
Rafka keluar dari kamar mandi mengibaskan rambutnya yang basah usai mandi. Penampilannya tampak segar dengan celana jeans hitam dan kaos oblong putih, ditambah cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Siapapun yang melihat pemandangan itu pasti akan jatuh hati. Tidak terkecuali para perawat rumah sakit yang dari awal sudah salah fokus pada Rafka.
Suara ribut di depan pintu menarik perhatian Rafka, ia heran mengapa mereka membuat keributan disini. Rafka menyampirkan handuk bekas mandinya pada sandaran kursi. Rafka harus menyuruh mereka pergi Sebelum keributan itu membangunkan Caramel.
"Maaf, ada apa?" Rafka membuka pintu dan mendapati beberapa orang perawat berdiri di depan pintu.
Mereka heboh ketika Rafka keluar, bukannya senyap keributan itu semakin menjadi. Para perawat hingga petugas yang hendak mengantar makanan tampak menatap Rafka dengan mata berkilat-kilat seperti sedang melihat pujaan hati.
"Ternyata aslinya lebih ganteng." Bisik mereka, bisikan yang terlalu keras hingga Rafka bisa mendengarnya dengan jelas.
"Mimpi apa aku semalam sampai bisa ketemu Mas BMKG ganteng ini." Bisik yang lain sambil menahan senyuman yang telanjur lebar.
"Jika tidak ada hal penting, bisa kah kalian jangan membuat keributan di depan ruangan ini?" Rafka mengedarkan pandangan pada mereka yang sama sekali tidak merasa bersalah walaupun sudah membuat kehebohan. "Istri saya sedang tidur." Tambah Rafka.
Senyum langsung lenyap dari wajah mereka.
"Ternyata yang dirawat istrinya." Celetuk salah satu dari mereka.
"Apakah anda mau mengantarkan makanan?" Rafka melihat satu petugas yang membawa nampan berisi makanan di tangannya.
"Oh, iya pak." Petugas itu mengangguk salah tingkah.
"Terimakasih." Rafka mengambil alih nampan tersebut.
"Sayang banget udah punya istri." Perawat yang dari tadi berada di dekat pintu menyenggol salah satu temannya.
"Kalian mengenal saya?" Tanya Rafka mulai mengerti pada pembicaraan mereka. Maklum ia bukan orang yang langsung peka terhadap suasana sehingga butuh beberapa menit untuk mengerti. Ia bukan orang yang cepat menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahuinya secara jelas.
"Pak Rafka ini orang BMKG ganteng yang lagi viral di tik tok kan gara-gara kemarin masuk tv." Ucap mereka antusias.
"Padahal hampir setiap hari ada ramalan cuaca di tv tapi kami baru tahu kalau ada pejabat BMKG seganteng ini." Tambah perawat lainnya.
"Lalu ada apa kalian disini?" Tanya Rafka masih dengan wajah datar, ia tidak mau tahu kelanjutan cerita mereka yang ternyata mengetahui dirinya melalui tv dan apa itu? Tik tok? Caramel pernah mengajaknya bermain aplikasi itu. Namun Rafka tidak tahu selaris apa aplikasi itu hingga membuat para perawat ini heboh.
"Umm bagaimana kalau kita foto bareng?"
Mulut Rafka terbuka hendak menjawab tapi tidak jadi karena ada yang menepuk punggungnya dari belakang, spontan ia menoleh dan mendapati Caramel berada di belakangnya.
"Kamu sudah bangun?" Rafka segera meletakkan nampan yang dari tadi ia pegang ke atas meja.
"Itu istrinya keluar, ih kalian sih bikin ribut disini." Ucap perawat di dekat pintu dengan suara rendah.
Caramel mendesak keluar melemparkan tatapan tajam tapi dengan senyuman ke arah beberapa perawat yang sedang melihatnya. Caramel menduga mereka adalah perawat magang dilihat dari wajah mereka yang sepertinya masih belia.
"Aku nyariin kamu." Ucap Caramel manja sambil menggandeng tangan Rafka, ia sengaja melakukan itu untuk memberi pelajaran kepada mereka yang berani naksir suami orang.
"Maaf sayang, aku hendak meminta mereka pergi tapi kamu telanjur bangun."
"Aku laper." Caramel mengusap perutnya yang tanpa sadar membuat mereka melihat ke arah perut buncitnya. Begitu cara Caramel memberitahu bahwa mereka tak boleh mengangumi Rafka yang sudah beristri.
"Makanan mu sudah datang, aku akan menyuapi mu." Rafka menggenggam tangan Caramel yang berada di atas perutnya.
Melihat adegan itu para perawat langsung sesak napas tidak kuat dengan kemesraan pasangan suami istri Rafka dan Caramel. Mereka tahu Caramel sengaja melakukan itu untuk membuat mereka iri.
"Kalian mau foto sama suami aku?" Tanya Caramel pada mereka, sebelum turun dari tempat tidur ia mendengar bahwa mereka mengajak Rafka foto bersama.
"Ah tidak, Bu." Salah satu dari mereka mengibaskan tangan tidak enak karena telah membangunkan pasien.
"Memangnya boleh?" Timpal lainnya.
"Kenapa kalian disini?" Suara perempuan mengalihkan perhatian mereka.
Perempuan berjubah putih itu mengedarkan pandangan kepada semua perawat yang memenuhi koridor.
"Bukan kah saya menyuruh kalian untuk memeriksa bangsal anak-anak?" Ucap dokter tersebut.
"Eh iya maaf, Bu, kami tadi—"
"Sudah segera laksanakan tugas kalian." Tegasnya lagi membuat perawat yang telah membuat keributan itu bubar seketika termasuk petugas pengantar makanan.
__ADS_1
Caramel menahan senyum melihat wajah mereka yang salah tingkah sekaligus takut karena kedatangan dokter senior tersebut. Hampir saja Caramel hendak mengizinkan mereka berfoto dengan Rafka.
"Bu Caramel sudah bisa turun dari ranjang?" Dokter itu melangkah diikuti satu orang perawat yang membawa beberapa peralatan medis untuk memeriksa keadaan Caramel, ia adalah dokter yang menangani Caramel pertama kali kemarin.
"Sudah dok, dari semalam saya sudah bisa ke kamar mandi." Jawab Caramel.
"Wah Ibu orang yang kuat, mari saya periksa."
Rafka menutup pintu setelah dokter dan Caramel masuk. Ia juga membantu Caramel naik ke atas ranjang rawat.
"Maaf sepertinya para perawat tertarik dengan keberadaan Pak Rafka disini." Ucap dokter seraya mengatur kecepatan tetesan infus Caramel.
Rafka tidak membalas ucapan dokter, ia hanya menggenggam tangan Caramel saat perawat menyuntikkan cairan pada selang infus sang istri.
"Kapan saya boleh pulang dok?" Caramel mengernyit menahan sakit, kemarin ia tidak bisa merasakan apapun saat dokter menyuntiknya. Ia tak tahu bagaimana rasanya saat seseorang berada di antara hidup dan mati tapi kemarin ia seperti ada di ambang kematian.
"Besok kita lihat perkembangannya, jika sudah benar-benar sehat maka Ibu Caramel boleh pulang." Dokter tersenyum ramah. "Saya permisi dulu."
"Makasih dok."
"Jangan lupa makan sarapannya." Ucap dokter sebelum meninggalkan ruangan disusul perawat di belakangnya.
Caramel memperhatikan bubur di tangan Rafka, ia sama sekali tidak berselera untuk makan bubur cair tanpa topping apapun tersebut. Ia jadi membayangkan makan bubur ayam dengan suwiran ayam yang banyak atau makan seblak Bu Rudi.
"Aku nggak mau makan itu." Caramel memalingkan wajah.
"Lalu kau ingin makan apa, dokter bilang kau harus makan sesuatu yang lembut setelah banyak muntah." Rafka meletakkan bubur di atas nakas, ia sudah menduga kalau Caramel tidak akan memakan bubur itu. "Coba aku tanya dia." Rafka menempelkan kepalanya pada perut Caramel.
"Makan hati katanya lihat Papanya dikerubungi cewek-cewek di rumah sakit." Caramel mengerucutkan mulutnya sebal.
Rafka mengangkat kepalanya mendengar ucapan Caramel, ia tidak mengerti mengapa para wanita itu tertarik hanya karena ia muncul di televisi saat diwawancara oleh wartawan mengenai ramalan cuaca pada awal tahun 2021 beberapa bulan lagi. Rafka tidak tahu jika itu justru membuat kehebohan hingga katanya viral di tik tok.
"Andai aku bisa memilih maka aku tidak akan mau muncul di televisi jika itu membuatmu kesal." Suara Rafka begitu lembut menyentuh indra pendengaran Caramel.
"Kok kamu nggak bilang kalau ada wawancara sama wartawan?" Caramel akhirnya menatap Rafka, suara lembut lelaki itu berhasil membuat hatinya luluh. Entah karena kelembutan Rafka atau jiwa bucin Caramel yang telah mendarah daging.
"Aku terlalu panik karena kamu muntah-muntah pagi itu." Sorot mata Rafka redup mengingat kejadian kemarin apalagi saat dirinya baru sampai di apartemen mendapati Caramel sudah tidak berdaya di atas tempat tidur.
"Harusnya aku lebih hati-hati supaya nggak muntah ke baju kamu kemarin, aku lihat batik kamu beda sendiri."
"Tidak apa-apa, itu di luar kesengajaan kamu sayang." Rafka mengelus rambut Caramel yang sedikit kusut tapi baginya itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan Caramel.
Pandangan Caramel berubah lembut, ia meleleh seperti jelly mendengar kalimat Rafka. Sifat Rafka yang lugu membuat Caramel makin jatuh cinta, ia jadi takut kehilangan Rafka—robotnya yang baik hati.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Rafka jadi salah tingkah karena ditatap terlalu lama oleh Caramel.
"Kamu pagi-pagi kok udah rapi sih udah mandi juga?"
"Karena aku belum mandi dari kemarin."
"Nggak adil, aku kayak gembel begini kamu udah cakep, pantes cewek-cewek tadi lihat aku nggak enak."
"Siapa yang berani mengatakan istriku gembel, hm?" Rafka mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Caramel. "Bahkan walaupun kau tidak mandi seperti ini, aku tetap menyukai aroma mu."
"Jangan gombal masih pagi."
"Kenapa aku gombal? aku membicarakan tentang fakta, aku menyukai kecantikan mu yang natural."
Caramel memutar bola mata, lelaki selalu mengatakan mereka menyukai wanita yang cantik natural tapi Caramel tidak percaya itu karena setiap kali ia merias wajah saat pergi bekerja, Rafka akan melihatnya tanpa berkedip.
"Yakin?" Caramel mengangkat alisnya sebelah.
"Tentu saja."
"Kamu tahu berapa biaya yang harus aku keluarin demi bisa cantik natural kayak gini?"
"Berapa?"
"Aku perlu semua gajimu buat beli first cleanser, second cleanser, facial wash, hydrathing toner, exfoliating toner, pelembap, serum, sunscreen .... "
__ADS_1
"Tidak masalah, kau boleh menggunakan semua gajiku untuk membeli kebutuhanmu." Rafka tersenyum tulus, walaupun itu tidak tahu semua deretan yang Caramel katakan tapi ia tetap menyetujuinya. Lagi pula itu adalah tugas suami, jika Caramel senang maka Rafka akan tertular juga.
Caramel tersenyum lebar, ia berteriak senang dalam hati karena Rafka selalu menuruti permintaannya. Bahkan terkadang Caramel meminta sesuatu yang tidak masuk akal, Rafka tetap akan berusaha mengabulkannya.
"Kamu mau ngapain?" Caramel sedikit menggeliat merasakan napas Rafka mengenai lehernya.
"Aku tidak ingin kamu sakit tapi kenapa kamu terlihat begitu cantik mengenakan pakaian rumah sakit ini?" Rafka mengecup leher Caramel karena tidak tahan dengan aromanya yang seperti menarik dirinya untuk memberikan kecupan kecil.
"Aku sama Bae Suzy lebih cantik siapa?" Canda Caramel, ia mencoba mengalihkan perhatian Rafka yang sepertinya hendak menyantapnya di pagi hari begini, apalagi di rumah sakit.
"Kamu."
"Emang kamu tahu Bae Suz—" Belum sempat Caramel menyelesaikan kalimatnya, Rafka sudah membungkam mulutnya dengan kecupan. Caramel mendelik terkejut tapi akhirnya ia memejamkan mata membiarkan Rafka melakukannya.
"Eh ya ampun kalian ngapain?" Suara seseorang lalu beberapa benda jatuh mengejutkan Caramel dan Rafka.
Mendengar itu Rafka langsung menjatuhkan diri pura-pura memeluk Caramel. Rafka tidak asing dengan suara itu, ia mendengarnya setiap kali Caramel melakukan panggilan video dipagi hari saat hendak pergi bekerja.
"Gue tahu sekarang pentingnya ngetuk pintu dulu sebelum masuk ruangan." Timpal suara lainnya.
Caramel menahan tawa melihat ekspresi Jane dan Kayla, terkejut sekaligus malu karena telah memergokinya berciuman. Ditambah barang bawaan Jane ikut tercecer ke lantai saking terkejutnya.
"Apa sih lu pada kayak nggak pernah ciuman di depan gue aja." Caramel mencibir. Ekspresi mereka seperti seorang gadis polos yang tiba-tiba diajak menikah. Padahal Caramel ingat Jane pernah berciuman di depannya tanpa rasa sungkan sedikitpun.
Perlahan Rafka bangkit setelah berusaha memasang wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa padahal dalam hati ia malu bukan main.
"Katakan kau ingin makan apa biar aku belikan." Lirih Rafka sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Aku mau burgernya loving hut." Jawab Caramel asal tidak makan bubur cair rumah sakit yang sama sekali tak menggugah seleranya.
"Baik." Rafka segera berangkat dari duduknya seperti seorang asisten yang baru mendapat perintah dari bosnya, patuh tanpa membantah sedikitpun.
"Ya elah kan bisa go food nggak pakai ribet!" Sahut Jane membuat gerakan Rafka terhenti.
Caramel mendelik ke arah Jane memberi kode agar membiarkan saja Rafka pergi. Caramel mengerti Rafka sedang menahan malu dan mencoba kabur dari sini dengan alasan membeli makanan. Namun Jane malah menggoda Rafka.
"Kebetulan ada sesuatu yang harus aku beli juga, aku pergi dulu." Rafka mengusap kepala Caramel sebelum melangkah melewati Kayla yang sedang memungut buah jeruk yang terjatuh dan berceceran di atas lantai.
"Kalian sengaja ya?" Caramel melihat Jane dan Kayla yang sudah berhasil mengumpulkan kembali jeruknya.
"Serius gue nggak sengaja." Kayla mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V di atas kepala.
"Ini kedua kalinya gue kepergok ciuman di rumah sakit tahu nggak, tapi anehnya waktu itu Rafka biasa aja kayak nggak ada apa-apa eh sekarang malah mati kutu gitu." Caramel masih ingat saat Rafka dirawat di rumah sakit beberapa bulan lalu, itu adalah kali pertama mereka mengetahui kehamilan Caramel.
"Keadaannya beda kalau kepergok orang yang udah kenal sama orang asing." Jane duduk di kursi yang berada di samping ranjang. "Kok lu bisa masuk rumah sakit gini sih, gue pikir elu nggak bakal pernah tidur di ranjang pasien apalagi diinfus gini."
"Gue juga masih belum percaya walaupun udah ada di depan mata." Sahut Kayla yang sependapat dengan Jane.
"Bawaan orok kali ya, gue udah kayak mau mati kemarin."
"Ih kok lu ngomong gitu sih!" Jane memukul paha Caramel pelan mengingat sahabatnya itu sedang sakit.
"Kemarin gue stress kepikiran banget gara-gara video Rafka di tik tok." Caramel mengubah posisinya sedikit miring karena merasa tidak nyaman. "Bayangin aja, gue jagain Rafka supaya aman dari pelakor eh malah dia muncul di tv sampai viral di tik tok, gue kagak rela." Caramel mulai nyecoros padahal ia belum sarapan tapi energinya telah kembali sedikit demi sedikit.
"Jangan terlalu dipikirin, lu nggak boleh stress, gue yakin Rafka itu orangnya setia dan nggak bakal macem-macem lah." Ucap Kayla bijak membuat Caramel dan Jane terdiam mencerna kalimat tersebut.
"Gue tahu caranya supaya cewek-cewek itu nggak heboh lagi, elu tinggal posting video yang membuktikan kalau Rafka udah punya istri." Saran Jane, lagi pula Caramel pandai membuat video tik tok yang menarik. Itu pasti bisa meredakan kehebohan publik tentang Rafka.
Caramel mengangguk samar perlahan menyetujui ucapan Jane dan Kayla. Jika menikah hanya asal menikah maka semua orang bisa melakukannya. Namun untuk mempertahankan pernikahan itu tidak mudah, mereka harus mengorbankan banyak perasaan. Bahtera rumah tangga adalah perjalanan panjang yang harus mereka lalui bersama-sama.
Kata hati reader:
Thor lama amat update nya
Sekalinya update cuma satu bab
Crazy up dong Thor
__ADS_1
Ampuun kalau Crazy up, Author nya bisa crazy lama-lama.