Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh


__ADS_3

Kemilau berlian begitu menarik perhatian orang-orang yang di sekitarnya, mereka penasaran ingin melihat kilauan tersebut lebih dekat. Namun bagiku kilau berlian tak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Caramel, cahayanya selalu menyilaukan mata.


Caramel tampil simpel dengan jeans hitam dan blouse lengan pendek berwarna putih. Sepasang kaki cantik nya dibungkus sneakers abu-abu tua. Rambut bergelombang Caramel dibiarkan tergerai hingga membuatnya terlihat anggun, ini pertemuan kami yang ke-tiga pasca perjodohan.


Caramel sedang sibuk memilih model cincin seperti apa yang ia inginkan untuk pernikahan kami nanti. Aku pikir ia tak akan bersemangat tapi nyatanya ia jauh lebih antusias soal persiapan pernikahan kami.


Orangtua dari kedua belah pihak sudah setuju kalau pernikahan kami hanya akan dihadiri oleh keluarga dan teman dekat, tidak ada resepsi. Sesuai permintaan Caramel, kami akan mengadakan akad nikah di Pine Hill, Lembang karena ia tidak mau ada gedung pernikahan.


"Kenapa Cara mau akad kita di tengah hutan?" Gumam ku pada Caramel yang sedang tersenyum lebar dengan mata berbinar melihat deretan cincin di depannya.


"Aku ingin melarikan diri." Ia memutar kepala melihatku.


"Apa?" Kening ku berkerut, apa katanya?


"Dari hiruk pikuk dunia, dari masa lalu yang membuat diriku terjebak disana." Ia kembali melihat satu cincin di tangannya.


"Kamu belum bisa melupakannya?" Melupakan Rama yang dulu sempat akan menikah dengannya.


"Entahlah .... " Caramel mengedikkan bahu, "bagus nggak?" Ia menunjukkan satu cincin yang disematkan nya pada jari manis. Model nya sederhana dengan satu berlian di tengah cincin.


"Apapun bagus." Jawabku jujur tapi ia cemberut setelah mendengar nya. Apa wanita tidak suka dengan jawaban jujur?


"Coba deh," Caramel meraih tanganku lalu menyematkan cincin polos di jari manis kiri ku. "kamu yang ini ya?"


Aku mengangguk.


"Saya ambil model seperti ini, tolong ukir nama kami dikeduanya." Ujar Caramel pada pelayan toko yang menemani kami. Caramel melepas cincin di jari kami lalu mengembalikannya pada pelayan toko tersebut.


"Baik, cincin akan siap dalam waktu tiga hari, pembayaran penuh boleh dilakukan hari ini atau DP dulu dan sisanya nanti setelah pengambilan cincin." Jelas nya.


"Pilihan pertama." Jawabku.


"Cash atau debit?"


Aku mengeluarkan satu kartu ATM dari dompet lalu memberikannya pada pelayan toko.


"Silahkan nomor pin nya."


Aku menekan 6 digit angka pin ATM, rangkaian angka yang sama dengan kata sandi apartemen ku. Hari ulang tahun Caramel adalah momen yang paling penting tak hanya untuk dia tapi juga untukku, tanggal yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Karena dihari itu, lahir seorang wanita cantik yang sekarang akan menjadi istriku.


"Aku nggak ngintip." Tukas Caramel saat aku melihatnya, ia menggeleng kuat dan memalingkan muka nya. Padahal aku tidak menuduhnya mengintip, lagi pula tak akan ada rahasia di antara kami setelah ini.


"Dua belas juta tujuh ratus lima puluh." Pelayan toko menyebutkan harga dari dua cincin yang kami pesan, aku mengangguk. "Silahkan terima struk nya, nanti bisa ditukarkan dengan cincin yang sudah jadi."


"Iya." Aku menerima kembali kartu ATM milikku.

__ADS_1


"Terimakasih ya Mbak." Ujar Caramel seraya turun dari kursi tinggi yang dari tadi kami duduki.


"Langsung pulang?" Tanyaku pada Caramel yang berjalan di depanku.


"Kita ketemu Jane dan Kayla dulu ya, kira-kira telat nggak sampai rumah kamu?" Caramel menghentikan langkah menungguku agar kami berjalan berdampingan. "Duh, aku gugup mau ketemu calon mertua."


"Kita punya banyak waktu sebelum jam makan malam." Senyumku mengembang melihat Caramel menyentuh dada nya sendiri. Aku pikir wanita sepertinya tak akan pernah merasa gugup.


"Cara!"


Aku menoleh kepada tiga orang wanita menghampiri kami, mereka tampak melambaikan tangan. Tentu saja bukan kepada ku melainkan pada wanita cantik yang entah sejak kapan sudah menggandeng lenganku. Caramel memiliki banyak teman, terhitung sudah ada tujuh orang yang menyapanya sejak kami sampai disini. Ternyata Caramel tak hanya populer di sekolah, ia juga terkenal setelah lulus kuliah dan bekerja.


"Hai kalian disini juga?" Caramel menebar senyum kepada tiga wanita yang mengenakan dress selutut tersebut, sepertinya mereka sengaja mengenakan pakaian sama.


"Ini siapa?" Tanya si rambut panjang seraya mengerlingkan ke arah ku.


"Ini calon suamiku."


"Oh ya? akhirnya kamu menikah juga, kenalin." Rambut pirang menyodorkan tangannya kepadaku.


"Kami buru-buru, permisi ya." Caramel lebih dulu menyela sambil mengedipkan mata kepadaku.


"Sayang sekali, padahal kami ingin ngobrol." Rambut keriting bersuara.


"Jangan lupa undangannya ya." Teriak mereka saat kami sudah cukup jauh berjalan.


"Jangan menerima jabat tangan mereka." Kata Caramel.


"Cara bisa lihat tangan saya tidak bergerak sedikitpun tadi." Aku memang tidak berniat berkenalan dengan wanita-wanita itu.


"Sepertinya mereka teman SMP ku." Caramel menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.


"Kalau Cara ragu kenapa kalian terlihat sangat akrab?"


"Bahkan aku lupa nama mereka." Caramel nyengir. Jangan bilang dari tujuh orang yang menyapa Caramel tadi, sebenarnya ia tak mengingat nama mereka. Aku heran kenapa mereka terlihat akrab seperti itu padahal nama saja Caramel lupa.


"Jane dan Kayla bilang udah nunggu di restoran Korea, yang mana ya?" Caramel mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lalu menunduk melihat layar ponsel nya.


"Kita mau makan?" Tanyaku.


"Iya." Caramel menatapku polos.


"Bukannya kita mau makan di rumah sama Mama?"


"Ya nggak apa-apa biar nanti di rumah kamu, aku makannya sedikit." Caramel menarik tanganku masuk ke salah satu restoran yang tidak sempat ku baca tulisan nya di depan. Ini pasti restoran korea yang Caramel bicarakan baru saja.

__ADS_1


Benar dugaan ku, Caramel sudah berlari menuju salah satu meja di sudut ruangan menghampiri dua sahabatnya yang bernama Jane dan Kayla itu. Mereka sempat menuduh Caramel dan aku berbuat macam-macam di apartemen kemarin.


"Ini dia calon suami sahabat gue, selamat bro." Wanita berambut ikal itu menjabat tanganku saat aku baru duduk di samping Caramel. "Akhirnya sahabat gue yang dulu nangis tujuh hari tujuh malam karena calon suaminya tiba-tiba hilang, akhirnya setelah empat tahun dia bisa nikah juga." Wanita itu mengucapkan kata akhirnya dengan penuh penekanan.


"Mulai deh mau bikin gue malu di depan Rafka, kalau gue gagal nikah lu tanggung jawab Jane." Caramel menodongkan sumpit ke arah wanita yang dipanggil Jane. Berarti wanita satu lagi adalah Kayla. Mereka banyak berubah hingga aku tidak bisa mengenalinya.


"Rafka lu lebih ganteng dari pada pas video call." Seru Kayla sambil menatapku.


"Sinyal lu aja yang jelek." Semprot Caramel.


Setahuku mereka sudah bersahabat sejak SMA, dan sekarang aku tahu kenapa mereka betah bersahabat sangat lama, itu karena sifat ketiganya hampir sama.


"Tunggu dulu, kayaknya gue nggak asing sama wajah lu." Jane menyipitkan matanya melihatku penuh teliti.


"Ih apa sih Jane." Tiba-tiba Caramel menutup wajahku dengan tangannya. "Iya tahu Rafka lebih ganteng dari Doni, jangan gitu dong."


"Apa sih Mas Doni tetep yang paling ganteng sedunia!" Jane menyingkirkan tangan Caramel, ia meneliti ku lagi.


"Oh gue baru inget kalau elu anak SMA Pelita Nusa kan." Jane menunjuk wajah ku hingga reflek aku sedikit mundur karena telunjuk Jane hampir mengenai ujung hidung ku.


Aku mengangguk.


"Jangan-jangan lu kenal Rama!" Kayla ikut-ikutan menunjuk ku lalu menutup mulutnya karena keceplosan mengucapkan nama Rama.


"Saya tahu Rama tapi kami tidak saling kenal, setahu saya dia jurusan IPA sedangkan saya IPS." Jelasku seperlunya.


"Yeay makanan datang!" Caramel menepuk-nepuk meja saat waitress meletakkan beberapa susun piring berisi daging, berbagai macam saus serta daun perila dan selada.


Caramel meletakkan irisan tipis daging ke atas pemanggang bersama dengan bawang putih penuh semangat. Sepertinya Caramel memang selalu bersemangat saat bertemu dengan makanan.


"Pokoknya Ka, jangan pernah bahas Rama di depan Cara, dia paling sensitif soal cowok itu." Ujar Jane seraya menuangkan telur kocok di pinggiran pemanggang.


"Tidak ada yang membahas tentang dia kecuali kamu." Balas ku dengan nada suara datar.


Jane seketika mengatup bibir sedangkan Caramel mendongak melihat Jane dengan senyum lebar, ada ekspresi puas dari wajah Caramel.


Mereka tidak mengeluarkan ucapan apapun lagi, diam menikmati menu barbeque di depan kami. Delapan piring berisi irisan tipis daging sapi perlahan habis begitu juga dengan sayuran. Hanya tersisa sedikit bawang putih dan kecap asin.


"Yang mau nikah traktir." Seru Jane setelah menyelesaikan makannya.


"Ampun dah gue belum gajian!" Caramel melempar tatapan tajam ke arah Jane. "Bayar sendiri-sendiri sih."


"Nggak apa-apa, aku yang bayar." Aku beranjak meninggalkan meja untuk meminta tagihan makanan kami ke kasir. Tak apa sekali-kali membayar makanan mereka, walau bagaimanapun Jane dan Kayla telah menjadi sahabat terbaik bagi Caramel. Mereka adalah orang terdekat Caramel setelah kedua orangtuanya.


Mungkin mereka berdua memang tak asing dengan sosok diriku karena aku pernah tertangkap basah berada di ruang loker SMA Cahaya Bangsa yang merupakan sekolah mereka. Waktu itu aku meletakkan sesuatu di loker milik Caramel yang kebetulan tidak terkunci tapi untungnya baik Jane maupun Kayla tidak sadar atas apa yang aku lakukan.

__ADS_1


__ADS_2