sampai di depan Bali Royal Hospital. Ia melangkah memasuki lobi rumah sakit menghampiri meja resepsionis.


"Apakah korban kapal tenggelam sudah sampai di rumah sakit ini?" Tanya Rafka.


"Belum Pak, butuh waktu cukup lama untuk sampai kesini dari pelabuhan."


Rafka memutar kepala mendengar suara sirine ambulan di halaman rumah sakit. Ia langsung berlari keluar melihat kalau-kalau itu adalah Caramel.


"Cara!" Rafka tertegun untuk beberapa saat melihat beberapa perawat membawa ranjang keluar dari ambulan, ia jelas melihat bahwa itu adalah Caramel. "Caramel." Rafka ikut berlari mendorong ranjang yang membawa Caramel.


Sepanjang koridor menuju UGD Rafka memanggil nama Caramel berkali-kali tapi tak ada jawaban, mulut Caramel tertutup rapat. Tubuh Caramel dibalut selimut tebal yang merupakan salah satu upaya untuk memulihkannya dari hipotermia.


Samar-samar Caramel mendengar suara Rafka, ia ingin membuka mata tapi tidak bisa. Ada rasa lega yang menyelimuti Caramel kala mendengar suara sang suami. Apakah ini nyata? Caramel bertanya-tanya.


Rafka menggenggam erat tangan Caramel yang dingin seperti es mencoba memberi kehangatan pada sang istri.


"Anda suaminya?" Tanya salah seorang perawat pada Rafka.


"Benar." Jawab Rafka cepat.


"Kami masih terus mencoba untuk mengembalikan suhu normalnya selain itu Ibu Caramel juga mengalami pecah ketuban."


Bagai disambar petir disiang bolong Rafka terkejut mendengar penjelasan perawat tersebut. Sesampainya di UGD mereka langsung melakukan tindakan kepada Caramel. Suhu Caramel saat ini masih berada di bawah normal sehingga mereka harus tetap melakukan upaya untuk menaikkan suhu tubuhnya.


Rafka terduduk di lantai, mengapa Caramel harus melalui ini semua sendirian. Ini terlalu berat untuk Caramel, Rafka ingin Caramel membagi semua rasa sakit dan penderitaan itu dengannya. Caramel sudah mengandung sang buah hati, itu sudah cukup berat untuknya. Rafka ingin mengambil semua rasa sakit yang Caramel alami hanya untuknya. Rafka hanya ingin Caramel bahagia selama hidupnya.


"Bapak suaminya?" Seorang dokter menghampiri Rafka.


Rafka mengangguk dan beranjak dari duduknya, "bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Kami harus segera melakukan tindakan operasi setelah suhunya naik, bayinya harus segera dikeluarkan."


"Dokter, selamatkan istri saya." Ucap Rafka penuh harap dengan air mata menggenang.


Wajah cantik Caramel kehilangan rona nya, bibir yang biasanya kemerahan kini berubah pucat seperti dilumuri bedak. Rafka mendekat, mengusap kepala Caramel yang sedikit basah dan lengket karena terendam air laut yang asin cukup lama. Rafka menggenggam tangan Caramel dan menciumnya.


"Aku disini sayang." Bisik Rafka.


Rafka merasa gagal ketika ia bisa menyelamatkan banyak orang dengan memberi mereka peringatan dini mengenai cuaca, ia justru tak bisa menyelamatkan sang istri dari bahaya. Apa gunanya ia bekerja bertahun-tahun menganalisis cuaca jika tak bisa mencegah Caramel pergi.


"Kamu kedinginan?" Air mata membanjiri wajah Rafka hingga tangan Caramel ikut basah oleh air matanya. Caramel suka dingin tapi ini terlalu dingin untuknya.


Perlahan Caramel membuka mata, dengan pandangan yang masih kabur ia melihat bayangan Rafka di hadapannya. Apakah ia bermimpi? ia tak tahu berapa lama dirinya terombang-ambing di laut hingga kedinginan. Caramel hanya ingat bahwa ia sempat kontraksi sebelum tidak sadarkan diri.


"Rafka .... " Panggil Caramel setelah mengumpulkan semua tenaga yang tersisa.


Rafka membuka mata mendengar suara parau Caramel memanggilnya, "kamu bangun sayang?" Tangis Rafka semakin menjadi tapi kali ini bukan tangis kesedihan melainkan haru dan penuh rasa syukur karena akhirnya Caramel siuman.


"Aku dingin." Kata Caramel lemah.


"Biar aku peluk kamu." Rafka menarik Caramel ke pelukannya, ia merasa lega saat bisa melakukan ini lagi. Rafka bisa merasakan napas lemah Caramel mengenai lehernya.


"Apa aku mimpi?" Caramel mencengkram lengan Rafka ketika ia kembali merasakan kontraksi di perutnya.


"Tidak sayang, ini nyata." Rafka mengecup puncak kepala Caramel berkali-kali. "Perut kamu sakit?"


Caramel menganggukkan, "aku minta maaf, seharusnya aku dengerin omongan kamu untuk nggak naik kapal."


"Jangan minta maaf, dalam hal ini aku yang harus minta maaf karena tidak bisa melindungi mu." Rafka mengusap punggung Caramel lembut.


"Aku ngerasa udah ada di ambang kematian tadi."


"Jangan bicara begitu."


"Aku bener-bener takut nggak bisa ketemu kamu lagi, Ka." Bibir Caramel gemetar dengan air mata yang menghujani pipinya. Ia takut tidak bisa bertemu Rafka untuk selamanya. Caramel masih ingin membesarkan anak-anak mereka dan menyaksikan mereka tumbuh dewasa.


"Kemanapun kamu pergi, aku akan mengejar mu Caramel."

__ADS_1


"Maaf karena aku ninggalin rumah waktu itu."


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, sebesar apapun masalahnya, kita tidak boleh saling meninggalkan."


Caramel mengangguk dan kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Rafka. Caramel memang merasa dirinya terlalu kekanakan dengan kabur dari rumah. Namun siapa yang tidak sakit hati ketika dituduh suami sendiri padahal malam itu ia sedang butuh dukungan. Caramel serasa dipukul berkali-kali dengan benda tumpul yang sakitnya membekas hingga saat ini.


"Jane dan Doni gimana?"


"Aku belum mendapat kabar tentang mereka tapi aku yakin Jane dan Doni akan baik-baik saja."


Seorang dokter wanita berusia sekitar 40 tahunan menghampiri ranjang Caramel. Ia memeriksa suhu tubuh Caramel dan tekanan darah.


"Suhu anda berangsur normal." Ucap dokter, "kami akan memindahkan Ibu ke ruang lain, kita akan mengambil sampel darah untuk memeriksa kadar hemoglobin."


"Dia akan baik-baik saja kan dok?" Rafka melihat dokter, begitu terlihat di wajahnya bahwa ia mengkhawatirkan keadaan Caramel.


"Tentu saja." Dokter itu tersenyum untuk meyakinkan Rafka dan Caramel, sebenernya kondisi Caramel cukup serius karena cukup lama berada di laut dengan keadaaan ketuban sudah pecah tapi ia tetap harus memberi ketenangan pada pasien.


"Saya akan melakukan amniosentesis dengan mengambil sampel air ketuban yang tersisa untuk memeriksa paru-paru janin, apa sekarang Ibu merasakan kontraksi?"


Caramel mengangguk, bahkan sekarang perutnya lebih mulas dibandingkan tadi. Rafka mengusap-usap perut Caramel untuk membantu meringankan rasa sakitnya walaupun ia tidak tahu apakah ini membantu.


"Kami sudah menyiapkan ruang operasi, begitu semua pemeriksaan selesai kita harus segera melakukan operasi karena ketuban Ibu sudah pecah, kami khawatir akan terjadi komplikasi."


Seorang perawat menyuntikkan cairan pereda nyeri pada infus Caramel sebelum akhirnya ia dipindahkan ke ruang lain untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya.


Caramel mengangguk, mau tidak mau ia harus siap melahirkan padahal ia sudah melakukan banyak konsultasi dengan dokter kandungannya di Jakarta. Namun ternyata ia harus melahirkan jauh dari Jakarta dengan dokter lain.


******


Caramel tegang saat perawat mendorong ranjangnya menuju ruang operasi, ia sudah berganti pakaian dengan jubah hijau dan penutup kepala. Rafka yang ikut mendampingi Caramel juga tegang, sekujur tubuhnya dingin karena baru pertama kali masuk ruang operasi seperti ini.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan akhirnya Caramel dipindahkan ke ruang operasi. Bahkan Caramel sudah memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya setelah dokter memasukkan selang ke dalam hidung hingga kerongkongan. Dokter bilang Caramel memang harus memuntahkan semuanya sebelum operasi.


"Semua akan baik-baik saja." Bisik Rafka sambil menggenggam tangan Caramel.


Caramel menahan senyum mengangguk samar, ia tahu Rafka tengah menyembunyikan rasa takut demi membuatnya tenang. Saat ini perasaan Caramel campur aduk antara takut dan bahagia. Sejak kecil Caramel tidak pernah pingsan apalagi ditusuk jarum infus tapi setelah hamil ia merasakan semuanya. Bahkan sekarang Caramel berada di bawah sorot lampu operasi yang sangat terang. Ternyata perjuangan ibu untuk melahirkan seorang bayi tidak lah mudah. Pantas saja mama Caramel hanya berani memiliki satu anak.


"Kamu juga takut kan?" Caramel menggoda Rafka.


"Tidak." Rafka menggeleng kaku.


"Jelas-jelas kamu takut." Cibir Caramel.


"Ini anak pertama kita, wajar jika aku takut apalagi kondisi mu seperti ini tapi aku yakin semuanya akan berjalan lancar." Rafka mengecup kering Caramel cukup lama.


Caramel melihat bayangan perutnya yang mulai disayat oleh dokter menggunakan pisau kecil, seharusnya ia berpaling tapi semuanya bisa terlihat dari lampu besar yang tergantung tepat di atas tubuhnya.


"Jangan lihat." Rafka menangkup pipi Caramel dan mengecupnya.


"Jagoan kita akan segera datang." Caramel berpaling melihat wajah Rafka, ia berharap wajah sang anak akan mirip papanya. Namun bagaimanapun wajah sang buah hati nanti Caramel pasti akan jatuh cinta setiap hari seperti dirinya yang jatuh hati berkali-kali pada Rafka.


"Dia anak yang kuat seperti Mamanya."


"Tapi kenapa Papa nya cengeng?" Caramel tak pernah melihat Rafka menangis sehebat ini.


"Sudah lah aku tetap tampan walaupun menangis."


Caramel ingin tertawa tapi ia tidak punya cukup tenaga untuk melakukan itu. Ternyata si robot juga bisa narsis sekarang.


Tangisan bayi menggema ke seluruh ruangan memecah keheningan di antara mereka. Tangisan kuat yang justru mengalirkan kebahagiaan pada Rafka dan Caramel yang akhirnya setelah melalui banyak cobaan bisa bertemu dengan sang buah hati.


"Its baby boy!" Seru dokter mengangkat tubuh bayi yang masih berlumuran darah dan lendir.


Air mata meleleh begitu saja membasahi pipi Caramel ketika dokter meletakkan sang buah hati di atas tubuhnya. Caramel mendekap tubuh mungil bayinya yang mulai berhenti menangis.


"Kamu berhasil sayang." Rafka mencium kening Caramel beberapa kali dengan suara gemetar menangis terharu. "Terimakasih sudah berjuang untuk anak kita." Jemari Rafka perlahan menyentuh wajah anaknya. "Bukankah dia lebih mirip kamu?"


"Jangan iri."


Rafka tertawa disela tangis harunya, bagaimana ia bisa iri jika Caramel lah yang berjuang paling banyak. Kalau pun Rafka harus menyerahkan semua yang ia miliki itu tak kan sepadan dengan perjuangan Caramel mengandung hingga melahirkan anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2